Berdoa Sepanjang Malam supaya Terpilih Ikut Klinik

29-Aug-2008

DBL_NBA_Basketball_Clinic

Di Balik Layar: Danny Granger dan Even Resmi Pertama NBA di Indonesia (3-Habis)

Danny Granger menjadi bintang di even resmi pertama NBA di Indonesia, di DBL Arena Surabaya. Bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan sang bintang, momen itu tak akan terlupakan seumur hidup.

Tim DetEksi Jawa Pos – Surabaya

Kedatangan Danny Granger ke Indonesia bukan sekadar bikin sensasi. Kedatangannya mampu memberi inspirasi bagi banyak anak muda. Siapa pun dia, cinta basket maupun tidak.

“Saya datang dari keluarga tidak mampu. Tempat tinggal saya dulu berada di kawasan yang buruk. Beruntung saya punya ayah yang terus mendukung. Sehingga saya bisa kuliah, bermain basket, dan menjadi seperti sekarang,” kata Granger, saat berada di Panti Asuhan Darrul Mushthofa, di kawasan perkampungan Surabaya Barat.

Dan bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan top scorer Indiana Pacers itu, kehadirannya benar-benar tidak akan terlupakan.

Di even resmi NBA di Indonesia, di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya, Granger memang menemui 22 tim SMA champion (11 putra, 11 putri) kompetisi basket pelajar terbesar dari Jawa Pos Group, Honda DBL 2008. Mereka datang dari 11 kota di Indonesia, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Nusa Tenggara Barat.

Para champion itu (total hampir 240 pemain) didatangkan ke Surabaya sebagai hadiah atas pencapaian mereka di provinsi masing-masing. Mereka diajak menonton final Honda DBL 2008 Jawa Timur (Sabtu, 23/8), lalu menjalani NBA Basketball Clinic bersama Danny Granger (24/8).

Tentu saja, tidak semua pemain bisa berlatih langsung dengan Granger dan Martin Conlon (mantan pemain klub NBA Milwaukee Bucks yang sekarang bekerja untuk NBA). Minggu pagi (24/8), semua pemain itu menjalani klinik pembuka bersama DBL dan klub profesional Surabaya, CLS Knights. Dari klinik pembuka itu, 50 pemain dipilih (25 putra, 25 putri), untuk berlatih bersama Granger dan Conlon pada sore harinya. Yang lain tetap menonton untuk melihat sendiri bagaimana materi latihan yang diberikan NBA.

Bagi para pemain itu, bisa melihat langsung pemain NBA adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Bisa berlatih bersama pemain NBA, mungkin tidak pernah berani mereka impikan sebelumnya.

Andrew Dave Maringka, kapten SMAN 1 Manado, sudah membayangkan ini sejak saat mengikuti Honda DBL 2008 di kotanya, awal Maret lalu. Meski panitia tidak pernah menyebut kerja sama dengan NBA (dan waktu itu DBL memang BELUM sekalipun berkomunikasi dengan NBA), Andrew sudah mengharapkannya.

“Ternyata benar! Benar-benar mimpi jadi kenyataan,” tegas Andrew.

Malam sebelum klinik, Andrew mengaku tak bisa tidur. Dia begitu cemas, khawatir tidak terpilih menjadi 50 pemain terbaik yang berinteraksi langsung dengan Granger. “Saya berdoa sepanjang malam agar terpilih,” ungkapnya.

Betapa bahagianya Andrew ketika dia terpilih. “Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata lah bahagianya. Kesempatan emas. Paling hanya sekali seumur hidup,” ujar siswa yang sekarang sudah kelas XII itu.

Bukan hanya Andrew, Marsenanda Advean, champion dari SMA Santa Maria Pekanbaru, merasa tiga hari di Surabaya adalah tiga hari terindah dalam hidupnya. “Bersyukur sekali saya. Bisa rasakan selapangan dengan Danny. Rasakan DBL Arena yang benar-benar megah. Bisa bertemu dengan para champion dari pulau lain. Komplet paketnya,” ucapnya.

Marsenanda bahkan mengaku sangat sedih karena harus berpisah dengan DBL. ”Sayang sekali saya sudah kelas tiga. Saya ingin sekali merasakannya tahun depan. Tak bisa ya kita diundang lagi tahun depan? Undang lagi lah,” pintanya pada panitia.

Bukan hanya para champion yang bangga. Sejumlah pemain CLS Knights yang membantu klinik pun merasa ini pengalaman yang tidak akan terlupakan. Saat klinik tiga jam itu, Granger dan Conlon memang dibantu oleh tiga pemain CLS Knights, Elia Prana Bukit, Dimaz Muharri, dan Freddy. Merekalah pemain profesional pertama di Indonesia yang memberi latihan bersama NBA.

Tugas mereka bukan sekadar memberi contoh dari instruksi yang diberikan Granger dan Conlon. Tugas mereka juga menjadi penerjemah ketika para champion menerima materi dalam bahasa Inggris. Ketika pemain ini juga mampu mengimbangi keisengan Granger saat materi permainan fun. Seperti mengganggu tembakan-tembakan peserta klinik.

”Semua pemain basket pasti melihatnya ke NBA. Liga yang tingkatnya paling tinggi di dunia. Buat pemain basket seperti saya, jelas rasanya senang waktu diminta membantu di NBA Basketball Clinic. Even pertama NBA di Indonesia. Itu jelas benar-benar kesempatan langka,” ujar Elia, forward CLS Knights.

Elia mengaku sempat grogi ketika kali pertama bertemu Granger. ”Aku sempat diam ajaNggak bisa ngomong. Danny tinggi banget soalnya. Kharismanya keluar banget. Biasanya kita cuma nonton di TV, ini melihat langsung. Amazingbanget,” ceritanya.

Meski materi yang diberikan waktu itu sangat fundamental (kata Granger, fundamental harus selalu diingatkan kepada para pemain, apa pun levelnya), namun trio CLS Knights pun merasakan manfaatnya.

”Aku jadi tambah pengetahuan juga. Seperti permainan knock out (adu shooting saling menggugurkan, Red) di klinik itu. Aku benar-benar terkesan sama Granger. Ternyata dia asyik banget. Total dan mau melakukan apa pun. Termasuk kena hukuman push up. Padahal dia kan bintang NBA. Salut buat dia!” kata Dimas.

Di barisan penonton, ada wajah kondang ikut menikmati NBA Basketball Clinic tersebut. Hermawan Kertajaya, pakar marketing kondang, ikut menonton dari atas tribun. Dia tampak terus senyum-senyum melihat segala yang terjadi di lapangan.

”Acara ini bisa membawa nama Surabaya berkibar di kancah internasional. Selama ini, Jakarta yang selalu duluan. Sekarang bukti bahwa Surabaya juga bisa, bahkan Surabaya bisa menginspirasi Jakarta,” ucapnya. ”Acara ini luar biasa. Siapa tahu anak-anak itu kelak bisa menjadi pemain dunia,” tambahnya.

***

Usai NBA Basketball Clinic, bukan berarti segala rangkaian DBL tahun ini berakhir. Sekarang, para pemain terbaik kompetisi ini kembali harap-harap cemas. Sebab, Sabtu besok (30/8), DBL akan mengumumkan 24 pemain terbaik (12 putra, 12 putri) plus empat pelatih untuk bergabung dalam tim All-Star untuk tampil di DBL Western Australia Games 2008.

Pada pertengahan Oktober mendatang, tim ini akan terbang ke Perth, Australia. Di sana, mereka akan belajar dan bertanding melawan tim anak muda pilihan Western Australia. ”Setiap provinsi yang dikunjungi Honda DBL 2008 akan mempunyai wakil. Entah itu putra, putri, atau pelatih,” ujar Donny Rahardian, deputy commissioner DBL.

Sebagian pemain dipilih dari performa mereka di NBA Basketball Clinic, sebagian lagi dari performa mereka saat berlaga di Honda DBL 2008. (hilda nurina sabikah/arum primasty/maulana farizil qudsi/habis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s