Ketika SMP Lebih MAU dari Profesional

Catatan Azrul Ananda, Commissioner DBL

14 agustus 2008

DBL_SMP_Santa_Agnes_Metro

SAYA sudah menyaksikan langsung begitu banyak pertandingan basket. Antar-sekolah, profesional, antar-negara, di Indonesia, di Amerika Serikat, maupun di negara-negara lain.

 

 

Final putra SMP Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2008 Minggu lalu, antara SMP Santa Agnes Surabaya melawan SMP Mutiara Bunda Sidoarjo, merupakan salah satu yang paling dahsyat yang pernah saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Mungkin yang paling dahsyat.

Pertandingan itu membuktikan bahwa kehebatan tidak mengenal umur, tinggi badan, dan kemampuan. Umur anak-anak itu mungkin hanya 13-15 tahun. Tinggi badan rata-rata tak sampai 160 cm. Kemampuan rata-rata masih sangat jauh dari kelas profesional.

Tapi anak-anak Santa Agnes dan Mutiara Bunda (dan anak-anak peserta DBL SMP) lain mungkin punya hati –dan nyali— lebih besar dari mereka-mereka yang sudah dewasa, yang mengklaim diri sebagai ”profesional.”

***
Bagi ribuan yang menyaksikan langsung pertandingan final putra itu, Anda mungkin masih membicarakan betapa serunya duel tersebut. Kalah atau menang, pertandingan itu pasti meninggalkan kesan.

Bagi yang tidak menyaksikannya secara langsung, wow, Anda kehilangan kesempatan untuk terpukau, terhibur, dan –yang terpenting— terinspirasi.
Pertandingan itu benar-benar ketat, tat, tat, tat. Bikin hati dag dig dug deg dog. Bikin tangan gemetaran, ran, ran, ran.

Saya akan mencoba mendeskripsikan serunya pertandingan itu, tapi menonton sendiri tentu jauh lebih menggetarkan.

Babak pertama (2 x 20 menit bersih) pertandingan itu memang belum sengit. SMP Mutiara Bunda unggul sembilan angka, 25-16. Tiga kali mereka memasukkan tembakan tiga angka secara meyakinkan. Efraim Tolego (nomor 15), Raka Pandam (10), dan Karra Sugianto (17) bergantian menembak mulus tanpa menyentuh bibir ring. Setiap kali tembakan itu masuk, jantung para pendukung Santa Agnes mungkin nge-drop sampai ke lantai tribun.

Ketinggalan jauh tidak membuat Santa Agnes gentar. Secara individual, skill para pemain Mutiara Bunda tampaknya lebih unggul. Dribble-nya lebih meyakinkan, shooting-nya lebih mantap. Tapi anak-anak Santa Agnes melawannya dengan kerja keras dan kemauan (willpower).

Setiap bola dikejar, setiap rebound diperebutkan, setiap tembakan dicoba ditahan. Anak-anak yang sehari-hari terlihat imut-imut dan lucu-lucu itu jadi begitu “beringas” (dalam arti positif) di lapangan.

Anak kembar Santa Agnes, Mingharto (nomor 4) dan Cungharto (nomor 8) Sugianto merupakan spark plug (busi) mesin tim ini. Michael Deivi Intan (nomor 7) merupakan pistonnya.

Ketika pertandingan tersisa 12 menit, poin pun imbang, 36-36. Ketika itu terjadi, dan Santa Agnes sempat unggul, sepertinya ombak momentum telah berbalik. Biasanya, sulit bagi sebuah tim –sekelas apa pun— untuk kembali bangkit setelah “disalip” seperti itu.

Tapi tidak. Mental anak-anak Mutiara Bunda benar-benar kuat. Mereka mampu membalas ketinggalan, menyalip sedikit, mengimbangi lagi, dan begitu terus sampai detik-detik akhir pertandingan.

Bayangkan. DUA BELAS MENIT bersih poin hampir selalu imbang! Di tingkat profesional dunia pun hal seperti itu belum tentu bisa terjadi.

Dalam hati, saya benar-benar kagum pada anak-anak Santa Agnes dan Mutiara Bunda. Saya saja belum tentu punya keteguhan hati (dan energi) untuk bermain dengan tekanan sebesar itu. Bahkan Michael Jordan sendirian saja mungkin tidak sanggup.

Ini secara kolektif. Kedua tim sama-sama punya kemauan untuk tidak kalah. Lari ke sana, lari ke sini. Kejar ke sana. Kejar ke sini. Jatuh. Bangun. Jatuh lagi. Bangun lagi.

Pada menit-menit akhir itu, tenaga mereka mungkin sama-sama sudah habis. Tinggal modal kemauan untuk tidak kalah.

Entah apa yang ada di pikiran pelatih kedua tim, Benny Imawan di Santa Agnes dan Abdul Malik di Mutiara Bunda, pada menit-menit akhir itu. Bagaimana bisa mereka menyampaikan strategi rumit kepada anak-anak yang usianya masih begitu belia. Bagaimana bisa mereka meminta agar segala strategi diterapkan secara presisi, bila secara kemampuan anak-anak itu juga masih begitu pemula.

Saya yakin hanya modal kemauan.

Anak-anak itu MAU untuk menang. MAU melakukan apa saja untuk menang. Dan mereka MAU melakukannya dalam segala batas sportivitas.

Tanyakan kepada atlet-atlet profesional. Cabang olahraga apa pun. Punyakah mereka rasa MAU seperti anak-anak itu? Terus berjuang meski tebing yang didaki begitu terjal, laut yang diseberangi begitu luas, dan tembok yang ditembus begitu tebal?

***

Namanya juga pertandingan. Harus ada yang menang. Harus ada yang kalah. Belasan detik pertandingan itu adalah kuncinya.

Dengan hanya belasan detik tersisa (sekitar 18 detik), skor imbang 49-49. Usai time out, bola ada di tangan Mutiara Bunda. Saat inbound (umpan ke dalam) itulah, Anandre Forastero dari Santa Agnes berhasil mencuri bola (steal). Dia lantas berlari ke arah ring lawan, mencetak dua poin penentu saat waktu hanya tersisa 12 detik. Ditambah free throwDevago Dwijanto saat waktu habis, pertandingan pun berakhir 52-49 untuk Santa Agnes.

Andai ini laga profesional, steal itu mungkin tidak akan terjadi. Para pemain akan mencoba bermain safe. Yang penting lawan tidak skor, lalu mencoba memenangkan pertandingan lewat perpanjangan waktu.

Bagi pemain profesional, steal tergolong gambling. Kalau pas jadi pahlawan. Kalau gagal bisa berbalik menjadi foul, memberi hadiah lawan free throw yang bisa memenangkan pertandingan.

Dasar anak SMP, apalagi dalam pertandingan sesengit itu, pokoknya ada kesempatan akan dimakan!

Perjuangan dan ending itulah yang membuat pertandingan ini termasuk yang paling berkesan dalam hidup saya. Jauh lebih mendebarkan, lebih menghibur, lebih inspiratif daripada menonton langsung pertandingan-pertandingan NBA. Lebih seru dari pertandingan Team USA yang saya tonton di Macau beberapa waktu lalu.

Lebih asyik melihat Efraim, Raka, Karra, Mingharto, Cungharto, dan Michael daripada melihat LeBron James, Kobe Bryant, dan Dwyane Wade di Team USA.

Mengapa? Karena para pemain Team USA adalah mimpi. Kalau pertandingan profesional atau kelas dunia itu seru, maka itu sudah seharusnya. Mereka lahir berbakat dan dibayar superbesar untuk itu. Justru kita yang harus marah-marah kalau para pemain profesional tidak bermain ngotot di lapangan. Dibayar
kok loyo!

Sebaliknya, anak-anak SMP itu real. Mereka telah menunjukkan, bahwa dengan MAU dan kerja keras, mereka bisa melakukan sesuatu jauh di atas kemampuan masing-masing. Beyond the limit. Apa saja bisa dijalani dan dicapai. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s