Catatan Azrul Ananda (Pasang Billboard Jangan Pindah, Berusaha Penuhi Gedung)

28-Feb-2011

Sacramento; Ketika Sebuah Kota Terancam Kehilangan Tim NBA (2-Habis)

20110227213225-KINGS-AzaSanydanMaskot

Pemilik tim, pemerintah kota, penduduk setempat. Tiga faktor itu yang berperan ’’menghidupi’’ sebuah klub NBA. Di Sacramento, ketiganya tak pernah kompak soal gedung baru sehingga berbuntut terancam pindahnya Kings ke kota lain. Berikut catatan lanjutan AZRUL ANANDA.
Di Indonesia, gedung olahraga yang memadai itu sama langkanya dengan jalan tol. Andai ada, kondisinya mungkin sudah terlalu tua atau tidak realistis untuk digunakan (terlalu besar, terlalu jauh, terlalu mahal, dan lain-lain).
Di Amerika, gedung olahraga bisa tumbuh bangun bak tanaman di taman rumah. Sudah umur 20 tahun? Waktunya diruntuhkan, bikin yang baru. Meski demikian, prosesnya tidaklah semudah yang kita bayangkan.
Masalah di Sacramento, ibukota negara bagian California, menunjukkan itu. Apa lagi di saat ekonomi sedang kurang enak seperti sekarang ini.
Rencana pindahnya Sacramento Kings, tim basket NBA dan satu-satunya tim profesional di kota tersebut, membuat banyak pihak begitu resah.
Terancam pindahnya tim tersebut ke Anaheim di kawasan Los Angeles bermula dari masalah gedung.
Tepatnya, pembangunan gedung baru yang lebih modern tak kunjung terealisasikan.
Sejak pindah ke Sacramento (dari Kansas City) pada 1985, Kings langsung mendapatkan hati di masyarakat kota tersebut. Pada 1988, mereka punya gedung baru, bernama Arco Arena. Terletak di sisi luar kota, gedung berkapasitas 17 ribuan penonton itu dibangun dengan biaya ’’hanya’’ USD 40 juta atau sekitar Rp 360 miliar (kurs saat ini).
Selama bertahun-tahun gedung tersebut menjadi gedung paling berisik di NBA. Hampir selalu sold out hingga awal 2000-an, ketika Kings berada di puncak popularitasnya. Belakangan, gedung itu jarang penuh. Selain prestasi Kings yang terus melorot, itu terjadi karena kondisi ekonomi yang memang sedang buruk.
Namun, sebelum jumlah penonton melorot, sudah ada rencana untuk membangun gedung baru di Sacramento. Dan gedung baru memang disebut ’’dibutuhkan’’ untuk meningkatkan profitabilitas Kings.
Pada 2006, ada rencana membangun gedung pengganti di downtown (pusat kota) Sacramento. Gedung itu ultramodern, dengan biaya hingga USD 600 juta atau lebih dari Rp 5 triliun. Dengan dibangun di tengah kota, suasana kota Sacramento bisa ’’dihidupkan’’ lagi.
Bila Arco Arena dibangun dengan dana pribadi, gedung baru tersebut rencananya dibangun dengan dana masyarakat. Caranya, menaikkan pajak penjualan(sales tax) sebanyak seperempat sen selama 15 tahun. Ketika dilakukan pemilihan, masyarakat menolak itu.
Gagal dengan gedung downtown, ada upaya membangun gedung baru di kawasan Cal Expo, tempat ekshibisi terbesar di Sacramento. Hingga kini, tak kunjung ada kejelasan tentang gedung baru itu.
Kabarnya, pemilik Kings (keluarga Maloof memilikinya sejak1999) juga berperan dalam ’’menggagalkan’’ berbagai rencana itu. Ketika gedung berniat dibangun, kabarnya mereka minta kebanyakan. Misalnya, meminta pihak mereka juga mendapatkan hak atas segala fasilitas di seputar gedung (restoran, parkir, dan lain-lain).
Benar atau tidak, yang jelas gedung tidak kunjung dibangun. Pemilik tim, pemerintah kota, dan masyarakat tak pernah “klik” bersama.
Buntutnya, Kings mencari-cari tempat baru yang lebih ’’enak’’ dan menguntungkan. Kansas City dan Seattle pernah disebut sebagai kandidat. Belakangan, yang tampak paling serius adalah Anaheim. Kota tempat Disneyland berada di kawasan Los Angeles.
Di sana ada Honda Center, yang pengelolanya memiliki tim hoki es Ducks dan gingin ada tim NBA ikut menggunakan fasilitasnya. Mereka juga siap memberikan pinjaman USD 100 juta bila Kings pindah ke Anaheim. Tawaran yang menggiurkan, yang cukup untuk membuat Kings serius berpikir pindah.
Honda Center itu tidaklah jauh lebih besar daripada Arco Arena. Namun, gedung itu lebih modern dan berada di lingkungan kota yang ekonominya lebih baik. Gedung itu dibangun pemerintah setempat, lalu ’’diserahkan’’ untuk dikelola swasta.
Banyak gedung NBA memang seperti itu. Dibangun pemerintah kota lewat dana masyarakat dan dikelola oleh tim yang menempati. Kota mendapat revenue dari segala pajak yang dihasilkan berbagai even di sana (termasuk pajak makanan dan lain-lain yang berkaitan dengan even). Sedangkan pemilik tim (NBA, misalnya) dapat revenue dari penjualan tiket plus sewa gedung untuk even-even lain.
Itu merupakan hubungan yang saling menguntungkan. Tanpa klub NBA (atau olahraga lain) sebagai tuan rumah, gedung menjadi lebih sulit mencari pemakai. Dengan adanya tim NBA, minimal puluhan malam dalam setahun sudah terisi untuk pertandingan tim tersebut.
Arco Arena, misalnya, setahun menyelenggarakan sekitar 200 even. Sebanyak 40-an adalah pertandingan Kings. Lainnya beragam, konser, rodeo, balap motocross, gulat, dan lain-lain.
Gerakan untuk Bertahan
Bagi ukuran NBA, Arco Arena mungkin yang paling kecil dan’’kuno’’. Tetapi, itu sudut pandang Amerika. Bagi kita yang di Indonesia, gedung itu jauh lebih dari memadai.
Ruang ganti pemain (locker) termasuk yang terbaik. Meskipun, mungkin ruang ganti untuk tim lawan termasuk yang terburuk. Masalah itu mudah diatasi dengan renovasi. Begitu pula berbagai fasilitas lain, bisa diatasi dengan renovasi. Yang tidak bisa direnovasi, rupanya, adalah jumlah suite (ruang nonton VIP) untuk pembeli corporate. Di Arco hanya ada sekitar 30, sedangkan arena NBA yang lain bisa punya hingga 100 suite.
Arco juga menghasilkan cukup banyak penghasilan untuk kota dan masyarakatnya. Menurut Wali Kota Kevin Johnson (All-Star NBA era 1990-an), gedung itu setahun menghasilkan pajak USD 1 juta dan menyediakan lapangan kerja untuk sekitar 1.000 orang, baik full time maupun part time.
Belum lagi sejarahnya. Arco merupakan tempat paling disegani pada awal 2000-an. ’’Ada banyak sejarah di sini, khususnya di hari-hari indah bersama Chris Webber, Vlade Divac, Mike Bibby, dan lain-lain,’’ kata Jason Thompson, salah seorang bintang muda Kings, lewat salah satu blog pendukung tim.
Hingga hari ini, para petinggi Kings tidak banyak berbicara. Pindah atau tidak, banyak yang bilang masih fifty-fifty. Dalam beberapa hari terakhir, gerakan-gerakan khusus telah dilakukan berbagai kelompok masyarakat untuk meminta Kings bertahan di Sacramento.
Glass Agency, sebuah perusahaan periklanan, meluncurkan kampanye billboard dan media lain. Mereka memasang beberapa billboard di sekeliling kota, bertulisan Game Over dengan bola basket gembos di tengahnya. Di bawahnya ada tulisan yang kurang lebih berbunyi: Kalau Kings pergi, kita semua rugi.
’’Ini tentang Sacramento dan daya tarik kota ini. Sayang kalau mereka pergi dan tidak ada yang berupaya mempertahankan mereka,’’ kata Amber Williams dari Glass Agency sebagaimana dikutip Sacramento Bee. ’’Kita tidak harus peduli basket untuk mengapresiasi betapa besarnya dampak tim profesional terhadap budaya dan relevansi kota secara nasional,’’ tambahnya.
Beberapa pengamat ekonomi juga mengatakan, perginya Kings akan memukul Sacramento cukup berat. ’’Tanpa sebuah tim profesional, kota ini akan masuk kategori kelas dua,’’ kata Matt Mahood, CEO Sacramento Metropolitan Chamber of Commerce (Kadin).
Sejumlah kelompok masyarakat juga melakukan gerakan Here We Stay. Target pertama, memenuhi Arco Arena dengan penonton yang berisik ala era awal 2000-an di setiap pertandingan Kings yang tersisa di kandang sendiri.
Laga home pertama dalam gerakan itu terjadi Senin, 28 Februari, ini atau Selasa pagi, 29 Februari, waktu Indonesia. Melawan Los Angeles Clippers dan bintang mudanya yang sedang meroket, Blake Griffin.
Para penggemar tidak hanya diminta untuk membeli tiket, tetapi juga mendonasikan uang untuk membelikan tiket bagi penggemar lain yang tidak mampu.
Logikanya, dengan terus memenuhi gedung, masyarakat menunjukkan dukungan penuh kepada Kings agar bertahan di Sacramento. Pendapat senada juga disampaikan Grant Napear, penyiar olahraga kondang Sacramento, lewat acara radionya di Sports 1140.
’’Hanya dengan memenuhi gedung kita memberikan dukungan secara sesungguhnya,’’ ucapnya.
Bagi saya pribadi, tentu saja saya berharap agar Kings tidak pindah ke mana-mana. Tim itu telah memberi saya banyak kenangan selama tinggal di Sacramento dan memberikan opsi hiburan ketika saya ’’pulang’’ ke Sacramento.
Hebat ya, gara-gara olahraga, kota –dan masyarakatnya– bisa gila…. (habis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s