Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (3/3-Habis)

April 10, 2010 

Jadi Tamu VIP di Sacramento.
Bayar kursi paling mahal saat nonton NBA memang dapat banyak fasilitas. Tapi, juga harus mengikuti aturan paling banyak. Berikut catatan terakhir Azrul Ananda, wakil direktur Jawa Pos, yang baru kembali dari Amerika Serikat.

aza-kings-besar

Sebagai penggemar Sacramento Kings sejak pertengahan 1990-an, pengalaman nonton saya di Arco Arena seperti berkarir. Dulu waktu kuliah tidak punya banyak duit, jadi beberapa kali nonton paling murah. Bayar USD 8, dapat tiket berdiri di belakang kursi paling atas.

Sabtu pekan lalu (3/4), sebagai tamu VIP Sacramento Kings, akhirnya saya mendapatkan kesempatan duduk di kursi impian. Baris paling depan menonton Kings melawan Portland Trail Blazers.

Sewaktu tur ’’di balik layar’’ Arco Arena Sabtu siang itu, Scott Freshour, stage manager sekaligus MC pertandingan Kings, bilang bahwa pihaknya sudah menyiapkan kursi istimewa. Sewaktu berjalan di lapangan, dia menunjuk tempat di pojok lapangan, tempat saya akan duduk.

Di sana, ada pojok khusus yang diberi nama Carl’s Jr. Corner (Carl’s Jr. adalah sponsor, jaringan makanan cepat saji ala McDonald’s). Lokasi itu agak beda dengan kebanyakancourtside seat (tempat duduk di sisi lapangan). Kalau tempat lain itu tempat duduk biasa yang empuk dan berbalut ku lit, di tempat saya itu bentuknya sofa yang bisa berputar.

Sudah tempatnya di baris paling depan, duduknya di sofa lagi! Saya tidak enak mau tanya harga. Tapi, karena penasaran, sebelum pulang, saya mampir dulu ke ticket box Arco Arena. Jawabannya: USD 960 per kursi, atau hampir Rp 9 juta. Itu harga resmi. Kalau lagi heboh, bisa lebih tinggi (di kota lain yang lebih besar, bisa jauh lebih mahal).

***

Pertandingan malam itu dijadwalkan berlangsung mulai pukul 19.00. Saya dan keluarga diminta datang sejak pukul 17.30. Datang masuk lewat pintu VIP di salah satu sudut Arco Arena.

Sebagai pemegang tiket khusus, ada banyak fasilitas yang didapat. Ketika datang, langsung diantar menuju ruang makan VIP. Pilihan makanan tidak terlalu banyak, tapi tempatnya dikemas bak restoran mahal. Ada beberapa televisi pula untuk menonton pertandingan-pertandingan basket lain. Kebetulan, hari itu juga berlangsung Final Four NCAA, liga basket mahasiswa yang superheboh di AS.

Sekitar pukul 18.30, kami dipandu menuju sofa di pojok lapangan. Oleh Tom Vannucci, direktur kreatif departemen entertainment Kings, saya lantas diajak naik ke atas. Dia ingin menunjukkan kepada saya opening ceremony pertandingan dari atas, dari booth panitia yang mengatur segala lighting dan tampilan di layar lebar. Lumayan, bisa belajar lagi hal-hal di
balik layar pertandingan NBA!

Malam itu, Kings memang punya ceremony agak spesial. Kain putih raksasa dihamparkan menutupi lapangan. Lalu, dari atas ’’ditembakkan’’ video-video dan desain-desain atraktif Kings. Ketika nama pemain Kings dipanggil satu per satu, wajah mereka muncul bergantian di kain tersebut. Kata Vannucci, dia memakai kain sutra Tiongkok.

Setelah itu, saya diajak kembali ke sofa di pojok. Dan dipersilakan menikmati pertandingan seutuhnya.

Dasar orangnya suka penasaran, saya malah tidak menonton pertandingan. Malah asyik lihat kanan-kiri dan mengamati segala sesuatu yang terjadi di pinggir lapangan.

Dari sofa terdepan, aksi NBA memang terlihat lebih ’’besar’’. Pemain-pemain NBA terlihat ukuran aslinya. Tyreke Evans, point guard bintang Kings, selama ini hanya saya lihat lewat foto. Ternyata, dia memang besar untuk ukuran playmaker. Terlihat jelas kalau 198 cm dan tebal.

Fasilitas seru lain juga didapatkan di baris terdepan. Ada waiter yang selalu siap dipanggil, kalau kita haus atau ingin makan. Bukan hanya makanan dan minuman, pesan merchandisepun bisa dari mereka. Tidak perlu jalan ke arah stan-stan merchandise yang tersedia di sekeliling arena. Dia membawa kasir portable, jadi kita juga bisa membayar dengan kartu kredit di tempat itu juga.

Hanya, duduk di baris terdepan ternyata juga paling banyak aturannya. Selama menonton, kami sama sekali tidak boleh berdiri. Karena mengganggu yang menonton di belakang. Ketika mau keluar masuk, tidak sebebas penonton di kursi-kursi standar. Hanya bisa keluar masuk ketika ada stoppage di lapangan. Misalnya, saat time out atau hal-hal lain yang menghentikan aksi di lapangan.

Di baris paling depan itu, memang ada usher (pemandu) yang aktif dan cenderung galak. Mengingatkan kita untuk duduk, untuk tidak mengganggu penonton lain di belakang.

Mereka membawa sebuah ’’lollipop’’, ala yang dipakai petugas pit stop tim Formula 1, yang rajin mereka tunjukkan ke penonton yang sedang berlalu-lalang. Tulisannya berbunyi:’’Please wait here for a stoppage in play. THANK YOU’’ (Silakan tunggu di sini sampai ada perhentian dalam pertandingan. Terima kasih).

Lucunya, penonton courtside yang ingin kembali ke kursinya, selain diminta menunggustoppage di lapangan, juga diminta para usher itu untuk berjongkok di lorong-lorong di sela-sela kursi. Sebab, kalau berdiri, mereka akan membuat banyak orang di belakang marah.

Lucu kan? Sudah bayar paling mahal, harus mau berjongkok-jongkok ria sebelum duduk kembali di kursi mahalnya!

Sejumlah petugas keamanan juga aktif mengawal baris terdepan itu. Mereka punya kursi-kursi kecil tepat di belakang kursi courtside. Kalau sedang pertandingan, mereka duduk rapi menghadap ke lorong di sela-sela kursi tribun. Kalau sedang stoppage, mereka langsung berdiri mengamankan kursi-kursi terdepan itu.

Duduk di sofa paling depan juga mengasyikkan, karena bikin penonton lain penasaran. ’’Bagai mana kamu bisa dapat tempat duduk di sini?’’ tanya beberapa orang yang berjalan lewat di de pan saya.’’Beruntung,’’ jawab saya selalu.

***

Sebelum pertandingan, Maurice Brazelton, ’’sutradara’’ acara saat laga berlangsung, hendak memberi saya rundown acara yang harus saya ikuti. Saya sempat bengong. Buat apa saya ikut jadwal program? Belum sempat dia menunjukkan, Scott Freshour langsung menghalangi. “Biarkan itu nanti jadi kejutan,’’ ucapnya.

Wah, saya sempat bingung juga. Bakal disuruh apa ketika pertandingan nanti? Jangan-jangan disuruh jadi penonton yang ikut ’’kontes menari’’ di tengah lapangan.

Saat pertandingan berlangsung, dan Freshour melintas di depan saya, dia selalu menolehkan kepala dan menunjukkan senyum iseng. Saya pun bilang, ’’Apa pun yang akan kamu lakukan, pokoknya saya tidak mau menari,’’ kata saya. Dia hanya membalasnya dengan senyuman.

Untung, saya tak harus menari. Rupanya, Freshour sudah menyiapkan agar saya dan keluarga nampang di layar empat sisi yang menggantung di atas lapangan.

Saat salah satu sesi MC-nya, dia berlari ke pojok lapangan tempat saya duduk, lalu mengajak semua penonton bersorak. Dia lantas mengarahkan rekannya untuk mengarahkan kamera ke arah kami, dan meminta kami untuk bersorak-sorak dan menunjukkan dukungan kepada Kings untuk ditampilkan di layar empat
sisi tersebut.

Kalau ini sih nggak apa-apa. Saya dan semua penonton di sekitar pun tinggal bertingkah gila saja dan meneriakkan kata-kata dukungan seperti ’’Go Kings!’’ Silakan bilang saya norak. Tapi, rasanya senang juga wajah bisa terpampang di layar besar. Kata Freshour, tayangan itu mungkin juga nongol di siaran langsung pertandingan.

***

Sebelum pertandingan, saya sebenarnya sempat berencana dipertemukan dengan Tyreke Evans, bintang utama Kings saat ini. Hanya, Evans sempat menetapkan kondisi. Kalau Kings menang, dia mau bertemu. Kalau kalah, dia tak ingin bertemu siapa-siapa.

Malam itu pun tidak berakhir terlalu indah. Kings kalah 87-98. Sebenarnya, malam itu Kings juga tidak dijagokan menang. Trail Blazers merupakan tim pa pan atas, bersiap menuju babak playoff. Tim itu juga calon dinasti masa depan.

Karena Kings kalah, keinginan bertemu Evans pun tertunda dulu. Karena keesokannya (Minggu pa gi, 4/4) saya sudah harus kembali ke San Francisco untuk terbang pulang ke Indonesia, akhir pekan lalu benar-benar sudah tidak ada kesempatan untuk bertemu Evans.

Tapi, tidak apa-apa. Masih ada hari esok. Hubungan yang baik bukanlah untuk sesaat. Kapan saja saya dan teman-teman DBL Indonesia (penyelenggara Development Basketball League 2010 dan Indonesian Basketball League) datang, teman-teman di Kings selalu siap menjamu. Dan sebagai balasan, saya bilang kami di Indonesia siap menerima kapan saja tim Kings ingin berkunjung.

Kabar baik lain: Meski tidak bisa bertemu, jersey bertanda tangan Evans akan dikirimkan via pos ke Indonesia.

Terima kasih Maloof Sports & Entertainment sebagai pemilik Sacramento Kings. Sampai jumpa lagi di kesempatan yang berikutnya!

(habis)

sumber : http://www.jpnn.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s