Kaus Kotor dan Tertinggal, Masuk Lapangan Pakai Singlet

28-Aug-2008

DBL_Panti_Asuhan

Di Balik Layar: Danny Granger dan Even Resmi Pertama NBA di Indonesia (2)

Danny Granger kemarin bertolak kembali ke Amerika Serikat. Banyak kenangan dia tinggalkan dari even resmi pertama NBA di Indonesia.

 

Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DetEksi Basketball League (DBL) yang juga wakil direktur Jawa Pos.

”Orang-orang di sini begitu ramah. Saya tidak keberatan kalau harus kembali ke sini tahun depan.” Begitu ucap Danny Granger, top scorer Indiana Pacers yang Selasa kemarin (27/8) bertolak kembali ke Amerika Serikat.

Bagi pemain bertinggi badan 206 cm itu, kunjungan ke Indonesia merupakan kunjungan pertamanya ke Asia. Ketika pertama menginjakkan kaki di Surabaya Jumat pekan lalu (22/8), dia langsung merasakan kekaguman dan culture shock.

Kagum melihat wajahnya terpampang di mana-mana di Kota Pahlawan. Grup Jawa Pos dan Honda, penyelenggara dan partner utama DetEksi Basketball League (DBL), memang memasang sangat banyak papan reklame raksasa bertulisan Welcome to Surabaya, Danny Granger.

Termasuk di dinding depan DBL Arena, gedung basket baru tempat Granger tampil selama di Surabaya.

Makanya, begitu pertama masuk kota, Granger langsung memotret-motret berbagai reklame tersebut. Dionna, tunangan Granger, menyinggung bahwa besarnya kampanye menyambut sang bintang itu mungkin setara dengan kampanye yang dilakukan Indiana Pacers menjelang musim NBA 2008-2009 nanti.

Sebelum ke Indonesia, Granger memang baru saja menyelesaikan serangkaian persiapan promosi tim. Sebagai mesin poin utama, Granger memang akan resmi menjadi ”wajah” Pacers. Menurut Dionna, Granger menjalani berbagai wawancara majalah dan sesi pemotretan.

”Wajahnya akan terpampang di bus-bus dan lain-lain,” ungkap Dionna  yang sudah bersama Granger sejak masih kuliah di University of New Mexico.

Saat wawancara khusus bersama Jawa Pos di Surabaya, Granger mengaku memang akan meneken kontrak baru bernilai sangat besar. Pacers akan memperpanjang kontraknya selama lima tahun dengan nilai total menuju angka USD 70 juta. Angka yang setara dengan superstar-superstar NBA.

Selain kagum, Granger juga mengaku shock melihat banyaknya motor berseliweran di jalan. Bahwa banyak motor bukanlah masalah baginya. Yang jadi masalah adalah melihat anak-anak dibonceng tanpa helm. ”Di Amerika polisi akan menangkapi mereka semua,” ujarnya.

***

Selama tampil di hadapan publik di Indonesia, Granger selalu mengenakan baju yang sama. Kaus adidas abu-abu berlogo NBA besar di bagian depan.

Salah seorang di antara enam staf NBA yang datang menemani Granger mengatakan, pihaknya menyiapkan tiga kaus dengan desain yang sama. Soal kaus ini, ada cerita seru saat Granger tampil di final Honda DBL 2008 Sabtu malam lalu (23/8) di DBL Arena.

Dia diperkenalkan secara spesial,  keluar dari balik layar LED yang bergeser ke samping. Begitu keluar, lebih dari 4.000 penonton yang memadati DBL Arena berteriak bersamaan, ”Danny! Danny! Danny!”.

Pemain 25 tahun itu pun tampak ”NBA banget”. Dia mengenakan celana basket hitam, tapi atasannya hanya kaus singlet ketat warna putih. Orang pun langsung melihat betapa gagahnya Granger. Badan tinggi besar, lengan begitu kekar.

Ssst, kami sebagai panitia punya rahasia. Sebenarnya, Granger diprogramkan tampil dengan mengenakan kaus abu-abu NBA. Masalahnya waktu itu, kausnya tertinggal di hotel!
Jujur, waktu itu ada kaus yang bisa dipakai Granger. Namun, kaus itu kotor. Granger tidak mau mengenakannya. Kaus cadangan yang bersih tertinggal di hotel. Jadilah dia tampil hanya dengan mengenakan singlet. Sementara seorang staf NBA ngebut kembali ke hotel dengan naik mobil polisi khusus untuk mengambilkan kaus cadangan Granger.

Tapi, tidak apa-apa. Bagi mereka yang menjadi saksi sejarah di DBL Arena waktu itu, Granger justru terlihat lebih keren bukan? Lebih eksklusif lagi. Sebab, di tempat-tempat lain dia tidak menunjukkan ”badan NBA-nya.”

***

Mewakili seluruh keluarga Grup Jawa Pos, DBL, beserta seluruh pihak yang terlibat di Honda DBL 2008, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Danny Granger. Selama di Indonesia, dia terus menunjukkan profesionalitas. Bahkan  lebih dari itu. Dia juga menunjukkan diri sebagai seseorang yang sangat apresiatif, bisa melihat apa yang real dan apa yang tidak real.

Ketika berada di Jakarta, ada banyak pihak yang tampaknya mencoba mencuri kesempatan dengan kehadiran Granger. Namun, dari setiap sesi wawancara dan kesempatan bicara, Granger terus melontarkan pujian kepada DBL dan Surabaya, kota pertama yang menyelenggarakan even resmi NBA di Indonesia.

Sebagai warga Surabaya yang bangga pada kotanya, saya ingin mengucapkan rasa terima kasih tambahan.

Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada seluruh staf NBA, yang mempercayai DBL sebagai penyelenggara even resmi pertama mereka di Indonesia.

Salah satu yang paling spesial adalah Martin Conlon. Mantan pemain Milwaukee Bucks era pertengahan 1990-an itulah yang mengatur segala klinik bersama para 50 pemain, wakil tim-tim champion Honda DBL 2008 yang datang dari sepuluh provinsi di Indonesia. Setelah mengakhiri karir basket bersama sejumlah tim NBA dan klub Eropa, dia sekarang bekerja di NBA sebagai manager basketball operation international.

Pria 40 tahun itu punya tinggi badan 210 cm. Tanpa gerak pun dia sudah membuat orang kagum. Tapi, cara dia berkomunikasi dengan anak-anak DBL sangatlah baik. Kita semua banyak belajar dari dia.

Rupanya, ada alasan kenapa Conlon begitu antusias menjalani semua program, khususnya NBA Basketball Clinic Minggu lalu (24/8). Dia mengaku terpacu oleh semangat dan antusiasme pemain dan penggemar basket di Surabaya.

”Momen yang paling saya suka selama di Indonesia adalah saat masuk DBL Arena, menonton final DBL.  Suasananya begitu ramai dan riuh. Para penonton begitu mendukung kompetisi ini,” kata Conlon.

Ketika pesta perpisahan bersama para champion Honda DBL 2008 di Palimanan Minggu malam lalu (24/8), Conlon tanpa diminta mau naik ke panggung dan memberikan semangat kepada para pemain basket SMA yang datang dari berbagai pulau di Indonesia itu.

”Saya telah menjalani klinik di berbagai penjuru dunia. Di Amerika, Eropa, Tiongkok, dan Afrika. Tapi, saya tidak pernah melihat antusiasme sebesar yang kalian tunjukkan. Antusiasme kalian jauh dari di negara-negara lain,” katanya disambut dengan tepukan tangan riuh para champion.

Berkat Conlon pula, kita semua kru DBL pernah merasakan bagaimana rasanya bermain lawan pemain NBA (meskipun dia mantan pemain NBA). Minggu sore setelah NBA Basketball Clinic, para staf NBA menantang kru DBL bermain 2 x 10 menit di DBL Arena. Hasilnya? Berkat Conlon yang supertinggi, NBA menang telak, 39-18!

Mengenai staf yang lain, saya dan seluruh kru DBL lagi-lagi mengucapkan terima kasih. Mereka terus mengucapkan betapa menariknya DBL di Indonesia.

Salah satunya bilang ke saya dan beberapa rekan dari Honda, memberikan pendapatnya tentang final Honda DBL 2008. ”Selama dua bulan terakhir, saya selalu mendengar dari Azrul tentang betapa luar biasanya DBL ini. Tapi sekarang, setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri, ternyata justru lebih luar biasa dari yang Azrul bilang,” ucapnya.

Iseng, saya bercanda kepadanya. ”Jadi,  selama ini kamu tidak percaya?”

“Saya percaya, tapi kami belajar untuk menjaga ekspektasi. Kami pernah didatangi orang dari (tempat lain). Mereka bilang punya program basket yang besar. Tapi ternyata omongan belaka,” jawabnya.
Tentu saja, ucapan-ucapan seperti itu membuat saya dan teman-teman semakin bersemangat untuk musim selanjutnya. Honda DBL 2009 akan melebar ke provinsi lain, menjadi total 15 provinsi.

Kerja sama dengan NBA juga akan meningkat. Bukan sekadar NBA Basketball Clinic selama sehari. Tahun depan, NBA dan DBL akan berkolaborasi untuk menyelenggarakan Indonesia Development Camp. Tetap akan berlangsung di Surabaya, panjang camp itu beberapa hari. Penonton di DBL Arena nanti bukan hanya menyaksikan latihan bersama. Penonton juga akan melihat All-Star Game. Para pemain terbaik Honda DBL 2009 dari 15 provinsi akan adu kemampuan di lapangan.

Pemain NBA yang datang ke Surabaya tahun depan tidak sendirian. Nanti juga hadir dua asisten pelatih,  yang juga akan memberikan materi kepada 50 pelatih-pelatih pilihan DBL.

Tak sabar rasanya menunggu tahun depan. Tak sabar rasanya mengetahui siapa pemain yang akan datang tahun depan. Tapi sekarang istirahat dulu. Terima kasih NBA, see you next year(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s