Kelelahan, David Stern Sulit Senyum

13-Oct-2009

NBA-Aza-David-SternSmall

Menjadi Tamu VIP di NBA Games 2009 di Beijing

Rombongan DetEksi Basketball League (DBL) dan Jawa Pos Group akhir pekan lalu ramai-ramai ke Beijing, nonton NBA Games 2009. Jadi tamu VIP, rombongan sempat bertemu sang bos NBA, David Stern. Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos dan Commissioner DBL.

SETIAP tahun ada pertandingan NBA di Tiongkok. Biasanya diberi nama NBA China Games. Mampir ke Beijing, Shanghai, atau Guangzhou. Pernah juga mampir ke Macau. Tahun ini, namanya berubah jadi NBA Games 2009. Tidak ada lagi kata “China.” Total ada dua pertandingan lagi, satu di Taipei (untuk kali pertama dalam sejarah), satu lagi di Beijing Minggu lalu (11/10).

Tim yang datang lumayan. Salah satu kekuatan wilayah barat, Denver Nuggets. Satu lagi Indiana Pacers, yang sedang naik daun di timur. Jauh lebih menarik daripada dua tim yang datang tahun lalu, Milwaukee Bucks dan Golden State Warriors. Bagi DetEksi Basketball League (DBL) dan Jawa Pos Group, even ini memberi kesempatan reuni penting.

Bintang utama Indiana Pacers, Danny Granger, merupakan bintang even resmi pertama NBA di Indonesia, yang diselenggarakan liga basket pelajar terbesar di Indonesia itu pada 2008 lalu. Tidak tanggung-tanggung, total ada 16 orang yang berangkat dalam rombongan ke Beijing ini. Dari DBL ada saya, Masany Audri (general manager), Elfira Ahsanti Mahda (sponsorship and business development manager), dan M. Aziz Hasibuan (coordinator public and media relations).

Ikut pula wakil media-media Jawa Pos Group yang juga panitia penyelenggara DBL di daerah. Ada Lucky Ireeuw (Cenderawasih Pos di Jayapura), Berchman Heroe (Radar Jogja), Reza Fahlevi (Radar Lampung), dan Rusjdi (Lombok Post). Ditambah Sukriansyah Sultan Latief dan Abdul Karim (Fajar di Makassar).

Aziz merangkap sebagai peliput untuk Jawa Pos Group, bersama Dite Surendra, fotografer Radar Semarang. Tiga lagi dari Honda sebagai main partner DBL (Dendy Sean T, Christopher Sesio, dan Suhari). Dua terakhir dari manajemen CLS Knights, yang selama ini sering membantu even-even DBL, pasangan pengantin baru Christopher Tanuwidjaja dan Sherly Humardani.

Rombongan datang bukan sekadar jalan-jalan dan menonton. Rombongan juga tamu VIP NBA, mengikuti rangkaian acara eksklusif khusus, Sabtu akhir pekan lalu (10/10) di Westin Beijing. Bagi mayoritas penggemar basket, kesempatan melihat para bintang NBA hanyalah saat lihat pertandingan di Wukesong Arena, yang berkapasitas sekitar 20 ribu enonton. Berarti harus dari jauh.

Kalau mau bertemu dekat, di luar VIP Party itu, mungkin harus dengan keberuntungan. Alias kebetulan bertemu pemain saat sedang jalan-jalan di Beijing. Carmelo Anthony, bintang utama Nuggets, sempat jalan sendiri di sebuah pertokoan di kawasan super-ramai Wangfujing. Bruce Bowen, mantan bintang San Antonio Spurs yang ikut jadi bintang tamu even ini, sempat terlihat di kawasan belanja barang palsu di Yashow.

Ada sekitar 500-an undangan di VIP Party tersebut. Hebatnya, hampir semua petinggi NBA ada di sana. Oleh Scott Levy dan Ed Winkle, petinggi utama di NBA Asia, kami sempat diajak bicara langsung dengan bos tertinggi liga tersebut, sang commissioner, David Stern.

Rupanya, kerja sama NBA dan DBL ini cukup menjadi buah bibir. Kalangan NBA, mulai petinggi-petinggi di kantor pusat New York sampai NBA Korea dan Japan sering memuji kehebohan-kehebohan kegiatan yang diselenggarakan di Surabaya.

Malam itu, semua orang tampaknya memang ingin bertemu dan berfoto dengan Stern, yang sudah 25 tahun memimpin NBA. Sang bos sendiri tidak terlihat seperti yang sering muncul di media. Malam itu dia seolah sulit senyum. Usut punya usut, pria 67 tahun itu sedang kelelahan. “Dia baru datang dari NBA Games di London (Inggris, Red). Lalu langsung terbang jauh ke sini dan disambut berbagai kesibukan. Kalau tidak dijaga, dia bisa kolaps,” kata Ed Winkle.

Para pemain Nuggets dan Pacers semua memang datang, sempat diperkenalkan di atas panggung. Tapi tidak semua stay lama. Ada yang sejam, ada yang 20 menit sudah pulang begitu rangkaian “wajib” berakhir.

Granger datang bersama pasangannya, Dionna. Dasar aslinya pemalu, dia lebih sering mojok sibuk sendiri di ruang pesta sekitar 2.000 meter per segi itu. Begitu semua pemain hadir, tentu saja dia orang pertama yang saya cari. Tidak mudah juga, karena dia tampak menghindari perhatian dan “sembunyi” sambil main telepon di belakang speaker, di pinggir panggung. Begitu saya panggil, senyum lebar langsung muncul di wajahnya. “Azrul, how are you?” sapanya.

Terus terang, itu bikin saya lega. Karena itu berarti dia ingat saya, he he he. Maklum, setelah pulang dari Indonesia Agustus 2008 lalu, karirnya langsung meroket. Dia masuk All-Star dan sekarang jadi salah satu superstar NBA. Wajahnya (plus merchandise-nya) saat ini bertebaran di mana-mana di Beijing!

Granger bukan hanya ingat saya. Si pendiam ini terus senyum lebar setiap bertemu personel DBL yang lain. “Kalau sempat datang ke Indiana, hubungi saya ya. Kalau mau nonton nanti saya urus,” ucapnya. Kami pun ngobrol urusan keluarga dan lain-lain. Sebelum dia pergi, saya juga sempat bertanya, apa target barunya sekarang.

Pemain yang baru meneken kontrak lima tahun bernilai Rp 640 miliar itu bilang: “Mengantarkan Indiana masuk playoff.” Dari DBL, tentu saja saya berharap keinginan itu terwujud. Sukses Granger merupakan sukses DBL dan Indonesia pula. Bagaimana pun, dialah yang “membuka” jalan bagi pemain lain untuk datang ke Indonesia. (*)

Birdman Paling Populer

DANNY Granger dan Carmelo Anthony merupakan dua pemain paling top yang hadir di Beijing. Plus jenderal lapangan senior Nuggets, Chauncey Billups. Tapi, soal sambutan, ada satu lagi pesaing. Dia adalah Chris Andersen, forward Nuggets. Pemain kulit putih 208 cm ini memang punya gaya khas. Badannya penuh tato, rambutnya selalu di-gel sampai berdiri. Gaya bermainnya penuh semangat. Pernah dihukum tak boleh main selama dua tahun karena narkoba, Andersen sekarang sedang luar biasa di Nuggets.

Orang-orang memanggilnya “Birdman.” Di Jepang, dia disebut juga sebagai “White Dennis Rodman.” Maksudnya, versi kulit putih dari pemain bergaya brutal yang pernah membela Chicago Bulls pada 1990-an lalu. Saat VIP Party NBA Games 2009 di Beijing, Andersen termasuk paling banyak diajak berfoto. Meski dia sebenarnya juga paling mau diajak foto-foto (dan termasuk yang pulang terakhir).

Saat pertandingan, setiap kali dia masuk lapangan, ribuan penonton langsung menyambutnya dengan tepukan tangan meriah. “Waktu di Taipei, dia disambut lebih heboh daripada Carmelo Anthony,” kata Ed Winkle, petinggi NBA Asia. (aza)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s