Setahun Hanya Rp 325 Ribu, Termasuk Dokter Gigi Gratis

nblindonesia.com – 06/11/2010

Ikut Belajar dan Bertanding bersama DBL Indonesia All-Star di Seattle (4)
500-1

Cari kegiatan di luar sekolah? Tidak punya banyak uang? Cukup datang ke Rainier Vista Boys & Girls Club. Tempat DBL Indonesia All-Star 2010 berlatih dan bertanding di Seattle. Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL.

Alangkah indahnya bila format Boys & Girls Club di Amerika Serikat juga tersedia di seluruh Indonesia. Anak-anak –mulai TK sampai SMA– bisa punya tempat untuk bermain dan belajar yang komplet, tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Pada Kamis dan Jumat (4-5 November), tim Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010 berlatih dan bertanding di Rainier Vista Boys & Girls Club. Sambil menjalani latihan, tim yang ber anggota pemain-pemain SMA ter baik kompetisi Honda DBL 2010 itu mendapatkan banyak wawasan ba ru tentang kepedulian sosial di negeri Paman Sam. Boys & Girls Club merupakan fasilitas yang tersebar di kota-kota besar di seluruh AS. Biasanya di kawasankawasan yang kondisi ekonominya rendah.

Di tempat itu, anak-anak TK sampai SMA bisa menjalani berbagai aktivitas, dapat makan malam gratis, dapat guru les gratis, tanpa harus mengeluarkan banyak duit.

Rainier Vista Boys & Girls Club merupakan salah satu di antaranya, terletak di bagian selatan Seattle. Total, ada 12 Boys & Girls Club di King County, yang meli puti empat kota (termasuk Seattle).

Kamis pagi (4/11) sebelum ber – latih, tim DBL Indonesia All-Star dapatturfasilitasolehCrystalBrown, 26, salah seorang mana jer di Rainier Vista Boys & Girls Club.

”Kami punya sekitar 500 anak yang menjadi anggota di sini. Untukbisamemakaiseluruhfasi litas, mereka hanya perlu membayar USD 36 (sekitar Rp 325 ribu, Red) setahun,” ungkap Brown.

Dari luar, bangunannya tampak sederhana. ”Kotak” biasa, seper ti kebanyakan bangunan di AS. Tapi, fasilitas di dalamnya sangatlah komplet. Yang paling terlihat dulu adalah lapangan basket.

Total, ada dua lapangan full size di situ. Kalau dibutuhkan, dua lapangan penuh itu bisa dialihfungsikan menjadi empat lapangan pendek. Jadi, total ada delapan ring basket di berbagai sisi (termasuk dua di tengah yang bisa dilipat ke atap). Untuk anak-anak kecil, beberapa ring bisa diturunkan menjadi sangat rendah.

Lapangannya? Standar banget. Kayu memantul berkualitas tertinggi. Di atasnya, sering dilakukan aktivitas olahraga lain.

Di luar itu, ada beberapa ruang bermain yang sangat disukai anak-anak. Tersedia meja pingpong, meja biliar, plus mejameja permainan lain. Lalu, ada ruang makan luas dan dapur komplet. ”Setiap malam, kami menyediakan makan malam gratis untuk anak-anak yang jadi member. Gratis,” ujar Brown.

Di lantai dasar itu, ada pula studio televisi dan studio rekaman. ”Anak-anak suka datang ke sini dan merekam CD sendiri,” katanya.

Fasilitas terakhir di lantai dasar: sebuah kantin yang menjual makanan dan minuman untuk se mua pengunjung. ”Kantin ini dikelola sendiri oleh anak-anak. Mereka datang ke sini sepulang dari sekolah, lalu memasak dan jual an. Lumayan, mereka bisa dapat penghasilan ekstra,” papar Brown.

Naik ke atas, fasilitas pendidikan lengkap tersedia. Ada dua ruang kelas besar, plus ruang seni (menggambar, melukis, dan lain-lain), tempat anak-anak bisa belajar dan mengerjakan tugas sepulang dari sekolah. Kalau mereka kesulitan belajar, di sana selalu tersedia tutor-tutor yang siap membantu. Sekali lagi, semua gratis.

”Kami sering kedatangan tamu untuk klinik bersama anak-anak. Misalnya melukis, bahkan barongsai. Yang barongsai itu sangat disukai anak-anak,” tutur Brown. ”Semua tutor dan orang yang datang adalah relawan,” tambahnya.

Di atas, terdapat sebuah ruang dokter gigi. Ya, hanya dengan Rp 325 ribu setahun, fasilitas perawatan giginya gratis! Ini sesuatu yang luar biasa di AS. Di negara ini, tarif pelayanan dokter gigi supermahal (cabut gigi bisa lebih dari USD 1.000!).

***

Rainier Vista Boys & Girls Club tidaklah dibangun dengan murah. Menurut Crystal Brown, biaya pembangunannya USD 13 juta atau sekitar Rp 117 miliar.

Tentu saja, uang member tidaklah cukup untuk menjalankan operasi fasilitas lengkap itu. ”Kami mendapatkan uang dari para donatur, anggaran pemerintah, dan bantuan-bantuan lain,” ungkap Brown.

Bantuan pun tidak hanya berbentuk uang. Bola-bola bas ket yang digunakan di sana juga barang sumbangan. Kebetulan, pemilik merek bola Baden adalah orang Seattle. Kebetulan pula, anak sang pemilik dilatih bas ket oleh Jerry Petty, athletic director (direktur olahraga) di Rainier Vista Boys & Girls Club.

”Dia (pemilik Baden, Red) yang menyumbang semua bola di sini,” kata Petty. Petty, 32, merupakan sosok le gendaris di kalangan basket Negara Bagian Washington. Dia dulu salah seorang pemain SMA terbaik dan pernah terpi lih sebagai defensive player of the year (pemain bertahan terbaik) di seluruh negara bagian. Karirnya di NCAA (liga mahasiswa kondang) juga hebat, jadi bintang di University of Nevada.

Lulus kuliah, dia langsung men – dedikasikan diri untuk melatih anak-anak muda di kawasan Seattle. Meski demikian, dia punya koneksi kuat di NBA. Ber te – man baik dengan bintang-bin tang seperti Brandon Roy (Portland Trail Blazers), Nate Ro binson (Boston Celtics), dan Jamal Crawford (Atlanta Hawks). Juga seluruh bintang asal Seattle, yang kalau musim libur suka ikut latihan di Rainier Vista Boys & Girls Club.

Petty pula yang Kamis pagi lalu memberikan materi latihan untuk anak-anak DBL Indonesia All-Star. Materi yang dia berikan merupakan materima teri fundamental. Misalnya, dribbling, shooting, dan posisiposisi defensive.

Pagi itu anak-anak DBL All-Star juga ditemukan dengan Steve Gordon, chief advisor tim NBA Portland Trail Blazers. Gordon memberikan materi khusus, yaitu trik-trik canggih yang digunakan bintang-bintang NBA saat bertanding. Termasuk trik-trik mengelabui wasit!

***

Setelah dapat tur di Rainier Vista Boys & Girls Club, saya jadi berpikir (sedih). Seandainya di Indonesia ada banyak fasilitas seperti ini, anak-anak bu kan hanya jadi lebih sibuk. Me reka bisa mengembangkan kemampuan ke tingkat yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya.

Kamis pagi itu anak-anak DBL All-Star bertemu dengan dua anak kecil. Lenon Fitdler, kelas 5 SD, dan Xaeon Franklin, kelas 4 SD. Keduanya sudah begitu jago main basket. Kemampuan fundamental dribbling dan shooting mereka bikin gelenggeleng kepala.

Itu mungkin terjadi karena, meski dari keluarga tidak mampu, mereka punya tempat yang lengkap untuk mengembangkan kemampuan!

Dampak lain adalah ongkos sosial. Kalau kita keluar uang un tuk membangun fasilitas seperti ini di sebuah kantong masyarakat yang tidak mampu, dampaknya mungkin bernilai jauh lebih tinggi.

Pertimbangannya klise saja. Anak-anak jadi sibuk, jauh dari kegiatan-kegiatan yang bukan hanya merugikan diri sendiri, ta pi juga merugikan banyak orang.

Data dari Rainier Vista membuk tikan hal tersebut. Para member mereka 75 persen datang dari keluarga single parent. Sebanyak 90 persen berasal dari keluarga kurang mampu. Banyak di antara mereka juga korban kekerasan di rumah.

Bayangkan akibatnya kalau anak-anak itu tidak punya tempat untuk menyibukkan diri. Sangat mengerikan bukan?

Cara berpikirnya sama de ngan DepartemenOlahragadan Rekreasi di Australia. Waktu di Perth, saya belajar bahwa departemen itu tidak perlu memikirkan prestasi atlet. Hanya memikirkan kurikulum pendidikan olahraga dan membangun fasilitas-fasili tas olahraga. Tujuannya ”Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”. Sama dengan di Indonesia, yang sayangnya hanya menjadi slogan semata.

Biayanya banyak, tapi dampaknya dahsyat. Kalau masyarakatnya sehat, beban biaya ke sehatan mereka pun lebih rendah. Juga, biaya mengobati orang sakit (dalam jumlah masal) jauh lebih murah daripada memba ngun lapangan berlari atau gedung basket!

Ada yang lain berpikir seperti ini gak ya? (bersambung/tulisan ini dibantu M. Aziz Hasibuan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s