Mengunjungi Pusat Grosir tanpa Ujung di Yiwu, Tiongkok (2)

Senin, 22 Okt 2007,
Hanya Satu-Dua Penjaga, Duduk di Depan Komputer
Siapkan sepatu jalan yang nyaman, tanpa terlalu banyak aksesori bergelantungan. Karena di mal tanpa ujung di Yiwu, Anda bakal berjalan berjam-jam. Berikut catatan AZRUL ANANDA, wartawan Jawa Pos yang baru kembali dari Tiongkok.

Mengunjungi The China Yiwu International Trade City merupakan sebuah tantangan fisik. Pusat grosir itu benar-benar seperti tak punya ujung. Dan, jangan punya harapan muluk bisa mengunjungi semua blok atau toko di dalamnya. Jangankan semua, dalam sehari, sepuluh persen saja mungkin tidak tercapai. Jalan ke semua blok saja belum tentu bisa dilakukan.

Kan sudah ada hitungannya. Kalau ingin mengunjungi semua dari 30 ribuan toko di dalamnya, masing-masing satu menit, delapan jam dalam sehari, Anda akan butuh dua bulan untuk “menamatkan” Trade City tersebut.

Di antara dua bangunan superpanjang yang membentuknya, yang paling menantang kekuatan jalan adalah bangunan kedua. Blok F sampai H. Ada bagian yang empat lantai, ada yang lima lantai.

Bangunan kedua itu merupakan yang terbaru. Ketika saya dan rekan-rekan DetEksi Jawa Pos masuk dari dekat ujung Blok H, kesan yang didapat bukan seperti pusat grosir di Indonesia yang supersibuk. Kesannya luas dan tenang. Jalannya lebar-lebar, dengan lapisan keramik yang rapi.

Berbagai barang bisa didapatkan di Trade City ini. Di Blok H itu, lantai pertama full jualan kacamata. Ya, kacamata-kacamata plastik murah yang Anda beli di pinggir jalan atau pertokoan di Indonesia sangat mungkin dulunya “dikulak” di Yiwu.

Lantai dua penuh dengan penjual sporting goods. Aneka ragam bola, mulai basket sampai kelereng, aneka raket, tali skipping, peralatan fitness, dan lain-lain ada di sana. Lantai tiga adalah stationery, mulai pulpen, notebook, dan sebagainya. Sedangkan lantai empat penuh dengan produk kosmetik.

Toko-tokonya berukuran standar, kira-kira 2 x 3 meter. Ada yang lebih besar, bergantung berapa kavling yang disewa atau dibeli. Hampir semua punya pola penjualan sama.

Masing-masing toko biasanya hanya dijaga satu atau dua orang. Setiap toko punya meja, hampir semua dilengkapi komputer. Karena tak banyak pengunjung, para penjaga biasanya duduk-duduk di depan layar komputer. Toko-toko itu tidak dipenuhi barang seperti pusat grosir di Indonesia. Bahkan, masing-masing barang hanya ada satu buah.

Kalau kita tertarik membeli, mereka akan memberikan quotation. Berapa jumlah barang yang Anda pesan menentukan harga akhirnya. Kalau mau beli satu-satu, mereka biasanya akan menolak.

Namun, ada trik yang bisa dilakukan untuk mendapatkan barang yang diidamkan. Bilang saja tertarik ingin order, tapi butuh barang sample. Jangan terburu-buru, pura-pura saja menanyakan harga berbagai barang, lalu pura-pura tawar-menawar jumlah pesanan dan harga barang per buah. Butuh waktu, tapi biasanya berhasil.

Pakai bahasa apa? Tenang. Banyak penjaga stan di Trade City itu bisa bahasa Inggris. Tidak bisa diajak ngobrol banyak, tapi cukup untuk negosiasi harga dan jumlah. Kalaupun kerepotan, selalu ada bahasa lain yang lebih efektif: Bahasa kalkulator dan tulisan angka di kertas.

Yiwu memang tidak butuh jualan eceran. Trade City itu melayani penjualan berbagai industri yang tersebar di Provinsi Zhejiang. Provinsi itu memang luar biasa, membuat berbagai produk yang kita miliki dan sehari-hari kita gunakan.

Seperempat sepatu Made in China dibuat di provinsi ini, tepatnya di Kota Wenzhou. Kota Wuyi menghasilkan satu miliar kartu permainan per tahun. Sepertiga kaus kaki di dunia dibuat di Datang. Sebanyak 350 juta payung diproduksi di Songxia setiap tahun.

Bukan hanya itu. Hobi main pingpong? Sangat mungkin paddle (bat) Anda dibuat di Shangguan. Pulpen Anda dibuat di Fenshui. Sebanyak 40 persen dasi di dunia diproduksi di Shengzhou.

Sekarang perhatikan kancing baju Anda. Mungkin itu dibuat di Qiatou, sebuah kota kecil dengan penduduk hanya 64 ribu orang. Menurut catatan, sampai 70 persen kancing baju di Tiongkok dibuat di kota itu.

Dari Blok H, kami berjalan ke arah Blok G. Blok ini yang mungkin paling disuka wanita penghobi shopping. Kenapa? Lantai pertama penuh dengan tas dan dompet!

Terus terang, saya dan rekan-rekan tidak mengelilingi semua toko di bagian ini. Tapi, bagi penggemar tas-tas bermerek yang palsu, mungkin di sini bukan tempatnya. Di sini bahan, model, dan jenisnya luar biasa bervariasi, namun banyak yang tidak bermerek atau merek lokal.

Masuk akal juga sih. Kita bisa beli banyak di sini, lalu pasang merek sendiri. Saya sempat melihat toko dompet yang menjual merek Eropa palsu. Waktu di Tianjin, saya tahu harganya sekitar 60 yuan atau Rp 75 ribu. Di Indonesia, saya tahu harganya sekitar Rp 150 ribu. Berapa harganya di Yiwu? Hanya 30 yuan atau Rp 37.500 per buah. Itu belum ditawar. Tapi, kita memang tak boleh beli satu atau dua. Kata sang penjaga toko, pesanan minimum 200 buah.

Ada juga beberapa toko yang berjualan barang satuan, mungkin sampel yang sudah tak lagi dibutuhkan. Harganya cukup murah, ada satu kotak tas -yang menurut saya lumayan bagus- dijual hanya 20 yuan (Rp 25 ribu) per buah. Tas-tas itu, ketika sampai di Indonesia, harganya pasti di atas Rp 150 ribuan.

Blok G ini mungkin cocok juga untuk pasangan. Yang wanita nyangkut di bawah melihat tas, yang pria bisa ke lantai atas untuk melihat-lihat alat-alat komunikasi, jam dinding, jam tangan, dan berbagai perangkat elektronik.

Tahu jam tangan harga Rp 50 ribuan yang kita lihat di mal-mal Indonesia? Mungkin dipesannya dari lantai dua Blok G Trade City Yiwu ini.

Tak terasa, tiga jam lebih berlalu sejak kami tiba di Trade City ini. Meski dipotong makan siang, dengan kecepatan seperti ini, kita tak mungkin bisa sampai ujung sebelum petang.

Apesnya, ketika keliling melihat-lihat di Blok G, ternyata kita berjalan salah arah. Bukannya menuju ke Blok F, ternyata kita malah berjalan kembali ke Blok H!

Begitu banyaknya toko dan jalan di Trade City, kita memang bisa tersesat dengan mudah. Apalagi, toko-tokonya tidak dihias seperti di Indonesia. Semua terlihat sama, apalagi dalam satu lantai kebanyakan menjual barang yang sama.

Sejak saat itu targetnya bukan lagi melihat-lihat barang di dalam Trade City. Targetnya adalah berjalan menuju Blok A, menamatkan Trade City ini sebelum pukul lima sore. Sebab, pukul 18.45 kita sudah harus naik kereta lagi kembali ke Shanghai. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s