Azrul Ananda’s Insight, 59 Tahun Jawa Pos: Newspaper is Dead

July 03, 2008

asrul-ananda

Newspaper is dead. Era koran sudah berakhir. Kalau belum, era koran sudah hampir berakhir. Dihajar televisi, dan yang kata orang paling mematikan–dihajar internet. Harga koran terus naik, harga online terus turun. Kertas, jarak, dan waktu terbit menjadi penjara bagi koran untuk berkembang. Warga Melawi, Kalimantan Barat, sampai sekarang baru mendapatkan koran sehari setelah terbit. Warga Bima, Nusa Tenggara Barat, masih mendapatkan koran yang beritanya terlambat sehari.

Di dua tempat itu, kalau mau, internet sudah tersedia. Belum cepat, tapi tinggal menunggu waktu (tidak lama) sebelum cepat. Ketika harga online terus turun, tidak ada alasan bagi warga-warga di sana untuk langganan koran bukan?

Ini belum bicara di Amerika Serikat, negara tempat di mana-mana orang bisa online. Secara keseluruhan koran terus turun. Yang besar-besar pun tinggal menunggu waktu untuk turun, bahkan mati.

Saya baca majalah Fortune edisi baru-baru ini. Marc Andreessen, salah satu pendiri Netscape yang juga pebisnis media (online, tentunya!), punya rencana besar seandainya memiliki koran sebesar New York Times.

Dia bilang, dia akan mematikan koran fisika itu sesegera mungkin, pindah penuh ke online. Lebih baik merasakan sakit parah sekarang daripada bertahun-tahun kesakitan, ucapnya.

Dia juga menyinggung, sangat sulit bagi New York Times untuk mengamankan masa depan, karena jajaran direksinya gaptek. Ada yang pakar binatang, ada yang pakar makanan. Tapi tak ada yang mengerti internet, katanya.

***
Beberapa waktu lalu, saya diminta untuk menjadi pembicara di acara Hari Pers Nasional, di Semarang. Menurut panitia, sudah waktunya mendengarkan pendapat orang-orang media yang masih muda. Maksudnya, yang berusia belum 40 tahun.

Saya mewakili koran, membahas tentang peran media koran dalam mewujudkan Indonesia 2030 yang ideal. Saya tidak salah ketik. Tahunnya benar-benar dua ribu tiga puluh.

Ya terus terang, tak banyak yang bisa saya sampaikan. Saya bilang, ini ironis juga. Saya merupakan pembicara termuda, tapi bicara soal media yang paling kuno. Pada 2030, saya sudah umur 52. Idealnya, ya saya sudah pensiun sejak umur 50. Lagipula, emang ya bisa koran bertahan sampai 2030?

Kemudian, ratusan insan media (kebanyakan koran) yang ada di hadapan saya waktu itu usianya maaf– tua. Bukan hanya 40-an. Tapi 50-an, bahkan ada yang 80-an.

Dalam hati, saya berpikir, Buat apa saya bicara di depan bapak-bapak ini, kalau mereka belum tentu ada pada 2030 nanti? Bicara soal koran untuk 2030, bagi saya, sangat tidak realistis. Kalau bicara soal koran, sekarang sebaiknya maksimal untuk lima tahun ke depan. No more. Sekarang saja saya pribadi sudah jauh lebih banyak baca berita lewat internet. Minimal dua jam sehari. Koran? Maksimal 20 menit.

Apakah ini berarti koran harus sepenuhnya ditinggalkan? Penentunya masih sama seperti dulu sampai sekarang: Koran itu sendiri dan pembacanya.

***

Melihat orang-orang di acara pers itu, saya pun berpikir. Masalah koran mungkin bukan hanya pada usia medianya. Tapi pada usia orang-orangnya. Perasaan yang sama saya dapati ketika mengikuti sebuah acara sepak bola nasional, beberapa waktu lalu.

Orang-orang yang mengurusi sepak bola itu masih sama dengan orang-orang yang saya baca di koran waktu masih SD dulu. Hanya satu atau dua yang usianya tidak jauh dari saya. Yang lebih muda dari saya hanya pemain.

Saya berpikir, Apa karena ini ya sepak bola Indonesia tidak maju-maju? Ilmu yang sama diputer-puter sampai habis. Orang yang satu pindah ke tempat yang lain, memuter-muter ilmu yang sama sampai habis.
Padahal, lingkungan sudah berubah, ada beberapa tingkatan generasi baru yang lebih tahu tentang ilmu-ilmu baru. Mereka hanya belum sempat mendapat kesempatan untuk menjajal ilmu-ilmu baru itu, lalu mengetahui kelemahan dan kesalahannya, karena orang-orang yang lama terus memaksakan ilmu-ilmu lama.

***

Sekali lagi, bukannya saya menyinggung mereka yang “maaf– tua. Karena saya suatu saat juga akan “maaf– tua. Dan saya kelak mungkin bakal jadi orang “maaf– tua yang mudah tersinggung.

Saya tahu betul perjuangan koran. Saya dari keluarga newspaperman. Saya tidur di atas koran mungkin sejak bayi. Waktu lulus SMP, pada 1993, saya diikutkan program siswa pertukaran ke Amerika Serikat supaya jauh dari koran. Dasar nasib, ternyata saya justru diterima dan tinggal di keluarga koran yang lain.

Pada 1993-1994, saya benar-benar bekerja di sebuah koran yang bergaya “maaf– tua. Namanya Ellinwood Leader, oplah mingguan hanya sekitar sekitar 1.500. Koran itu terbit di kota Ellinwood, Kansas, yang penduduknya hanya 2.500 dan kebanyakan “maaf– tua dan pensiunan.

Karena belum bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar, pekerjaan awal saya adalah fotografer, cuci cetak, sekaligus montase dan layout.
Kamera yang saya pakai masih Nikon FM-2 (full manual tanpa baterai). Cetak foto pakai enlarger (generasi sekarang mungkin sudah tidak tahu apa itu enlarger). Layout koran juga masih model gunting dan tempel di atas meja lampu. Di Jawa Pos sekarang, hanya satu atau dua orang yang pernah menjalani proses yang sama. Dan mereka sudah “maaf– sangat tua.

Semua pekerjaan harus efisien. Ngetik kepanjangan, makin panjang juga yang harus digunting. Motret hanya modal film satu roll, tidak bisa nge-bren ala machine gun seperti fotografer-fotografer digital sekarang. Habis motret pertandingan basket atau football, kalau tidak ada foto yang fokus, habislah sudah cerita koran minggu itu.

Menurut saya, segala pengalaman ini memberi saya skill set yang unik. Saya adalah generasi baru, tapi pernah menjalani dan merasakan kerja di koran gaya old school. Saya pun bisa menggabungkan efisiensi gaya lama itu dengan peralatan modern.

Jadi, sekali lagi, bukan berarti saya tidak respect dengan mereka yang –maaf– tua. Tapi, saya sudah tahu bahwa segala hal harus berubah menyesuaikan dengan zaman.

Life Will Find a Way
“Kalau mau selamat, ya reinventing saja terus menerus seperti Madonna. Dan sebenarnya, koran-koran yang ada sekarang sudah melakukan itu.”

Newspaper is dead? Mungkin.
Newspaper is dying? Mungkin.
Newspaper harus menyerah? Mungkin belum. Tapi, sudah bukan pengetahuan baru bahwa sudah makin berat bagi koran untuk melihat masa depan.
Lalu, apa yang harus dilakukan koran untuk survive? Apa yang harus dilakukan koran untuk meraih “mission impossible”: Tumbuh?
Saya bukan pakar jurnalistik. Saya juga bukan dewa koran. Saya hanya bagian dari kelompok langka, kelompok muda yang berkiprah di dunia koran. Saya juga tidak mau sok tahu, sok menuturi. Sebab, kalau begitu, saya resmi masuk kategori -maaf- tua. Dan, saya belum mau dibilang -maaf- tua. He he he…

Yang paling tahu jawabannya, mungkin, adalah Madonna.
Penyanyi yang satu ini bukanlah penyanyi favorit saya (terlalu -maaf- tua buat saya). Tapi, dia benar-benar ajaib. Dia mampu terus bertahan selama lebih dari 20 tahun. Bahkan, di usia yang sekarang hampir 50 tahun, dia masih mampu terus membangun popularitas.

Selama beberapa tahun sekali, selama lebih dari 20 tahun, Madonna reinventing diri sendiri. Dia mampu menyesuaikan karya musik dan gaya pembawaan dengan generasi yang terus berubah. Bukan sekadar menyesuaikan, dia kadang mampu mendikte generasi-generasi baru itu.

Coba bayangkan. Generasi bapak saya mungkin kenal Madonna dari lagu-lagu 1980-an seperti Like A Virgin atau La Isla Bonita. Generasi saya, yang mulai gaul pada pertengahan 1990-an, kenal dia lewat Take A Bow dan This Used To Be My Playground.

Generasi setelah saya kenal dia lewat lagu Frozen dan Music. Dan generasi sekarang kenal dia lewat lagu Four Minutes yang dia nyanyikan bareng Justin Timberlake.

Sambil berubah dalam hal musik, Madonna ikut mengubah pengemasan dirinya. Dulu jualan seksi, lalu gaya gothic, lalu gaya koboi, dan terus-menerus mengubah gaya.

Sejauh ini, Madonna terus mulus melakukannya. Cara mendengarkan musik sudah terus berganti. Generasi bapak saya beli kaset, generasi saya beli CD, dan generasi sekarang pakai iPod. Tapi, Madonna terus ngetop.
Tak heran bila bapak saya, saya sendiri, dan generasi-generasi setelah saya masih mau dengar dan joget pakai lagu Madonna. Padahal, secara fisik, mungkin makin sulit bagi penyanyi seusia Madonna untuk berjoget.
Dengan kemampuan dahsyatnya dalam reinventing diri sendiri, jangan heran kalau Madonna terus memukau (dan berjoget) saat usianya nanti mencapai 60 tahun.

Kalau Madonna bisa terus joget sampai umur ajaib begitu, mengapa koran tidak bisa terus berkiprah?

***
Sepertinya gampang. Kalau mau selamat, ya reinventing saja terus menerus seperti Madonna. Dan sebenarnya, koran-koran yang ada sekarang sudah melakukan itu.

Ada yang konstan berevolusi, ada yang gonta-ganti tampilan secara ekstrem. Ada yang mendikte perubahan di industri koran dan masyarakat, ada yang ikut-ikutan berubah meniru koran yang duluan berubah.
Ada yang berubah atau terbit dengan mengambil orang dari koran termutakhir, tapi kemudian mandek berubah sementara koran tempat orang itu berasal sudah terus berubah.

Pokoknya, selama 20 tahun saya jadi pembaca koran, sudah banyak yang berubah. Saya ambil contoh kecintaan saya terhadap balap mobil Formula 1. Dan, ini bisa sama dengan kecintaan orang lain pada sepak bola.
Dua puluh tahun lalu tidak ada siaran langsung F1. Untuk mengetahui hasil lomba yang diselenggarakan Minggu malam WIB, saya harus menunggu sampai Senin pagi lewat koran. Berita hasil yang hanya satu kolom, berisi dua atau tiga paragraf, sudah cukup untuk memuaskan keingintahuan saya.

Kalau mau ulasan lengkap, 20 tahun lalu saya rela menunggu sampai Jumat, lewat tabloid otomotif. Sepuluh tahun lalu, situasi sudah berubah. Siaran langsung F1 sudah makin mantap. Orang sudah tidak cukup lagi membaca hasil lomba pada koran edisi Senin pagi. Mereka lebih ingin prediksi dan review komplet, sebelum dan sesudah lomba.

Fungsi koran pun menjadi pelengkap siaran langsung.
Sekarang? Ulasan online makin instan dan komplet. Tidak terbatasi waktu dan besar halaman seperti koran. Masyarakat juga makin pintar, banyak yang lebih pintar soal F1 daripada yang menulis tentang F1 di koran-koran.
Koran harus bagaimana? Makin sulit bukan? Dan, ini berlaku bukan hanya untuk F1. Juga untuk olahraga-olahraga lain (khususnya sepak bola) dan bidang-bidang lain. Jawabannya… (Maaf, silakan setiap koran memikirkan sendiri-sendiri).

***
Saya bukan pakar jurnalistik, saya juga masih “anak kemarin sore” soal koran. Tapi, dalam delapan tahun terakhir berkiprah di Jawa Pos, saya juga sadar selera berita masyarakat bisa berubah begitu ekstrem. Dan, kalau ingin seperti Madonna, koran harus mampu membaca selera pasarnya. Atau mendiktenya.

Dulu, setelah reformasi, berita politik begitu ngetren. Foto tokoh politik bisa bikin koran laris. Tabloid politik bisa punya oplah sampai jutaan!

Sekarang? Maaf, politik sudah tidak laku. Saya pernah didatangi wakil agen dan penyalur Jawa Pos, tengah malam setelah penggarapan koran berakhir. Dia sengaja menunggui saya sampai penggarapan koran selesai untuk menyampaikan aspirasinya.

Dia menulis surat (tulisan tangan). Isinya, memohon dengan amat sangat agar Jawa Pos tidak memasang foto politikus, siapa pun dia. Juga agar Jawa Pos tidak memasang foto presiden, saat dia mengerjakan apa pun. “Kalau pasang foto politik, besok saya sulit jualan. Kalau saya sulit jualan, saya mau makan apa?” katanya.

Soal bencana juga begitu. Dulu, bencana alam yang menewaskan 20 orang bisa meningkatkan oplah signifikan.
Sekarang? Kalau melihat penjualan Jawa Pos (ini kami buka rahasia), mungkin orang sudah capai dengan berita bencana dan kesusahan. Khususnya setelah bencana tsunami, yang menewaskan hingga ratusan ribu orang.
Sejak tsunami, bencana-bencana lain adalah kecil. Orang sudah tidak “terkesan” lagi dengan banjir longsor yang menewaskan 60 orang.
Berita bencana ini berkaitan dengan kebombastisan berita. Dulu, saya ingat sesama koran sering “adu skor”. Siapa “menang” jumlah korban, dia yang biasanya menang di pasaran.

Sekarang? Orang sudah makin pintar. Orang sudah mengerti, yang penting bukan berapa yang mati, tapi apa yang bisa didapat dan harus dilakukan dari kejadian tersebut.

Kami buka rahasia pemasaran lagi: Berita bombastis juga sudah tidak laku.

***
Jawa Pos kemarin merayakan ulang tahun ke-59. Mewakili seluruh personel Jawa Pos, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca dan rekanan yang telah mendukung selama ini.

Wow. Lima puluh sembilan tahun! Hampir dua kali umur saya!
Selama 59 tahun, Jawa Pos telah berevolusi dalam hal bentuk, penyajian, dan lain-lain. Selama 59 tahun, Jawa Pos telah melewati masa-masa indah, masa-masa sulit.

Terima kasih kepada semua pihak, Jawa Pos sekarang masih jaya. Di saat koran-koran lain menurunkan harga dan mengurangi halaman, Jawa Pos masih bisa terus berinovasi dan menambah halaman. Terima kasih kepada semua pembaca yang setia, Jawa Pos bahkan masih bisa -alhamdulillah- menaikkan harga.

Tapi, sebagai bagian dari kelompok muda, saya ingin segera melupakan 59 tahun yang sudah berlalu itu. Sekarang ini, koran seperti kembali ke tahun zero.

Tantangan yang dihadapi koran di masa depan akan semakin berat. Beruntung, sejak zaman orang-orang -maaf- tua dulu, Jawa Pos besar dengan cara yang sehat. Selalu siap berubah, selalu mau berinovasi, selalu mau bekerja keras, selalu mau lebih repot daripada koran-koran kebanyakan.
Dan, sekarang, beda dengan kebanyakan koran lain, Jawa Pos punya modal lain yang mungkin bakal membantu bertahan di masa depan. Yaitu muda.

Maksudnya bukan hanya karena koran ini punya banyak anak muda (usia rata-rata puluhan anak DetEksi 20,5 tahun, kebanyakan redaktur di usia akhir 20-an atau awal 30-an). Tapi juga karena manajemen teratasnya “muda.”
Manajemen teratas koran ini memang sudah -maaf- tua. Tapi, gaya dan energi mereka kadang lebih muda daripada yang muda.

Pak Dahlan Iskan itu selalu muda (termasuk sebelum ganti hati milik orang muda). Bu Ratna Dewi itu awet muda. Bu Nany Wijaya sampai sekarang juga terus funky. Pak Eddy Nugroho pun makin metroseksual (bagi yang kenal, lihat saja selera sepatunya. Sporty enggak, formal juga enggak. He he he he).

Masih banyak lagi orang-orang teratas koran ini yang “muda.” Dan, kalau dipikir, kayaknya resep sukses ya itu tadi. Harus awet muda.

***
Jadi, sampai kapan koran bisa bertahan?
Saya tidak mau muluk-muluk. Saya tidak mau berpikir sampai 2030. Normal saja, per lima tahun.

Seperti apa lima tahun lagi?
Saya terus terang tidak tahu. Tapi, Pak Dahlan selalu bilang, jangan terlalu berpikir muluk. Asal kerja keras terus, hasil akan datang dengan sendirinya.

Berbagai tantangan yang dihadapi koran saat ini kelak pasti akan muncul solusinya. Toh, dulu orang bilang televisi bakal membunuh radio (video kill the radio star?). Ternyata, sampai sekarang, radio juga terus eksis. Meski makin sulit menemui penyiar yang bukan “tong kosong nyaring bunyinya”, tapi radio terus berkibar.

Penyelamatnya pun tidak disengaja atau diciptakan oleh industri radio. Penyelamatnya adalah mobil! Orang tidak lagi mendengarkan radio di rumah, tapi mendengarkannya di dalam mobil.

Saya ingin mengutip omongan Dr Ian Malcolm, tokoh fiksi di film Jurassic Park (1993) yang diperankan Jeff Goldblum. Waktu itu, menanggapi “dihidupkannya kembali dinosaurus”, dia bilang bahwa “Life will find a way.”

Dinosaurus-dinosaurus di Jurassic Park mungkin sudah diciptakan sedemikian rupa agar bisa dikontrol manusia. Tapi, secara alami, mereka akan menemukan cara untuk “merdeka” dan -untuk T-Rex di film itu- memakan manusia.

Di dunia media, koran tergolong yang paling kuno, yang paling Jurassic Park. Tapi, koran telah selamat berkali-kali dari krisis harga kertas dan ancaman media format lain. Mungkin, dengan kerja keras dan energi muda, koran masih bisa selamat, minimal sekali lagi.
Life will find a way. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s