Azrul’s Insights: Sehari-hari, Garasi Formula 1 Berisikan Lapangan Futsal

18 September 2009 

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke lima/terakhir) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. 

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda (tengah) bersama Ron Walker (kanan) dan Drew Ward, chairman dan CEO Australian Grand Prix Corporation di kantor mereka, di dekat Albert Park, Melbourne. Foto oleh Broughton Robertson)

Ke Melbourne, tidak lengkap kalau tidak mengunjungi Albert Park, taman yang setiap Maret digunakan untuk balapan Formula 1. Lalu bertemu langsung dengan para petinggi penyelenggara lomba.

Azrul Ananda, Melbourne

Dari Darwin ke Sydney, dari Sydney ke Canberra, dari Canberra ke Melbourne. Meski hanya sehari di Melbourne, tapi kunjungan di ibu kota Victoria itu yang paling padat dan variatif.

Melbourne merupakan kota terakhir yang saya kunjungi dalam program Special Visit ini. Seharian di Melbourne Rabu lalu (9/9), tengah malamnya langsung terbang kembali ke Indonesia via Singapura.

Rabu lalu di Melbourne, total enam program dilakukan dari pagi sampai malam. Ada wawancara dengan dua radio (Radio Australia dan SBS Radio), pertemuan people to peopledengan Asialink di University of Melbourne, bicara dengan editor harian The Age, juga mengunjungi markas Essendon Football Club (Australian Football).

Sebelum kelima program itu, paginya lebih dulu bicara Formula 1 dengan para “empunya” Grand Prix Australia di Melbourne.

Sejak 1996, Melbourne sudah menjadi tuan rumah seri balap mobil paling bergengsi di dunia itu. Sangat sering, Melbourne menjadi seri pembuka.

Di antara semua balapan di dunia, GP Australia termasuk yang paling populer. Melbourne kota yang indah, dan balapan diselenggarakan di Albert Park, salah satu taman kota. Kalau di negara lain dan di lomba “tradisional,” penggemar butuh banyak waktu untuk menuju sirkuit, yang letaknya biasa jauuuuh dari kota.

Bagi saya, GP Australia merupakan lomba favorit. Puluhan kali sudah saya meliput balapan F1 untuk harian Jawa Pos, Melbourne merupakan tempat paling asyik. Beberapa kali sudah saya meliput di sana, sejak 2001 dan terakhir 2007 lalu.

Namun, saya belum pernah ke Melbourne (dan ke Albert Park) di saat tidak ada balapan. Dan bedanya luar biasa. Rabu pagi itu, saya dijadwalkan bertemu dengan Ronald J. Walker, chairman Australian Grand Prix Corporation. Sebenarnya, pertemuan itu dirancang bukan untuk F1. Sebab, Ron Walker juga chairman dari Fairfax Media Limited, salah satu grup media terbesar di Australia. Di dalamnya antara lain harian The Age dan Financial Review.

Dasar maniak F1, mengapa tidak bertanya-tanya saja tentang F1 kepada orang nomor satu di GP Australia itu. Selama ini, saat meliput F1, saya memang sering berpapasan dengan Walker. Hanya saja, saat lomba, fokus saya biasanya kepada tim dan para pembalap.

Sebelum bertemu di Grand Prix House di Albert Road (di seberang salah satu sudut Albert Park, saya lebih dulu keliling “sirkuit.”)

Karena itu taman publik, jalanannya pun bebas dipakai publik. Kami –bersama driver dan Broughton Robertson dari departemen luar negeri Australia– menyusuri taman itu searah jarum jam, sesuai rute balapan. Hanya ada beberapa perbedaan rute, karena beberapa tikungan dibuat khusus untuk F1, tidak bisa dilalui saat taman berfungsi “normal.”

Dari perbedaan itu, bisa dibayangkan betapa rumitnya pekerjaan “menyulap” taman kota jadi sirkuit standar F1. Tidak cukup dua sampai tiga minggu sebelum lomba. Kabarnya, untuk lomba di bulan Maret, pekerjaan sudah dimulai sejak awal tahun baru. Setelah lomba, butuh waktu lagi untuk membongkar semuanya. Dan itu dilakukan setiap tahun, selama 13 tahun terakhir!

Kami lantas berhenti di kompleks garasi dan paddock “sirkuit.” Sebuah bangunan permanen dua lantai. Ketika lomba setiap maret, di sinilah tim-tim F1 bermarkas.

Lantai dasarnya adalah garasi mobil. Lantai di atasnya multifungsi. Sebagian jadi media center, tempat ratusan wakil media dari berbagai penjuru dunia bekerja. Sebagian besar menjadi kompleks hospitality, tempat tim-tim dan para sponsornya menjamu para tamu VIP dan pemegang tiket Paddock Club (tiket termahal yang harganya di kisaran Rp 30 juta per orang).

Media center, tempat yang paling berguna bagi saya kalau liputan, berada di bagian paling ujung. Alangkah kagetnya saya, ketika di depan pintu masuknya ada lapangan basket mini. Saya tahu di sana ada kotak lantai beton, tapi selama ini saya pikir berfungsi sebagai jalan masuk ke kompleks paddock.
Lebih kaget lagi ketika melihat lantai dua bangunan itu (yang berdinding kaca, jadi terlihat dari luar). Terlihat ada beberapa gawang kecil. “Lapangan futsal?” begitu tanya saya dalam hati.

AZRUL AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda di depan garasi dan paddock Albert Park, Melbourne. Ketika balapan Formula 1, bangunan ini menjadi markas tim. Ketika hari biasa, di dalamnya menjadi lapangan futsal,netball, dan basketball. Foto oleh Broughton Robertson)

Saat berada di Grand Prix House, Walker menjelaskan bahwa bangunan itu memang harus multifungsi. “Menurut aturan, tidak boleh ada bangunan permanen di taman. Tapi kami membuat kesepakatan dengan parlemen. Bahwa bangunan itu bakal multifungsi. Bisa digunakan publik ketika tidak ada balapan,” terangnya.

Drew Ward, CEO Australian Grand Prix Corporation, menambahkan bahwa bangunan itu bukan hanya berisikan lapangan futsal. “Juga bisa dipakai untuk netball dan basketball,” ungkapnya.

Dalam pertemuan itu, Walker menanyai popularitas F1 di Indonesia. Tentu saya jawab luar biasa. Hanya saja, termasuk berat bagi banyak penggemar untuk nonton ke Australia. Selain butuh waktu untuk mengurus visa, juga biayanya lebih tinggi dari nonton ke Malaysia.

Walker tampak terkejut, ketika diberitahu penggemar F1 Indonesia bisa menikmati GP Malaysia dengan hanya mengeluarkan sedikit di atas USD 500 (Rp 5 juta). Itu cukup untuk pesawat, hotel murah, dan tiket nonton.

Grand Prix Australia sendiri telah menjalani masa-masa cukup “mendebarkan” belakangan ini. Terakhir, pada lomba Maret lalu, ada perubahan jam lomba. Dari start pukul 14.00, mundur ke pukul 17.00. Semula, F1 ingin lomba malam hari, supaya mendapat perhatian pemirsa televisi lebih baik di Eropa (basis utama penggemar F1). Kalau start pukul 14.00, maka penonton di Eropa harus bangun sekitar pukul 03.00 dini hari.

Semula, Walker dan perusahaannya mengajukan permintaan ke pemerintah untuk menginstalasi lampu, supaya bisa menyelenggarakan lomba di malam hari. Tapi ditolak. Start pukul 17.00 adalah kompromi. Dan Walker mengaku mendapatkan manfaatnya. “Pemirsa televisi di Eropa melonjak tiga kali lipat. Dengan total pemirsa di seluruh dunia mencapai 100 juta orang,” ungkapnya. “Jadi kami senang dengan format baru ini,” tandasnya.

Pemerintah memang punya peranan besar untuk GP Australia. Pemerintah-lah pemilik Australia Grand Prix Corporation. Walker dan Ward mengakui bahwa perusahaan ini merugi setiap tahun. “Kami rugi sekitar 40 juta dollar (Australia, Red) setiap tahun. Tapi Australia mendapat banyak manfaat dari situ. Melbourne dikenal di seluruh dunia. Karena itu, lomba ini akan terus dilanjutkan. Kami sudah memperpanjang kontrak dengan F1 hingga 2015,” papar Walker.

Kerugian itu, lanjut Walker, tidaklah seberapa bila dibandingkan beberapa penyelenggara lain. “Tahun lalu, Grand Prix Singapura rugi sampai 100 juta dollar,” ungkapnya. Walker tidak bilang itu dollar Australia atau Amerika Serikat. Tapi nilainya tidaklah terlalu jauh berbeda. Antara Rp 850 miliar (dollar Australia) atau Rp 1 triliun (dollar AS). Gengsi memang mahal sekali.

(habis)

sumber :  mainbasket , http://www.jpnn.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s