DBL, Basket SMA Gaya Dunia

10-Mar-2008

(Artikel ini pernah dimuat di majalah Cakram pada 2006)

cakram1

Siapa sangka kompetisi basket antar-SMA bisa jadi yang terbesar. Jawa Pos membuktikan itu lewat DetEksi Basketball League, ajang basket paling bergengsi di Jawa Timur, melibatkan ratusan sekolah dari belasan kota.

DetEksi Jawa Pos sudah enam tahun menjadi bagian penting bagi anak muda Jawa Timur, khususnya Surabaya. Bukan hanya menerbitkan halaman-halaman khusus setiap hari, tim anak muda yang berusia rata-rata di bawah 21 tahun itu juga melakukan berbagai kegiatan revolusioner.

DetEksi Party, pesta ulang tahun DetEksi Jawa Pos, merupakan pesta anak muda terbesar di Jatim. DetEksi Mading Championship, kompetisi majalah dinding SMP dan SMA superkreatif, mampu memikat 60 ribu pengunjung hanya dalam delapan hari pameran.

Tidak kalah heboh, DetEksi Basketball League (DBL), kompetisi basket antar-SMP dan SMA yang tahun ini menginjak tahun ketiga. Berlangsung 23 Juli sampai 20 Agustus lalu, kompetisi ini diikuti 205 tim dari 11 kota di Jatim, disaksikan total lebih dari 45 ribu penonton.

Jauh lebih bersinar bila dibandingkan dengan kompetisi lain di Jatim, termasuk kompetisi profesional tertinggi.

Bagaimana bisa kompetisi basket SMP dan SMA menjadi seheboh itu? Kunci ada pada konsep dan eksekusi. ”DBL dari awal dirancang seperti kompetisi basket SMA di Amerika Serikat. Mengutamakan konsep student athletestudent dulu baru athlete. Profesional tidak boleh ikut, pemain harus memperhatikan pelajaran. Kalau pernah tidak naik kelas, maka dia tidak boleh ikut,” tutur Azrul Ananda, 29, commissioner DBL yang juga pemimpin redaksi Jawa Pos.

Karena itu, untuk mendaftar, peserta harus menyertakan rapor. Bukan hanya saat SMA atau SMP, mereka juga harus menunjukkan rapor SD. ”Dari sini kami sudah mendapat banyak dukungan publik. Percaya atau tidak, sebelumnya ada sekolah yang sengaja tidak menaikkan siswanya supaya bisa terus main basket,” lanjut Azrul, yang menegaskan bahwa DBL dikerjakan sendiri oleh tim DetEksi Jawa Pos, tanpa event organizer.

Sisi positif lain yang disuka sekolah peserta, lanjut Azrul, adalah ketegasan panitia dalam menerima sponsor. ”EvenDetEksi Jawa Pos tidak boleh disponsori oleh merek rokok, minuman beralkohol, bahkan minuman berenergi,” ucapnya.

Para pemain DBL yang setiap tahun jumlahnya hampir 4.000 orang itu lantas diperlakukan bak bintang besar, seperti pemain tingkat dunia. ”Diperlakukan bukan berarti dimanja. Mereka harus menuruti syarat-syarat berdandan. Kostum harus selalu dimasukkan rapi, celana tidak boleh melebihi lutut,” tutur Azrul. ”Sebagai balasannya, mereka mengikuti pertandingan seperti pemain NBA. Masuk lapangan dengan cara seru, nama pemain disebut satu per satu,” tambahnya.

Para pelatih, manajer, dan guru pendamping tim pun harus mengikuti aturan ketat. Ketika menemani tim di sisi lapangan, guru (pria) harus mengenakan busana resmi. Kemeja lengan panjang, celana kain, sepatu fantovel, dan berdasi. ”Ini membuat suasana pertandingan lebih sakral lagi,” tegas Azrul.

Semua pemain dan pelatih ini terekam data dirinya di database DBL, sehingga penyelenggara bisa mengumpulkan statistik, mencatat setiap rekor yang dipecahkan. Mulai rata-rata poin tertinggi, poin terbanyak, dan lain sebagainya.

Sejak kali pertama diselenggarakan, DBL terus meningkat dalam hal penyelenggaraan maupun penonton. ”Pada 2004 lalu, penonton total hanya sekitar 20 ribu orang. Tahun 2005, naik menjadi 35 ribu orang. Tahun ini, angkanya mendekati 50 ribu penonton,” aku Azrul.

”Belakangan, semakin banyak penonton umum yang datang. Bukan lagi hanya suporter tim yang bertanding. Suasana pertandingan yang hidup dan meriah mungkin membuat mereka keranjingan datang menonton, meski kualitas pertandingan tentu jauh di bawah profesional. Padahal, harga tiket nontonnya bisa melebihi yang profesional,” paparnya.

Suasana pertandingan dan kehebohan penonton memang mengundang decak kagum banyak orang. Termasuk para tokoh basket nasional. Erick Thohir, ketua PB Perbasi Pusat yang menghadiri pesta pembukaan di GOR Kertajaya Surabaya, 23 Juli lalu, merupakan salah satunya.

”Di Jakarta memang sudah ada acara seperti ini. Tapi, baru DBL yang mempunyai teknis, pengaturan even, penertiban penonton, paduan entertainment, hingga merchandise yang sangat bagus,” ujar Erick. ”IBL (Indonesian Basketball League, Red) mungkin harus belajar dari even ini. Kita bisa saling tukar ilmu dengan DBL. Jakarta sangat welcomeseandainya DBL boyongan ke Jakarta,” lanjutnya.

Dengan respons seperti itu, DetEksi Jawa Pos akan terus menyelenggarakan DBL. ”Even ini sudah ditunggu. Bahkan, sekolah-sekolah peserta sudah menyiapkan tim untuk tahun depan dan seterusnya,” kata Azrul, ”Kami juga berterima kasih kepada semua sponsor yang mendukung DBL selama ini. Merekalah yang membuat kompetisi ini menjadi seperti kompetisi profesional. Punya bola resmi, minuman resmi, sepatu resmi, bahkan permen resmi DBL. Entah nanti apa lagi.” (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s