Lapangan Basket Standar NBA, Papan Tulis Canggih Rp 45 Juta

nblindonesia.com – 05/11/2010

Belajar & Bertanding Bersama DBL All-Star di Seattle (2)
keramik_school

Pada hari kedua di Seattle, tim DBL Indonesia All- Star 2010 berlatih dan ikut masuk kelas di sebuah sekolah yang mengagumkan: Glacier Peak High School. Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL.

Glacier Peak High School (GPHS), sebuah SMA negeri di Kota Snohomish (pinggiran Seattle), menjadi tuan rumah bagi anak-anak Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010 Selasa lalu (2/11 atau kemarin WIB).

Selama sehari, 12 pemain putra dan 12 pemain putri dari berbagai penjuru Indonesia itu berlatih, bermain, sekaligus merasakan masuk kelas di sekolah yang memiliki 1.500 siswa tersebut.

Selama sehari pula, para pemain (dan para pelatih) terkagum-kagum atas komplet dan canggihnya fasilitas SMA di Amerika Serikat. Pun, GPHS merupakan salah satu contoh yang paling modern karena baru dibangun sekitar tiga tahun lalu.

Tiba di GPHS pukul 08.00, rombongan DBL Indonesia All-Star langsung disambut Jim Dean, sang kepala sekolah

Pagi itu, jadwalnya latihan dulu bersama para pelatih basket GPHS selama dua jam. Tim putra bersama Brian Hunter, head coach tim putra GPHS Grizzlies. Tim putri bersama Brian Hill, head coach tim putri GPHS.

Meski tergolong sekolah baru, prestasi tim basket (putra) GPHS cukup menggila. Pada musim 2009–2010, mereka mencapai peringkat keempat di seluruh Negara Bagian Washington. Center tim sekolah tersebut, Payton Pervier yang bertinggi badan 218 cm, memegang rekor blok. Tepatnya me – ngeblok tembakan lawan sebanyak 24 kali dalam empat pertandingan!

Begitu melihat fasilitas latihan GPHS, mulut para pemain DBL Indonesia All-Star beserta seluruh pelatih dan ofisial langsung menganga. Ada dua gymnasium di sekolah tersebut. Di atas, secara horizontal ada satu lapangan penuh. Lalu, kalau vertikal, ada dua lapangan berukuran kecil. Total, ada enam ring. Plus ada tribun bergerak yang menampung sekitar 500 orang. Kalau tidak dibutuhkan –dan latihan memakai dua lapangan kecil–, tribun itu secara elektronik merapat dan melipat menjadi dinding.

Di bawah, gym utama bisa disetting beberapa macam. Untuk pertandingan resmi, ada satu lapangan penuh di tengah. Di kanan-kirinya, ada tribun bergerak yang total bisa menampung hampir 2.000 orang. Ketika tribun ditarik menjadi dinding, bisa dipakai dua lapangan penuh yang paralel dengan lapangan utama (sehingga ada tiga lapangan yang menyatu ala diagram Venn).

Ketika butuh dua lapangan penuh, dari langit-langit bagian tengah bisa diturunkan tirai pemisah hingga lantai.

Itu belum apa-apa. Lapangannya (di kedua gym) terbuat dari kayu terbaik berstandar NBA. ”Lapangan itu spring loaded. Dasarnya beton, lalu ada lapisan karet tebal, lapisan plywood, baru lapisan kayu utama sehingga memiliki pantulan ideal,” jelas Jim Dean.

Ketika para pemain berkumpul di gym utama, Hunter langsung melakukan dril lari dan layup satu lapangan penuh. Kru DBL Indonesia dan pelatih sempat bingung. Sebab, anak-anak sama sekali tidak diberi kesempatan pemanasan.

Ternyata, Hunter mengira kami sudah melakukan pemanasan saat ganti pakaian di ruang ganti atau sebelum latihan dimulai.

Kebiasaan anak-anak di AS memang beda dengan Indonesia. Kalau kita, sering pemanasan baru dilakukan setelah berkumpul dengan pelatih. Di AS (dan sebenarnya di negara lain yang basketnya maju, seperti Australia), pemanasan merupakan tanggung jawab setiap pemain. Berada di lapangan bersama pelatih menandakan pemain sudah siap langsung tancap gas untuk latihan, tanpa buang waktu lagi buat pemanasan.

”Pemanasan tanggung jawab individual. Kalau kita hanya punya waktu dua jam, ya harus maksimal dua jam latihan. Jangan buang waktu sampai setengah jam hanya untuk pemanasan,” tegas Hunter.

Hunter dan Hill pun meng hentikan sesaat dril. Mereka memberikan waktu lima menit kepada anak-anak DBL All-Star untuk pemanasan.

Selama hampir dua jam (termasuk pemanasan), anak-anak DBL Indonesia All-Star menjalani latihan ala anak-anak SMA di GPHS. Ketika diskusi dengan pelatih-pelatih DBL All-Star, disimpulkan sebenarnya di mana-mana latihan basket sama. Tapi, di AS, latihan basket lebih menekankan terus running dan membawa bola. Sedangkan di Australia, lebih banyak penekanan fundamental.

Menurut Hunter, mau tak mau pihaknya memang harus memberikan banyak dril permainan. ”Ketika musim basket dimulai, kami bertanding dua sampai tiga kali sepekan. Latihan hanya empat kali sepekan. Jadi, kami harus berkonsentrasi pada latihan permainan. Terus terang, kami berharap bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk penguatan fundamental,” ungkapnya.

Di AS, terang Hunter, ada tiga liga SMA yang diikuti semua. Yang pertama dikhususkan freshman alias kelas IX (di sini setara dengan kelas tiga SMP). Lalu, ada tingkat utama varsity (terbaik di sekolah). Di tengah, ada junior varsity (JV, untuk lapis kedua). ”Pemain JV bisa naik turun ke varsity dan balik, bergantung performanya sedang baik atau menurun,” katanya.

Di tiap-tiap liga itu, tim SMA bermain minimal 20 kali. ”Kalau terus lolos ke tingkat negara bagian dan jadi juara, tim bermain total 30 kali. Kami musim lalu main 28 kali,” jelas Hunter.

***

Setelah latihan pagi, anak-anak DBL All-Star mandi dan berganti pakaian. Mereka kemudian dipertemukan dengan pemain-pemain basket GPHS. Setiap pemain putri DBL dipasangkan dengan pemain putri GPHS. Pemain putra berpasangan dengan pemain putra.

Setelah itu, pemain DBL mengikuti jadwal pemain pasangannya. Kalau waktu makan siang, ya makan siang. Kalau kelas matematika, ya kelas matematika. Pokok nya, selain makan siang, pemain DBL All-Star harus ikut tiga sesi kelas.

Itu pengalaman yang mungkin belum pernah dirasakan oleh tim basket muda lain dari Indonesia. Benar-benar ikut belajar bersama anak Amerika di sekolah Amerika.

Karena jadwal setiap orang beda, pengalaman yang didapat pun beda-beda. Ketika ditanya siapa punya pengalaman paling ”aneh”, hampir semua mengacungkan tangan.

Teuku Rahmat Iqbal, pemain dari SMAN 9 Banda Aceh, misalnya. Dia ikut pemain GPHS Tanner Southard. Sesudah makan siang sesi pertama, ternyata Southard ikut kelas entrepreneurship. Artinya, pukul 12.30 dia harus bekerja saat makan siang sesi kedua, melayani pembelian pizza, makanan ringan, dan minuman.

Iqbal pun ikut berjualan pizza dan melayani para pembeli!

Linda Wijaya, pemain dari SMA Santu Petrus Pontianak, ikut Olivia Van Dlac. Kelas yang diikuti? Salah satunya kelas ceramics. Sesuai dengan nama, di kelas seni tersebut dia ikut membuat hiasan-hiasan porselen.

Yang langsung kena ujian juga ada. Misalnya, Inggrid Tri Rachmadianty (SMAN 1 Baleendah, Ban dung), yang harus pusing menjawab soal-soal sports medicine. Sementara itu, tantangan untuk Muhammad Rizal Falconi dari SMAN 7 Pontianak lebih ringan. Sebab, dia bisa menjawab dengan mudah soal-soal matematika (dan membantu pasangannya!).

Kelas olahraga (physical education) juga ada. Edi Hidayat dari SMA Trinitas Bandung main sepak bola indoor dan sukses mencetak gol. Indri Hapsari Djohan main bulu tangkis.

Tidak ketinggalan ikut masuk kelas adalah Hanifah Alde Abdillah (SMP Dapena Surabaya) dan Rangga Mandalah Putra (SMAN 1 Surabaya). Mereka berdua dapat berkah ikut rombongan DBL Indonesia All-Star 2010 di Seattle setelah memenangi kuis SMS Telkom Flexi sebagai partner resmi DBL.

Mereka ikut kakak beradik Alfie Ruscoe dan Dina Ludgii Pao yang bisa berbahasa Indonesia. Ruscoe dan Pao adalah anak Nanik Trickey, ibu dari Indonesia yang kini menetap di Seattle dan ikut kepengurusan Seattle-Surabaya Sister City Association.

Pengalaman tersebut benarbenar membuat senang anakanak DBL All-Star. ”Pertama-tama bingung. Kok, ada kelas seperti itu. Tapi, banyak teman di kelas yang membantu. Jadi tahu rasanya belajar gaya Amerika. Lebih santai dan seru. Tidak membosankan,” ucap Linda.

GPHS memang sangat komplet. Semua jenis kelas ada di situ. Bahkan, di kelas shop (kerja pertu kangan), sudah ada peralatan canggih computer aided design/manufacturing (CAD/CAM). Pelajar SMA bisa mendesain komponen pesawat di computer. Lalu, mesin merealisasikan desain itu dan membuat komponen berbentuk tiga dimensi.

”Standar peralatan kami sama dengan yang dipakai Boeing,” kata Dean.

Di setiap kelas pun, ada papan tulis canggih (smart board), masing- masing seharga sekitar USD 5.000 (sekitar Rp 45 juta). Dengan papan tulis itu, kita bisa menulis tanpa tinta, tapi bisa menulis dan menghapus seperti menggunakan whiteboard biasa.

Di layar yang sama, tampilan internet dan video bisa disuguhkan, layaknya pada monitor komputer. Juga aplikasi belajar yang lain. ”Misalnya, kalau ada anak yang tidak tahan darah sehingga tidak bisa ikut praktikum membedah katak, dia bisa belajar melakukannya di papan pintar itu. Membedah katak secara digital,” jelas Dean.

Cerita unik lain, Rizky Lyandra, pemain dari SMAN 2 Banjarmasin, dapat kelas biologi saat pendampingan dan membedah katak beneran!

Smart board itu juga nyambung ke kamera di atas meja kerja guru. Jadi, kalau guru menulis di kertas, murid bisa langsung melihat tulisan tersebut di layar pintar.

”Di sekolah ini, hampir tidak ada yang tidak bisa dilakukan untuk membantu proses belajar mengajar. Ketika pembuatannya, segala desain dipastikan untuk itu,” papar Dean.

Pantas sekolah itu dibangun mahal sekali. ”Biaya total pembangunannya sekitar USD 90 juta (Rp 810 miliar, Red),” ungkap sang kepala sekolah yang ramah.

Semua itu bikin geleng-geleng kepala para pelatih DBL All-Star. ”Kalau caranya begini, jangankan mengalahkan anak-anak Amerika, untuk menyamai saja, anak-anak Indonesia rasanya tidak mungkin…” gumam Budi Santoso, coach manager DBL All-Star dari SMA Petra 5 Surabaya.

Yang bikin anak-anak dan pelatih DBL All-Star makin iri, tidak perlu bayar sepeser pun untuk bersekolah di GPHS. Seperti SMA negeri lain di Amerika Serikat, pendidikan memang gratis. Yang penting, orang tuanya bayar pajak. Ya, gratis! Termasuk, peminjaman buku-buku pelajaran dan segala perlengkapan olahraga!

Seorang pelatih DBL All-Star bilang, di Bogor ada sekolah yang SPP-nya Rp 4,5 juta sebulan. Tapi, fasilitasnya masih jauh di bawah GPHS! (bersambung/tulisan ini dibantu M. Aziz Hasibuan)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s