Website Bisa Diakses, Pendaftaran Mulai 1 Mei

April 22, 2013

Audax East Java
Bukan Balapan, Kecepatan Terkontrol

SURABAYA – Jawa Pos Cycling Audax East Java 2013 semakin siap diselenggarakan. Event bersepeda jarak jauh untuk memperingati HUT Ke-64 Jawa Pos dan HUT Ke-67 Bhayangkara itu di laksanakan pada 30 Juni mendatang. Saat ini situs resmi http://www.audaxeastjava.com sudah bisa di akses, dan calon peserta bisa mendaftarkan diri mulai 1 Mei nanti.

Rencananya, event ini menempuh rute sejauh 232 kilometer. Start dari Polda Jawa Timur, lalu naik ke Pandaan (Kabupaten Pasuruan), Malang, Batu, dan Pujon, sebelum turun kembali ke Surabaya via Kandangan (Kabupaten Kediri) dan Mojokerto.

”Saat ini sudah banyak yang menanyakan pendaftarannya. Bahkan, calon peserta dari berbagai negara juga sudah siap mendaftar. Semua bisa dilakukan di tempat-tempat yang ditunjuk panitia di Surabaya,atau mendaftar langsung lewat situs resmi event,” jelas Azrul Ananda, direktur utama Jawa Pos Koran. ”Semua informasi rute, regulasi, dan pendaftaran ada di situs resmi tersebut,” tambahnya.

Mengacu hasil simulasi terakhir yang melibatkan Surabaya Road Bike Community (SRBC) dan sejumlah komunitas sepeda di Jatim, seluruh rute itu bisa diselesaikan dalam waktu 12 jam. ”Itu sudah termasuk masa-masa istirahat,” tegas Azrul.

Di sepanjang rute Audax East Java 2013 nanti ada lima pemberhentian. Setelah start di kantor Polda Jatim, peserta akan masuk stop pertama di Masjid Cheng Hoo Pandaan. Stop kedua di Universitas Brawijaya Malang, stop ketiga di Balai Kota Batu, stop keempat di Kantor Kecamatan Kandangan, dan stop kelima di Kantor Bupati Mojokerto. Titik finis di Graha Pena Surabaya.

Di setiap titik stop peserta bisa beristirahat 20 hingga 30 menit, bergantung pada jadwal yang ditetapkan penyelenggara. Kecuali pada saat di pemberhentian ketiga yang menempati Balai Kota Batu. Di sana peserta beristirahat satu jam sambil makan siang.

Rutenya memang cukup menantang. Babak-babak awalnya penuh dengan tanjakan. Tapi,panitia menyebut peserta tak perlu khawatir.  Akan ada full support crew untuk memudahkan perjalanan. Selain itu, event ini bukanlah balapan. Mengacu pada regulasi Audax Indonesia, pemegang lisensi resmi L’Union des Audax Francais (UAF), seluruh peserta akan bersepeda bersama-sama sejak start sampai finis dengan kecepatan yang terkontrol.

Para peserta juga diminta mematuhi segala regulasi yang telah ditetapkan. ”Istilah dari Audax Indonesia: Start together,ride together, dan finish together,” ujar Azrul. (c2/aga)

sumber : http://www.audaxeastjava.com

Gowes sambil Bicara Bisnis

JawaPos [Minggu, 1 April 2012]: jawaposgowes

Polygon Gowes CEO 2012 Dekati Sensasi Bermain Golf. SUASANA Ancol Ecopark pada Jumat (30/3) petang tampak berbeda. Puluhan figur dengan wajah yang kerap menjadi sampul majalah-majalah bisnis ”melepaskan jas” kemudian berganti jersey warna hijau lengkap dengan helm dan sarung tangan. Mereka adalah para pemimpin perusahaan (Chief Executive Officer) yang tengah mengikuti Polygon Gowes CEO 2012. 

Tak kurang dari 29 pemimpin perusahaan terkemuka berkumpul di club house yang bernuansa lapangan golf tersebut. Sejumlah nama tenar tampak tak canggung mengendarai Polygon Cozmic CX 2.0. Di antaranya, Deputy Chairman Lippo Group James T. Riady, Direktur Utama Jawa Pos Koran Azrul Ananda, CEO Super brands International Eamonn Sadler, Ketum Kadin Suryo Bambang Sulisto, CEO Ancol Budi Karya Sumadi, CEO Berita Satu Holding Sachin Gopalan, dan Deputi CEO Commercial Smartfriend Djoko Tata Ibrahim.”Kita butuh 2-3 bulan untuk mempersiapkan acara ini. Namanama yang hadir ini cukup sulit untuk diketuk pintunya di kantor. Namun, sekarang justru bisa bertemu di sini dalam suasana yang berbeda,” tutur Direktur Polygon Ronny Liyanto. Setelah dilepas Putri Olahraga Indonesia Offie Dwi Natalia, para CEO langsung mengayuh sepedanya menuju dermaga Ancol. Sambil bersenda-gurau, para petinggi perusahaan tersebut meluncur di jalur pemanasan berupa track paving block sekitar dua kilometer. Setelah dirasa cukup, sejumlah pemandu lantas mengarahkan rombongan masuk ke jalur sepeda yang melingkari-lingkar mengelilingi Ecopark. Jalurnya cukup beragam, mulai jalan rata hingga tanjakan ringan. Sekitar sejam berkeliling dengan bersepeda, perasaan gembira tapak di wajah-wajah segar mereka. ”Saya sudah lama tidak bersepeda. Karena waktu untuk olahraga sangat terbatas, akhirnya pilih berenang. Tapi senang sekarang bisa gowes lagi. Tadi kita berkeliling 5-6 kilometer, tapi tidak terasa karena sambil ngobrol ringan,” ujar James Riady.

Sementara itu, Azrul Ananda menilai ide mengumpulkan para pebisnis untuk bersepeda tergolong unik. Biasanya, sesama pengusaha harus bertemu dalam suasana formal, minimal harus main golf kalau menginginkan suasana yang lebih santai. Kali ini, para pengusaha justru dipertemukan dalam suasana yang lebih santai, berolahraga sepeda, namun dalam lingkungan yang mendekati sensasi bermain golf. ”Ini acara unik. Biasanya kita ketemu harus formal pakai jas, tapi di sini kita bisa ketemu pakai baju santai,” terang Azrul.

Usai bersepeda, para pemimpin perusahaan dari berbagai industri tersebut berkumpul dalam forum business sharing. Mereka membahas prospek ekonomi Indonesia sepuluh tahun ke depan. Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat masa depan ekonomi Indonesia menjanjikan untuk pengembangan bisnis. Selain faktor jumlah penduduk yang semakin besar, rasio produktivitas pekerja yang meningkat, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diprediksi stabil di kisaran 6-7 persen.(bay/fat)

Dikuasai Pembalap Luar Banyuwangi

December 10, 2012 

TERDEPAN: Azrul Ananda dari SRBC (tiga dari kanan) memimpin laps pertama pada kelas eksekutif race di tikungan Jalan Satsuit Tubun Banyuwangi pagi kemarin. (9/12).

BANYUWANGI – Etape terakhir Banyuwangi Tour de’Ijen (BTDI) juga menjadi arena pemungkas bagi gelaran kejuaraan road bike memperebutkan Piala Bupati Banyuwangi 2012 itu. Mempertandingkan tiga kelas, yakni eksekutif race, pemula, dan junior, perlombaan yang digagas Dinas Pemuda dan Olahraga juga tidak kehilangan daya tariknya.

Sejumlah pembalap tam pil ngotot agar dapat berdiri di podium juara. Di kelas eksekutif race misalnya, ada 100 pembalap yang turut ambil bagian di kategori ini. Selain berasal dari Banyuwangi, sederet pembalap dari Jawa Timur lainnya juga tampak. Bahkan Surabaya Road Bike Community (SRBC) diperkuat Direktur PT Jawa Pos Koran sekaligus penggiat olahraga sepeda balap, Azrul Ananda.

Rute yang ditempuh dalam Piala Bupati Banyuwangi 2012 ini tidak berbeda dengan rute yang ditempuh kontestan BTDI. Pada putaran pertama, Azrul Ananda memimpin di barisan terdepan Demikian pula pada laps kedua, putra Menteri Negara BUMN Dahklan Iskan itu juga masih bertahan pada posisi paling depan. Namun sayang, Azrul yang menunggangi sepeda  inarello Dogma warna hitam itu tak kuasa bertahan. Hasilnya, pembalap asal Bali, Agus William, berhasil masuk garis finis terlebih dahulu sekaligus keluar sebagai juara pertama kelas eksekutif.

Disusul berikutnya di posisi kedua Febrianto dan peringkat ketiga Paulus Setia Budi dari SRBC. Sedangkan posisi keempat dan kelima diisi Gatot MJ dari Mustika Denpasar, dan Jalis dari SRBC. Sementara itu, tim lokal Banyuwangi BRCC harus kehilangan seorang pembalapnya, Guntur Priambodo. , lantaran mengalami kecelakaan saat lomba memasuki tikungan lingkar Taman Sri Tanjung di depan Pendapa Shaba Swagatha Blambangan. Pembalap yang juga kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi itu pun terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat. Meski demikian, balapan tetap dilanjutkan.

Di kategori kelas junior, Mohamad Ichwanul Arifin dari BRT menjadi yang tercepat. Di posisi kedua di tempati Wardoni Sapytra dari ISSI Probolinggo. Sedangkan di posisi ketiga dan keempat di tempati Akhmad Rizal Julianzah dan Rahmad Aditia keduanya dari Dallas Racing Team Surabaya. Sedangkan di posisi kelima di tempati Jahid Abi Ropi dari Mutiara Jembrana. Sementara di kelas pemula, Fajar Surya dari PPLP Jawa Timur menjadi yang terbaik. (radar)

sumber : http://www.kabarbanyuwangi.info

Lahap Rute Surabaya-Malang Lebih Cepat

 February 19, 2013

NIKMATI KOTA MALANG: Anggota SRBC foto bersama di Kota Araya dengan latar belakang jembatan.

NIKMATI KOTA MALANG: Anggota SRBC foto bersama di Kota Araya dengan latar belakang jembatan.

Azrul Ananda Pimpin Nggowes SRBC

KABUPATEN – Puluhan anggota Surabaya Road Bike Community (SRBC) kemarin melajukan sepedanya (gowes) ke Malang. Mengambil start dari RSAL Wonokromo, Surabaya, pada pukul 05.30, mereka melahap jarak sekitar 80 kilometer. Sejumlah anggota SRBC sempat merasakan medan agak menanjak saat melintasi pintu masuk Lawang.

Secara geografis, jelang masuk ke fly over Lawang, anggota SRBC harus melalui tanjakan perbatasan Pasuruan dan Malang. ”Lumayan juga tadi se- belum fly over,” ujar anggota SRBC Ari Sutandyo. Pengusaha ekspedisi tersebut mengatakan, tidak semua peserta berangkat dari Surabaya finish di Malang.

Ada beberapa yang memilih berhenti di Pandaan dan kembali ke Surabaya. Sesampai di Lawang rombongan berhenti di RM Sari Rasa Lawang. Di sana mereka menikmati sajian khas tahu petis dan teh hangat. Mereka di sambut rombongan dari Jawa Pos Radar Malang yang dipimpin Direktur Kurniawan Muhammad.

”Wah, kita masuk Malang lebih cepat ini dari schedulenya,” kata Direktur Utama PT Jawa Pos Koran Azrul Ananda yang juga ikut gowes. Tak lama singgah di RM Sari Rasa Lawang mereka melanjutkan destinasinya ke Malang. Yakni ke kawasan Kota Araya. Dikawal anggota Satlantas Polrestabes Surabaya Azrul dan Ketua SRBC Teddy Moelyono memimpin rombongan.

Di Araya mereka sempat meninjau even bursa mobil second gelaran Jawa Pos Radar Malang. Azrul memuji konsep bursa mobil yang digelar di ruang terbuka itu. ”Bagus di sini. Enak tempatnya. Adem. Yang datang jadi enjoy,” ujar dia. Usai meninjau bursa mobil second, rombongan kemudian bergerak ke dalam Kota Araya. Mereka menyempatkan diri berfoto bersama.

Setelah itu rombongan masuk ke resto Taman Indie Kota Araya untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Ketua SRBC Teddy Moelyono menyebutkan, gowes ke luar kota memang menjadi agenda wajib komunitasnya. Untuk gowes ke Malang, dia menyebutkan sudah kali kedua diikuti SRBC. Tahun lalu mereka juga sempat gowes tujuan Malang menemani kunjungan Azrul ke Malang.

Sementara itu, usai mengikuti gowes Surabaya–Malang Azrul menuju ke GOR Bimasakti di Sukun untuk me- nyak sikan kompetisi basket National Basketball League (NBL). Sore harinya dia mampir ke kantor Jawa Pos Radar Malang di Jalan Arjuno 23 Malang untuk memberikan motivasi kepada staf redaksi Radar Malang.

Azrul menilai, Jawa Pos Radar Malang adalah salah satu penyangga utama Jawa Pos selain Surabaya. Oleh karenanya, dia meminta seluruh karyawan Jawa Pos Radar Malang untuk selalu fokus dan selalu kreatif dalam pekerjaannya. ”Fokuslah. Kalau Anda fotografer hasilkan foto- foto yang bagus. Kalau wartawan, hasilkan tulisan-tulisan yang menarik,” katanya.

Teddy mengatakan, di SRBC, anggotanya dari bermacam golongan. Se perti pengusaha, karyawan, sampai bos media seperti Azrul. Mereka antara lain Siswo Wardoyo yang berlatar be lakang pengusaha garmen, Paulus Setyabudi yang seorang arsitek dan Sun Hin yang sehari-hari bekerja di bidang ekspor impor.

Kunjungan SRBC kemarin juga diapresiasi oleh pihak Kota Araya. ”Pasti impact positifnya besar sekali. Mereka ini memiliki latar belakang berbeda. Sedikit banyak mereka pasti akan bercerita ke teman-temannya jika di Malang ini ada Kota Araya,” kata Marketing Manager Kota Araya Teguh Wijiyanto. (radar)

Sumber : http://malangbatu.info

Lombok Audax dengan rute sepanjang 300 Kilometer

Senin, 28 Januari 2013 – 10:31:43 WIB

Selong (28/1). Komunitas pencinta olah raga bersepeda yang berpusat di Negara Prancis, Sabtu (26/1) menyelenggarakan Lombok Audax dengan rute sepanjang 300 Kilometer. Kegiatan itu diikuti sekitar 80 orang peserta, yang berasal dari 10 negara termasuk Indonesia. Mereka dilepas dari Hotel Holiday Senggigi sekitar Pukul 04.00 Wita, menempuh rute dengan medan yang cukup menantang. Dalam perjalanan beberapa peserta tidak mampu meneruskan perjalanan sehingga yang sampai di Dermaga Labuhan Haji sekitar 55 orang.

Sekitar Pukul 15.30 Wita para Cyclist, tiba di Dermaga Labuhan Haji Lombok Timur, secara bergelombang. Di tempat itu Pemkab Lombok Timur menyiapkan  tempat istirahat sejenak tim “massage” untuk membantu Cyclist yang membutuhkan pijatan. Rombongan itu beristirahat sekitar satu jam di tempat itu, sempat foto bersama mengabadikan kehadirannya di dermaga itu, kemudian melanjutkan petualangan menuju wilayah Lombok Tengah, dan dijadwalkan tiba di Hotel Holiday Senggigi Lombok Barat sekitar Pukul 21.00 Wita.

Kepala Dinas Dikpora Lombok Timur, Dr. Syamsuhaidi MS, mewakili Bupati memperkenalkan profil dermaga Labuhan Haji dan menuturkan kehadiran Wapres dan delapan Menteri dalam peringatan Hari Nusantara beberapa waktu lalu di tempat itu. Ia berharap agar peserta sampai di tujuan dengan selamat, kembali ke keluarga dan negara masing-masing serta tidak lupa menceritakan pengalamannya sepanjang perjalanan di Lombok.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, H. Gufranudin, M.T.Sol, kepada penulis berita ini mengatakan, even tersebut memungkinkan Lombok Timur semakin di kenal di dunia Internasional karena para cylclist yang terlibat berasal dari 9 negara selain Indonesia itu, tentu akan menceritakan pengalamannya selama dalam perjalanan, setelah kembali di negara masing-masing. Peserta berasal dari Australia, USA, Italia, Brazil, Spanyol, Malaysia, Brunei Darussalam, Argentina, Singapura, Jerman dan Indonesia, jelasnya.

Rencananya setelah sukses Lombok Audax 300 Kilometer tahun 2013 itu, sudah dijadwalkan Lombok Audax 400 Kilometer pada Bulan April, 600 Kilometer pada tiga bulan berikutnya dan 700 Kilometer pada September mendatang. Dalam hal ini pihaknya akan berupaya untuk men-setting, agar rute-rute yang ditempuh dan tempat beristirahat peserta diupayakan memiliki daya tarik wisata.

Penyelenggara dan sejumlah cyclist yang berhasil diwawancara menuturkan hal yang berbeda. Tenne Permatasari, penyelenggara even menyatakan keinginannya untuk menjadikan Lombok sebagai Cycling Island, setelah melihat kondisi jalan yang rata-rata sudah di hotmix, medan yang menantang, keramah-tamahan masyarakat dan panorama alam yang cukup memikat.

Dengan predikat sebagai Cycling Island, Lombok Timur akan meraih beberapa keuntungan terutama dalam bidang pariwisata, antara lain potensi wisata akan semakin dikenal dan kunjungan dari luar negeri akan semakin banyak karena kegiatan itu bisa dilaksanakan secara terus menerus.

Iapun membenarkan rencana pelaksanaan Lombok Audax untuk beberapa bulan ke depan. Bahkan Ia menyebutkan jumlah peserta yang akan ambil bagian dalam Lombok Audax 400 Kilometer sekitar Bulan April mendatang melibatkan lebih dari 100 Cyclist. Ia menyatakan akan membatasi peserta, karena jika peserta terlalu banyak akan menyulitkan pihaknya untuk mengkoordinir.

Azrul Ananda, putra Menteri BUMN Dahlan Iskan, salah seorang peserta petualangan bersepeda itu, mengaku pertama kali menempuh rute sepanjang 300 Kilometer. Sebelumnya, Ia telah menaklukkan rute paling jauh 170 Kilometer. Pada perjalanan kali ini, Ia mengaku sempat mengalami pecah ban. Ia memuji perjalanan yang disebutnya menarik karena medan yang cukup menantang terutama ketika melewati Pusuk.

Menyinggung daya tarik Lombok sebagai daerah wisata, Azrul mengaku setiap tahun selalu mengajak keluarganya ke Lombok. “ Saya lebih suka ke Lombok karena lebih ramah dan alam lebih terjaga, saya berpesan agar masyarakat dan pmerintah daerah menjaga pantai dan alam dan harus belajar dari kesalahan daerah wisata lain, pantai jangan dihabisin”, ujarnya.

Davide, Cycling asal Italia, mengaku menyesal tidak sempat berhenti untuk poto bersama di berbagai tempat yang menarik dalam perjalanan itu. “ Hanya satu hal yang saya sesalkan, tidak dapat foto bersama di lokasi panorama indah dalam perjalanan, kalau rute dan tempat lainnya sangat mengesankan” tandasnya ditanya kesannya.

Syayadi, Cycling tertua berusia 69 Tahun asal Sidoarjo, mengakui tantangan yang cukup berat dalam perjalanannya, tetapi Ia bertekad untuk menyelesaikan rute itu untuk mendapat lisensi dari Audax bahwa dirinya sudah mampu tahan bersepedah dengan rute 300 Kilometer.( Zar-Humas)

sumber : http://humas.lomboktimurkab.go.id

Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013

Jatim tuan rumah balap sepeda taraf Internasional

Editor:  |

Rabu, 08 Mei 2013 19:28 WIB,

Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013 - Jatim tuan rumah balap sepeda taraf Internasional - Gelaran Tour East Java di JatimGelaran Tour East Java di Jatim(Foto: Angga)

LENSAINDONESIA.COM: Layaknya Tour the East Java, namun kali ini event long distance cycling diadakan di Jawa Timur (Jatim). Acara yang rencananya akan dilaksanakan pada 30 Juni ini bertajuk Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013.

Seperti yang dipaparkan oleh Direktur Utama (Dirut) PT Jawa Pos Koran, Azrul Ananda, Rabu (8/5) siang, event on day cycling ini akan menempuh total jarak 232 Km dengan mengambil start dan finish di Surabaya.

Rute yang akan ditempuh oleh kurang lebih 300 peserta ini akan dibagi dalam enam etape, yakni Surabaya-Pandaan, Pandaan – Universitas Brawijaya (Unbraw) Malang, Unbraw-Batu, Batu-Kandangan, Kandangan-Mojokerto, Mojokerto-Surabaya.

“Tantangan terberat di tiga etape awal dan puncaknya saat peserta bergerak dari Malang menuju Pujon. Setelah itu, peserta akan meewati rutu turunan dan flat,” jelas Azrul.

Menurut putra Menteri BUMN, Dahlan Iskan ini animo peserta Audax Jatim sangat luar biasa. Ketika pendaftaran baru dibuka awal Mei lalu, dalam kurun waktu 36 jam kuota awal, yakni 250 peserta sudah habis. Akibatnya, panitia menetapkan kebijakan pembatasan jumlah peserta menjadi 300.

“Pesertanya berasal dari Jawa Timur, luar Jatim dan beberapa negara di luar negeri, seperti Amerika Serikat, Singapura dan beberapa negara Eropa,” ucap Azrul.

Sementara itu, dalam sambutannya, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf mengaku antusias dan memberikan dukungan penuh pada Audax East Java 2013. “Kami memberikan dukungan penuh. Kita merasa berkepentingan untuk membantu. Sebab melalui event ini Jatim lebih dikenal di dunia luar,” kata Gus Ipul, sapaan akrabnya.

Saifullah hanya berharap, kejadian di Tour de East Java (TdEJ) 2012 berupa banyaknya jalan berlubang, bisa segera teratasi.

“Jangan sampai itu terjadi lagi. Sebab ini diikuti peserta luar Jatim dan luar negeri,” pungkas orang nomor dua di pemerintahan Provinsi Jatim ini. @angga_perkasa

sumber : http://www.lensaindonesia.com

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (2)

SELASA, 11 SEPTEMBER 2012
 

 

 

 

TOKO 100 TAHUN PLUS: Azrul Ananda (kiri) dan Agung Kurniawan di depan Rossignoli, toko sepeda di Milan yang berdiri sejak tahun 1900. FOTO JPNN

Usia Sudah 70 Tahun, Seminggu Hanya Bikin Dua Frame
Di Milan, ada toko sepeda yang sudah berdiri sejak 1900. Banyak pula artisan (seniman) sepeda yang namanya superkondang di seluruh penjuru dunia.
Laporan Azrul Ananda, MILAN

Kalau suka sepeda, sama dengan otomotif, nama-nama paling eksotis datang dari Italia. Kalau di dunia mobil ada Ferrari dan Lamborghini, di dunia sepeda ada Colnago, Pinarello, Cinelli, dan lain sebagainya.

Nah, kalau berkunjung ke Milan, ada kesempatan untuk mengunjungi langsung bengkel, pabrik, atau markas merek-merek ternama itu. Banyak di antara mereka yang letaknya di Milan atau di sekitar Milan.

Sebut saja Colnago, yang berpusat di Cambiano, di utara Milan, di dekat sirkuit Formula 1 Monza. Lalu ada De Rosa, Cinelli, dan lain-lain. Kalau seniman sepeda, nama yang kondang, antara lain, Masi. Kalau kita perhatian, merek-merek itu sudah tidak asing lagi di Indonesia. Banyak produk tersebut yang berseliweran di jalanan kita. Jika di Milan, tempat mereka berasal bisa dikunjungi secara langsung dengan relatif mudah.

Ketika tiba di Milan, sebagai penggemar sepeda, salah satu yang dicari pertama adalah toko sepeda. Searching di berbagai sumber, ada satu nama yang selalu muncul duluan. Yaitu, Rossignoli.

Usut punya usut, itu toko sepeda tua luar biasa. Berdiri sejak 1900. Jadi, sudah seratus tahun lebih eksis! Letaknya juga tidak berubah, selalu di kawasan Garibaldi. Itu masih di tengah Kota Milan. Kalau mau ke sana, tinggal naik subway jalur hijau, turun di Garibaldi atau lebih dekat lagi di Moscova.

Menemukan toko itu memang mudah. Tanya orang di sekitar stasiun, banyak yang tahu letaknya. Begitu tiba, toko tersebut langsung terlihat  ’’uzurnya”. Papan tulisan ’’Rossignoli” di depan dibiarkan memudar.

Apa isinya? Jangan mengharapkan sepeda-sepeda high-end yang harganya ajaib. Itu sebenarnya toko sepeda biasa untuk semua kalangan. Mau sepeda harga ribuan euro? Ada. Mau sepeda merek Rossignoli harga 200 euro (sekitar Rp2,4 juta)? Juga ada. Mau pesan sepeda custom sesuai bentuk dan ukuran badan kita? Juga bisa.

Dari begitu banyak sepeda (kebanyakan tipe urban) yang berkeliaran di jalanan Milan, sangat besar kemungkinan kita melihat yang bermerek Rossignoli.

Serunya, sepeda bekas juga banyak digantung di langit-langit toko. Sebuah sepeda balap Rossignoli edisi 1970-an, misalnya, dilego “hanya” 800 euro. Sebuah Pinarello KOBH (Dogma K) bekas edisi Team Sky, yang di Indonesia populer luar biasa, dijual  ’’hanya’’ 3.000-an euro.

Tokonya memang tidak besar. Seperti kebanyakan toko sepeda standar di Indonesia. Tapi, kalau jalan ke belakang, ada workshop, gudang, dan kantornya. Selama di Rossignoli, kami ditemani Matias Rossignoli, salah satu keturunan pendiri toko. Ya, toko itu masih terus dikelola keluarga secara turun-temurun. Sampai generasi keempat!

”Itu paman saya, itu juga cucu, itu keluarga yang lain,” kata Matias Rossignoli dengan menunjuk orang-orang yang bekerja di sekeliling toko. Iseng, saya tanya apakah bisa dibantu dibuatkan sepeda balap custom. Matias langsung mengajak saya ke workshop di belakang bersama seorang stafnya, Giovanni. Mereka pun langsung mengukur tinggi badan, panjang kaki, tangan, dan lain-lain.

Sebagai bahan informasi, tinggi saya 176 cm. Dengan inseam (jarak dari dasar lantai ke selangkangan) 82 cm. “Kamu ukuran 54. Kamu pakai stem 11 cm,” katanya. Kayaknya itu sangat akurat, sepeda saya di Indonesia kebanyakan memang berukuran 54, dan saya paling nyaman pakai stem 11 cm!

Matias lantas berjanji mengirim e-mail pilihan-pilihan spesifikasi sepeda. Bayangan saya, kalau tidak ketemu barang asyik di Milan, saya pesan saja sepeda balap klasik dari bahan steel (baja) di Rossignoli.

Dari toko utama itu, di sebelahnya ada lagi toko bernama “Rossignoli”. Isinya jualan pakaian dan aksesori bersepeda. Juga pakaian dan aksesori motor. “Ini pasti saudara yang lain,” kata saya dalam hati.

Rossignoli termasuk berkesan. Tapi, lebih berkesan lagi saat menuju Vigorelli Velodrome. Di sanalah tempat Alberto Masi bekerja membuat sepeda.

Untuk penggemar sepeda, nama Masi sangatlah familier. Khususnya di kalangan penggemar sepeda fixed gear (fixie) dan classic. Banyak sekali sepeda merek itu yang dijual di Indonesia. Harganya tidak supermahal, walau juga tidak murah.

Meski demikian, tidak banyak yang tahu bahwa merek Masi itu sudah pecah dua. Masi yang kebanyakan beredar bukanlah Masi yang ’’sebenarnya”. Bukan, bukan berarti palsu. Sama-sama asli. Tetapi, Masi yang satu sudah jadi ’’Masi industri”, sedangkan yang orisinal masih dibuat satu per satu sendiri oleh orang yang bernama Alberto Masi di Milan.

Ceritanya cukup panjang dan rumit. Pada 1950-an dan 1960-an Faliero Masi menjadi kondang berkat sepeda yang dia buat untuk para legenda balap. Seperti Eddy Merckx, Jacques Anquetil, Fiorenzo Magni, dan lain sebagainya.

Pada 1972 Faliero pindah ke Amerika Serikat sekaligus menjual hak nama Masi kepada investor di sana. Harapannya, mereka bisa mengembangkan perusahaan. Kenyataannya, Faliero tidak betah di California. Ingin pulang ke Italia.

Lanjut cerita, entah bagaimana detailnya, terjadi perselisihan yang tak bisa diselesaikan. Faliero, yang menurunkan kemampuan istimewanya kepada sang anak, Alberto, kemudian terus membuat sepeda-sepeda secara eksklusif untuk para klien. Toh, para klien itu tetap ingin sepeda yang dibuat oleh orang bernama Masi. Bukan sekadar merek Masi.

Alhasil, kini ada dua merek Masi. Yakni, yang produksi masal dari Amerika (dan diklaim oleh Alberto Masi berkualitas lebih buruk karena dibuat murni untuk bisnis) serta yang dibuat satu per satu oleh keluarga Masi di laboratoria (bengkel) mereka di Vigorelli.

Faliero sendiri meninggal di usia 93 tahun pada Desember 2000. Alberto, kini 70 tahun, masih bekerja di Vigorelli bersama beberapa asisten.

Konsekuensi hukum dari perselisihan itu: Dua-duanya boleh bikin sepeda merek Masi. Hanya, bengkel di Vigorelli tidak boleh menjual buatan mereka di Amerika dengan menggunakan nama tersebut. Kalau mau berjualan ke Negeri Paman Sam, mereka pakai merek Milano V3.

Beberapa klien kondang yang sekarang masih pesan sepeda di situ adalah Miguel Indurain, Greg LeMond, serta beberapa legenda balap lain dari era 1980-an dan awal 1990-an.

Nah, kalau ingin mengunjungi langsung Alberto Masi, saat ini masih sangat mungkin dilakukan. Vigorelli Velodrome sudah tidak lagi dipakai, tapi lokasinya mungkin menarik untuk dihampiri karena kedekatannya dengan tempat kondang lain: San Siro.

Kalau naik subway, turunnya di kawasan San Siro. Jalan kaki kira-kira 2 kilometer, sampailah kita di Vigorelli. Bengkel Masi, yang ada di situ sejak 1950-an, juga gampang didapati. Di ujung jalan, ada jersey warna pink (simbol juara sepeda di Italia) yang ditempel ke papan dengan tulisan “Masi” serta bendera Italia. Lalu, ada panah yang menunjukkan arah kita harus berjalan.  Tidak jauh dari situ, terlihatlah bengkel yang menempel di sisi velodrom tersebut. Tidak ada penanda mewah.

Saya dan rekan Agung Kurniawan mengunjungi Masi Kamis pagi (6/9), sekitar pukul 09.00. Rencananya, dari Masi, baru akan ke Sirkuit Monza untuk meliput hari persiapan Grand Prix Italia.

Pagi itu, ketika tiba di bengkel Masi, alangkah terkejutnya kami. Hanya ada satu orang yang sedang bersiap bekerja, memasangkan celemek. Dia adalah Alberto Masi sendiri!

Melihat kami dan setelah kami jelaskan (pakai bahasa Inggris) bahwa kami berasal dari Indonesia, dia memberi tanda pakai tangan untuk menunggu sesaat. Rupanya, dia tidak bisa bahasa Inggris dan meminta kami untuk menunggu beberapa menit. Rekannya akan datang untuk membantu menerjemahkan.

Sambil menunggu, dia bekerja membuat sepeda dan kami dipersilakan menikmati isi bengkel. Foto-foto dan melihat-lihat. Tempat yang kami kunjungi itu benar-benar “bengkel”. Tidak ada sepeda yang dijual, tidak ada aksesori yang dijual. Beberapa sepeda dipajang bukan untuk dijual, melainkan sebagai contoh atau penanda sejarah.

Sebuah sepeda bertulisan “Faema” merupakan yang dibanggakan. Itulah sepeda yang dipakai Eddy Merckx meraih kesuksesan pada 1968. Dan sepeda itu bukan untuk dijual!

Tidak lama, datanglah Romano Raptetti, salah satu asisten Alberto. Kami lantas berbincang dengan Alberto via Raptetti sebagai penerjemah. Percakapan sangat santai dan penuh canda. Alberto orangnya agak diam, tapi celetukannya lucu, sementara Raptetti dasarnya suka bercanda.

Alberto rupanya meneruskan passion ayahnya soal sepeda dari bahan baja. Sang ayah dulu ekstrem, bilang steel or nothing. “Bahan-bahan lain itu tak ada gunanya. Tujuan mereka hanya untuk cari uang.” Begitu komentar Faliero Masi dulu.

Alberto Masi agak beda. Baginya, steel tetap yang terbaik. Dengan kualitas bahan dan penggarapan, ia akan lebih abadi. Ada beberapa contoh frame rusak di bengkelnya, semua terbuat dari kombinasi karbon dan aluminium.

Kata mereka, dua bahan itu sebenarnya tak boleh dipadukan. Mereka seperti air dan minyak. “Seperti Mike Tyson melawan George Foreman,” tandas mereka.

Ditambahkan pula, bahan aluminium juga kurang oke. ’’Buat balapan, aluminium tidak bagus,” komentar mereka. Kami bertanya, berapa sepeda bisa dibuat Pak Masi dalam seminggu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pesan dari dia?

’’Biasanya pesanan bisa dipenuhi dalam 50 hari. Seminggu bisa bikin sekitar dua frame. Tetapi, bergantung situasi. Kalau lagi banyak pesanan, bisa lebih lama. Bulan Juli lalu, misalnya, ada orang Jepang yang pesan sepuluh frame,” jelas Alberto.

Alberto Masi menegaskan, barang garapannya orisinal. Bukan Masi yang dimassalkan. Dan kalau dipikir, memang tidak mungkin ada banyak barang yang beredar. Dijelaskan, dia tidak mungkin membuat lebih dari 800 frame per tahun.

Jadi, kalau ada yang menawari sepeda merek Masi di Indonesia, tanyakan kepastiannya. Itu berasal dari perusahaan Masi di Amerika atau buatan Masi di Vigorelli. Kalau buatan tangan Alberto Masi, ada tanda tangannya di top tube, di dekat sadel.

Harga buatan Alberto Masi juga tidak gila-gilaan. Di kisaran Rp25 juta-Rp40 juta untuk frame (bisa lebih kalau speknya lebih rumit dan kualitas bahan lebih tinggi).

Nah, itu bikin saya benar-benar tertarik. Buatan tangan Alberto Masi punya nilai masa depan. Alberto pun mengukur badan saya untuk membuatkan frame ukuran custom. Dia mengukur sendiri (dengan dibantu Raptetti) dan mencatat sendiri spek yang kami sepakati dengan tulisan tangan. Tidak ada komputer di bengkelnya di Vigorelli.

Ukuran saya? Kata Alberto, saya panjang di badan, relatif pendek di kaki, tapi dengan tapak kaki yang panjang (ukuran 46). “Kaki kamu semua panjangnya di telapak,” kelakarnya.

Jadi, saran dia adalah ukuran 54 cm dengan panjang top tube 545-550 cm. Plus stem 11,5 cm. Alberto ingin pemesan benar-benar puas. Semua detail dia tanyakan. Lekukan di bagian atas fork (garpu depan), warna yang benar-benar pas, warna tulisan, bentuk tulisan, dan lain sebagainya.

Ketika ada tambahan detail lagi, keesokannya Alberto sendiri yang menghubungi ponsel saya. Lewat Raptetti lagi, dia ingin memastikan sebuah spek yang saya inginkan. Dan memang, meski punya e-mail, Alberto lebih suka komunikasi via old school. Ya lewat telepon.

Sepeda buatan tangan Alberto Masi itu –kalau nanti selesai dan dikirim ke Indonesia– akan jadi kenang-kenangan paling orisinal dari Milan!  (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

SENIN, 10 SEPTEMBER 2012

STASIUN KECIL: Suasana Stasiun Lesmo di dekat Sirkuit Monza. Dari tribun utama, orang harus berjalan lebih dari 3 km untuk mencapai stasiun ini. FOTO AGUNG KURNIAWAN/JPNN

Kalau Tak Ada Kereta, Jangan-Jangan Harus Menginap di Toilet

Milan bukan sekadar pusat fashion Italia. Kota itu juga jadi tujuan untuk nonton Formula 1 plus tempat bernaungnya para seniman sepeda legendaris dunia. Berikut catatan Azrul Ananda dari kota tersebut.
Bulan September ini merupakan bulan istimewa untuk mengunjungi Milano alias Milan. Di awal bulan, penggemar balap dapat suguhan super, salah satu lomba Formula 1 paling bergengsi: Grand Prix Italia. Di akhir bulan nanti, ada salah satu ajang fashion paling top, Milan Fashion Week.Tentu saja sambil menonton Formula 1, ada banyak hal lain yang bisa dinikmati di Milan. Penggemar sepak bola pasti ingin melihat San Siro. Penggemar sepeda, seperti saya, punya tujuan lain lagi: mengunjungi nama-nama besar sepeda dunia. Misalnya Masi dan Colnago yang bermarkas di kawasan Milan.Jadi, selama akhir pekan lalu (6-9 September), saya dan rekan Agung Kurniawan menyempatkan diri keliling mengunjungi para seniman sepeda sebelum pergi ke Sirkuit Monza untuk meliput Formula 1. Bisa pagi hari, bisa sore hari. Sambil jalan-jalan untuk melihat Milan yang sebenarnya. Bukan lewat jalur-jalur turis yang ’’normal”. Hal paling penting yang harus dibawa/dipakai untuk melakukannya: sepatu yang supernyaman untuk banyak jalan.

Bagi penggemar balap, apalagi F1, Autodromo Nazionale Monza (Sirkuit Monza) merupakan salah satu venue impian yang ingin dikunjungi. Sudah eksis sejak 1922, sudah menjadi bagian dari F1 sejak seri paling bergengsi itu dimulai pada 1950.

Plus, itu adalah kandang Ferrari, tim paling legendaris yang punya jutaan penggemar di seluruh dunia. Tim berlogo Kuda Jingkrak itu bermarkas tak jauh dari Milan, di Maranello. Jadi, para penggemar juga bisa menyempatkan diri ke sana.

Juga memang meliput  dan menonton  F1 di Monza sangat seru. Para penonton, mayoritas tifosi (pendukung Ferrari), selalu memadati sirkuit berkapasitas tribun sekitar 115 ribu orang itu. Total diperkirakan lebih dari 300 ribu orang mengunjungi Monza selama akhir pekan F1.

Kamis saja, saat persiapan dan belum ada mobil turun ke lintasan, lebih dari 10 ribu orang sudah berkumpul di Monza. Padahal, bukan hal mudah untuk mencapai sirkuit tersebut. Letaknya agak jauh di utara Milan (sekitar 30 km) dan tidak ada jalur transportasi yang ideal. Semua tetap akan melibatkan banyak jalan kaki. Tinggal memilih, mau jalan 1 kilometer, 3 kilometer, atau lebih.

Bagi penggemar yang datang dari luar negeri, idealnya memang menginap di sekitar Monza. Atau di kota-kota kecil yang mengitarinya. Tapi, tempat menginap paling enak memang di Milan. Kalau tidak ke sirkuit, bisa jalan-jalan di kota yang keren tersebut.

Dari Milan itu, pilihan transportasinya harus jitu untuk bisa ke Monza. Kalau tidak, bisa kena jebakan Batman, jalan kaki superjauh. Jujur, karena saya dan Agung punya akreditasi media untuk meliput, jalur kami tidak seberat penonton biasa. Ada fasilitas mobil shuttle dan kawasan parkir khusus, bisa langsung masuk dekat paddock tempat tim dan media bekerja. Tapi, di tulisan ini saya ingin menyampaikan trik-trik kalau jadi penonton/penggemar.

So, mau ke Monza dari Milan?Berikut alternatif-alternatifnya: Naik taksi? Tentu saja oke. Bersiaplah membayar lebih dari 100 euro (lebih dari Rp 1,2 juta) untuk sekali jalan. Itu pun belum tentu bisa masuk ke kawasan sirkuit. Turun agak jauh, tetap jalan kaki lebih dari 2 kilometer untuk mencapai pintu sirkuit. Belum ke tribun atau jalan-jalan di dalamnya.

Sewa mobil, ini juga opsi. Namun, tetap saja kawasan parkirnya jauh. Kata seorang penonton yang temannya sewa mobil, makin hari area parkirnya juga makin jauh. Sebab, Sabtu lebih ramai daripada Jumat dan Minggu lebih ramai daripada Sabtu. Jadi, itu bukan opsi menarik kalau jadi penonton  ’’biasa’’.

Karena itu, ada beberapa alternatif lebih baik yang bisa dijalani, melibatkan kereta. Tetapi, kalau tidak tahu triknya, bisa jalan kaki jauh sekali. Ada teman-teman F1 Mania dari Indonesia yang merasakan jauhnya itu serta sempat membuat saya dan Agung ikut merasakannya.

***

Memang, kalau ikut panduan resmi, ada kereta yang nyambung langsung dari Milan ke Monza. Dengan sistem subway yang komplet dan cepat, dari mana saja kita tinggal menuju Stasiun Garibaldi di kawasan pusat kota. Di sana naik kereta  yang hampir setiap jam tersedia menuju Monza.

Tiketnya murah, hanya 1,5 euro untuk subway sekali jalan plus sekitar 2 euro untuk kereta menuju Monza. Tapi, hati-hati. Sebab, ada dua stasiun yang bisa dituju di kawasan Monza. Yang satu Stasiun Monza, dan itu letaknya bukan di sirkuit, melainkan di kotanya. Silakan turun di situ dan Anda tetap harus naik bus lagi atau jalan kaki 12 kilometer!

“Kami (Kamis, 6/9) naik kereta ke sana. Ternyata bus ke sirkuit belum ada. Jadi deh jalan kaki 12 kilometer ke sirkuit,” ucap Ihsan Raharjo, mahasiswa Indonesia di Jerman yang mengisi liburan dengan nonton F1 di Italia bersama temannya, Jefri Christian.

Stasiun kereta yang paling dekat dengan sirkuit adalah Stasiun Lesmo. Namanya sama dengan salah satu tikungan Sirkuit Monza dan memang letaknya berdekatan.

Rombongan lain dari Indonesia sempat diinstruksikan untuk turun di sana. Sebab, tiket nonton juga diminta diambil di sana. Katanya hanya 200 meter dari pintu sirkuit.

Benar memang, stasiun itu hanya 200 meter dari pintu sirkuit. Tapi, pintu yang jauuuuuuuuuuh dari tribun utama dan paddock. Dari ujung ke ujung. Total harus jalan kaki sekitar 3 kilometer dari pintu Lesmo menuju kawasan paddock. Bukan lewat jalan aspal atau jalan resmi, melainkan jalan setapak yang rasanya seperti menembus hutan.

Sirkuit Monza memang berada di dalam kompleks Parco di Monza, taman/hutan terbesar di belahan utara Italia. Luasnya mencapai 150 hektare. Saya dan Agung mencoba naik kereta di Stasiun Lesmo itu saat pulang dari lintasan, Jumat sore setelah babak latihan (7/9). Untung masih sore. Kalau kemalaman, bisa gelap gulita. Dan untung tepat waktu. Sebab, kereta terakhir lewat pukul 20.09.

Petang itu, sekitar pukul 19.00, saat matahari mulai terbenam, saya dan Agung di Stasiun Lesmo bersama dua orang penggemar dari Bulgaria, hanya berempat.

Kami sama-sama bengong khawatir. Sebab, pintu bangunan stasiun dikunci dan tidak ada orang sama sekali. Di dalam gedung hanya ada screen yang menyala, menyebut masih ada kereta terakhir pukul 20.09. Kami berempat benar-benar ragu. Sebab, dari ribuan orang penonton di Monza, mengapa hanya kami berempat di situ?

’’Ini kali pertama kami nonton F1, kali pertama kami ke Monza,’’ aku Adrian Tsvetkov, pemuda dari Bulgaria itu. “Kami diberi tahu bahwa ini jalan yang lebih baik untuk kembali ke Milan,” lanjutnya.

Kami pun bercanda, seandainya tidak ada kereta, kami akan berjalan ke kawasan parkir para camper. Tempat orang-orang yang naik karavan parkir dan menginap selama akhir pekan. ’’Kita ketuk saja pintu mereka, minta menumpang tidur,’’ canda Adrian.

Kalau tidak boleh? Rekannya, Dobrin Dimitrov, punya ide lebih lucu. Dia menunjuk bilik-bilik toilet di depan stasiun. ’’Di situ saja, satu orang satu,” ucapnya, lantas tertawa.

Untunglah, benar-benar ada kereta di stasiun itu. Dan kami tidak berempat. Teman-teman F1 Mania Indonesia tiba di situ sekitar lima menit sebelum kereta berangkat (kalau tidak, gawat itu!). Penonton-penonton lain juga datang tepat waktu. Amanlah kami balik ke Milan, tidak perlu menginap di toilet.

Setelah beberapa hari, kami sekarang tahu jalur paling enak dari Milan ke Monza. Manfaatkan sistem subway yang lengkap dan cepat itu. Cukup 1,5 euro, terus naik subway jalur merah sampai pemberhentian terakhir di utara Milan. Total perjalanan dari Duomo (tempat turis dan belanja di pusat kota) hanya sekitar 15 menit.

Dari Sesto 1 Maggio, nama stasiun terakhir itu, ada dua opsi yang bisa diambil. Pertama, naik bus. Hanya bayar lagi 2 euro, ada bus nomor 221 yang turun di jalanan sekitar sirkuit. Tapi, cukup lama karena berhenti-berhenti, total bisa 45 menitan. Dan kalau bus penuh, bisa berdiri sepanjang jalan.

Alternatif lain, dari stasiun itu, naik taksi. Asal tahu saja, sepanjang akhir pekan grand prix, ada banyak jalan menuju sirkuit yang ditutup. Hanya taksi dan kendaraan dengan tanda khusus yang boleh masuk. Jadi, itu alasan lain naik mobil sendiri bukanlah alternatif.

Naik taksi dari situ relatif lebih fair harganya. Sekitar 30 sampai 40 euro, bergantung jalur dan kemacetan. Kalau berempat, bisa bagi ongkos maksimal.

Kalau naik taksi, minta turun di Via 4 Novembre 1918. Jalan itu lurus menuju pintu utama sirkuit. Dan jalan itu menarik karena ada pasarnya. Bayangkan, ada dua stan berseberangan. Satu berjualan buah, satu lagi berjualan merchandise Ferrari. Di sebelahnya, jualan ikan dan hasil laut!

Kalau naik taksi itu, pulangnya memang ribet. Apalagi pas rush hour, semua penonton mau pulang berbarengan. Kalau pulang, enaknya ya naik bus 221 itu lagi untuk kembali ke stasiun subway. Agak lama, tapi toh sudah tidak tergesa-gesa ke lintasan.

Walau banyak jalan kaki, bagi penggemar F1 Monza tetap berasa “ajaib”. Bagaimanapun, “budaya” F1 begitu kuat sehingga atmosfernya begitu hidup. Tidak seperti ke sirkuit-sirkuit “modern” di negara-negara yang tidak punya sejarah F1 (seperti kebanyakan di Asia atau Timur Tengah).

“Asyik lah sirkuitnya. Asyik banget suasananya,” kata Robianto Haripurnomo, 45, yang sering mengelola tur nonton bersama istrinya, Yenny “Ekies” Erika, lewat Lily Tour.

Bagi Sugeng Haryadi, 45, dan istrinya, Eka Dewi Vegajanti, 44, jalan jauh nonton F1 sudah jadi makanan selama belasan tahun. Pasangan Ferrari Mania dari Surabaya itu sejak 2000 rajin nonton F1 ke mana-mana. Mulai Malaysia, Tiongkok, Australia, hingga beberapa negara lain.

Karena penggemar berat Ferrari, mereka sekarang seperti ada di alam yang benar. Sabtu lalu (8/9) mereka sempat ikut tur ke Maranello, markas Ferrari. “(Jalan jauh) ini sudah biasa. Saya dulu hamil tujuh bulan juga tetap niat jalan kaki terus nonton F1 di Sepang (Malaysia, Red),” tutur Eka Dewi Vegajanti.

Saking gilanya pasangan itu terhadap Ferrari, putri terakhir mereka diberi nama Fiorano. Sama dengan nama sirkuit uji coba yang dimiliki pasukan Kuda Jingkrak!

Bagi saya pribadi, yang paling ingin saya lihat di Monza adalah bagian dari sirkuit lamanya. Khususnya bagian banking (lintasan miring) yang dulu merupakan bagian penting lintasan oval Monza. Ya, sirkuit itu dulu punya bagian oval.

Karena terlalu cepat dan berbahaya, bagian oval tersebut sudah puluhan tahun tidak dipakai. Tapi, dulu itu merupakan bagian dari magic Monza, banyak korbannya. Sampai sekarang, logo sirkuit masih menampilkan bentuk Monza sekarang plus lintasan oval tersebut.

Salah satu film balap favorit saya berjudul Grand Prix keluaran 1970. Film yang memenangi Piala Oscar itu bercerita tentang F1 zaman bahaya dulu. Dan salah satu tokoh utamanya tewas di oval Monza.

Kalau melihat di televisi, agak sulit mencari di mana bagian oval itu. Beberapa disembunyikan sebagai bando reklame. Di sirkuit, juga harus jalan “masuk ke hutan” untuk menemukannya. Sekarang lintasan oval itu sudah tidak dirawat, rerumputan tumbuh di sela-sela aspalnya.

Senang rasanya bisa melihat banking itu. Ketika mencoba mendakinya, alamak, ternyata miring sekali. Harus merangkak untuk mencapai ujung atasnya. Alangkah mengerikannya balapan di sana! (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Wow, Keliling Champs-Elysees Disoraki Ribuan Penonton

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (8-Habis)
24 Juli 2012 – 09.51 WIB
 Wow, Keliling Champs-Elysees Disoraki Ribuan Penonton
Azrul Ananda saat di garis Champs-Elysees yang merupakan garis finish terakhir dari rangkaian Tour de France 2012, Ahad (22/7/2012). (Foto: BOY SLAMET/JPNN)

Laporan AZRUL ANANDA, Prancis

Hari terakhir program Tour de France memberikan pengalaman yang tak akan terlupakan: Bersepeda keliling Champs-Elysees di hadapan ribuan penonton. Ada yang teriak ingin beli salah satu sepeda kami!

Program Tour de France yang diikuti rombongan Jawa Pos Cycling secara resmi berakhir, Ahad lalu (22/7).

Hari yang sama dengan etape penutup lomba, yang berakhir di salah satu jalanan paling kondang di dunia: Champs-Elysees.

Serunya, pada hari yang sama itu, kami pun mendapat kesempatan bersepeda di jalur yang sama: Champs-Elysees! Dan ternyata, pengalaman itu jauh lebih eksklusif daripada yang pernah kami bayangkan sebelumnya.

Ketika membaca jadwal ini sebelum ke Prancis, kami pikir kami akan bersepeda bersama rombongan besar. Ala fun bike di Indonesia.

Ternyata tidak! Ternyata, penyelenggara mengatur jadwal sedemikian rupa, sehingga ketika keliling Champs-Elysees, hanya kami yang keliling di sana!

Kami keliling di hadapan ribuan penonton, yang camping di pinggir jalan sejak pagi. Ya, hanya kami yang keliling Champs-Elysees di hadapan ribuan penonton!

***
Pukul 10.45, Ahad pagi itu, kami diminta berkumpul di lobi hotel, yang terletak di kawasan Champs-Elysees. Total ada 24 orang dalam rombongan VIP tersebut. Enam belas dari Indonesia alias kami, plus delapan dari berbagai negara seperti Amerika dan Australia.

Para pemandu kami dari Discover France —partner resmi Amaury Sport Organisation (ASO)— sebagai pengelola Tour de France telah siap semua. Mereka berbagi tugas. Beberapa ikut bersepeda mengawal kami. Beberapa naik mobil untuk memberikan support selama perjalanan.

Rasanya tak sabar segera ke Champs-Elysees. Ya, total bersepeda hari itu bakal sangat pendek, hanya dijadwalkan total 10 kilometer. Namun, beberapa kilometer di antaranya adalah di jalanan Champs Elysees!

Sepanjang tahun, Champs-Elysees merupakan salah satu jalan paling sibuk di Paris. Dalam setahun, jalan tersebut hanya ditutup dua kali. Satu untuk Bastille Day (Hari Nasional Prancis), yang jatuh setiap 14 Juli. Satu kali lagi saat etape penutup Tour de France.

Seperti biasa, sebelum berangkat, ada brifing. Kami diminta menaati segala peraturan. Sebab, ASO sangatlah ketat dalam mengatur jadwal. Lalu, dengan alasan keamanan, kami tak boleh banyak berhenti saat keliling sirkuit. Jadi, kesempatan foto-foto akan terbatas. Meski demikian, mereka sudah menyiapkan beberapa waktu dan tempat untuk berfoto.

Selesai brifing, kami pun berangkat. Menuju Place de la Concorde, salah satu persimpangan kondang di Paris. Di sana, kami diminta menunggu. Sebuah mobil Skoda panitia resmi Tour de France datang menjemput. Mobil itulah yang akan memandu kami mengikuti rute.

Sebelum giliran kami masuk sirkuit, rombongan anak-anak bersepeda diberi kesempatan lebih dulu. Sekitar 15 menit kemudian, baru giliran anak-anak besar alias kami untuk masuk.

Dari Place de la Concorde, kami mengikuti jalan menuju Champs-Elysees. Semua jalanan terbuat dari batu, sehingga getarannya membuat kami makin gemetaran karena senang dicampur tegang.

Tidak jauh, kami berhenti dulu di bawah tanda garis finis lomba, di sisi timur Champs-Elysees. Di kanan dan kiri tampak bangunan tribun sudah terpasang, tinggal menunggu ribuan penonton untuk mengisinya.

Di garis finis itu, kami diberi kesempatan berfoto. Tidak lama, kami dilepas lagi. Kali ini agak menanjak ke arah barat Champs-Elysees, ke arah monumen kondang: Arc de Triomphe.

Di kanan dan kiri tampak butik-butik kondang. Misalnya, Louis Vuitton. Di kanan dan kiri, tampak ribuan penonton sudah berdiri di pagar pembatas.

Sejak pagi, mereka sudah bersiap di situ. Bahkan, banyak yang sudah camping sejak dini hari. Mereka ingin mendapat posisi terdepan melihat aksi para pembalap pada sorenya.

Nah, tengah hari itu, mereka harus bersabar dulu melihat kami melintas di jalanan. Walau kami bukan pembalap, dan wajah kami tampak bingung sendiri ditonton ribuan orang, para penonton itu tetap menyoraki.

Kami pun jadi bersemangat. Ada yang pasang gaya, memegang setir di bagian bawah (drop). Ada yang zig-zag. Ada yang pura-pura sprint. Dan sebagainya.

Hey, kapan lagi kita bisa bergaya di jalanan paling kondang, disaksikan ribuan orang! Yang jelas, kami terus curi-curi berfoto. Baik pakai kamera beneran maupun kamera handphone. ‘’Ya ini yang bikin harganya mahal,’’ celetuk salah seorang anggota rombongan kami.

Ketika berputar di depan Arc de Triomphe, ada teriakan lucu untuk rombongan kami. ‘’Hey, I like your bike! I want to buy it!’’ Terjemahannya: ‘’Hey, aku suka sepedamu! Aku mau membelinya!’’

Teriakan itu ditujukan kepada Sun Hin Tjendra, salah seorang jagoan balap di kelompok kami. Dia memang mengendarai sepeda yang eye-catching. Look 695 Premium Collection edisi Brasil. Warnanya hijau dan kuning.

Sebenarnya, bukan kali itu saja sepeda Sun Hin ini jadi pusat perhatian. Hari-hari sebelumnya, ketika kami bersepeda mengikuti rute-rute kondang Tour de France, sepeda tersebut juga berkali-kali menarik perhatian orang.

Saat di depan Arc de Triomphe itu pula, Sony Hendarto asal Madiun sempat bergaya asyik. Dia mengangkat sepeda custom Independent Fabrication-nya, berpose di depan kamera ala para jawara Tour de France.

Sebenarnya, kebanyakan yang lain juga punya angan-angan berpose seperti itu. Tapi, mungkin karena tegang dan terlalu asyik, mereka sampai lupa untuk melakukannya.

Sepanjang perjalanan balik ke arah Place de la Concorde, ribuan penonton terus menyoraki kami. Seru dan aneh sekali rasanya.

Seusai pengalaman singkat 20 menitan, melewati lintasan sekitar 3 kilometer itu, kami seperti kehabisan komentar. Tidak tahu harus bicara apa. Benar-benar pengalaman yang unik.

Sulit dipercaya, kami telah bersepeda melewati salah satu jalan paling kondang di dunia. Sulit dipercaya, kami telah bersepeda melewati garis finis Tour de France yang paling terkenal.

Satu hal yang kami sepakat di luar perkiraan: Jalanan yang tidak rata. Sulit dipercaya, para pembalap melintasi jalanan kasar itu dengan kecepatan luar biasa!

‘’Pengawas lomba dari Eropa, kalau datang ke Indonesia, selalu komplain tentang jalanan kita yang buruk. Padahal, balapan di Champs-Elysees juga dilakukan di atas permukaan yang buruk,’’ komentar Sastra Harijanto Tjondrokusumo atau Pak Hari, yang di Indonesia merupakan salah seorang tokoh balap sepeda.

Kami rasa, mungkin kami pula rombongan Indonesia pertama yang bersepeda melintasi Champs-Elysees pada saat berlangsungnya Tour de France. Francois Bernard, pemandu kami, membenarkan bahwa rombongan kami adalah yang pertama dari Indonesia. Wow.

***
Dari Champs-Elysees, kami langsung bersepeda lagi berputar kembali ke hotel. Ganti baju, lalu langsung kumpul lagi untuk menuju salah satu tribun VIP: Tribune Grand Palais. Di sanalah rombongan menonton aksi para pembalap kelas dunia menuntaskan Tour de France 2012.

Etape 20 itu sebenarnya dimulai di Rambouillet, dengan total jarak yang ditempuh 120 Km. Tapi, sekitar 50 Km terakhirnya adalah criterium di tengah Kota Paris. Selama sekitar sepuluh kali mereka melintasi Champs-Elysees.

Bagi penonton, rasanya seperti melihat balapan di sirkuit. Mereka bersorak setiap kali idolanya melintas. Para pembalap itu pun terlihat begitu cepat. Wus! Lewat begitu saja nyaris tanpa suara. Padahal, itu pakai tenaga kaki, bukan mesin.

Semakin sedikit jarak lomba, semakin riuh teriakan penonton. Apalagi ketika Sky Procycling (Team Sky) mulai mengambil alih komando lomba, menyiapkan bintangnya, Mark Cavendish, untuk sprint.

Dan untuk tahun keempat berturut-turut, Cavendish meraih kemenangan di jalanan Champs-Elysees. Kali ini melengkapi sukses besar Sky, yang meraih yellow jersey lewat Bradley Wiggins. Seusai lomba, para penonton tidak langsung pulang. Mereka dengan sabar menunggu prosesi seremoni juara. Mereka memang punya insentif ekstra untuk tidak segera pulang. Sebab, setelah itu, para pembalap berpawai keliling mengucapkan goodbye dan terima kasih kepada para penonton.

Para pembalap juga tidak segan untuk menuju tribun, memenuhi permintaan tanda tangan penonton. Termasuk para bintang besarnya seperti Cadel Evans (BMC) dan Andre Greipel (Lotto-Belisol). Sambil menunggu itu, staf penyelenggara tampak mulai sibuk membongkari perlengkapan lomba. Pada saat pembalap masih berkeliling menyapa penonton, tampak layar LED sudah dibongkar. Dalam hitungan jam, segalanya memang harus bersih.

Lomba berakhir sekitar pukul 17.00, pukul 21.00-nya jalanan Champs-Elysees sudah kembali normal. Tidak ada branding, tidak ada atribut lomba, tidak ada pembatas-pembatas lomba. Bersih!

***
Rombongan kami berkesempatan makan malam bersama. Sekaligus mengucapkan perpisahan dengan para pemandu: Francois Bernard dan Martin Caujolle. Kami juga sempat nongkrong dan ngobrol di depan hotel.

Sedikit merangkum perjalanan seminggu ini: Pengalaman yang kami dapat sangatlah mengesankan. Semula, kami mengira ini perjalanan sepeda santai, hanya 60 kilometeran sehari. Ternyata, kami diajak menyiksa diri, mendaki tanjakan-tanjakan legendaris Tour de France.

Apakah kelak mengulang lagi? Rata-rata bilang sangat mungkin. Rata-rata bilang ingin mengulang lagi. Sebab, masih ada banyak tanjakan atau rute kondang lain yang belum kami rasakan. Apakah akan mengulang tahun depan? Mungkin iya, mungkin tidak.

Bergantung situasi. Yang jelas, kalau tahun depan jadi, itu akan menyuguhkan pengalaman yang lebih spesial lagi. Sebab, tahun depan adalah Tour de France yang ke-100.

Angka spektakuler yang menjanjikan penyelenggaraan lebih spektakuler! Pergi lagi nggak ya?.(ila/jpnn/habis)

sumber :www.jpnn.com

Harus Ulangi Lagi, Jangan Sampai Bobot Bertambah

Senin, 23 Juli 2012 , 00:03:00

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (6)

064428_936179_tdf_6Jersey Persahabatan-Jersey Jawa Poss Cycling Tour de France menarik perhatian peserta tour lain. Usai diner, Paula Braden, asal Alanta, USA meminang Jersey salah satu peserta rombongan Jawa Pos Cycling untuk dibawa sebagai kenangan ke negaranya. Foto : Boy Slamet/Jawa Pos
 
Ikut program bersepeda Tour de France, rombongan Jawa Pos Cycling dapat kesempatan bertemu dengan cyclist dari negara-negara lain. Bisa berbagi cerita dan pengalaman.

Catatan AZRUL ANANDA

Setelah empat hari bersepeda melawan tanjakan, panas, dan dingin, Jumat (20/7) adalah hari travel sekaligus istirahat. Rombongan menuju utara Prancis, bersiap menikmati dua hari penutup Tour de France 2012.

Jumat itu kami sebenarnya juga “menjauh” sebentar dari sirkus “Le Tour”. Ketika para pembalap menjalani rute flat 222,5 km dari Blagnac (dekat Toulouse) menuju Brive-la-Gaillarde, kami naik kereta dari Pau menuju Nogent le Rotrou (semakin dekat ke Paris).

Diberi waktu istirahat dan bangun lebih siang, Jumat itu kami baru check out dan meninggalkan hotel di Pau sekitar pukul 11.00. Satu jam kemudian, kami naik TGV yang bisa melaju lebih dari 200 km/jam.

Total perjalanan yang harus kami tempuh lebih dari enam jam. Dua setengah jam dari Pau ke Bordeaux, lalu hampir tiga jam ke Stasiun Saint Pierre des Corps, kemudian sekitar 20 menit naik kereta komuter ke Vendome. Di sana makan malam dulu, lantas naik bus lagi sekitar sejam menuju penginapan di Nogent le Rotrou.

Mengapa ke sana? Sebab, kami akan mengejar dua etape terakhir yang sangat menentukan. Letak Nogent le Rotrou dekat sekali dengan Chartres, tempat etape 19 berakhir pada Sabtu (21/7).

Hari itu (kemarin, Red) kami akan mengunjungi beberapa kawasan wisata, lalu menonton ending etape di kawasan khusus VIP. Itu akan jadi pengalaman unik. Sebab, pembalap tidaklah “balapan”. Melainkan menjalani individual time trial (ITT), satu per satu berlomba melawan waktu dengan menggunakan sepeda-sepeda TT yang eksotis dan aerodinamis.

Panjang etape itu 53,5 km. Tanda-tandanya, juara Tour de France 2012 akan dikunci di etape itu. Bradley Wiggins, andalan Team Sky, adalah unggulannya.

Setelah etape TT usai, kami langsung diangkut menuju Paris. Minggu pagi (22/7) kami akan diberi kesempatan merasakan bersepeda di Champ-Elysees, salah satu jalan paling kondang di dunia. Di jalur itulah Tour de France 2012 berakhir dan kami akan melintasi garis finis beberapa jam sebelum para pembalap datang.

Siangnya, kami dapat area nonton khusus lagi, menyaksikan finis terakhir Tour de France 2012. Sekaligus menonton penobatan juara di atas podium.

Bahwa pada hari perjalanan itu tidak ada acara bersepeda, bukan berarti tidak ada cerita. Pertama-tama, kami bersemangat naik TGV. Lama-lama bosan juga.

“Pilih mana, lima jam naik kereta atau bersepeda?” tanya Bambang Poerniawan.

“Ya jelas pilih naik sepeda,” timpal Djoko Andono, salah satu penghobi sepeda paling top di Surabaya.

Kami pun bicara betapa serunya “siksaan” tanjakan-tanjakan yang telah kami lalui. Col d’Aubisque, tanjakan hors categorie setinggi 1.709 meter, dipelesetkan oleh teman-teman jadi “Engkol Abis”.

Sony Hendarto mengatakan bahwa kami harus ikut tur itu lagi tahun-tahun ke depan. Sebab, masih banyak tanjakan kondang Tour de France yang bisa dijajal. Toh, sekarang kami semua sudah tahu seperti apa kira-kira beratnya dan lain kali bisa menyiapkan setelan sepeda yang lebih pas lagi.

“Masih ada Tourmalet, Galibier, Alp d’Huez, dan Ventu,” ujarnya, menyebut empat tanjakan “paling menyeramkan” dalam sejarah lomba.

Dalam perjalanan itu, kami juga bertemu lagi dengan kelompok peserta dari negara-negara lain. Misalnya Amerika Serikat, Australia, Brasil, dan Kanada.

Karena ada banyak waktu longgar dan kami tidak bertemu dalam kondisi ngos-ngosan, percakapan jadi lebih panjang. Beberapa di antara mereka ternyata sebelumnya pernah ikut program tersebut. Misalnya pasangan dari Vancouver, Kanada, Eric dan Elaine Edwards. Ini adalah kali kedua mereka ikut tur sepeda di Prancis.

Tiga tahun lalu mereka menjajal yang lebih “seram”, termasuk di antaranya mendaki dua puncak tinggi dalam hari yang sama. “Butuh waktu seharian,” ungkap Eric Edwards.

Kepada kami, mereka menyarankan kami kelak kembali lagi. Sama dengan yang disebut Sony Hendarto sebelumnya, masih banyak tempat yang belum kami rasakan “siksaannya”. Padahal, dia melihat kami benar-benar kesulitan menaklukkan tanjakan Col d’Aubisque!

“Kalau ingin mengulangi, saran saya satu: Jangan sampai berat badan Anda bertambah,” ucapnya.

Paula Braden dari Atlanta, Georgia, datang sendirian untuk ikut program itu. Penggemar berat balap sepeda tersebut tidak punya alasan khusus. “Saya suka bersepeda dan saya suka sekali Tour de France,” katanya.

Braden termasuk yang sangat senang melihat kehebohan grup Indonesia, yang tak pernah berhenti bercanda. Dia juga suka melihat kami selalu kompak berseragam saat bersepeda dan setiap hari ada seragam yang berbeda.

Kepada kelompok kami, dia pernah minta salah satu jersey untuk kenang-kenangan. Dia minta khusus yang hitam-biru bertulisan “Jawa Pos Cycling”. Kebetulan, Djoko Andono punya ekstra dan tentu kami semua dengan senang hati memberikan jersey itu kepadanya.

Hengky Kantono menyerahkan jersey itu kepada Braden dalam salah satu acara makan malam di Pau. Selama di kereta, kami juga mulai menyiapkan rencana akan ngapain saja di Paris beberapa hari kemudian, setelah Tour de France berakhir. Karena sudah jauh-jauh di Prancis, kami akan mencoba keliling Paris naik sepeda sendiri, mengunjungi tempat-tempat paling terkenal dan foto-foto.

Saya bicara kepada beberapa teman, perjalanan ini harus selengkap mungkin. Harus bisa membawa pulang cerita (karena saya juga menulis tentang ini setiap hari!). Prajna Murdaya sepakat. “Hidup ini seperti momen yang berseri. Bukan sesuatu yang dirangkum di bagian akhir,” ujarnya.

Tapi, jangan sampai lupa mengunjungi butik-butik fashion kondang. Bukan untuk diri sendiri karena kami semua lebih suka mengunjungi toko-toko sepeda. Melainkan belanja untuk yang di rumah. Khususnya bagi mereka yang butuh “visa khusus” dari istri, supaya kelak (mungkin tahun depan?) diizinkan pergi lagi”. (bersambung)