Mengunjungi Pusat Grosir tanpa Ujung di Yiwu, Tiongkok (1)

Minggu, 21 Okt 2007
Butuh Dua Bulan untuk Mengunjungi Semua Toko
Di Tiongkok, ada pusat perbelanjaan yang seolah tanpa ujung. Saking panjang dan besar, mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk mengunjungi semua toko yang ada di dalamnya. Berikut catatan AZRUL ANANDA, wartawan Jawa Pos yang baru kembali dari Tiongkok.
———-

Kancing baju yang Anda pakai. Ritsluiting pada celana atau koper. Karet gelang pembungkus makanan. Korek api. Tas dan dompet wanita. Bola basket hingga kelereng. Kacamata murah. Gantungan kunci. Miniatur plastik David Beckham. Pulpen. Dasi. Lampu rumah. Aneka mainan. Juga besi pengait pada (maaf) bra wanita.

Kalau semua itu datang dari Tiongkok, atau bertulisan Made in China, besar kemungkinan dibuat di Provinsi Zhejiang. Didapatkannya dari Yiwu (baca: I-U), sebuah kota sekitar 100 km di selatan Hangzhou.

Tahun ini enam kali sudah saya terbang ke Tiongkok. Beberapa kali saya mendengar orang cerita betapa dahsyatnya Yiwu. Semua barang ada di sana, kata mereka. Harganya luar biasa murah, kata mereka. Mal di sana lebih besar dari besar, kata mereka.

Saya juga pernah baca, mal itu berisi lebih dari 30 ribu toko. Jadi, kalau ingin mengunjungi semua toko yang ada di dalamnya satu per satu, masing-masing satu menit, sehari delapan jam, kita bakal membutuhkan waktu minimal dua bulan untuk “menamatkan” mal tersebut.

Akhir pekan lalu saya memutuskan pergi ke sana, mengajak teman-teman DetEksi Jawa Pos yang baru saja mengikuti NBA China Games di Shanghai.

Semula sempat bingung pula mau ke sana naik apa. Dulu saya pernah diajak ke Hangzhou. Waktu itu butuh tiga jam naik mobil dari Shanghai. Kalau Yiwu berada di selatan lagi, mungkin perlu empat jam naik mobil.

Apalagi, ini Tiongkok. Segala kemampuan yang saya dapatkan setelah SMA dan kuliah tujuh tahun di Amerika Serikat mungkin tidak ada gunanya. Lupakan bahasa Inggris, lupakan alfabet, halo bahasa ikan dan isyarat.

Tapi, ternyata, ke Yiwu tidak sesulit yang dibayangkan. Bahkan, hanya 119 yuan atau sekitar Rp 150 ribu per orang bisa pergi secara mewah dan tanpa banyak memakan waktu.

Sekarang saya merasakan hebatnya revolusi kereta api yang sedang berlangsung di Tiongkok. Sudah setahun ini ada Shanghai Nanzhan alias Shanghai South Station. Stasiun kereta api itu supermewah. Terbungkus kaca di mana-mana serta travelator dan eskalator di mana-mana. Megah dan mewah meski masih terdengar “huek, cuh!” beberapa kali di beberapa sudut.

Bandara Shanghai jelas kalah, Bandara Beijing jelas kalah, kebanyakan bandara top di mana-mana kalah megah.

Dengan 119 yuan per orang, kita bisa naik CRH (China Railway High-speed). Sesuai namanya, itu kereta kecepatan tinggi. Dalam waktu 2 jam dan 15 menit, dengan kecepatan mencapai 203 km/jam, kita bisa mencapai Yiwu dari Shanghai. Sehari ada beberapa kali keberangkatan, pagi hingga sore.

Waktu itu kami memilih kereta pukul 07.25. Jadwal sampai di Yiwu pukul 09.40. Kereta itu berhenti tiga kali sebelum sampai Yiwu, salah satu di antaranya di Hangzhou.

Naik CRH itu yang dahsyat bukan kecepatannya, tapi kemewahan di dalamnya. Tempat duduknya seperti naik penerbangan internasional kelas economy deluxe. Joknya bak di pesawat, bisa dimundurkan dengan meja lipat di depan. Ada juga set kursi yang berhadap-hadapan dengan meja di tengah. Layar televisi ada di dalam setiap gerbong. “Pramugari” berdandan begitu rapi dengan blazer dan topi.

Bawa laptop, jangan takut kehabisan baterai. Ada “colokan” listrik di sisi setiap kursi. Pesawat, eh, kereta sangat mulus. Lumayan membantu saya mengerjakan sejumlah rencana naskah yang menumpuk dalam seminggu terakhir.

Kalau lapar, ada gerbong restoran yang begitu mewah, menyediakan aneka makanan dan minuman. Dengan harga yang normal, bukan harga luar angkasa seperti di kebanyakan bandara Indonesia. Toilet? Bagi yang trauma dengan kondisi toilet di Tiongkok, jangan khawatir. Bersih seperti di pesawat.

Di Yiwu, kami mendarat, eh, tiba di stasiun yang baru diresmikan setahun lalu. Dari sana, kami langsung naik bus nomor 801 menuju The China Yiwu International Trade City, mal raksasa yang dimaksud itu. Biaya naik bus hanya 1 yuan (Rp 1.250) per orang. Begitu sampai di mal tersebut, bus itu berhenti tiga kali. Di depan, tengah, dan belakang.

Kami memutuskan turun di ujung paling belakang. Mal itu terdiri atas dua bangunan superpanjang. Bangunan pertama blok A sampai E, bangunan kedua F sampai H.

Terus terang, kami tidak masuk dari pintu paling ujung, jung, jung, tapi cukup di ujung. Masih di blok H, tapi di pintu nomor 67 (ada sekitar 70 pintu masuk).

Masuk ke dalam. Suasana tidak ramai, mai, mai seperti kebanyakan mal dan pusat grosir yang saya kenali. Malah tergolong lengang. Di blok H itu, di luar ada petunjuk. Lantai satu untuk kacamata, lantai dua sports goods, lantai tiga stationery, dan lantai empat kosmetik.

Karena saya penghobi sports dan baru saja mengikuti NBA China Games, kami naik ke lantai dua. Begitu melihatnya dan keliling beberapa menit, saya merasa gula darah saya drop. Mungkin karena pagi hanya makan dua bakpao di kereta. Tapi, mungkin juga karena saya tidak habis pikir, betapa dahsyatnya mal yang satu ini.

Yang pertama ada di pikiran saya, “Ini lebih dahsyat daripada yang saya bayangkan dan ekspektasi saya sudah tinggi.” Yang kedua ada di pikiran saya, “Ya ampun, bagaimana Indonesia bisa kompetitif?” (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s