Ayah Tak Perlu Kerja Kasar Lagi

21-Jul-2008

DannyGranger9

Danny Granger; Bintang Indiana Pacers yang Akan ke Indonesia (2-Habis)

Danny Granger datang dari keluarga pekerja keras. Sang ayah mendorongnya untuk bermain basket agar jauh dari masalah, agar tidak masuk penjara seperti seorang sepupu.

KELUARGA Danny Granger merupakan keluarga pekerja keras. Tipe keluarga yang tahu bahwa sukses tidak datang begitu saja. Semangat itulah yang diharapkan terus dimiliki Granger untuk mengejar hasil tertinggi di National Basketball Association (NBA).

Sang kakek, Johnny Granger, dulu hanya sekolah sampai kelas 2 SD. Tiga puluh tahun lamanya Johnny menjadi sopir truk sampah, sampai tulang punggungnya tak mampu lagi diajak bekerja.

Sang nenek, Angelina Granger, bekerja selama 40 tahun di dapur sekolah, menyediakan makan siang untuk anak-anak sekolah.

Kerja keras kakek-nenek tersebut menurun kepada sang ayah, Danny Granger Senior. Danny Senior punya tangan terampil. Sejak masih umur 20 tahun, dia membeli forklift-forklift bekas, memperbaiki kondisinya, lalu mendapat keuntungan dengan menjualnya kembali.

Kepada Nashville Tribune, Granger mengenang betapa keras dan kotornya pekerjaan sang ayah. ’’Waktu kecil dulu, saya selalu di bengkel. Saya benci di sana. Kerja ayah saya berat. Kotor dan sama sekali tidak indah. Di bawah forklift, kena oli, cedera tangan. Dibandingkan dengan itu, bermain basket sangatlah ringan,’’ ungkapnya. ’’Lihat saja tangan ayah saya. Tangan itu hancur, kuku-kukunya hilang,’’ ujar pemain 25 tahun tersebut.

Tapi, dengan kerja keras itu, Danny Granger Senior mampu memberikan kehidupan yang lebih baik kepada tiga anaknya. Keluarga yang tinggal di kawasan New Orleans tersebut bisa scuba diving, berkuda, dan bermain ski.

Ketika akan masuk NBA pada pertengahan 2005, Granger punya keinginan untuk sang ayah. ’’Dia tak akan perlu bekerja seperti itu lagi. Dia dulu bekerja begitu keras. Mulai pukul 7 pagi sampai 9 malam. Kalau saya masuk NBA, dia tak perlu bekerja lagi,’’ ucapnya kala itu.

***

Danny Granger pernah bilang, masuk NBA bukanlah target utama hidupnya. Dulu dia menggunakan basket untuk masuk kuliah, mengejar gelar di jurusan Teknik Sipil. Pemain bernomor jersey 33 itu menegaskan, ketika kecil, basket memang bukan cita-citanya.

Sang ayahlah yang mendorong dirinya untuk bermain basket ketika masih kecil. Sang ayah membangun sebuah lapangan basket, supaya Granger tidak ke mana-mana. Juga, supaya anak-anak tetangga bisa ikut bermain di sana.

Alasannya, kawasan tempat mereka tinggal, Metairie (di pinggiran New Orleans), tergolong magnet masalah. Seorang sepupu Granger adalah buktinya. Dia tidak menjelaskan mengapa, yang jelas sang sepupu pernah masuk bui.

’’Kami punya rumah yang indah. Tapi, area di sekitarnya tidak terlalu baik. Narkoba di sini, narkoba di sana. Jadi, saya membeli sepetak tanah, memasang ring basket di sana,’’ jelas sang ayah.

Benar saja, Granger dan teman-teman selalu sibuk di lapangan itu. ’’Dia pulang dari sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, lalu langsung keluar main basket. Saya bahkan memasang lampu supaya dia dan teman-temannya bisa main sampai malam. Dan mereka bermain begitu ngotot, seperti tak ada lagi hari esok,’’ papar sang ayah.

Hanya, ada aturan ketat kalau ingin main di sana. Tidak ada omongan kotor, tidak ada minuman alkohol, tidak ada rokok, tidak ada narkoba.

***

Danny Granger tumbuh pesat. Saat baru masuk SMA, tinggi badannya sudah mencapai 2 meter. Setelah menjadi bintang di Grace King High School di Metairie, Louisiana, Granger kuliah dulu dua tahun di Bradley University. Dari situ, transfer ke University of New Mexico, membela tim basket New Mexico Lobos.

Di sana, Granger menjadi bintang. Pada musim NCAA 2004-2005, Lobos meraih rekor istimewa, 26-6, menjadi juara di Mountain West Conference (MWC). Untuk kali pertama dalam enam tahun, Lobos lolos ke NCCA Tournament.

Sebagai individual, Granger masuk All-MWC First Team. Associated Press juga menghadiahinya penghargaan Honorable Mention All-American.

Ketika akhirnya masuk NBA pada 2005, dia pun menunjukkan kerja solid. Tidak banyak yang menganggapnya sebagai bintang, tapi dia tekun bekerja mengembangkan kemampuan. Sebagai rookie, Granger terpilih masuk All-NBA Rookie Second Team.

Pada musim 2007-2008 lalu, Granger pun menjadi mesin poin utama Indiana Pacers. Menjelang musim 2008-2009 nanti, dia digadang-gadang bakal naik lagi satu level, menjadi superstar sejati dan bahkan masuk All-Star. Ini mungkin adalah level paling sulit untuk dinaiki. Tapi, Pacers percaya Granger mampu melakukannya.

Granger sendiri terus-menerus menegaskan tekad tersebut. ’’Sebagai individual, saya ingin dikenang. Saya ingin mencapai level All-Star, bermain di laga All-Star tiga, empat, bahkan lima kali berturut-turut. Saya juga ingin meraih gelar juara. Tidak ada perasaan lebih indah dari menjadi seorang juara,’’ tegasnya. (azz/habis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s