Jadi ”Family” Granger di Indianapolis

nblindonesia.com – 18/11/2010

Seminggu Lihat Empat Laga NBA di Empat Kota di Amerika
BarengDannyGranger

Portland, Los Angeles, New York, Indianapolis. Setiap kota menawarkan nuansa NBA yang berbeda.

Berikut catatan AZRUL ANANDAcommissioner DBL dan NBL Indonesia yang baru kembali dari Amerika.

Mumpung sedang di Amerika Serikat, sekalian saja keliling dan nonton laga NBA di kota yang berbeda-beda. Dari pantai barat, ke pantai timur, sampai ke kawasan tengah negeri Paman Sam. Di sela-selanya dibarengi meeting dengan NBA di kantor pusatnya di New York, serta mengunjungi “keluarga” di negara bagian Indiana.
Rombongan kami sudah ada di AS sejak 31 Oktober lalu. Datang di Seattle, negara bagian Washington, mengantarkan tim Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010 belajar dan bertanding di kota tersebut.

Di akhir kunjungan tim itu, pada Sabtu, 6 November, seluruh rombongan ramai-ramai ke Portland, negara bagian Oregon. Di sana nonton Portland Trail Blazers lawan Toronto Raptors, di Rose Garden.

Penggemar NBA tentu sudah tahu, Seattle tidak lagi punya tim. Seattle SuperSonics yang terkenal itu sekarang sudah pindah ke Oklahoma City, ganti nama jadi Thunder.
Sekilas, nonton Trail Blazers di Portland tidak terkesan mengasyikkan. Tapi jangan salah, Rose Garden merupakan salah satu tempat paling modern yang dipakai tim-tim NBA. Juga salah satu yang terbesar, karena menampung 20.630 penonton.

Letaknya juga di tengah kota, di dekat pusat perbelanjaan utama Lloyd Center. Bagi yang familiar dengan AS, Portland termasuk asyik untuk belanja, karena tidak ada pajak penjualan barang di negara bagian Oregon.
Sebenarnya, tidak ada yang terlalu khas di Rose Garden, yang berdiri pada 1995 dengan biaya pembuatan mencapai USD 262 juta. Tapi begitu duduk di dalamnya, layar raksasa yang menggantung di tengah arena langsung menarik perhatian.

Perlu digaris bawahi, semua arena NBA memakai layar empat sampai enam sisi yang menggantung di tengah. Namun tidak semua sama kualitas dan ukurannya. Nah, yang di Portland ini termasuk yang paling istimewa!

Keempat sisi layar itu masing-masing berukuran 4,5 x 6,75 meter. Termasuk terbesar di NBA. Buatan Mitsubishi, gambarnya begitu tajam karena memang jenis high definition. Kalau keliling arena, ada total 650 layar televisi tersebar, sehingga semua orang tidak ketinggalan sedikit pun aksi di lapangan.

Soal suasana, Portland juga termasuk asyik. Karena kota ini tak punya banyak klub profesional dalam cabang apa pun, bisa dibilang seluruh masyarakatnya cinta Trail Blazers. Apalagi tim itu lumayan kuat. Jadi, sorakan penonton terasa kompak.
Sayang, laga yang kami tonton itu sama sekali tidak ketat. Blazers menang nyaman 97-84. Andai laganya lebih seru, mungkin akan jauh lebih berkesan.

Jaim di Los Angeles
Rombongan DBL Indonesia All-Star 2010 pulang ke tanah air pada 8 November. Saya dan beberapa manager DBL Indonesia tidak pulang bersama para pemain SMA pilihan dari berbagai provinsi tersebut. Dari Seattle, kami menuju Los Angeles, negara bagian California.
Selain santai dan jalan-jalan selama dua hari, kami menyempatkan mampir ke Staples Center. Pada 9 November, kami nonton laga Los Angeles Lakers (champion NBA) melawan Minnesota Timberwolves.
Mungkin, Staples Center adalah gedung paling kondang saat ini. Wajar, gedung itu banyak disebut karena sukses Lakers dalam beberapa musim terakhir.
Lagi-lagi, gedung ini terletak di downtown (tengah kota), di sebelah Los Angeles Convention Center di Figueroa Street. Gedung ini juga termasuk yang paling baru, berdiri pada 17 Oktober 1999.
Staples Center termasuk paling sibuk. Setahun ada 250 even digelar di situ, disaksikan oleh hampir empat juta penonton (kapasitas 19,079 orang). Selain Lakers, di sana juga tampil tim NBA lain, Los Angeles Clippers, klub WNBA Los Angeles Sparks, dan klub hoki es Los Angeles Kings.
Tidak harus masuk ke dalam untuk foto-foto seru. Di depannya terpampang beberapa patung legenda olahraga. Antara lain Magic Johnson (legenda Lakers) dan Wayne Gretzky (legenda hoki). Ironisnya, Johnson dan Gretzky tak pernah main di Staples Center. Mereka bermain di arena lama, The Forum.
Sama seperti Rose Garden, layar yang menggantung di tengah Staples Center sangatlah besar dan terang. Tapi layar Panasonic Live 4HD (high definition) ini ternyata baru dipasang September lalu.
Suasana? Pertandingan Lakers cukup meriah. Musik yang dimainkan untuk mengiringi pertandingan ternyata dimainkan secara live oleh band, yang duduk di salah satu sudut tribun atas. Termasuk dentuman-dentuman penyemangat atau mendebarkan yang selama ini identik dengan basket.
Penonton sebenarnya seru. Tapi ada kesan jaim (jaga image). Mungkin karena ini Los Angeles, pusatnya para selebriti, jadi para penontonnya pun termasuk dandan. Ada kesan sedikit sombong, mungkin karena Lakers sekarang tim juara.
Kami tidak menonton pertandingan ini sampai selesai. Begitu half-time, kami langsung cabut menuju bandara. Tengah malam itu, kami mengejar pesawat red eye (malam-dini hari) menuju New York. Sebab, keesokan harinya (10 November), kami sudah ada jadwal pertemuan dengan NBA sekaligus nonton laga New York Knicks.


Kuno-Seru di New York
New York bukan kota yang nyaman. Sibuk, cepat, dan cenderung kasar. Namun untuk nonton NBA, ini mungkin kota paling asyik. Pada 10 November, kami nonton duel New York Knicks versus Golden State Warriors
Kebetulan, di Warriors ada David Lee. Mantan bintang Knicks yang pada 2009 lalu pernah ke Surabaya untuk jadi bintang di NBA Madness Presented by Jawa Pos.
Di New York, kami dijamu oleh NBA (DBL sudah jadi partner NBA di Indonesia sejak 2008). Martin Conlon, mantan pemain Milwaukee Bucks yang kini bekerja sebagai manager basketball operations international menjadi pemandu kami. Pada 2008, Conlon pernah ke Surabaya pula, menemani Danny Granger (bintang Indiana Pacers) memberi materi latihan di DBL Arena.
Oleh Conlon, kami diberi sedikit tur di Madison Square Garden (MSG), stadion “tua” yang menjadi kandang Knicks. Kami diperkenalkan kepada Kenny Atkinson, asisten pelatih Knicks, yang kemudian memperkenalkan kami kepada Mike Smith, video coordinator Knicks.
Di sebuah ruang kecil di MSG, kami ditunjukkan bagaimana pelatih memakai rekaman video untuk mempelajari lawan dan mengubah strategi dengan cepat. “Kalau pelatih utama membutuhkan, kami hanya perlu dua menit untuk menyiapkan video rekaman permainan yang dibutuhkan,” ungkap Smith.
MSG sendiri dibuka pada 1968 dan benar-benar terasa tua. Bila arena lain memisahkan ruang ganti tim tuan rumah dan tamu, maka MSG masih menempatkannya di sisi yang sama. Sehingga pemain masuk dan keluar dari pintu yang sama, di belakang meja wasit.
Kapasitasnya masih sangat besar, 19,763 orang (lebih banyak dari Staples Center). Tapi suasana lebih “memanjang,” tidak “meninggi” seperti arena-arena modern. Yang di belakang mungkin duduk lebih jauh dari lapangan, namun tidak mendapatkan sudut pandang yang curam seperti arena modern. Selain itu, kursi-kursi penonton pun lebih besar dan nyaman.
Monitor? MSG mungkin paling kuno. Ukuran relatif kecil, dan gambar LED-nya masih bintik-bintik. Hanya saja, layar “kuno” ini tertolong oleh kemasan hiburan yang istimewa. Bila dibandingkan dengan tim lain, tim entertainment Knicks tampak paling “sibuk.” Hiburan demi hiburan tak pernah berhenti ditampilkan di sela-sela pertandingan.
Yang menyentuh: Sebuah video tribute sebagai ucapan terima kasih kepada David Lee. Pemain 28 tahun itu memang mengawali karir bersama Knicks, hingga meraih status All-Star di awal 2010 ini. Laga ini merupakan kunjungan pertamanya di New York membela tim lawan. Tepuk tangan meriah menyambut video tersebut, bentuk apresiasi hebat dari fans Knicks.
Para penonton di New York memang seru. Seperti kesehariannya, mereka tak pernah capai berteriak-teriak saat pertandingan. Atmosfer pun terasa sangat hidup.
Nonton NBA di MSG, rasanya seperti nonton Formula 1 di sirkuit-sirkuit “tua” seperti Monaco. Fasilitas minim, tapi suasana “hidup.” Kabarnya, MSG akan direnovasi besar-besaran dalam dua tahun ke depan. Semoga saja perbaikan nanti tidak menghilangkan nuansa klasiknya…
Sebelum meninggalkan New York, pada 11 November kami sempat mampir ke kantor pusat NBA di Olympic Tower, kawasan elite 5th Avenue. Kami meeting dengan departemen Basketball Operations, lalu diajak tur ke NBA Store yang letaknya tidak jauh dari Olympic Tower.
Toko itu sendiri kemungkinan segera pindah lokasi. Biaya sewanya (USD 6 juta setahun) katanya akan dinaikkan menjadi USD 20 juta setahun. Sehingga NBA harus cari tempat lain yang lebih menguntungkan.


Bikin Kevin Martin Kaget
Dari New York, kami menuju Indianapolis, negara bagian Indiana. Tujuannya ganda. Selain nonton Indiana Pacers versus Houston Rockets pada 12 November, juga mengunjungi ayah dan ibu angkat saya, John dan Chris Mohn, yang kini tinggal di Evansville (sekitar tiga jam naik mobil dari Indianapolis).
Laga Pacers dan Rockets itu juga memberi koneksi kepada DBL dan Surabaya. Danny Granger (bintang Pacers) dan Kevin Martin (bintang Rockets) sama-sama pernah melatih pemain muda Indonesia di DBL Arena.
Martin tampak sangat terkejut melihat kehadiran kami, saat sesi latihan ringan sebelum pertandingan di Conseco Fieldhouse. “Kalian datang ke sini untuk nonton saya?” tanyanya dengan raut terkejut.
Granger sendiri tidak terlalu terkejut, karena sudah diberitahu tentang kedatangan kami di Indianapolis. Begitu melihat kami, dia langsung meminta kami menemui istrinya, Dionna, untuk mendapatkan kartu undangan khusus keluarga. “Jadi kalian bisa ke locker kami usai pertandingan,” ucapnya.
Conseco Fieldhouse lahir kurang lebih sama dengan Staples Center pada 1999/2000. Bila Staples didesain modern, Conseco dibuat klasik. Dinding-dindingnya dibuat seperti batu bata merah yang tidak dilapis, serta aksen-aksen pintu dan lain-lain dibuat seperti bangunan lama. Soal fasilitas dan lain-lain, gedung ini sangat komplet. Beberapa kali sudah Conseco dipilih sebagai gedung olahraga terbaik di Amerika.
Bagi saya, ini kunjungan kedua ke Conseco (pertama pada 2007). Tapi waktu itu jadi penonton biasa. Kali ini saya datang sebagai tamu bintang utama Pacers!
Jumat malam itu (12/11), Conseco yang berkapasitas 20 ribuan tidaklah penuh. Usut punya usut, Jumat malam memang sulit untuk menyedot penonton maksimal. Pada Jumat malam, pertandingan-pertandingan football SMA juga diselenggarakan. Jadi banyak orang terpencar ke stadion-stadion SMA dan nonton di sana.
Dari segi entertainment, Conseco memang agak kurang. Banyak masa “kosong” di sela-sela pertandingan. Tapi penontonnya termasuk antusias. Negara bagian Indiana memang gila olahraga, jadi kalau mendukung juga total (termasuk teriakan-teriakannya).
Kebetulan, saat itu pertandingan seru sampai menit terakhir. Pacers kalah tipis 99-102. Jadi, ketika kami ke arah locker room Pacers usai pertandingan, suasana terkesan muram. Kami waktu itu bersama Dionna di ruang tunggu keluarga, di depan locker Pacers, menunggu Granger selesai ganti pakaian.
Satu per satu pemain Pacers keluar disambut keluarga/teman masing-masing. Sambil menunggu, Dionna menyampaikan keinginan untuk kembali lagi ke Indonesia. Tapi kali ini untuk liburan. Granger tidak lama kemudian keluar. Setelah small talk (ngobrol santai) sebentar, kami pun berpisah dan janji bertemu di lain kesempatan. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s