Azrul’s Insights: Paling Enjoy jika Tahan 3,5 Jam tanpa ke Toilet

15 September 2009 

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke tiga) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu.

AZRUL AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda berpose di atas Sydney Harbour Bridge, saat berjalan menuju titik tertinggi jembatan. Sejak 1998, sudah lebih dari 2 juta orang menjalani tur BridgeClimb. (BridgeClimb))

Azrul Ananda, Sydney

SETELAH tiga hari di Darwin, Northern Territory, waktunya melanjutkan perjalanan ke kota lain. Tujuan: Sydney, New South Wales. Naik pesawat ke kota terbesar Australia itu menegaskan betapa terpisahnya Darwin dari ”keramaian”. Penerbangannya memakan waktu 4,5 jam!

Sebenarnya, saya bukan tipe yang suka kota-kota terbesar. Saya lebih menikmati mengunjungi tempat-tempat ”tenang”. Namun, ada banyak jadwal sudah menunggu di Sydney. Mulai mengunjungi grup media besar, bertemu dengan menteri olahraga (lagi), hingga diwawancarai saluran televisi Australia Network.

Sebelum menjalani rangkaian acara itu, saya diajak untuk menikmati salah satu tujuan wisata yang makin lama makin naik daun di Sydney: Mendaki Sydney Harbour Bridge.

BridgeClimb di Sydney bukanlah atraksi baru. Sudah tersedia sejak 1998. Total, lebih dari 2 juta orang diklaim pernah merasakan wisata itu.

Ide dasarnya sangat sederhana, tapi brilian: Paksa orang membayar ratusan dolar Australia, lalu ajak mereka mendaki jembatan ikon kota Sydney yang diresmikan pada 1932 tersebut. Proses mendakinya menyusuri lengkungan jembatan, hingga ke puncak tertinggi yang mencapai 134 meter.

Bagi yang tidak suka berjalan jauh (dan banyak orang Indonesia mungkin tidak suka berjalan terlalu jauh), program tersebut mungkin ”menyeramkan”. Dan, memang cukup melelahkan karena kita berjalan (termasuk mendaki dan memanjat tangga) lebih dari dua kilometer dalam waktu sekitar 3,5 jam.

Kalau suka berjalan jauh dan merasa kuat, itu benar-benar program menarik. Saya yakin, kalau dibandingkan dengan mendaki bukit atau gunung sungguhan, memanjat Sydney Harbour Bridge bukanlah apa-apa!

***

Entrepreneur Sydney, Paul Cave merupakan pencetus hadirnya BridgeClimb, perusahaan swasta pengelola wisata BridgeClimb. Pada 1989, dia diberi kesempatan mengorganisasi acara panjat internasional di sana. Kemudian, dia pun punya mimpi memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang menikmatinya.

Sembilan tahun kemudian, lewat kengototan dan kerja keras, pada 1 Oktober 1998, impian itu menjadi kenyataan. Kabarnya, dia mendapatkan hak ”mengontrak” pengelolaan acara panjat selama 20 tahun dan harus membayar 3 juta dolar Australia per tahun.

Sekilas, 3 juta dolar merupakan angka fantastis. Namun, kalau dibandingkan dengan pemasukan yang dia dapat, itu merupakan angka kecil. Hebat!

Capek memanjat Sydney Harbour Bridge memang tidak murah. Pada dasarnya, setiap sepuluh menit ada jadwal memanjat. Setiap kelompok maksimal terdiri atas 14 peminat, dipandu seorang guide.

Harga beragam. Kalau siang, 198 dolar Australia per orang (satu dolar Australia sekitar Rp 8.500). Kalau malam, harganya 188 dolar. Yang mahal adalah paket Twilight (petang), mencapai 258 dolar per orang. Atau mau paket eksklusif Dawn (subuh), 295 dolar per orang.

Tiba di Sydney sekitar pukul 13.00, saya dan Broughton Robertson (wakil pemerintah Australia yang menemani saya selama kunjungan) bisa ikut rombongan Twilight pertama. ”Berangkat” pukul 15.25 dari pangkal jembatan di Cumberland Street, kawasan The Rocks.

Sebelum duduk di ruang tunggu, ada tulisan peringatan yang sangat-sangat penting. Bukan untuk keselamatan, melainkan peringatan bahwa begitu melewati pintu ruang tunggu tidak akan ada lagi kesempatan untuk mampir ke toilet (nanti dijelaskan mengapa ini sangat-sangat penting!).

Di ruang pertama, semua anggota rombongan dibrifing terlebih dahulu. Napas setiap anggota dites untuk memastikan tidak ada yang mengonsumsi alkohol berlebihan sebelum naik jembatan. Peserta juga diminta mengisi formulir, untuk keselamatan dan data diri.

Dari situ, peserta diminta untuk melepas semua aksesori. Jam tangan, cincin, kalung, dan anting yang terlalu besar. Kemudian, semua perlengkapan turis, seperti kamera dan telepon, harus dimasukkan ke loker. Untuk memastikan tidak ada barang terbawa, semua peserta harus melalui metal detector.

Lalu, peserta diberi baju overall ala balap, tapi dengan ritsleting di belakang (setelah memakai baju, ke toilet menjadi mission impossible!). Sabuk perlengkapan dipasangkan. Peralatan terpenting: Kabel yang bakal dikaitkan dengan railing jembatan selama pendakian. Kabel itu menjamin kita selalu ”bersama” jembatan, tak mungkin jatuh jauh ke bawah.

Berbagai aksesori itu harus dilepas karena bisa berbahaya ketika terlepas dan jatuh. Maklum, di bawah ada delapan jalur mobil berseliweran, plus dua jalur kereta. Plus, tanpa kamera, kita pun ”terpaksa” membeli ke BridgeClimb, menambah pemasukan perusahaan itu.

Perlengkapan lain adalah jaket ekstra (karena di atas sangat berangin dan dingin, khususnya menjelang malam), lampu yang diikatkan di kepala, earphone untuk mendengarkan penjelasan dan instruksi guide, plus opsi tambahan seperti topi dan sapu tangan (untuk bersin atau menangis haru).

Semua perlengkapan itu dikaitkan dengan pakaian overall sehingga tidak akan ada yang terlepas ketika di atas jembatan. Proses brifing sampai selesai memasang perlengkapan itu hampir satu jam.

***

Sehari, ratusan hingga ribuan orang menjalani tur tersebut. Saking banyaknya, ada 70 guide bertugas setiap hari, membawa rombongan yang jumlahnya maksimal 14 orang. Masing-masing guide mendaki dua hingga tiga kali sehari.

Ketika musim panas (akhir hingga awal tahun), jumlah guide melonjak hingga 100 orang atau lebih. Total peserta tur bisa lebih dari 1.500 orang sehingga tur itu beroperasi nyaris 24 jam. Ada yang larut malam, ada yang dini hari.

Guide yang membawa rombongan saya bernama Nick. Orangnya suka bercanda (kebanyakan mungkin begitu karena tugasnya memang untuk membahagiakan peserta yang membayar mahal).

Setelah semua peserta memasang perlengkapan, dia bilang untuk bersiap menjalani bagian paling berat. ”Bagian paling berat adalah keluar dari pintu ruangan ini, menyusuri jalanan kota Sydney sebelum mencapai kaki jembatan. Kita harus tahan malu karena kita akan berjalan berkelompok di pinggir jalan seperti pasukan Ghostbusters,” ucapnya disambut tawa.

Kami semua memang terlihat seperti anggota tim penangkap hantu di film zaman lama itu. Pakai overall abu-abu, dengan berbagai perlengkapan mengelilingi pinggang.

Sebelum menaiki tangga kaki jembatan, tersedia tempat minum. ”Tapi ingat, semua yang kita minum harus tetap berada di dalam badan sampai tur ini berakhir,” ingat Nick.

Proses mendaki tergolong biasa saja. Pertama, kita menyusuri catwalk yang berada di bawah jembatan. Lalu, naik tangga sempit satu per satu ke atas, sebelum mendaki bagian atas lengkungan utama jembatan. Sebentar-sebentar kami berhenti, mendengarkan penjelasan Nick tentang pemandangan sekeliling di Sydney Harbour. Termasuk tentang sejarah jembatan itu.

”Ketika jembatan ini dibangun, banyak orang heran. Sebab, ada jalur mobil begitu lebar. Padahal, pada 1932 itu, jumlah mobil hanya puluhan. Ini menunjukkan betapa desainer jembatan ini punya visi yang begitu hebat,” terang Nick.

Sebelum mencapai puncak, ada grup foto dulu, lalu foto satu per satu. Di bagian puncak (yang dipasangi dua bendera Australia), rombongan berhenti dulu untuk menikmati pemandangan sekaligus menunggu matahari terbenam. Hanya rombongan Twilight yang bisa menikmati pemandangan indah itu. Naik jembatan masih terang, turun jembatan gelap.

Bagi yang ingin pengalaman beda, ada pula paket Discovery Climb. Bedanya, sambil menuju puncak, paket yang kedua itu mengajak peserta menyusuri komponen-komponen dalam jembatan. Belajar tentang kehebatan desainnya.

Di puncak, Nick menjelaskan bahwa ada warna baru dalam beberapa waktu belakangan. Sekarang mulai banyak orang ingin menjalani proses pernikahan di puncak Sydney Harbour Bridge. ”Tidak semua lancar. Tiga bulan lalu, pasangan yang akan menikah itu kehilangan cincin. Jatuh ke bawah jembatan. Ini tidak bohong!” katanya.

***

Kunci menikmati BridgeClimb sebenarnya satu: Tahan tidak ke toilet selama 3,5 jam. Saya sendiri tergolong orang yang ”rajin” ke toilet. Jadi, ini bukan tur yang terlalu menyenangkan. Di saat semua orang menikmati matahari terbenam di puncak jembatan, saya sudah tak sabar segera turun. Dan, saya yakin tidak sendirian karena beberapa peserta yang lain juga goyang-goyang kaki dan terus bergerak di tempat.

Apesnya, dari puncak masih ada proses sekitar 45 menit lagi untuk turun, plus 15 menit ekstra untuk melepas segala perlengkapan.

Gara-gara itu, pengalaman terindah tur ini bagi saya ada dua: Mencapai puncak dan mengakhiri di toilet!

(bersambung)

sumber : http://www.mainbasket.com, http://www.jpnn.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s