Azrul’s Insights: Seminggu di Australia; Sports, Anak Muda, Media, dan Wisata Asyik

10 September 2009

Tulisan di bawah ini adalah tulisan atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu.

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda (kiri) bersama Larry Sengstock, CEO Basketball Australia, usai meeting di Darwin, Jumat, 4 September 2009. -foto: Donny Rahardian/DBL INDONESIA)

Di Darwin, Pemerintah Bikin Even Besar untuk Senangkan Anak Muda

Tidak banyak orang mendapat kesempatan istimewa seperti yang saya dapatkan ini. Special Program dari pemerintah Australia ini hanya diberikan kepada dua atau tiga orang setiap tahunnya. Dari negara-negara lain, mungkin hanya satu setiap dua atau tiga tahun.

Saya diberitahu, mantan presiden Tiongkok Jiang Zemin pernah ikut program ini, sekitar 20 tahun lalu. Katanya, hanya orang-orang tertentu yang masuk nominasi ikut program ini. Benar-benar kehormatan besar.

Program ini pun unik, dibuat customized. Mengikuti minat kita, memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang kita inginkan. Waktunya pun bebas, terserah kapan kita bisa. Kebetulan, awal September ini saya baru bisa mengikutinya, meski sudah mendapat peluang sejak awal tahun.

Soal minat, sebenarnya banyak juga yang saya suka: Olahraga (khususnya basket dan balap), program anak muda, media, dan –tentu saja—wisata-wisata unik.

Saya bilang, saya kurang berminat dengan tema-tema politik. Karena biasanya program seperti ini erat kaitannya dengan politik. Tidak apa-apa, katanya. Alasan: Karena program ini lebih ditekankan untuk meningkatkan hubungan people to people.

Soal kota, saya sebenarnya agak fleksibel. Tapi kalau bisa tidak ke kota-kota “sering,” seperti Melbourne atau Sydney. Kecuali memang dapat kesempatan yang unik di kedua kota tersebut.

Kota pertama yang ingin saya kunjungi: Darwin di Northern Territory. Ketika menyampaikan ini ke beberapa rekan di Indonesia, semua punya reaksi sama. Semua bertanya: “Ngapain kamu ke Darwin?”

Saya bilang: Kenapa tidak? Kota besar atau kecil bagi saya sama saja. Sama-sama bisa memberikan pengalaman unik. Apalagi, ada alasan khusus mengapa saya ingin ke Darwin di awal September ini.

***

Sebenarnya, andai tidak ikut program khusus, saya tetap ingin ke Darwin awal September ini. Dengan kapasitas sebagai pengelola DetEksi Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar di Indonesia yang sekarang diselenggarakan di 15 provinsi, melibatkan hampir 20 ribu peserta.

Dalam setahun terakhir, DBL bukan hanya menjalin kerja sama erat dengan liga paling bergengsi di dunia, NBA. DBL juga telah menjalin kerja sama dengan Australia.

Pada Oktober 2008 lalu, DBL mengirim tim All-Star (terdiri atas pemain-pemain SMA terbaik dari berbagai penjuru Indonesia) ke Perth, bertanding melawan tim muda Australia Barat.

Tahun ini, kerja sama DBL Australia Games 2009 telah meningkat. Tim DBL Indonesia All-Star bakal kembali ke Perth, bertanding lagi di sana. Tapi sebelumnya, pada 17 Oktober nanti, DBL akan menjamu dulu tim muda dari Darwin Basketball Association (DBA) di Surabaya.

Jadi, alasan utama datang ke Darwin adalah bertemu lagi dengan teman-teman “baru” di DBA. Di antaranya Allan Hilzinger dan Don Sheppard, Executive Officer dan Development Manager DBA.
Alasan itu semakin kuat, karena pada 3-5 September lalu Darwin menjadi tuan rumah even basket superbesar Australia. Yaitu Top End Challenge, alias kompetisi pramusim untuk National Basketball League (NBL), liga paling bergengsi di Negeri Kanguru.

Semua (delapan) tim NBL sedang kumpul di Darwin, bertanding di dua stadion basket yang bersebelahan: DBA Stadium dan Marrara Indoor. Ditambah dengan SEMUA petinggi basket Australia. Kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi dalam hal pengembangan kompetisi basket. Selama di Darwin, saya juga sempat meeting dengan Larry Sengstock, CEO Basketball Australia (Perbasi-nya Aussie), bicara soal DBL dan kerja sama bersama asosiasi-asosiasi di Australia.

Ternyata, kunjungan ke Darwin ini bisa dimasukkan ke program kunjungan. Dan berbagai program dan pertemuan istimewa disiapkan oleh pemerintah Australia dan DBA selama saya di Darwin. Tentu saja berkaitan dengan olahraga, anak muda, media, dan wisata asyik.

Di samping itu, selama tiga hari, saya pun merasakan nikmatnya “kota sepi” Darwin. Bagi Anda yang ingin menjauhkan diri dari kesibukan dan hingar-bingar, saya sangat merekomendasikan Darwin sebagai kota untuk menenangkan diri. Sekaligus belajar banyak tentang buaya-buaya seram superbesar.

***

Pergi ke Darwin relatif mudah dan murah. Terbaik lewat Bali. Naik Jetstar, penerbangan hanya memakan waktu sekitar 2 jam dan 40 menit. Harga? Bisa supermurah. Kebetulan ini bukan musim ramai.

Kalau lihat ke situs penerbangan itu, tiket pulang-pergi bisa didapat dengan hanya duit Rp 1,25 juta. Itu lebih murah dari perjalanan Surabaya-Jakarta pulang pergi naik Garuda atau ketika sedang musim ramai. Ketika musim ramai pun katanya juga relatif tidak mahal. Di kisaran Rp 4 juta pulang-pergi.

Khusus untuk kunjungan ke Darwin ini saya tidak sendirian. Saya mengajak Donny Rahardian, Manager Basketball Operations DBL Indonesia. Ketika saya ikut program khusus, Donny terus bersama DBA untuk menyiapkan kunjungan tim muda DBA ke Surabaya, Oktober nanti.

Perjalanan itu benar-benar dekat. Broughton Robertson, executive officer di Department of Foreign Affairs and Trade yang bertugas mendampingi saya selama di Australia, harus terbang sekitar 4,5 jam dari Sydney (sebelumnya terbang dulu hampir sejam dari Canberra). Sementara saya total hanya sekitar tiga jam (ditambah sekitar 30 menit penerbangan dari Surabaya ke Bali).

Dengan jarak begitu dekat ini, Darwin merupakan tempat paling terjangkau untuk merasakan Australia dari dekat (Perth juga sangat dekat, hanya sekitar tiga jam terbang dari Jakarta. Tapi terbang ke Darwin rata-rata mungkin lebih murah).

Ya, Darwin memang “kota kecil.” Penduduknya hanya sekitar 120 ribu orang, atau sekitar 4 persen warga Kota Surabaya. Bahkan, Northern Territory secara keseluruhan hanya punya penduduk sekitar 230 ribu orang. Padahal, luas wilayahnya lebih besar dari Sumatera!

Tapi, kecil bukan berarti gak asyik. Darwin memiliki segalanya. Beberapa pusat perbelanjaan besar ada di sana, termasuk Casuarina Square yang sangat besar. Beda dengan kota-kota seperti Perth, Melbourne, atau Sydney, jalan-jalan di Darwin terasa lebih di “Australia.” Meski punya penduduk asal Indonesia cukup banyak, jumlahnya tidak “terasa” seperti di kota-kota besar di atas.

Industri wisata sangatlah penting bagi Darwin, disebut menghidupi sampai delapan persen penduduknya. Alam Northern Territory dikenal indah, dengan penduduk suku Aborigin yang cukup signifikan.
Dan selama di sana saya mendapati, bahwa dalam lima tahun ke depan kota ini bakal booming karena pertambangan minyak dan gas bumi di Celah Timor.

Menurut John “Foxy” Robinson, pengusaha properti kondang di sana, penduduk bisa bertambah 10 ribu orang dalam lima tahun ke depan. “Itu hanya pekerja saja. Banyak yang akan membawa serta keluarga ke sini. Jumlah penduduk baru akan jauh di atas angka itu,” ucap pemilik Darwin Airport Resort, hotel populer di sebelah bandara internasional tersebut.

Kalau benar, maka dalam lima tahun ke depan penduduk Darwin bisa bertambah 10-20 persen!

***

Meski “kecil,” Darwin relatif muda. Menurut data, usia rata-rata penduduknya “hanya” 31 tahun. Banyaknya personel militer sangat berpengaruh, karena kota ini memang ujung tombak pertahanan Australia di wilayah utara. Ketika di Darwin, saya sempat melihat beberapa jet tempur berseliweran di udara. Katanya, militer setempat sedang latihan dengan militer Singapura.

Pemerintah setempat pun terkesan berupaya keras untuk mempertahankan anak mudanya di Darwin. Supaya tidak pindah ke kota-kota lain dan bisa menjadi basis perkembangan masa depan. Salah satu caranya: Lewat penyelenggaraan even-even besar.

Selama di Darwin, saya dipertemukan dengan dua menteri Northern Territory. Yaitu Karl Hampton, Menteri Olahraga dan Rekreasi, serta Gerald McCarthy, Menteri Pemuda.

Kemudian, saya juga bertemu dengan Paul Cattermole dan Tiffany Manzie, General Manager dan Chief of Operations Northern Territory Major Events Company, perusahaan milik pemerintah yang menyelenggarakan even-even besar di kawasan tersebut.

Dari kedua pertemuan itu, pemerintah Northern Territory begitu mendukung penyelenggaraan even-even besar di Darwin dan wilayah lain. Dalam hal olahraga, even basket Top End Challenge yang mendatangkan semua tim NBL adalah salah satunya. Tapi yang paling rutin adalah balapan V8 Supercar (seri paling bergengsi di Australia) di Hidden Valley Raceway. Serta Arafura Games, semacam olimpiade dua tahunan yang diikuti negara-negara tetangga (termasuk kontingen Indonesia), yang lebih menekankan partisipasi atlet muda.

Tahun lalu, Major Events –pada dasarnya departemen event organizer pemerintah– juga mendatangkan penyanyi kelas dunia, Elton John, ke Darwin.

“Dengan penyelenggaraan even-even ini, anak muda Northern Territory merasa tercukupi kebutuhan hiburannya. Mereka bisa merasa bangga menjadi warga di sini, tak tergiur untuk pindah ke kota lain,” jelas Paul Cattermole.

Peran pemerintah sangatlah penting, lanjut Cattermole. “Tidak banyak penyelenggara even mau ke sini karena jumlah populasi yang kecil. Kalau ada yang datang, pasti minta jaminan dari pemerintah supaya dapat kepastian tidak rugi. Tidak harus untung, tapi jangan sampai rugi,” terangnya.

Bayangkan seandainya pemerintah-pemerintah kota (non-Jakarta) di Indonesia lebih aktif seperti Northern Territory ini. Misalnya Surabaya atau Jogjakarta aktif mendatangkan bintang-bintang besar dunia, menggairahkan kehidupan di masing-masing kota.

Berdasarkan pengalaman DBL Indonesia dan Jawa Pos mendatangkan bintang NBA tiga kali ke Surabaya dalam setahun terakhir, percayalah, biayanya tidak sefantastis yang dibayangkan. Dan sekarang sedang ada opportunity baik: Banyak pihak asing itu tak mau mengunjungi Jakarta atau Bali karena khawatir soal keamanan.

Sekarang ini waktunya mendatangkan even-even berkelas ke kota-kota non-Jakarta!

(bersambung)

sumber : Mainbasket.com, http://www.jpnn.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s