Anak Baik-Baik yang Anti Tato

21-Jul-2009

Kevin-Martin02

Kevin Martin; Bintang Indonesia Development Camp 2009 (1)

Kevin Martin menjadi bintang NBA ketiga yang tampil di Surabaya dalam setahun terakhir. Sama seperti Danny Granger dan David Lee, pemain yang satu ini juga bebas dari tato. Bahkan, dia termasuk yang anti tato.

Entah mengapa, kebanyakan pemain NBA sekarang identik dengan tato. Ironisnya, tiga pemain NBA yang datang (dan akan menuju) Surabaya semuanya tidak bertato.

Danny Granger (Indiana Pacers) tidak punya tato.
David Lee (New York Knicks) tidak punya tato.
Dan Kevin Martin, bintang Sacramento Kings yang akan tampil di Surabaya 15-18 Agustus mendatang, juga tidak punya tato.

Bahkan, Martin termasuk yang blak-blakan bilang anti-tato. “Saya tidak akan pernah punya tato. Saya tak suka jarum. Jadi saya tak akan membiarkan jarum mendekati badan saya. Selain itu, saya juga ingin menjadi orang bergaya bersih. Memang seperti inilah saya,” katanya seperti dikutip Sacramento Magazine, beberapa waktu lalu.

Bertato atau tidak, Kevin Martin bisa dibilang merupakan bintang NBA terbesar yang mengunjungi Surabaya.  Granger dan Lee mengunjungi kota ini dengan status “di ambang superstar.” Kalau Martin, dia sudah datang sebagai superstar.

Martin masuk NBA pada 2004, setahun sebelum Granger dan Lee. Karena itu, ketika Granger dan Lee baru menikmati gaji superbesar tahun ini, Martin sudah lebih dulu meneken kontrak superstar.

Sejak 2008 lalu, Martin sudah menikmati gaji di kisaran Rp 100 miliar semusim. Dan nilainya akan terus meningkat. Pada musim 2012-2013 nanti, dia dijadwalkan menerima gaji di kisaran Rp 130 miliar. Asal tahu saja, gaji rata-rata di NBA itu di kisaran Rp 50 miliar semusim.

Untuk mendapatkan gaji seperti itu tentu tidak mudah. Martin pun sempat menjalani masa-masa cobaan dan tantangan. Ketika dicomot Sacramento Kings di urutan 26 NBA Draft 2004, tidak banyak yang memperhitungkan Martin.

Wajar bila demikian. Meski tinggi 201 cm, badan Martin kurus, hanya 80-an kilogram. Dia juga berasal dari kampus kecil, Western Carolina University, bukan dari universitas elite di kancah NCAA (liga universitas di Amerika Serikat). Belum lagi gaya menembaknya yang membuat pelatih meringis (lengannya menutupi wajah ketika menembak).

Karirnya pun perlahan merangkak naik. Kings, yang di awal dekade ini berada di barisan elite, perlahan kehilangan para pilar penting. Perlahan pula, Martin menjadi pemain penting.

Berkat kerja keras dan perkembangan yang konsisten, akhirnya, dua tahun lalu Martin pun menjadi pemain terpenting di barisan Kings. Perolehan poinnya terus merangkak naik, gaya bermainnya yang cepat dan akrobatik terus membuat lawan harus bekerja keras untuk mengawal.

Musim 2008-2009 lalu, ketika prestasi tim terus melorot, Kings pun membuat keputusan besar. Mereka “menyingkirkan” semua pemain senior, me-restart ulang tim dari barisan muda yang sesuai untuk mendukung permainan Kevin Martin.

Jerry Reynolds, salah satu petinggi sekaligus mantan pelatih Kings, menyebut evolusi Kevin Martin sebagai sesuatu yang menakjubkan. “Saya pikir Kevin sempat menjalani masa perkembangan lambat di tahun pertamanya. Saat itu, dia benar-benar kebingungan,” tuturnya.

Menginjak pertengahan musim pertama itu, Martin menemukan jalan. “Sejak saat itu, perkembangannya konstan. Bahkan, selama 20 tahun lebih bersama tim ini, belum pernah saya melihat pemain berkembang sekonsisten dia,” puji Reynolds.

Anak Kota Kecil

Attitude Martin dianggap sebagai kunci sukses sang pemain. Jarang ada kabar aneh-aneh tentang Martin, karena sang pemain memang tidak pernah aneh-aneh.

“Kevin bukan pemain NBA biasa. Dia tidak seperti kebanyakan yang lain. Dia rendah hati, pintar, dan tidak berpikir yang aneh-aneh,” ucap Greg Elmasian, agen Martin.

Latar belakang Martin memang mendorongnya untuk menjadi orang seperti ini. Martin berasal dari kota kecil, Zanesville di negara bagian Ohio, yang memiliki sekitar 25 ribu penduduk. Martin menyebut kota itu “penuh dengan orang-orang ramah, dan semua orang kenal semua orang.”

Ayahnya, Kevin Senior, adalah ahli taman. Ibunya, Marilyn, seorang pekerja sosial. Dia punya adik, Jonathon. Peran keluarga ini disebut sangat besar. “Kevin Martin adalah anak baik dari keluarga yang baik.

Dia tahu mana yang baik, mana yang buruk. Kalau dia berbuat yang tidak semestinya, sang ayah akan langsung mengingatkan. Bahkan, sampai sekarang sang ayah masih terus mengingatkan,” tutur Dana Matz, teman keluarga.

Tentang diri sendiri, Martin mengaku memang berusaha untuk selalu sadar diri. “Saya tipe orang yang tidak berharap terlalu tinggi atau terlalu rendah. Di NBA, kita harus seperti ini. Sebab, satu malam kita bisa mencetak 40 poin, di malam berikutnya hanya dua poin. Apa pun yang terjadi, kita harus terus mencoba dan bekerja,” pungkasnya. (azrul ananda/bersambung)

KEVIN MARTIN

Sacramento Kings #23

Posisi

:

Shooting Guard
Lahir

:

Zanesville (Ohio), 1 Februari 1983
Tinggi/Berat

:

201 cm/84 kilogram
Masuk NBA

:

Pilihan No. 26 NBA Draft 2004
Statistik Musim 2008-2009

:

24,6 poin, 3,6 rebound, 2,7 assist
Gaji musim 2009-2010

:

USD 10,2 juta
(lebih dari Rp 100 miliar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s