Azrul Ananda: Online Tinggal Pencet Enter

asrul-ananda
 

Mendengar tidak berarti merekam. Belajar belum tentu menerapkan. Menerima saran tidak berarti harus menuruti. Pemberi saran pun belum tentu tahu apa yang dia sarankan. Customer is kingbut customer do not know everything.

HARI ini, 1 Juli 2010, Jawa Pos merayakan ulang tahun LX1. Tahun ini, sepuluh tahun pula saya sudah menghabiskan masa muda dan masa penuh energi dan semangat saya bersama Jawa Pos.

Tapi, yang berlalu sudahlah berlalu. Kita semua sekarang tinggal di era yang menantikan masa depan. Sama seperti hukum dasar jurnalistik, yang bukan lagi 5W dan 1H. Whowhatwhenwhere, dan why plus how tidaklah lagi cukup. Harus ada W lain dan W lain.

Bertahun-tahun saya percaya ada W keenam: What’s Next? Sekarang, mungkin harus ada W tambahan yang mungkin bukan ”kata beneran”: Wow.

Jadi, seperti apa sepuluh tahun ke depan? Bagi banyak koran sekarang, sepertinya sepuluh tahun ke depan itu terkesan mengerikan. Banyak koran kesulitan berkembang. Banyak koran sudah tak sanggup bertahan. Banyak yang sudah memutuskan untuk lompat ke dunia maya. Haruskah Jawa Pos ikut terjun bebas?

***

Belum lama berlalu, saya menulis catatan berjudul Newspaper Is Dead. Kalau penasaran, google aja ”Azrul Ananda” dan ”Newspaper Is Dead”. Sangat mungkin ketemu karena ada beberapa orang memasang tulisan itu di blog mereka.

Setelah menulis, banyak yang bilang bahwa ”judulnya serem”. Tapi, setelah membaca, baru nyadar kalau isinya bukan tentang koran yang akan mati. Pada tulisan sambungannya, saya mengutip film Jurassic Park: ”Life will find a way”.

Ketika tergencet, hidup akan berjuang keras untuk menemukan jalan. Dulu radio dibilang akan hilang dimakan televisi (video kill the radio star), tapi lantas ”diselamatkan” oleh mobil (dan kemacetan).

Atau, untuk mengantisipasi dan tidak tergencet, kita harus hidup seperti Madonna. Puluhan tahun dia mampu reinventing diri sendiri, sehingga terus mampu bersaing melawan artis-artis muda yang terus bermunculan.

Pada dasarnya, untuk bertahan dan terus tumbuh, ya kita harus terus berpikir dan bekerja keras. Dan, harus stubborn (alias keras kepala alias ngeyel). Stubborn-nya tentu harus positif mempertahankan kepercayaan dan demi kemajuan, bukan stubborn mempertahankan kesalahan.

***

Dulu katanya koran akan mati melawan televisi. Dulu (dan sampai sekarang) katanya koran akan mati melawan internet. Menurut saya, lawan koran bukanlah dua-duanya. Lawan koran adalah persepsi dan jati diri sendiri.

Orang luar bilang, koran harus segera mengalah. Orang luar bilang, koran harus segera pindah haluan ke dunia maya (atau dunia integrasi atau apalah). Masalahnya, orang luar itu bukan orang koran. Dan belum tentu orang media.

Pada awal tulisan ini, saya menyebut bahwa pelanggan adalah raja, tapi pelanggan belum tentu tahu segalanya. Saat membaca itu, tolong pikiran di-open sedikit. Itu bukan berarti pelanggan bodoh. Juga, tidak berarti pelanggan bukan lagi raja.

Setiap hari, kami terus mendengar permintaan pembaca. Kami terus mendengar harapan pembaca. Kami juga berharap bisa terus mendengar permintaan dan harapan pembaca.

Tapi, saya juga percaya bahwa sebuah perusahaan akan berada dalam kondisi bahaya bila ”terlalu mendengarkan” permintaan dan harapan pelanggannya.

Seperti pelajaran marketing paling mendasar: Bahwa marketing bukan selling.

Kalau koran atau media itu sekadar sellingya dengarkan saja kemauan pembeli saat ini. Harga Rp 1.000, tidak boleh lebih. Kalau perlu gratis.

Atau, ikuti kemauan pengamat media kebanyakan: Tinggalkan format cetak, pindah ke dunia maya secara total. Parahnya, para pengamat media itu belum tentu pernah berbisnis media. Lebih parah lagi, pengamat media itu dulu sering gagal bikin media.

Kalau tidak salah, definisi marketing adalah menyediakan sesuatu yang belum tentu disadari dibutuhkan oleh customer-nya. Yang ketika kali pertama dimunculkan bikin orang heran, tapi kemudian menjadi bagian permanen dalam kehidupan orang tersebut.

Untuk bisnis media, ini bisa berarti bentuk media yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Tapi, ini juga bisa berarti koran mana pun masih bisa menemukan jalan untuk kembali ke jalur besar dan terus menjadi bagian permanen bagi pembacanya.

Tinggal bagaimana koran itu meyakinkan (dengan berbagai kreativitas dan kerja keras alias dengan cara marketing) bahwa koran itulah ”pegangan” utama pembacanya, bahwa koran itulah yang dibutuhkan calon-calon pembaca barunya. Bukannya saya bermaksud menggurui, tapi kadang banyak orang yang lupa dengan prinsip paling mendasar ini.

***

Supaya koran tetap inventif dan tetap punya masa depan panjang, tentu butuh ide-ide baru, karya-karya baru. Dan yang mungkin sangat penting: Darah baru.

Belakangan saya sering keliling ke berbagai negara, bertemu orang-orang koran di sana. Setiap kali mengunjungi kantor koran, saya selalu sedih. Kok kalau bertemu manajemen ke atas selalu ketemu orang-orang tua ya?

Lalu, ketika saya bandingkan dengan koran-koran di Indonesia, saya menemukan kesamaan: Manajemen korannya penuh orang tua. Saya hampir tak pernah bertemu manajemen koran lain yang seusia dengan saya.

Maaf, tidak berarti saya menyindir orang koran yang sudah tua. Bagaimanapun, saya harus salut sama mereka semua, karena ketika muda dulu merekalah yang melakukan banyak revolusi dan perubahan.

Saya juga tidak mau kena karma, karena sepuluh tahun lagi sayalah yang akan dibilang tua! Sekarang saja sudah menjelang 33 tahun…

Menurut saya, koran belakangan tidak banyak berinovasi -khususnya dalam hal marketing– karena pelannya supply ”darah baru”. Ya, ada banyak koran baru muncul dan pergi. Hanya, kebanyakan tetap menggunakan orang-orang ”lama” dari koran lain, yang kemudian menerapkan ilmu-ilmu yang sama di koran-koran baru itu. Tak heran, hasilnya pun begitu-begitu saja…

Tentu saja, lebih mudah bicara daripada berbuat. Bagi banyak koran yang ”lama”, mungkin sudah terlambat untuk meremajakan diri. Untuk regenerasi, koran harus berani mundur selangkah untuk maju dua langkah. Padahal, belum tentu prosesnya mulus. Bisa saja mundur selangkah, setelah itu bukannya maju, malah terperosok dan jatuh ke belakang.

Mungkin karena takut mundur selangkah itulah, banyak koran lain memilih pindah jalur saja ke dunia maya… Soalnya sudah terlambat!

Jawa Pos, menurut saya, selalu siap mundur selangkah. Dan proses regenerasi adalah sesuatu yang biasa. Semoga saja ini yang kelak terus membuat Jawa Pos berkembang.

Namun, Jawa Pos saja tidak cukup untuk mengamankan masa depan koran. Koran-koran lain juga harus sadar dengan keadaan. Untuk koran-koran lain, grup Jawa Pos maupun bukan: Jangan menyerah! Dan jangan takut mengambil risiko menggunakan darah baru!

***

Tidak menyerah bukan berarti mengabaikan jalur ”alternatif”. Jawa Pos sebenarnya sudah lebih dulu bersiap terjun ke jalur dunia maya. Pada pertengahan 1990-an dulu, lewat Mega Net, Jawa Pos sudah paling dulu mempersiapkan infrastruktur online. Sayang, waktu itu investasinya terlalu dini. Belanda masih terlalu jauh.

Sekarang? Sambil full speed berkonsentrasi terus mengembangkan koran (yang memang masih terus berkembang) plus jaringan televisi lokal, tentu saja ada sambilan menyiapkan jalur maya dan lainnya.

Setiap kali ditanya soal strategi online, saya selalu bilang bahwa kita tidak perlu begitu khawatir. Beda dengan mengawali bisnis koran, mengawali bisnis media online itu jauh lebih sederhana. Mungkin saking sederhananya, nanti tinggal tekan tombol enter saja sudah jalan secara instan.

Mau besok full online? Tekan enter. Mau minggu depan? Tekan enter. Mau tahun depan sambil menunggu format dan teknologi serta momen yang pas? Tinggal tekan enter. Tidak perlu investasi mesin cetak, membangun gedung supermewah, atau lain-lainnya. Pokoknya tinggal tekan enter.

Kalau terlalu cepat, seperti Mega Net dulu, nanti seperti beli video Betamax. Kalau tanggung, nanti seperti beli Laser Disc. Kalau beli sekarang, kira-kira masih seperti beli DVD. Agak sabar, format film digital download. Tahun depan? Entah bentuknya seperti apa lagi. Makanya, sebelum tekan enter, tinggal menunggu sampai momen dan lain-lainnya benar-benar pas.

Mengapa kami tetap tenang? Sebab, kami memang siap tekan enter kapan saja. Dan ketika kami tekan enter, ada potensi content Jawa Pos bakal melebihi semua pesaing.

Bukankah hal terpenting dari bisnis media online adalah content? Kalau komputer atau super-komputer, tinggal beli saja. Infrastruktur content? Nah, bagi yang lain (apalagi media maya baru), itu perlu butuh waktu.

Bayangkan saja (dan ini sudah bukan rahasia), content yang bisa dihasilkan Jawa Pos Group untuk dinikmati di dunia maya. Ada infrastruktur komplet (wartawan dan pendukungnya) di setiap provinsi, bahkan hampir di setiap kota di Indonesia. Semua sudah terbiasa dengan gaya yang serupa.

Ada ribuan wartawan Jawa Pos tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada kantor Jawa Pos tersebar dari Aceh sampai Papua. Total menghasilkan lebih dari 140 koran dan sejumlah televisi lokal.

Kalau kelak Jawa Pos benar-benar menekan tombol enter, siapa pun di mana pun bisa menikmati berita dari wilayah mana pun di Indonesia.

Sekarang saja sudah ada banyak pihak asing yang ingin menggunakan content Jawa Pos di daerah-daerah. Misalnya, sebuah perusahaan telekomunikasi di Malaysia, yang ternyata memiliki ratusan ribu pelanggan asal Indonesia. Mereka ogah membeli berita nasional dari Indonesia, mintanya berita-berita lokal dari Madura, Lampung, atau daerah-daerah lain.

Pokoknya, nanti tinggal tekan tombol enter. Tidak perlu banyak energi, hanya perlu jari…

***

Tidak ada banyak orang muda yang kini serius di dunia koran. Dengan tulisan ini, orang mungkin bilang saya ini stubborn. Tidak apa-apa. Bukankah segalanya harus dimulai dengan keyakinan?

Kalau yakin koran akan terus berkembang, kita akan bekerja dan berkreasi supaya koran terus berkembang. Kalau yakin koran akan tenggelam, kita pun cenderung menyerah.

Saya tidak lagi muda, tapi saya belum bisa dibilang tua. Semoga saja saya tidak membuang masa muda saya dengan sia-sia, dan semoga saja saya dan teman-teman stubborn di Jawa Pos masih bisa membuktikan omongan saya dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan.

Tapi, saya yakin kami bisa. Dalam sepuluh tahun terakhir, kami sudah membuktikan bahwa hal-hal ”tak mungkin” bisa kami capai. Dulu, cita-cita Jawa Pos adalah menjadi koran nasional dari daerah. Sekarang, Jawa Pos sudah melebihi itu, menjadi koran di luar Jakarta pertama yang memiliki pembaca terbanyak menurut survei Nielsen.

Teman-teman di Jawa Pos itu pekerja keras dan kreatif. Dengan modal itu, masih banyak hal ”tidak mungkin” lain yang saya yakini bisa kami capai dalam tahun-tahun ke depan.

Orang bilang koran akan mati, maka kami di Surabaya akan membuktikan sebaliknya!

Impossible we doMiracle take a bit longer(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s