Awal Kuliah, Belajar Jadi Dokter Gigi

22-Jul-2009

Kevin-Martin03

Kevin Martin; Bintang Indonesia Development Camp 2009 (2-Habis)

Kevin Martin tak pernah punya cita-cita jadi pemain NBA. Malahan, dia sudah bersiap untuk menjadi dokter gigi. Baru ketika kuliah, dia sadar kalau mampu menjadi pemain profesional.

Setiap musim, ada 400-an pemain tampil di NBA. Rata-rata gaji mereka adalah USD 5 jutaan per musim. Tak banyak yang berstatus bintang, apalagi superstar.

 

Kevin Martin tak pernah menyangka bisa masuk NBA. Apalagi menjadi salah satu bintangnya dan bergaji lebih dari USD 10 juta semusim.

Ketika masih kecil, sang ayah yang mendorongnya untuk menekuni olahraga. Kevin Martin Sr. mengajaknya mencoba berbagai cabang.

“Dia yang membuat saya mencoba basket. Dia selalu ingin melihat saya bermain di semua cabang olahraga. Basket,baseball, maupun (Americanfootball. Sepuluh tahun lamanya saya bermain football dan baseball,” kenang Martin, seperti disampaikan kepada Sacramento Magazine.

Martin mulai fokus di basket saat masih freshman di SMA (di Indonesia setingkat kelas 9 atau 3 SMP), di Zanesville High School, negara bagian Ohio. Ternyata, performanya luar biasa. Dia bahkan terpilih masuk tim All-American.

Prestasi itu pun berbuah beasiswa penuh di Western Carolina University, pada 2001 lalu. Kampus itu bukanlah kampus besar, dan bukan kampus elite untuk urusan basket. Namun, Martin mampu memukau banyak pihak, dan namanya bergaung sampai ke NBA.

Martin sendiri masih belum yakin bisa masuk NBA. “Saya merasa punya kemampuan untuk masuk NBA. Tapi saya masih belum yakin kalau ingin menekuni basket sebagai profesi. Saya sempat belajar menjadi dokter gigi di awal kuliah,” kenang pemain 26 tahun tersebut.

Baru ketika menginjak tahun kedua kuliah, Martin sadar kalau dia memang punya peluang masuk NBA. Sebab, pada musim pertamanya di Western Carolina University (musim basket 2001-2002), Martin langsung menjadi freshmannomor dua dalam hal scoring di seluruh Amerika.

Para pelatih terus menyemangati Martin untuk mengembangkan kemampuan. Selama empat tahun kuliah, Martin terus menjadi top scorer di timnya. Dia pun menjadi salah satu pemain tingkat universitas terbaik di Amerika. Hanya saja, dia belum dianggap masuk barisan elite, karena tampil untuk kampus yang punya reputasi “tanggung.”

Pada NBA Draft 2004, Sacramento Kings mencomot Kevin Martin di urutan nomor 26. Andai tampil di kampus yang lebih elite, mungkin Martin bisa masuk sepuluh besar.

Catatan: Martin belum sempat meraih gelar kuliah ketika dipilih di NBA Draft 2004. Tapi, dia rajin mengambil kelas saat jeda musim NBA, berupaya meraih gelar di jurusan Sports Marketing.

Setelah beberapa tahun, Martin pun menjadi pilar utama Sacramento Kings. Tim itu belum mampu kembali ke masa jaya di awal dekade ini, tapi Martin merupakan bagian utama dari program rebuilding (membangun ulang kekuatan) Kings.

Martin yakin, tidak lama lagi Kings akan kembali ke barisan lebih elite. Dan dia siap menanggung beban terberat untuk membawa Kings kembali ke atas.

“Saya telah menjalani tahun-tahun luar biasa di Sacramento. Saya tidak akan membiarkan satu tahun buruk menghancurkan segalanya. Saya datang di Sacramento masih kekanak-kanakan. Sekarang saya sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Tidak banyak pemain lain di liga ini yang mampu mencapai apa yang saya capai,” ujarnya mantap.

Rajin Bikin Camp

Pada 15-18 Agustus nanti, Kevin Martin bakal berada di Surabaya. Dia menghadiri final Honda DBL East Java 2009 di DBL Arena, lalu menjadi bintang di Indonesia Development Camp 2009. Di camp itu, dia dan dua asisten pelatih NBA bakal memberi materi latihan kepada pemain-pemain terbaik liga basket pelajar terbesar di Indonesia tersebut.

Memberi materi latihan di sebuah camp anak muda bukanlah hal baru bagi Martin. Selama bertahun-tahun dia menyelenggarakan camp di Sacramento. Dan tahun ini, pada 29 Juni sampai 1 Juli lalu, dia menyelenggarakan Kevin Martin Basketball Camp di kampung halaman, di Zanesville, Ohio.

Sebanyak 140 pelajar mengikuti berbagai latihan, yang diselenggarakan di Zanesville High School, tempat Martin dulu belajar. “Zanesville menjadikan saya seperti sekarang. Setinggi apa pun sukses yang kita capai, kita tak boleh melupakan tempat kita berasal,” katanya seperti dikutip Zanesville Times Recorder.

Martin mengaku sangat menikmati camp-camp seperti ini. “Ini menyenangkan. Mengingatkan saya kepada masa lalu, di saat permainan ini bukanlah sebuah bisnis. Anak-anak ini bermain untuk bersenang-senang,” paparnya.

Selain berbagi ilmu, Martin sendiri juga terus berusaha mengembangkan kemampuan. Sebelum menjalani musim NBA 2009-2010 nanti, Martin juga akan menjalani camp untuk diri sendiri.

Dia bakal bergabung di Pro Training Center di IMG Academies, di Bradenton, Florida. Di sana, dia bakal menjalani serangkaian program pengembangan diri bersama pelatih pribadi, David Thorpe.

Dengan komitmen seperti itu, Martin benar-benar ingin menunjukkan bahwa sehebat apa pun seseorang, selalu ada jalan untuk membuat diri menjadi lebih baik lagi… (habis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s