Mengapa DBL?

Oleh: Azrul Ananda

(Tulisan ini dimuat di Jawa Pos pada Sabtu 17 Juli 2004)

Mengapa DetEksi Basketball League alias DBL? harus digelar? Apa gunanya buat para peserta, yang jumlahnya mencapai 95 tim, melibatkan lebih dari 2.500 anak SMA di Surabaya dan sekitarnya?

Pertama karena prestasi Indonesia dalam hal bola basket sangat memprihatinkan. Bahkan, di Asia Tenggara pun belum masuk hitungan. Ha ha ha..

Kedua, karena di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula. Ho ho ho…

Ketiga, untuk mengisi liburan sekolah, biar anak-anak tidak melakukan hal-hal yang negatif. Hi hi hi…

***

Bukan, bukan itu tujuan utama digelarnya DBL?. Ketiga alasan di atas baik semua, dan kalau itu digunakan untuk menjawab pertanyaan PPKn, Anda bakal mendapat nilai sepuluh.

Alasan dilangsungkannya basket antarsekolah ini tidak semuluk itu. Ya, mungkin nantinya sampai ke sana. Tapi itu jauuuuuuuuuh di sana.

Alasannya tidak tinggi di langit, melainkan rendah di tanah. Ketika technical meeting dulu, saya selalu ingatkan bahwaDBL? ini juga bukan hanya untuk menang-menangan, bukan hanya untuk jaga gengsi antarsekolah.

Hebatnya pertandingan bukan selling point. Pemain bintang bukanlah tontonan utama. Banyaknya penonton, juga tidak penting. Bahkan, saya dan kru DetEksi yang lain (yang hebat-hebat) sudah memikirkan bahwa tidak ada penonton justru lebih baik. Karena tanpa penonton, semua pertandingan (yang jumlahnya ratusan) bisa berjalan lebih lancar dan cepat.

Apa yang penting? Fun dan experience. Tidak muluk-muluk. Karena kalau targetnya jauh di langit, orang jadi memikirkan betapa jauhnya jarak yang memisahkan, dan itu membuat mereka enggan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk ke puncak.

Kalau targetnya rendah di darat. Makin banyak orang bisa mencobanya. Dan, semakin banyak orang bisa merasakannya, nantinya semakin banyak pula yang tahu-tahu sudah sampai di langit.

***

Jujur saja, idenya dari Amerika, sudah dipendam sejak lama. Betapa enaknya jadi anak SMA di sana. Pertandingan antarsekolahnya berlangsung konsisten dengan arah yang jelas. Tidak ada gangguan pihak-pihak “profesional,” yang justru bisa membuat kompetisi tidak berkembang, bahkan rusak. Benar-benar anak SMA lawan anak SMA, dengan dukungan penuh dari sekolah dan keluarga.

Bukan hanya itu. Jurnalis sekolah pun aktif di sana. Kebetulan, saya bukan atlit. Waktu SMA di Ellinwood, Kansas, dulu, saya fotografer sekolah. Asyik (fun) sekali rasanya (experience), jadi fotografer tim basket yang ikut keliling mengunjungi sekolah atau kota lawan.

Makanya, di DBL?, ratusan wartawan sekolah yang ikut berlomba memegang peranan penting. Merekalah yang menjadikan ajang ini sebagai media event. Bukan sekadar pertandingan antarsekolah (lagi pula, berapa banyak sih media beneran yang mau meliput turnamen antarsekolah? Jawa Pos saja belum tentu!).

Bayangkan nanti, kalau ada puluhan fotografer sekolah berdiri di belakang ring, memotret berbarengan pemain yang akan melakukan layup. Seperti NBA bukan?

***

Satu lagi. Dan, saya akui ini agak muluk. Tapi ini bukan target langsung DBL?, melainkan target jangka panjangnya.

Pernahkah Anda berpikir, seperti apa Surabaya lima sampai sepuluh tahun lagi? Seperti apakah interaksi antarmasyarakatnya, lima sampai sepuluh tahun lagi?

Sekarang, kelompok orang tertentu tinggal di kawasan tertentu. Kelompok lainnya terpusat di kawasan yang lain. Sekelompok anak dan kelompok tertentu itu, disekolahkan di sekolah tertentu di kawasan tertentu. Sedangkan sekelompok anak dari kelompok yang lain, disekolahkan di sekolah yang lain di kawasan yang lain pula.

Dari SD sampai SMA, bahkan perguruan tinggi, mereka nyaris tak pernah berinteraksi. Menurut saya, ini lebih dari sekadar kesenjangan ekonomi. Dan, kesenjangan ini bisa mengerikan di masa mendatang.

Orang tua anak itu mungkin memang punya opini tertentu (bisa miring dan mencibir) kepada kalangan yang berbeda. Dan sebaliknya. Tapi, apakah anaknya punya opini yang sama? I don’t think so.

Nah, DBL? (dan ajang DetEksi lain seperti DetEksi Party dan DetEksi Mading Championship) bisa menjadi jembatannya.

Kapan lagi ribuan anak dari puluhan sekolah (hampir ratusan) berkumpul dan bertemu di tempat yang sama? Kapan lagi mereka berkompetisi di ajang yang sama?

Tak banyak kesempatan untuk itu. Tak banyak kesempatan untuk saling mengenal, saling menyayang.
Tapi, itu semua jauuuuuuuuh di masa mendatang. Sekarang, mulai pembukaan DBL? sore ini. Yang penting having fun dan experience dulu saja. (*)

sumber : http://www.dblindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s