Azrul’s Insights: AFL Ratusan Kali Lebih Besar dari Sepak Bola

17 September 2009

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke empat) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu.

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda bersama Patrick Mills, pemain muda Australia yang tahun ini masuk NBA bersama Portland Trail Blazers. Dia sedang cedera kaki, menjalani proses pemulihan di Australia Institute of Sports di Canberra. Foto oleh Broughton Robertson)

Pemulihan Cedera Lebih Baik daripada di Amerika

Tujuan utama kunjungan seminggu di Australia ini adalah mempromosikan hubungan people to people. Khususnya lewat jalur olahraga. Sebagai bonus: Bertemu bintang basket Aborigin yang sukses menembus NBA.

Azrul Ananda, Canberra

Australia negara gila olahraga. Selama di Australia, kebanyakan pertemuan saya adalah dengan orang-orang olahraga. Ketika di Darwin, pada dasarnya saya melihat semua tim profesional Negeri Kanguru yang tergabung di National Basketball League (NBL), bertemu pemain-pemain bintang, dan melakukan pertemuan dengan Larry Sengstock, CEO Basketball Australia (semacam Ketua Perbasi).

Saya juga bertemu menteri olahraga di beberapa kawasan. Selain di Northern Territory, juga Kevin Greene, menteri olahraga dan rekreasi New South Wales (negara bagian dengan penduduk terbanyak) di Sydney.

Kemudian, di Canberra Selasa lalu (8/9), saya diajak ke tempat yang sangat mengagumkan: Australian Institute of Sports (AIS).

Pada dasarnya, AIS merupakan tempat pemusatan latihan untuk atlet-atlet Australia. Mulai dari tingkat junior sampai elit. Di sana, berbagai fasilitas kelas dunia tersedia untuk puluhan macam olahraga. Di sana, sejak berdiri pada 1981, tak terhitung jumlah atlet-atlet elite kelas dunia yang “lulus”.

Dari basket saja ada berapa nama kondang. Yang utama adalah Luc Longley, pemain basket yang pada pertengahan 1990-an meraih popularitas luar biasa di NBA. Waktu itu, dia bermain di Chicago Bulls, menjadi salah satu rekan setim Michael Jordan.

Selain Longley, ada pula Andrew Bogut, yang sekarang menjadi pilar klub Milwaukee Bucks di NBA. Ada juga Lauren Jackson, salah satu pemain wanita terbaik di dunia.

Menurut Marty Clarke, pelatih kepala basket pria di AIS, mungkin 40-50 persen pemain di NBL Australia merupakan lulusan AIS.

Clarke –yang juga pelatih tim nasional junior Australia– menjelaskan, dia konstan berkomunikasi dengan asosiasi-asosiasi di berbagai penjuru Australia. Pihaknya terus mencari pemain-pemain muda berbakat, maksimal kelas XI SMA (kalau kelas XII sudah harus siap ujian).

Kadang tidak harus pemain paling berbakat, tapi pemain yang dianggap punya potensi besar bila dikembangkan dengan tepat. “Untuk putra lebih sulit daripada putri. Karena pertumbuhan postur putri lebih cepat dari putra. Kadang, kemampuan pemain putra berkembang pesat di akhir masa remaja,” ungkapnya.

Setiap dua tahun, AIS “merekrut” sekitar 12 pemain putra dan putri untuk pindah ke Canberra. Sekolah di ibu kota Australia itu, dan menjalani latihan khusus pada pagi dan sore di luar jam sekolah.

Ada pula camp-camp basket khusus selama empat hari untuk calon-calon pemain lain. Serta program bagi pihak-pihak asing yang ingin mendapatkan bantuan pengembangan dari AIS. Baru-baru ini, katanya, ada tim junior Filipina datang untuk menjalani camp di Canberra.

Fasilitas di AIS memang super-komplet. Selain gedung khusus basket berisikan empat lapangan, ada pula pusat rehabilitasi dan fitnes yang besar dan komplet. Juga ada tempat khusus di mana atlet bisa berlatih dalam cuaca di negara tempat mereka kelak bertanding (misalnya simulasi tropis dan panas).

Dasar nasib baik, di AIS kami bertemu dengan Patrick “Patty” Mills. Bagi kebanyakan orang, nama itu mungkin belum terlalu dikenal. Tapi lihatlah dalam lima tahun ke depan, ada peluang nama itu bakal dikenal di berbagai penjuru dunia.

Mills, 20, merupakan salah satu produk sukses AIS. Dia salah satu pemain basket Aborigin pertama yang sukses menembus level tertinggi. Bukan hanya di Australia, tapi di dunia. Point guard ini termasuk pemain termuda yang pernah bergabung di Boomers, julukan tim nasional Australia.

Dia sudah berkiprah dan meraih banyak pujian di Olimpiade Beijing tahun lalu. Pada Juni lalu, Mills berhasil menembus ranking NBA. Dia dicomot oleh salah satu tim kuat di liga paling bergengsi itu: Portland Trail Blazers. Salah satu pelatihnya di Blazers adalah Joe Prunty, yang pada Agustus lalu hadir di Surabaya, melatih pemain-pemain SMA terbaik dari 15 provinsi di Indonesia, dalam even Indonesia Development Camp 2009 (hasil kerja sama NBA dan DetEksi Basketball League).

Sayang, tidak lama setelah bergabung di Blazers, Mills patah kaki. Sudah sepuluh pekan terakhir ini dia harus berjalan memakai kruk (setelah operasi). Mungkin baru pulih satu sampai dua bulan lagi.

“Nasib buruk,” katanya singkat. Saya pun bertanya, ngapain rehabilitasi di Canberra? Bukankah di Amerika lebih lengkap? Ternyata, Mills bilang tidak ada yang lebih lengkap dari AIS di Canberra. “Kalau ada yang lengkap di Amerika, saya lebih baik rehabilitasi di sana. Karena pada prinsipnya saya sudah pindah, dan segala milik saya sudah ada di sana. Karena tidak ada, maka saya balik ke sini. Bahkan, begitu cedera, Marty Clarke merupakan salah satu orang pertama yang saya hubungi,” tuturnya.

Tidak ada pujian lebih tinggi dari pengakuan seorang atlet elit.

***

Mills merupakan atlet Aborigin yang sukses. Selama di Australia, beberapa kali pula saya bertemu dengan perwakilan organisasi yang bekerja membantu anak-anak aborigin lewat jalur olahraga.

Ada pertemuan dengan Clontarf Foundation di Darwin, yang banyak bekerja di kawasan utara atau barat Australia. Mereka mencoba membantu anak-anak Aborigin yang punya latar belakang sulit atau kekerasan lewat permainan Australian Football. Syarat untuk ikut: Harus masuk sekolah.

Di Marrickville High School di Sydney, saya bertemu dengan National Aboriginal Sporting Chance Academy (NASCA), yang juga melakukan kegiatan lewat Australian Football.

Sebagai informasi balasan, saya pun banyak mempresentasikan DetEksi Basketball League (DBL), selain bicara soal media di Indonesia. Apalagi misinya agak mirip. Lewat DBL, kami pun ingin mempromosikan konsep student athlete. Kalau mau main basket di liga pelajar terbesar di Indonesia itu, harus selalu naik kelas.

AZA AUSTRALIA 09

( Azrul Ananda (berdasi) di tengah-tengah pelajar Indonesian Studies University of Sydney, setelah memberi materi tentang perkembangan DetEksi Basketball League (DBL) di Indonesia. Ada mahasiswa yang ternyata pernah menonton langsung pertandingan DBL di Mataram. Foto oleh Broughton Robertson)

Ketika menyampaikan DBL di University of Sydney, ternyata ada sambutan menarik. Anthony Fine, 21, salah satu mahasiswa Indonesian Studies di situ, ternyata sudah pernah nonton langsung pertandingan DBL. Dia menyaksikan final Honda DBL 2009 seri Nusa Tenggara Barat, di Mataram.

Dengan antusias, Fine mengaku geleng-geleng kepala melihat hebohnya DBL. “Penonton sampai harus gantian memenuhi gedung. Saya tidak menyangka ada even olahraga sehebat itu di Indonesia. Di Australia saja tidak seperti itu,” katanya kepada rekan-rekan lain di kelas.

Di Australia, basket memang maju pesat, tapi sekarang lebih bersifat olahraga partisipasi di tingkat grass root. Di tingkat profesional, harus diakui kalau National Basketball League (NBL) memang sedang menjalani masa sulit. Tim-timnya kesulitan keuangan, duit sponsor makin mengering.

Pertandingan-pertandingan basket di Australia berkualitas sangat tinggi, namun penontonnya sepi. Ada banyak teori mengapa itu terjadi, tapi pada dasarnya kalah bersaing dengan berbagai olahraga di negara yang gila olahraga ini.

Olahraga nomor satu, sudah bukan rahasia lagi adalah Australian Football. Dan itu nomor satu jauh di atas nomor dua yang lain. Australian Football League (AFL), liga tertinggi olahraga itu, kini memiliki 16 tim, dan memiliki perputaran uang fantastis.

Saat hari terakhir kunjungan di Melbourne, Rabu kemarin (9/9), saya diberi tur fasilitas Essendon Football Club (Bombers), salah satu dari sepuluh (!) tim AFL yang bermarkas di kawasan Melbourne. Tim ini merupakan salah satu yang memiliki member terbesar dan perputaran uang tertinggi.

Simon Matthews, General Manager Media and Community Essendon Bombers, menjelaskan bahwa timnya memiliki sekitar 60 karyawan. Perputaran uang mencapai 40 juta dollar Australia semusim. Dari jumlah itu, sekitar 7 juta dollar untuk gaji pemain.

Pemasukannya? Sebagian dari member, yang menyumbang sampai 5 juta dollar semusim. Lalu 7 juta dollar dari pembagian hasil penjualan hak siar televisi. Setelah itu pemasukan lain-lain.

Pemasukan televisi AFL sangatlah fantastis. Kontrak lima tahun mencapai hampir 800 juta dollar Australia! “Kontrak itu habis dua tahun lagi. Kemungkinan, ketika perpanjangan, nilainya bisa mencapai 1 miliar dollar untuk lima tahun selanjutnya,” jelas Matthews.

Angka itu jauuuuuuh lebih tinggi dari yang lain. A-League, liga sepak bola Australia yang sedang melangkah maju, hanya punya kontrak televisi sekitar 1 sampai 2 juta dollar Australia semusim! Ya, AFL ratusan kali lebih raksasa! Bahkan rugby, yang juga populer, tidaklah sekaya AFL.

“Tim termiskin AFL punya perputaran uang sekitar 20 juta dollar semusim. Tim terkaya rugby mungkin hanya 15 atau 16 juta dollar semusim,” jelas Greg Baum, sports editor The Age, koran di Melbourne.

Saking jauhnya, AFL pun menyedot perhatian media terbesar. Menurut Baum, saat musim AFL (sekitar tujuh bulan, berakhir September ini), 80 persen porsi halaman olahraganya tercurahkan untuk AFL.

sumber :  mainbasket , http://www.jpnn.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s