Penggemar Batman Itu Ternyata Paling Takut Kelelawar

27-Aug-2008

DBL_Danny_Granger2

Di Balik Layar: Danny Granger dan Even Resmi Pertama NBA di Indonesia (1)

Liga basket paling bergengsi di dunia, NBA, baru saja menyelenggarakan even resminya di Indonesia.

 

Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DetEksi Basketball League (DBL), host acara bersejarah yang dibintangi oleh Danny Granger tersebut.

Mimpi itu telah menjadi kenyataan. Untuk kali pertama dalam sejarah, Indonesia dikunjungi oleh liga basket paling bergengsi di dunia, National Basketball Association (NBA).

Akhir pekan lalu top scorer Indiana Pacers, Danny Granger, berkunjung ke Surabaya. Sabtu lalu (23/8) dia menghadiri final liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2008, wilayah Jawa Timur.

Sehari kemudian (24/8) pemain 25 tahun itu tampil di NBA Basketball Clinic. Dia memberikan materi latihan fundamental basket kepada para pemain tim-tim juara Honda DBL 2008, yang datang dari sepuluh provinsi di Indonesia.

Sebagai tuan rumah, kedatangan Granger tentu memberi pressure besar bagi saya dan teman-teman di DBL. Selama ini kami memang berupaya menyuguhkan kompetisi seprofesional mungkin. Baik dalam hal regulasi maupun presentasi di lapangan. Tapi, belum pernah kami merasakan pressure sebesar ini, menyelenggarakan even resmi pertama NBA di Indonesia.

Berbagai kekhawatiran ada di kepala kami semua. Apakah kami cukup profesional untuk NBA? Apakah kami punya sumber daya cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya?

Meski melakukan investasi cukup besar untuk sebuah liga basket pelajar, apa yang kami keluarkan masih shoe-string(kecil) bila dibandingkan dengan beberapa liga lain. Kami mengatasinya dengan kemauan dan kerja keras (saya beruntung punya the hardest working crew).

Selain itu, kami punya kekhawatiran. Apakah Danny Granger ”orang yang baik.” Sebab, sejak DetEksi Jawa Pos(halaman anak muda di Jawa Pos yang menjadi basis DBL) kali pertama terbit pada 2000 lalu), kami sudah sangat sering menyelenggarakan even yang melibatkan selebriti. Indonesia maupun luar negeri. Kami bukanlah event organizer, jadi kami melakukan sendiri semua kebutuhan even-even tersebut.

Kadang, para selebriti itu bukanlah orang yang gampang diajak bekerja sama. Minta ruang ganti berkarpet mahallah. Minta spaghetti dan ikan bawallah. Minta inilah. Itulah. Dan sebagainya.

Tim NBA Asia sudah mengingatkan kami soal kemungkinan-kemungkinan itu. Kadang ada pemain yang malas melakukan apa saja. Tidak ramah. Jadi, kami harus siap dengan segala situasi. Apalagi, kalau pemain itu datang dengan teman-teman mainnya. Ulahnya bisa macam-macam di luar acara.

Memang, nama Danny Granger belum melambung tinggi seperti para bintang Team USA yang baru saja meraih emas di Olimpiade Beijing. Namun, jangan pernah meremehkan. Granger sudah di ambang batas menjadi superstar sejati. Setelah tiga tahun di NBA, dia sudah menjadi top scorer. Tidak mudah meraih rata-rata 19,6 poin per pertandingan. Apalagi di liga seperti NBA.

Di Amerika, pengamat basket sudah heboh membicarakan berapa nilai kontrak Granger berikutnya. Kepada saya, saat wawancara khusus Jumat malam lalu (22/8), Granger mengaku bakal meneken kontrak lima tahun. Nilainya antara USD 50 juta hingga USD 70 juta. Berarti, rata-rata lebih dari USD 10 juta per musim (Rp 93 miliar). Dan itu angka seorang All-Star NBA.

Beruntunglah kami. Danny Granger jauh dari kata merepotkan. Dia benar-benar cocok untuk menjadi bintang tamu di DBL, yang punya filosofi dan komitmen kuat terhadap karakter pemain. Dari badannya saja sebenarnya sudah kelihatan. Di badan 206 cm-nya tidak terlihat ada tato. Tingkah lakunya juga sopan. Baik saat acara maupun di luar acara.

Soal tidak merepotkan itu, Granger mengaku memang bisa mengatur diri sendiri. ”Sebagian atlet diaturkan segalanya oleh agen. Ada manajer ini dan itu. Saya tidak butuh. Saya bisa mengurus diri saya sendiri,” tandasnya.

Granger mungkin memang tidak butuh aneh-aneh. Dari beberapa hari bersamanya, kelihatan kalau dia itu bukan seorang traveller. Dia itu anak rumahan.

Bukan hanya tidak aneh-aneh, Granger juga sangat alami dalam membawakan diri. Misalnya, waktu bertemu tamu-tamu VIP DBL di Surabaya, Jumat malam (22/8) setelah baru tiba dari Amerika pagi harinya. Sangat lelah dan jet lag, Granger tetap melayani semua permintaan foto dan tanda tangan. Dia tidak minta cepat-cepat istirahat, meski dalam hati mungkin bilang ingin cepat tidur.

Ketika mengunjungi Panti Asuhan Darrul Mushthofa di kawasan Surabaya Barat, Granger juga terlihat sangat natural. Begitu datang, tanpa diminta dia langsung menggendong anak-anak yang menyambutnya.

Setelah bertemu pengurus yayasan, kepada saya Granger bertanya pelan, ”Boleh nggak saya memberi donasi (pribadi)?” Ketika dijawab boleh, dia langsung menoleh ke arah tunangannya, Dionna. Tunangan yang sudah bersamanya sejak kuliah di University of New Mexico itu lantas memberikan sejumlah uang dolar AS.

Diumpani uang, Granger langsung sadar diri. Dia menyembunyikan sejumlah uang itu di dalam genggaman tangannya yang besar. Baru setelah semua berhenti berbicara dan sorotan kamera beralih ke yang lain, dia menyerahkan donasi tersebut.

***

Dionna (baca: Diana) merupakan sosok yang sangat penting bagi Granger. Bila banyak atlet top suka ganti-ganti pasangan, keduanya sudah bersama sejak kuliah.

Sekarang mereka tinggal bersama di rumah Granger, bersama ayah Granger (Danny Granger Senior) dan seekor anjing bulldog bernama Bentley (umur hampir tiga tahun).

Kalau lagi musim NBA, mereka tinggal di Indianapolis, Indiana. Kalau musim libur, keduanya di Albuquerque, kota di negara bagian New Mexico tempat mereka bertemu. Kadang, mereka tinggal di apartemen sewaan di Los Angeles.

Granger bercerita, seharusnya mereka menikah Agustus tahun ini. Hanya jadwal yang tidak memungkinkan untuk melakukan pesta seperti yang diinginkan. Termasuk di antaranya harus terbang ke Indonesia untuk tampil di Surabaya.

Pernikahan itu pun ditunda setahun. ”Kami akan menikah 18 Agustus tahun depan,” kata Granger, saat makan malam perpisahan, Minggu malam lalu (24/8) di Palimanan Surabaya.

Mendengar itu, Dionna yang duduk di sebelahnya langsung menyela. ”Salah honey, kita akan menikah 8 Agustus. Dia memang selalu salah sebut,” ujar Dionna yang waktu kuliah belajar untuk jadi seorang guru.

Dionna menjelaskan, soal pilihan bulan memang sulit. ”Kalau sedang musim NBA, pasti tidak mungkin. Jadi, kami hanya bisa menikah di saat offseason,” ungkap Dionna.

Selama beberapa hari di Surabaya, Dionna memang terlihat sebagai yang lebih dewasa, yang menenangkan Granger. Paling lucu waktu makan malam perpisahan itu.

Di ruang VIP restoran yang menghadap padang golf itu, tiba-tiba ada seekor kelelawar kecil menyelinap masuk. Granger sontak melompat dari kursinya, menyandarkan kepala ke bahu Dionna. Dia benar-benar ketakutan!

”Apakah itu kelelawar? Itu kelelawar atau burung? Apakah itu vampire? Apakah itu akan menggigit? Vampire menggigit lho!” ucapnya dengan nada ketakutan.

Tentu saja semua yang duduk semeja dengan Granger tertawa. Dia terus menempelkan kepala di pundak Dionna sampai kelelawar itu keluar dari ruangan lewat pintu yang dibuka.

Tidak lama kemudian Granger terus terang mengaku paling takut dengan kelelawar. Ironis, karena sore harinya, dalam jumpa pers setelah NBA Basketball Clinic di DBL Arena, dia menyebut The Dark Knight (film Batman terbaru) sebagai film favoritnya saat ini.

Saking senangnya dia pada film itu, dia juga menyebut mendiang Heath Ledger, pemeran Joker di The Dark Knight, sebagai aktor favoritnya saat ini. ”Hidup atau mati, saya berharap dia nanti bisa mendapatkan Oscar,” kata Granger.(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s