Even Basket Terbesar yang Tak Dikenal Jakarta

09-Jun-2008

9

DetEksi Basketball League; Liga Indonesia Pertama yang Bekerja Sama dengan NBA (1)

DetEksi Basketball League (DBL), kompetisi basket pelajar terbesar milik Jawa Pos Group, telah menjadi liga pertama Indonesia yang menjalin kerja sama dengan NBA.

Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL yang juga wakil direktur Jawa Pos.

Lima tahun berlalu begitu cepat. Pada 2004, DetEksi Basketball League (DBL) hanyalah sebuah proyek kecil untuk mendekatkan Jawa Pos (khususnya rubrik anak muda DetEksi) dengan pembacanya. Saya bocorkan rahasia kami: Waktu itu nilai sponsor yang kami dapat hanya Rp 50 juta!

Bukan hanya itu, pengetahuan kru kami (termasuk saya sendiri) tentang basket juga minim. Modal saya adalah pengalaman menjadi fotografer tim sekolah waktu ikut program pertukaran pelajar SMA di Ellinwood, Kansas, Amerika Serikat.

Saya cukup paham bagaimana liga SMA di Negeri Paman Sam dikelola dan saya ingin itu bisa diterapkan di Indonesia. Bahwa sekolah mungkin tetap lebih penting daripada basket dan basket merupakan bagian dari pengembangan kemampuan seseorang.

Beruntung saya punya kru yang masih muda, tapi hebat-hebat dan mampu melihat ’’visi’’ ke depan itu. Liga tahun pertama itu lebih banyak dimodali oleh kemauan, kerja keras, dan keringat.

Sama sekali tidak pernah terbayang kalau sekarang, lima tahun kemudian, DBL sudah berkembang ke provinsi-provinsi lain, melibatkan lebih dari 13 ribu peserta, dan menjadi liga pertama di Indonesia yang menjalin kerja sama resmi dengan liga impian semua penghobi basket: NBA.

Bahkan, pada akhir 2007 lalu, saat rangkaian 11 kota Honda DBL 2008 difinalisasikan, kami masih belum punya kontak sama sekali dengan NBA. Waktu itu memang ada niat mendatangkan pemain atau pelatih dari luar negeri ke Surabaya, untuk memberikan pelatihan dan inspirasi kepada juara-juara kami dari berbagai provinsi. Tapi, kami masih realistis. Bagi kami, mendatangkan pemain NBA masih terbatas dalam mimpi.

Apa yang sekarang terjadi adalah berkah, sekaligus bukti, bahwa mimpi dan kerja keras bisa menghasilkan sesuatu yang besar. Lewat tulisan berikut ini, hal-hal kecil di sana-sini ikut membantu mewujudkan adanya DBL dan mengarahkan pengembangannya hingga sekarang.

***

Ketika berangkat ke Amerika Serikat pada 1993 (lulus SMP), saya bukan penggemar basket. Saya pemain sepak bola tingkat perumahan dan lumayan dalam bermain bulu tangkis (pernah ikut Djarum Surabaya, pernah sampai dilatih mendiang Njoo Kim Bie).

Saya mulai ’’keracunan’’ basket ya di Kansas itu. Sebagai exchange student (siswa pertukaran), saya tidak bisa memilih kota. Dapatnya di Ellinwood, sebuah kota kecil di tengah-tengah Kansas yang berpenduduk hanya 2.500-an orang. Tidak ada mal, tidak ada bioskop. Hanya ada satu keluarga kulit hitam, tidak ada orang Asia dalam radius 50 km.

Dasar nasib, orang tua angkat saya, John dan Chris Mohn, punya kerjaan mirip dengan orang tua saya di Surabaya. Mereka pemilik koran lokal, Ellinwood Leader. Mereka juga guru bahasa Inggris, Spanyol, dan jurnalistik di Ellinwood High School.

Waktu itu, ada salah satu halaman Ellinwood Leader yang bernama Eagles dikerjakan tim jurnalistik SMA. Saya salah seorang krunya, waktu itu menjadi fotografer dan bagian layout (sesekali menulis).

Saya bukan satu-satunya fotografer. Total ada tiga orang. Kebetulan, yang dua orang adalah pemain basket sekolah. Jadi, mau tak mau, saya harus menjadi fotografer tim basket sekolah!

Bukan hanya itu. John Mohn merupakan alumnus Kansas University, salah satu universitas paling perkasa di arena basket NCAA. Setiap tahun tim Kansas Jayhawks masuk 25 besar dan pada awal 2008 lalu menjadi jawara.

Karena John Mohn maniak Jayhawks, saya ketularan menjadi maniak basket dan Jayhawks. Saat itu, meski suka Charles Barkley dan Phoenix Suns, saya belum doyan banget pada NBA.

***

Ada pelajaran penting dari liga SMA dan NCAA di Negeri Paman Sam: Bahwa pengembangan olahraga lebih efektif lewat sekolah. Hanya lewat sekolah, kita bisa mendapatkan banyak partisipan. Hampir semua anak pasti pernah sekolah, hanya segelintir yang pernah ikut klub.

Semakin banyak partisipan, semakin besar olahraga itu berkembang. Semakin banyak partisipan, semakin banyak pula bakat-bakat yang kelihatan.
Itu yang dilakukan di Amerika Serikat. Semua harus lewat sekolah. Di sana, kalau pemain SMA dan universitas ikut klub, dia tidak boleh ikut liga SMA atau NCAA.

Liga SMA dan NCAA pun dikemas benar-benar profesional. Kadang, bagi penggemar basket di sana, pertandingan SMA itu jauh lebih penting daripada laga NBA!

Dengan cara itu, Amerika tidak hanya mendapatkan banyak atlet. Mereka juga mendapatkan banyak manusia berkualitas karena tidak semua bisa hidup sebagai atlet.

Kalau Amerika bisa, mengapa kita tidak? Negara kita besar, penduduk kita banyak, seperti Amerika Serikat. Secara keseluruhan, hanya segelintir kota punya klub profesional. Tapi, semua punya sekolah.

Di Indonesia sudah banyak kompetisi basket, baik tingkat regional maupun nasional. Namun, hingga 2004 itu, belum ada yang benar-benar mengelolanya secara profesional. Benar-benar memperlakukan pemain sebagai student athlete.Student dulu, baru athlete. Sekolah dulu, baru atlet.

Makanya, ketika DBL kali pertama diselenggarakan, yang paling utama adalah ’’memfilter’’ pemain-pemain profesional dari kancah liga SMA. Lalu, ’’memfilter’’ lagi pemain-pemain jago yang selama ini mengabaikan sekolah.

Tidak naik kelas, tidak boleh ikut di DBL. Di Jawa Timur sekarang, kalau punya nilai rata-rata di bawah 6 untuk mata pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, siswa juga tidak boleh berlaga di DBL.

Saya ingat betul ketika kali pertama menyelenggarakan DBL. Ada yang bilang, liga kami bakal sepi karena tim terbaik (tim dominan) tidak ikut serta gara-gara pemainnya banyak kena ’’filter’’.

Terima kasih, itu justru menambah motivasi kami. Hasilnya, bagi yang sudah familier dengan DBL, tentu sudah bisa dilihat sendiri. Dan, itu belum apa-apa karena kami ingin terus mengembangkan diri, membuat kompetisi ini makin profesional lagi.

Bagi yang tidak familier, silakan klik http://www.deteksibasketball.com. Anda bisa lebih paham tentang bagaimana kami bekerja, lewat tulisan-tulisan, foto-foto, dan video.

***

Memang, masih ada kritik untuk DBL saat ini. Bahwa kami bukanlah liga untuk menghasilkan pemain-pemain berbakat, yang kelak akan menjadi andalan Indonesia di tingkat internasional.

Bukan hanya itu. DBL juga sering dipertanyakan, mengapa tidak diselenggarakan di Jakarta. Bahkan, DBL mungkin adalah liga terbesar di Indonesia yang tidak dikenal oleh orang-orang Jakarta.

Pertanyaan kedua itu biasanya datang dari calon sponsor. Dan, mereka adalah bagian penting dari pengembangan liga. Jadi, kesulitan kami bukan hanya mengembangkan konsep yang rumit ke daerah-daerah, tapi juga meyakinkan sponsor yang ada di Jakarta bahwa ada yang lebih besar di luar Jakarta.

Inilah repotnya Indonesia. Kalau ingin sponsor nilai besar, kita harus ke Jakarta. Sementara yang di Jakarta (maaf buat orang-orang Jakarta, saya mengucapkan ini dengan penuh hormat) kadang tidak mau tahu perkembangan di daerah.

Untuk dua pertanyaan tersebut, jawaban saya adalah…. (bersambung)

Kerja Sama DBL dan NBA

2008

23 Agustus 
Pemain NBA datang ke final Honda DBL 2008 Jawa Timur, yang diselenggarakan di DBL Arena Surabaya.
24 Agustus
Pemain NBA tampil dalam NBA Basketball Clinic di DBL Arena Surabaya, menemui dan memberikan bekal kepada para juara Honda DBL 2008 dari 11 kota di Indonesia.

2009

NBA dan DBL menyelenggarakan Indonesia Development Camp pada pertengahan 2009. NBA akan mengirim satu pemain dan dua asisten pelatih untuk memberikan bekal kepada para pemain dan pelatih DBL 2009 dari berbagai provinsi di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s