Kehilangan Handphone, Novi Dapat Sepatu Legenda WNBA

nblindonesia.com – 07/11/2010

Belajar & Bertanding Bersama DBL All-Star di Seattle (5-Habis)
bsr-5

Tim DBL Indonesia All-Star 2010 dapat acara impian: mengunjungi markas klub juara WNBA, Seattle Storm, dan dikado merchandise seru. Termasuk jersey dan sepatu bekas pemain!

Berikut catatan AZRUL ANANDA.

Jumat (5/11, Sabtu WIB) sebenarnya hari super penting bagi tim putra dan putri Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010. Malamnya, mereka menjalani pertandingan utama di Rainier Vista Boys & Girls Club.

Tim putra melawan Rainier Select Bulldogs, sedangkan tim putri melawan Lady Home Team yang disponsori bintang NBA Brandon Roy. Dua tim itu merupakan tim anak muda U-18. Setara dengan usia pemain-pemain SMA DBL All-Star yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.

Pagi sebelum bertanding, tim DBL All-Star dapat suntikan motivasi impian: mengunjungi markas tim juara WNBA 2010, Seattle Storm. Di sana, mereka bertemu dengan head coach tim itu, Brian Agler, dan CEO/ Presiden Tim Karen Bryant. Saat anak-anak Indonesia dijamu, dipajang pula dua trofi juara WNBA yang pernah diraih Storm

Selain dari musim 2010, ada trofi musim 2004, saat mereka kali pertama meraih jawara. Tim DBL All-Star lantas mendapatkan penjelasan komplet tentang dapur klub serta dijamu makan siang.

Yang membuat kunjungan tersebut tidak terlupakan, semua mendapatkan merchandise asli. Berupa topi champion 2010, poster, dan lain-lain. Ketika sesi penjelasan yang bersifat interaktif, mereka juga berebut hadiah-hadiah heboh. Mulai kaus-kaus, jersey latihan asli bekas pemain, sampai sepatu bekas para bintang!

***

Rombongan DBL Indonesia All- Star 2010 tiba di markas Storm, di kawasan Thorndyke Avenue, Seattle. Letaknya jauh dari Key Arena, stadion utama tempat Storm dan dulu tim NBA Seattle SuperSonics– bertanding. Chauntelle Johnson, koordinator senior community relations Storm, menyambut rombongan beranggota 24 pemain, lima pelatih, serta 15 staf dan wakil media dari DBL Indonesia dan Jawa Pos tersebut.

Di sudut markas itu, sudah disiapkan jajaran kursi, layar proyeksi, serta backdrop berlogo Storm dan sponsor utama klub, Bing (produk Microsoft). Tidak ketinggalan sepasang trofi WNBA yang dimenangi klub tersebut pada 2004 dan 2010. Semua dipajang secara khusus untuk menyambut rombongan dari Indonesia.

Sejak awal, sudah ditegaskan kami akan sulit bertemu dengan pemain Storm. Sebab, musim WNBA berlangsung pada pertengahan tahun serta berakhir pada pertengahan September. Setelah itu, para pemainnya langsung pergi, bertanding lagi di klub-klub profesional lain di Eropa atau Australia.

Namun, ada yang lebih dari menghibur kekecewaan tersebut. Sebab, head coach tim dan CEO sendiri yang menemui rombongan.

Karen Bryant, bos Storm, lebih dulu menyapa anak-anak DBL All-Star. Dengan bangga, dia menyebut WNBA sebagai pionir pengembangan liga perempuan profesional di seluruh dunia. Tapi, dia juga bangga menyambut rombongan DBL All-Star, yang juga memiliki tim perempuan.

Ketika tahu bahwa di Indonesia liga perempuan kini bermasalah dan Indonesia sangat jarang mengirim tim perempuan ke luar negeri, Bryant mencoba memberikan ucapan penyemangat. ”Jangan patah semangat. Meski belum ada pertandingan yang profesional untuk putri, jangan berhenti mencintai basket. Waktu saya muda dulu, juga belum ada WNBA. Tapi, sekarang saya bisa menjadi bagian dari liga basket perempuan itu meski tidak bermain. Jadi, kalian pun kelak bisa seperti saya,” ucapnya.

Sang CEO lantas memperkenalkan Brian Agler, head coach Storm. ”Brian merupakan salah seorang pelatih terbaik di dunia. Dia bukan hanya orang yang punya pengetahuan tinggi soal basket. Dia mampu mengajarkannya kepada para pemain.

Tidak banyak orang berpengetahuan besar yang juga bisa mengajarkannya lagi dengan baik,” paparnya. Kepada rombongan DBL All-Star, Agler menjelaskan komposisi tim yang berhasil merebut juara WNBA 2010. ”Kami punya sebelas pemain. Lima di antaranya adalah pemain dari luar Amerika Serikat.”

Nama-nama besar memang menghiasi roster Storm 2010. Ada Lauren Jackson dari Australia, yang disebut Agler sebagai pemain terbaik di dunia. ”Dia tinggi (198 cm). Jago main di dalam, jago menembak dari jarak jauh,” kata sang pelatih tentang Most Valuable Player (MVP) WNBA 2010 itu.

Lalu, ada dua nama legendaris, Sue Bird dan Swin Cash, yang sama-sama sudah delapan tahun berkiprah di WNBA. Dari Rusia, ada Svetlana Abrosimova. Dari Republik Ceko, ada Jana Vesela. ”Karena internasional, begitu WNBA berakhir, mereka langsung meninggalkan Amerika untuk berlaga di liga-liga di Eropa, Israel, dan Australia,” papar Agler.

Sang pelatih lantas memberikan kesempatan bagi rombongan DBL All-Star untuk bertanya. Hendry Bonardi, pelatih tim putri dari SMA Santu Petrus Pontianak, menyampaikan pertanyaan penting, ”Sebagai salah seorang pelatih terbaik di dunia, apa yang ditekankan kepada para pemain saat latihan? Apakah offense, apakah defense?”

Agler menjawab, defense selalu harus ditekankan. Sebab, ketika pemain semakin tua, semakin sulit mengajari mereka kemampuan offense yang lebih baik. ”Tapi, yang paling penting adalah karakter. Sama dengan ketika mencari personel untuk kantor ini, kami mencari pemain yang berkarakter baik. Sebab, basket merupakan permainan tim,” katanya.

Setelah tanya jawab sejenak, pihak Storm lantas menyampaikan hadiah luar biasa untuk DBL Indonesia. Berupa sepasang replika jersey Storm milik Lauren Jackson dan Sue Bird, yang ditandatangani pemain-pemain hebat tersebut. Ketika foto grup, Sarah Dephiola, kapten DBL All-Star dari SMAN 9 Bandung, juga diperkenankan memegang trofi juara WNBA.

***

Chauntelle Johnson lantas memberikan materi presentasi tentang kegiatan berbisnis Seattle Storm. Tapi, dia memberikan peringatan terlebih dahulu. ”Bagi sebagian kalian, apa yang akan saya sampaikan bakal membosankan. Bagi sebagian yang lain, apa yang akan saya sampaikan bakal di anggap sangat membosankan,” ucap Johnson, disambut tawa rombongan DBL All-Star.

Materi yang disampaikan oleh Johnson memang serius. Menjelaskan bagaimana Stormber aktivitas dan meraup sukses secara komersial. Satu per satu departemen dia jelaskan, dibantu dengan beberapa staf Storm yang lain. Mulai departemen marketing, game operation, hingga keuangan dan teknologi.

Salah satu fakta yang menarik adalah slogan tim ”Bring It (Ayo Tantang Kami, Red)”, yang digu nakan sepanjang musim 2010. ”Setiap tahun, tim marketing kami memilih satu slogan. Tema tahun ini kami suka karena menunjukkan semangat dan keberanian bahwa kami akan selalu memberikan yang terbaik dan menantang lawan untuk berani melawan kami,” jelas Johnson.

”Slogan ’Bring It’ itu pernah kami gunakan beberapa tahun lalu, tepatnya pada 2004. Waktu itu kami jadi juara untuk kali pertama. Sekarang, ketika dipakai lagi, kami juara lagi,” tambahnya. Meski bahannya tergolong berat, dia menyampaikannya dengan menyenangkan. Dia menyajikannya secara interaktif, memancing pertanyaan peserta, dan menanyai terus peserta sambil memberikan hadiah-hadiah.

Seluruh pemain dan pelatih mendapatkan topi yang memperingati status champion Storm pada 2010. Lalu, satu per satu dapat hadiah kaus-kaus tim. Yang seru, ada hadiah jersey latihan bekas dipakai pemain Storm, yang diraih Stephanie Yolanda (SMA Sutomo Medan).

Stephanie mendapatkannya gara-gara meraih poin tertinggi dalam permainan menembak bola mini di kantor itu. Yang lebih seru, ada dua pasang sepatu Nike bekas dipakai pemain Storm sendiri! Sepasang sepatu Nike Hyperdunk Low berlogo LJ dengan bendera Australia bekas dipakai Lauren Jackson diserahkan kepada Masany Audri, general manager DBL Indonesia, untuk dipajang bersama koleksi sepatu asli pemain NBA lain di Surabaya.

Di Kantor DBL Indonesia di lantai 20 Graha Pena, Jalan Ahmad Yani, memang ada banyak sepatu yang dipajang. Yaitu, sepatu milik bintang-bintang NBA yang pernah datang ke Indonesia sejak 2008. Sepasang sepatu yang kedua adalah Nike Hiperize berwarna putih merah bekas dipakai Sue Bird, yang sudah punya status legenda di WNBA.

Untuk mendapatkannya, Johnson menanyai ukuran kaki para pemain putri DBL All-Star. Mencari yang ukurannya sama dengan Sue Bird, yaitu 42 atau 42,5. Ternyata, ada dua pemain yang memiliki ukuran kaki sama dengan Sue Bird: Ingrid Tri Rachmadianty dari SMAN 1 Baleendah, Bandung, dan Novi Apriyani dari SMAN 1 Banyuasin III, Sumatera Selatan (Sumsel).

Johnson lalu memberikan tebakan kepada mereka berdua. ”Berapa lama Sue Bird sudah bertanding di WNBA? Yang jawabannya paling dekat dapat hadiah sepatu itu,” ujar dia. Novi menjawab tujuh tahun, Inggrid bilang enam tahun. Ternyata, yang benar adalah sembilan tahun. Sepatu itu pun jadi milik Novi untuk dibawa pulang ke Sumsel!

Hadiah tersebut ternyata menjadi penghibur terbaik bagi Novi. Sebab, selama hampir dua pekan bersama DBL All-Star, dua kali dia kehilangan. Saat di Surabaya, dia kehilangan uang Rp 1 juta. Lalu, di Seattle dia kehilangan handphone. ”Sepatu itu membalas kesedihan tersebut. Sepatu itu mungkin bisa dibeli. Tapi, yang tidak bisa dibeli, sepatu itu kan bekas dipakai bintang WNBA,” ucap Novi.

Sebelum menutup acara dan menyuguhkan makan siang, Johnson menegaskan ucapan CEO-nya pada awal kunjungan DBL All-Star. ”Dengan presentasi itu, kami berharap kalian terus bersemangat untuk mencintai basket. Untuk bisa dekat dengan olahraga itu, kalian tidak harus bermain di lapangan. Kalian bisa juga bekerja di berbagai bidang yang berkaitan dengan basket,” terang dia.

Kunjungan tersebut benar-benar membuka mata para pemain DBL All-Star. Memberikan satu lagi kesempatan belajar yang sulit didapatkan lewat kunjungan-kunjungan biasa ke Amerika Serikat. ”Saya yakin bahwa NBA dan WNBA sama. Ternyata, untuk mengelola sebuah klub dan menye leng garakan pertandingan, dibutuhkan begitu banyak upaya. Kapan lagi kami bisa belajar langsung seperti itu,” ujar M. Rizal Falconi, pemain dari SMAN 7 Pontianak. (*/dibantu M. Aziz Hasibuan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s