Di Balik Kemenangan DBL Indonesia All-Star 2009 di Australia oleh Azrul Ananda

26 Oktober  2009

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 punya satu keinginan untuk mengakhiri tur di Perth: Membawa cerita yang manis untuk dibawa pulang. Mereka berhasil dengan gemilang.

Catatan AZRUL ANANDA

DBL Indonesia All-Star PERTH

Di dinding ruang ganti DetEksi Basketball League (DBL) Arena di Surabaya, ada tulisan penyemangat. Bunyinya: Every man suffers pain. Either the pain of hard work, or the pain of regret.

Artinya, setiap orang merasakan sakit. Apakah itu sakit karena kerja keras, atau sakit karena penyesalan.
Saya percaya, semua sukses harus diraih lewat sebuah proses. Di dalam proses itu, ada pula yang namanya growing pain. Masa-masa “sakit” sebelum akhirnya merasakan kepuasan atau kesenangan luar biasa.

Dan untuk sukses yang sesungguhnya, masa sakit itu hukumnya wajib untuk dijalani. Di dunia ini tidak ada yang gampang, dan yang sulit tidak bisa begitu saja dihindari.

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 kembali membuktikan pentingnya proses itu. Tim ini dibangun lewat proses panjang. Dimulai dengan kompetisi Honda DBL 2009 di 15 provinsi di Indonesia, yang berjalan sejak 15 Januari di Papua hingga 15 Agustus lalu di Jawa Timur.

Sebanyak 160 pemain (80 putra, 80 putri) lantas ikut Indonesia Development Camp 2009, selama tiga hari berlatih bersama bintang NBA, Kevin Martin, serta pelatih-pelatih dari liga basket paling bergengsi tersebut.

Di penghujung IDC, dipilihlah 12 pemain putra dan 12 pemain putri. Plus lima pelatih. Mereka inilah anggota DBL Indonesia All-Star 2009. Mereka mungkin bukanlah yang benar-benar terbaik di Indonesia. Tapi, mereka merupakan student athlete terbaik yang dipilih lewat sebuah proses yang sehat. Bukan sekadar main comot dari sana atau dari sini.

Memilih adalah satu proses melelahkan tersendiri. Menyatukan mereka jadi satu tim, adalah proses melelahkan selanjutnya.

***

Meski sudah saling mengenal di IDC 2009, Tim DBL Indonesia All-Star 2009 pada dasarnya hanya bersama selama dua minggu. Kumpul di Surabaya pada 12 Oktober, berpisah lagi pada 26 Oktober.

Ingat, mereka ini merupakan kumpulan pemain-pemain SMA terbaik. Di sekolah atau daerah masing-masing, mereka ini superstar yang biasanya diberi keleluasaan oleh sekolah atau pelatih masing-masing. Sekarang, mereka harus punya peran yang berbeda-beda. Ada bintang di atas bintang, ada bintang yang harus rela mengalah.

Bukan proses yang mudah. “Kita ini mungkin mengalami masalah yang dialami (tim sepak bola) Real Madrid,” kata Puji Agus Santoso, Manager Basketball Operations and Events DBL Indonesia.

Dalam hati, saya berpikir ini lebih sulit. Paling tidak Real Madrid penuh pemain profesional yang benar-benar profesional. Lha tim kami ini penuh anak-anak SMA yang masih mudah ngambek satu sama lain! Selain itu, tim ini harus kompak dengan cepat. Hanya dalam hitungan hari.

Untuk mempercepat proses, hampir setiap hari ada pertandingan pemanasan di Surabaya. Hasilnya lumayan, tim putra benar-benar tak terkalahkan. Tim putri juga relatif mantap ketika harus berhadapan dengan tim-tim uji coba.

DBL Indonesia All-Star PERTH

Saya selalu percaya: If it’s too good to be true, then it is not true. Kalau sesuatu berjalan terlalu indah, maka itu bukanlah hal yang nyata. Sekali lagi, tidak ada yang segampang itu di dunia ini.

Benar, hari-hari awal itu adalah “bulan madu.” Masa growing pain segera menyusul…

***

Dari awal, kami sudah sadar. Tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 merupakan “tim inspirasi.” Tugas mereka bukanlah untuk menang. Tugas mereka adalah untuk membuat pemain-pemain putri lain tertarik ikut berpartisipasi. Kelak, baru kita mengejar kemenangan. Sekarang, kita bermodal semangat.

Pada Sabtu, 17 Oktober 2009, di DBL Arena Surabaya, tim putra DBL Indonesia All-Star 2009 tampil luar biasa. Melawan Darwin Basketball Association dari kawasan Northern Territory, Australia, Randika Aprilian dkk bukan hanya sempat membuat lawan getar. Mereka juga menghibur ribuan penonton.

Sempat memimpin delapan angka di kuarter ketiga, tim ini kemudian tunduk di tangan Darwin. Mirip sekali dengan pertandingan DBL Indonesia All-Star tahun lalu saat melawan tim muda Western Australia di Perth pada Oktober 2008. Waktu itu juga sempat memimpin di kuarter ketiga, sebelum tunduk di kuarter keempat.

Bedanya, tahun lalu tim tidak punya kesempatan melakukan pembalasan. Tahun ini, tim masih punya kesempatan lagi di Perth. Hanya saja, sebelum meraih sukses itu, tim harus terpuruk lagi ke satu jurang. Tahap kedua (dan terakhir) dari proses growing pain.

Bermodalkan penampilan baik (meski tidak menang) di Surabaya, tim DBL Indonesia All-Star 2009 penuh semangat terbang ke Perth (via Bali) pada 19 Oktober lalu. Pada laga pemanasan pertama, lawan tim junior sekolah Woodvale, tim juga menang sangat mudah.

Pada laga pemanasan serius di Bunbury, melawan anak-anak pilihan di South West Academy of Sports, barulah tim Indonesia seperti kena setruman hebat. Halusnya kena “siraman yang membangunkan.” Kasarnya kena “tempelengan.”

Tim putra dan putri sama-sama kalah telak. Masalahnya, kalah telak bukan karena murni kalah “kelas.” Dalam semangat dan upaya, tim juga tampak sangat kendur. “Sebanyak 40 persen poin lawan karena kesalahan kita sendiri,” kata Njoo Soen Eng, pelatih tim putri dari SMA Frateran Surabaya.

Ketika nonton pertandingan itu, saya sendiri sangat kecewa. Tapi dalam hati saya bersyukur. Sebab, anak-anak sendiri sadar mereka tampil mengecewakan. Bisa dilihat dari gerak tubuh dan perilaku usai pertandingan itu. Biasanya ceria, kali ini muram.

Kalau benar mereka sadar sendiri, maka itu pertanda baik. Kalau benar mereka sadar sendiri, maka saya yakin mereka akan bangkit dan membuat semua bangga.

***

Rabu malam itu (21/10) di Bunbury (sekitar tiga jam dari Perth), tim putra dan putri bergantian mengajak bicara di chalet (rumah kecil penginapan) saya dan panitia dari DBL Indonesia.

Saya terenyuh juga, karena mereka bergantian bilang minta maaf. Ketika saya minta memberi penilaian kepada diri masing-masing, semua memberi nilai buruk. Bahkan, tim putri merasa mereka hanya layak dapat nilai 1 dari 10.

Waktu itu, terus terang saya bingung juga mau bilang apa. Tapi kemudian saya ingat SMS yang saya dapat setelah tim kami kalah dari Darwin di Surabaya. Datang dari Putu Gde Kamajaya, fans DBL di Surabaya. Bunyinya: “Our greatest glory is not in never failing. But in rising everytime we fail. And winners are not those who never fail. But those who never quit. Go DBL Indonesia All-Star!

Kepada dua pemain yang tahun lalu juga ikut ke Perth, Arif Hidayat (SMAN 2 Jember) dan Amelia Herawati (SMA Karangturi Semarang), saya bertanya perjalanan 2008. Waktu itu, kami juga sempat “ditempeleng” pada laga pemanasan melawan Woodvale. Namun setelah itu, tim bangkit dan selalu tampil habis-habisan. Meski tak pernah menang, tapi selalu fight. Kalahnya selalu puas.

Tim 2008 punya karakter kuat. Mereka tak mau menyerah. Sekarang, karakter tim 2009 sedang diuji. Dan tim 2009 hanya punya satu kesempatan untuk menunjukkan itu, yaitu pada pertandingan puncak melawan tim muda Western Australia.

Kalau harus kalah, maka kami akan kalah berjuang. Malam itu, semua pemain dan pelatih sepakat, bahwa kami akan pulang membawa cerita indah. Cerita yang bisa dibagi ke teman-teman di daerah masing-masing, cerita yang bisa disampaikan ke adik-adik dan generasi selanjutnya.

Malam itu, semua anggota tim sudah bicara semangat. Tapi itu masih sebatas talk. Untuk benar-benar membuat cerita yang indah, mereka masih harus “walk the talk.” Menjalani, bukan sekadar bicara.

***

Sebelum laga internasional melawan tim Western Australia, anak-anak DBL Indonesia All-Star 2009 terlihat “beda.” Kamis malam (22/10), Randika Aprilian dkk rapat sendiri di ruang seminar penginapan. Pelatih tak boleh ikut, yang lain tak boleh ikut.

Jumat malamnya (23/10), meski seharian sudah menjalani program, mereka menjalani latihan ekstra di Perry Lakes Stadium. Latihan malam itu benar-benar menjadi pertanda baik. Semangat semua sangat terasa.

Sabtu pagi (24/10) sebelum pertandingan, tim juga jogging dan latihan ringan bersama di sisi Danau Monger, dekat penginapan. Sekali lagi, semua tampak semangat.

Pagi itu, kami juga melakukan prosesi “tumbal.” Melempar Puji Agus Santoso dan Arizal Perdana Putra dari DBL Indonesia ke pinggir danau. Saya tidak dilempar, tapi saya janji akan terjun sendiri kalau malamnya tim menang.

Siangnya, seluruh tim istirahat total. Tidur nyenyak, menunggu sore tiba untuk berangkat ke stadion.

Sore itu, hujan turun. Padahal di Perth sedang transisi menuju musim panas, bukan masanya untuk hujan. Diam-diam, kami berharap ini adalah pertanda baik.

Sore itu pula, sebelum berangkat ke Perry Lakes, seluruh tim meeting dulu. Saling menyemangati, saling menjaga fokus. Mereka semua berniat pulang membawa cerita indah. Malam itu adalah momen untuk melakukannya. Kalau memang harus kalah, maka harus kalah dengan indah.

Game time. Tim putri benar-benar berupaya keras. Marisya Rizkia dari SMAN 1 Bandung benar-benar ngotot meski hanya bertinggi badan 158 cm. Veti Vera dari SMA Stella Duce 1 Jogjakarta tak takut menabrak lawan-lawan yang lebih tinggi dan lebih besar.

Pada akhirnya, tim putri masih kalah 32-72. Tapi mereka telah membuat kami puas. Karena mereka telah berjuang habis-habisan. Tim lawan sangat kuat. Apalagi, salah satu pemain lawan baru saja dipilih sebagai pemain terbaik di Australia Barat.

Usai bertanding, tim putri pun mengambil peran beda. Mereka naik ke tribun, bersama puluhan suporter Indonesia menyoraki tim putra.

Hebat. Sejak menit pertama, tim putra sudah menunjukkan niatan menang. Okky Arista, power forward dari SMA Theresiana 1 Semarang tidak takut berhantaman badan dengan lawan yang jauh lebih tinggi. Arif Hidayat dan Alvin (SMA Trinitas Bandung) mampu bergantian menjadi jenderal lapangan. Sang kapten, Randika Aprilian dari SMAN 9 Bandung terus berjuang meski dahi harus dibalut perban karena berdarah kena sikut lawan.

Semua pemain bergantian masuk lapangan, memainkan peran masing-masing dengan baik. Momen komedi juga sempat muncul. Di tengah permainan yang mendebarkan, Arif Hidayat sempat berjalan kembali ke bench, bertanya kepada pelatih soal pola “High” yang ingin diterapkan.

High iku opo? Aku lali (High itu apa? Saya lupa),” ucapnya.

Waktu mendengar itu, saya tak tahu harus khawatir atau tertawa. Pola High itu sangat penting untuk mengalahkan tim lawan yang lebih besar. Fungsinya menarik pemain besar lawan keluar, membuka ruang tembak di bagian samping lapangan.
Dijelaskan sebentar, Arif kembali menjalankan tugas di lapangan.

Kurang 1 menit dan 46 detik, tim putra masih unggul enam angka. Namun lawan tak pernah menyerah. Kurang empat detik, tim putra hanya unggul dua angka. Dan bola di tangan Western Australia.

Terus terang, saya tak tahu apa yang terjadi pada empat detik terakhir itu. Saya tak berani melihat. Khawatir kekecewaan tahun lalu kembali terulang. Kata teman-teman, lawan mencoba menembak tiga angka, tapi gagal. Lawan lalu dapat bola lagi, tapi tetap gagal memasukkan bola.

Indonesia menang! Sejarah! Cerita indah untuk dibawa pulang!

Semua pun berhamburan ke lapangan.

Di saat tim putra berpesta, beberapa pemain putri tampak menangis. Khususnya Marisya Rizkia, yang biasa dipanggil Echa, yang biasa saya panggil Chipmunk.

Dia mengaku sedih tidak bisa menang seperti yang putra. Saya pun ingatkan lagi, tugas mereka hari itu bukan menang. Tugas mereka hari itu untuk memberi inspirasi kembali di Indonesia. Tugas mereka adalah pulang, lalu mengajak adik-adiknya untuk berlatih lebih bersemangat. Bantu basket Indonesia, bantu DBL.

Kalau kelak tim Indonesia menang, mereka bakal punya peran besar.

***

What’s next?

Jalan masih jauh. Kemenangan ini belum tentu terulang tahun depan. Lawan –siapa pun– tidak akan diam. Growing pain pertama mengembangkan DBL dan membentuk tim All-Star yang mampu menang sudah dilalui. Sekarang waktunya menjalani growing pain selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya, sampai mencapai target tertinggi.

Satu bukit dilalui, masih banyak gunung lain.

Mohon dukungannya…

Catatan tambahan: Kemenangan di Perth ini jatuh sehari setelah ulang tahun ke-56 PB Perbasi. Jadi ini hadiah dari kami untuk Ibu Noviantika Nasution sebagai ketua umum dan teman-teman basket yang lain. Usai pertandingan, saya juga menepati janji. Bedanya, karena tidak mungkin di danau, malam setelah menang saya dicemplungkan ke kolam renang di penginapan. Tapi saya happy, karena saya tidak nyemplung sendirian! (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s