Belajar & Bertanding Bersama DBL All-Star di Seattle (1)

nblindonesia.com – 05/11/2010

MuseumBoeing

Lihat Boeing Terbaru Dirakit, Main Game Terbaru di Microsoft

Tim basket pelajar DBL Indonesia All-Star 2010 benar-benar belajar dan bertanding di Amerika Serikat. Pada hari pertama, langsung masuk pabrik pesawat terbesar dan mengunjungi perusahaan software terbesar di dunia. Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL, dari Seattle.

Kunjungan sepekan tim Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010 di Amerika Serikat tampaknya bakal jadi kunjungan tak terlupakan. Kumpulan pemain dan pelatih SMA terbaik dari berbagai penjuru tanah air itu benar-benar belajar dan bertanding di Kota Seattle (plus nanti Portland).

Hari pertama kunjungan Senin lalu (1 November, Selasa kemarin WIB) benar-benar melebihi segala yang saya harapkan. Benar-benar sebanding dengan upaya membentuk tim putra dan putri ini, yang dimulai sejak Januari lalu lewat Honda DBL 2010 di 21 kota,18 provinsi di Indonesia.

Kami memang ingin tim ini dapat pengalaman komplet. Sesuai dengan misi DBL yang mempromosikan konsep student athlete. Tak sekadar ke AS untuk jalan-jalan biasa.

Dari sisi atlet, harus ada sesi training dengan pelatih dan pemain-pemain muda setempat, harus ada pertandingan resmi, dan harus ada nonton NBA-nya. Dari sisi pelajar, harus ada pengalaman sekolah di SMA setempat dan kunjungan-kunjungan yang memberikan wawasan serta inspirasi.

Siapa sangka jadwal yang kami miliki lebih dari semua itu. Pada hari pertama, sebelum merasakan sekolah dan bertanding, anak-anak DBL Indonesia All-Star langsung melihat sesuatu yang tidak banyak dinikmati orang. Salah satunya, masuk pabrik pesawat terbesar milik Boeing di Everett, sekitar 30 kilometer dari Seattle.

Di sana, anak-anak benar-benar melihat langsung bagaimana pesawat Boeing 747, 777, dan –paling baru– 787 dibuat dari komponen sampai jadi!

*****

Tujuh belas tahun lalu, di usia 16 tahun pada pertengahan 1993, saya kali pertama menginjakkan kaki di AS. Waktu itu tiba bersama rombongan 80 anak SMA Indonesia, yang mengikuti program exchange student (pertukaran pelajar).

Sebelum dipencar ke berbagai kota di seluruh penjuru AS, kami dikumpulkan dulu di satu tempat. Selama tiga pekan, kami mengikuti camp, diberi pelajaran tentang budaya AS secara mendetail. Mulai bahasa, tata krama, olahraga-olahraganya, hingga cara berkencan.

Kota tempat kami pertama tiba adalah Seattle. Camp kami sebenarnya terletak di Olympia, di kampus Evergreen State College. Tapi, itu tak jauh dari Seattle dan jalan-jalannya ya ke Seattle.

Aneh juga rasanya ketika kali pertama membawa tim DBL Indonesia All-Star ke AS, kota yang dituju adalah Seattle!

Dasar memang jodoh, semua yang kami harapkan ada di kota itu. Ketika menyatakan ingin ke Amerika, justru bertemu dengan teman-teman dari Seattle-Surabaya Sister City Association (SSSCA). Mereka benar-benar menemukan program yang seru untuk rombongan kami, yang jumlahnya mencapai 43 orang (termasuk pemain, pelatih, staf DBL Indonesia, media Jawa Pos Group, dan wakil partner kompetisi).

Jadi, sekarang giliran saya membawa anak-anak umur 16 dan 17 tahun ke Seattle!

(Aneh kedua: Tidak terasa, umur saya sekarang sudah dua kali lipat anak-anak SMA!).

*****

Ketika Michael Atmoko, presiden SSSCA, bilang kami dapat tur di markas Boeing, terus terang saya sempat agak underestimate. Jujur, dalam hati saya berpikir, ”Paling-paling cuman kunjungan museumnya saja.”

Ternyata, kami benar-benar masuk pabrik Boeing! Bila tur pada umumnya tidak boleh memotret untuk menjaga kerahasiaan, kami diberi izin menggunakan kamera staf Boeing untuk mengabadikan momen-momen seru tur tersebut.Semua ini terjadi lewat upaya ngotot SSSCA dalam meyakinkan Boeing tentang pentingnya rombongan kami. Khususnya lewat Greg Dwidjaya, koordinator SSSCA bidang seni dan budaya, yang pekerjaan utamanya adalah project manager di salah satu departemen di Boeing.

Pabrik yang kami kunjungi ada di Everett. Di sana, diproduksi pesawat-pesawat ”twin aisle” atau berbadan lebar (dua lorong berjalan di kabin penumpang). Antara lain, tipe 747, 777, dan 787. Tipe lebih kecil seperti 737, dibuat tidak jauh dari Everett, di Renton.

Bagi anak-anak SMA Indonesia di DBL All-Star, kunjungan tersebut mungkin agak terlalu ”tinggi.” Pertama, yang dibahas dan dijelaskan sangat teknis dan pabriknya sendiri sangat masif untuk dipahami lewat tur tak sampai dua jam. Apalagi, semua disampaikan dengan bahasa Inggris.

Kami sendiri (DBL Indonesia dan SSSCA) mencoba memberikan pemahaman yang sederhana-sederhana kepada para pemain. Pertama, mengaitkan kunjungan itu dengan penerbangan EVA Air (partner resmi DBL All-Star) yang mengantarkan kami ke Seattle.

Misalnya, 747 adalah pesawat yang mereka tumpangi saat terbang dari Jakarta ke Taipei. Lalu, pesawat 777 merupakan pesawat yang dinaiki dari Taipei ke Seattle.

”Bangunan pabrik di Everett ini merupakan bangunan terbesar di dunia, kalau dihitung berdasar volume, mencapai 13 juta meter kubik. Ada enam pintu raksasa dipasang berderetan, masing-masing setara lebar lapangan sepak bola,” jelas Christopher Summitt, guide kunjungan rombongan DBL All-Star di Boeing.

Summitt menjelaskan, bangunan itu dibangun tanpa sistem air conditioning. Sulit memasangnya di bangunan yang begitu luas dan besar. Untuk mengatur temperatur ruang, mereka memanfaatkan buka tutup pintu dan ”keraksasaan” bangunan itu sendiri.

Pertama, kami melihat bagian pembuatan 747. Di sana, dijelaskan bagaimana pesawat itu dirakit dengan sistem assembly line. Komponen-komponen harus dibuat dan dirakit di bawah satu atap. Makan waktu sekitar empat bulan untuk menyelesaikan satu unit pesawat tersebut.

Salah satu pesawat yang kami lihat hampir jadi adalah 747 seri 800 terbaru. ”Itu pesawat Dash 8 (seri 800) untuk penumpang pertama yang kami selesaikan,” tegas Summitt.

Setelah itu, kami menengok pembuatan pesawat 777. Kali ini memakai sistem moving line, yakni pesawat-pesawat yang sedang dirakit berada dalam posisi berurutan depan belakang. Semakin ke depan, semakin selesai. Kalau selesai, langsung keluar dari pintu raksasa untuk masuk ruang pengecatan dan tahap uji coba.

”Hanya butuh waktu sembilan pekan untuk menyelesaikan satu unit 777,” jelas Summitt.

Terakhir, kami melihat pesawat baru yang sangat dibanggakan, 787. Pesawat itu kini masih belum beredar. Sederetan sudah selesai dan siap dikirim, lengkap dengan logo ANA (All Nippon Airways, maskapai Jepang). Sebagian lagi dalam tahap finishing, dipasangi tanda sudah dibeli oleh Air India.

Greg Dwidjaya menjelaskan, 787 tersebut benar-benar baru. Tidak lagi dibuat memakai baja atau aluminium, melainkan komposit. Lebih kuat daripada baja, lebih ringan daripada aluminium (ala mobil Formula 1). Summitt menerangkan, bobot pesawat yang memakai komposit bisa 20 ton lebih ringan. Itu membuat operasional lebih efisien.

Sayang, lanjut Greg, belum ada maskapai Indonesia yang memesannya. ”Maskapai Garuda sempat tertarik, tapi batal karena waiting list-nya yang terlalu panjang. Pesanannya sudah 850-an unit,” tuturnya.

Itu ditegaskan Summitt: ”Calon pembeli begitu percaya dengan pesawat ini. Sebanyak 750 pesanan sudah masuk sebelum prototipenya menjalani uji terbang.”

Karena dari komposit, pesawat itu tidak lagi dirakit memakai panel- panel yang di-rivet (jahit). Komponen badan datang dalam ”gelondongan.” Badan utama, misalnya, dibuat di Italia. Untuk mendatangkannya ke Everett, digunakan sejumlah pesawat Dream Lifter. Yaitu, 747 yang ”digemukkan” untuk menampung komponen- komponen raksasa 787.

Karena dari komposit dan komponen besar, 787 tak butuh waktu lama untuk dibuat. Satu unit hanya butuh proses perakitan tiga sampai lima hari!

Di akhir kunjungan, Summitt menyampaikan harga beli pesawat-pesawat tersebut. ”Satu 747 harganya USD 308 juta, satu 777 harganya USD 287 juta, dan satu 787 harganya USD 172 juta. Itu belum termasuk mesin, yang harga satu buahnya antara USD 10 juta hingga USD 20 juta,” paparnya.

*****

Dari Boeing, rombongan tim basket mengunjungi Microsoft Campus. Di markas produsen software terbesar itu, rombongan diajak ke ”museum” kecil, tapi seru (Microsoft Visitor Center). Di sana, ada display deretan sejarah komputer, mulai mesin ketik sampai yang terbaru. Ada pula fotofoto para pendiri –termasuk Bill Gates dan Paul Allen– ketika masih muda (dan culun) dulu.

Yang seru, di sana dipasang sejumlah Kinect for Xbox 360. Video game yang dimainkan menggunakan gerakan-gerakan asli badan kita. Kalau lomba lari, ya adu cepat lari di tempat. Kalau main bowling, ya bergerak seperti main bowling beneran. Main pingpong dan tenis juga sama.

Timing kunjungan termasuk tepat. ”Kinect itu baru kami luncurkan beberapa hari yang lalu,” kata Tom Perham, salah seorang program manager Microsoft.

*****

Setelah kunjungan Microsoft, tim tidak langsung ke hotel. Petang pukul 18.00, mereka menuju gedung basket di International Full Gospel Fellowship, sebuah gereja masyarakat Indonesia di Seattle. Di sana mereka berlatih perdana untuk menghapus jet lag dan beradaptasi dengan dingin.

Dua jam latihan, mereka dijamu oleh SSSCA di Indo Café, sebuah restoran Indonesia milik Irwan Ngadisastra. Rasanya benar- benar kekeluargaan karena rombongan DBL Indonesia All- Star 2010 benar-benar disambut oleh masyarakat Indonesia di kota tersebut.

”Ketika kali pertama melihat video program DBL November tahun lalu (2009, Red), kami langsung terkesan. Kami bilang, DBL harus ke Seattle. Sekarang DBL sudah ada di Seattle. Semoga DBL akan terus datang ke Seattle,” kata Michael Atmoko, presiden SSSCA.

Dari satu hari ini saja, kunjungan terasa sangat istimewa. Sulit membayangkan program lain yang bisa setara. Seperti yang disampaikan Dendy Sean T., general manager MPM Honda (main dealer di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur untuk motor Honda, partner utama DBL), yang ikut rombongan All-Star.

”Anak-anak DBL dapat pengalaman yang tidak bisa dinilai dengan uang. Kalau punya uang pun, belum tentu bisa merasakan yang sama. Kalau jadi turis, paling mendatangi tempat-tempat biasa. Kunjungan seperti ini harus punya misi dan koneksi yang pas,” ujar Dendy.

Setelah hari pertama, tidak sabar rasanya menjalani harihari lanjutan di Seattle bersama anak-anak All-Star hingga 8 November mendatang… (bersambung/ tulisan ini dibantu oleh M. Aziz Hasibuan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s