Siang Jual Nasi Goreng, Malam Melatih Basket

10-Jun-2008

12DetEksi Basketball League; Liga Indonesia Pertama yang Bekerja Sama dengan NBA (2)

DetEksi Basketball League (DBL) tidak diselenggarakan di Jakarta. Even ini juga dianggap tidak cocok untuk mencari pemain berbakat beneran.

Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL yang juga wakil direktur Jawa Pos.

DetEksi Basketball League (DBL) telah terselenggara selama lima tahun. Setelah empat tahun fokus di Surabaya dan Jawa Timur, mulai 2008 ini berkembang ke sebelas kota di sepuluh provinsi.

Honda DBL 2008 dibuka Januari lalu di Mataram, berlanjut ke Palembang, Pekanbaru, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, Manado, lalu Maret lalu mengunjungi Semarang dan Jogjakarta.

Baru pada Juli-Agustus nanti, sesuai dengan tradisi sejak 2004, kompetisi diselenggarakan di Jatim. Kali ini di Surabaya plus Malang supaya bisa menampung jumlah peserta yang terus membeludak.

Rencananya, untuk 2009, DBL mengunjungi lebih banyak lagi kota. Kami menyebut pergerakan ini dengan sebutan ”DBL Movement”, menyebarkan konsep Student Athlete ke berbagai penjuru Indonesia. Kami ingin semua daerah merasakan besarnya dampak konsep itu, seperti yang kami rasakan di Jatim.

Harapannya, kelak ”kehidupan basket” yang sehat di daerah-daerah itu bisa tumbuh, bahkan menulari olahraga-olahraga lain.

Setiap kali mengunjungi kota baru, kami memang berusaha untuk tidak menjadi carpet bagger seperti kebanyakan even yang mengklaim diri ”nasional.” Yaitu gelar karpet, raup uang, lalu pulang. Penyelenggara lokal (dalam hal ini koran-koran di bawah Jawa Pos Group) dan Perbasi setempat harus mendapatkan manfaatnya. Khususnya untuk jangka panjang.

Di Surabaya, sebelum ada DBL, jumlah pertandingan per tahun sangatlah sedikit. Pada 2007, menurut Pengcab Perbasi Surabaya, jumlahnya sudah lebih dari 1.000 per tahun. Separonya adalah DBL atau yang berkaitan dengan DBL (ada turnamen-turnamen sekolah yang masuk kalender Road to DBL setiap tahun).

Bukan hanya Perbasi yang diuntungkan. Orang-orang yang hidup dari basket juga merasakan manfaatnya. Di Surabaya, tuntutan pelatih basket semakin tinggi. Bayaran pelatih pun makin lumayan. Kalau terus konsisten, itu semua akan terus meningkat.

Bayangkan kalau setiap kota yang kami kunjungi bisa tumbuh seperti itu. Memang tidak bisa instan. Tapi pelan-pelan tumbuh secara sehat.

***

Dari daftar kota yang sudah disebut di atas, tidak ada Jakarta. Dalam daftar kota lebih panjang yang kami siapkan untuk 2009, juga belum ada Jakarta.
Sejak awal, memang sudah banyak yang menanyakan. Mengapa memilih kota-kota itu? Mengapa tidak ada DBL di Jakarta?

Terus terang, saya tidak punya jawaban pasti. Tapi, saya merasa DBL akan lebih bermanfaat kalau berkembang di luar Jakarta. Sudah banyak yang punya even basket di Jakarta. Nyaris tidak ada yang mau memberikan perhatian –apalagi menyelenggarakan even berkelas– di luar Jawa.

NBA punya program bernama Basketball without Border alias basket tanpa batasan wilayah, mengembangkan basket di negara-negara yang selama ini tidak diperhatikan. Jadi, anggap saja DBL itu Basketball without Border-nya Indonesia.

Memang tidak mudah melakukan itu di daerah-daerah. Bayangkan, punya kompetisi saja jarang. Apalagi dengan standar aturan ketat seperti DBL, yang mengharuskan pemain selalu naik kelas, sedangkan pelatih harus pakai kemeja dan dasi.

Prosesnya juga melelahkan. Kru DBL memang senang luar biasa bisa keliling Indonesia. Kru kami memang masih muda-muda. Usia rata-rata 23 tahun (saya 30 tahun). Selama DBL Movement pertengahan Januari hingga akhir Maret lalu, setiap kru utama mengunjungi minimal empat kota. Padahal, sebelum DBL Movement, ada beberapa kru yang belum pernah naik pesawat sama sekali!

Saya pribadi datang ke semua kota (sembilan), mengikuti mulai technical meeting, pembukaan, hingga final. Ketika dihitung, saya naik 52 penerbangan dalam waktu 76 hari.Kami kadang bercanda bahwa kami bekerja seperti misionaris basket. Bahwa John Naismith (pencipta basket) akan tersenyum melihat kerja keras kami.

Tapi, segala lelah tidak terasa ketika melihat besarnya dampak yang kami bawa ke daerah-daerah tersebut. Di Manado, Honda DBL 2008 adalah kompetisi indoor pertama dalam 12 tahun! Di Makassar, kami disebut sebagai kompetisi paling tertib, sedangkan yang lain hampir selalu diwarnai tawuran. Di Palembang, Honda DBL 2008 adalah kompetisi basket pelajar pertama yang mampu membuat pesertanya menangis!

Kami juga menemui banyak ”pahlawan basket” yang mungkin tidak akan terekspos seandainya tidak dikunjungi even besar. Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, misalnya. Ada seorang pria yang rela meninggalkan  ”enaknya” Jawa untuk membina basket di sana.  Padahal, hidupnya belum tentu sejahtera. Pada siang hari, dia membantu istri berjualan nasi goreng, lalu pada malam hari menjadi pelatih basket untuk anak-anak muda di sana.

Saya yakin, masih banyak lagi pahlawan-pahlawan basket seperti itu di berbagai penjuru Indonesia. Mereka yang melakukannya murni untuk basket, bukan untuk gengsi dan mencari ”cipratan” uang basket.

Saya dan teman-teman di DBL tidak sabar menemui orang-orang seperti itu di tempat-tempat baru.

***

Kritik yang sering didapatkan DBL adalah: Kompetisi ini bukan ajang yang tepat untuk mencari bintang basket. Sebab, karena beratnya aturan umur dan pelajaran, sejumlah pemain berbakat besar tidak bisa berlaga. Selain itu, arah  ajang ini juga tidak jelas. Dari DBL terus ke mana?

Menanggapi itu, saya dan rekan-rekan tidak mau goyah. Mencari pemain berbakat sekarang adalah berpikir jangka pendek. Yang kami inginkan adalah impact jangka panjang.

Kelak, ketika semakin banyak anak sekolah bermain basket, akan semakin banyak pula bakat  baru yang ditemukan. Bahwa bakat yang sekarang tidak tertampung, ya itu nasib.

Yang lebih penting lagi, bakat-bakat baru itu bakal memenuhi standar baru yang selama ini kurang dipedulikan: Bintang-bintang basket yang berkemampuan lebih karena sekolahnya  ”benar.” Jadi, mereka bisa hidup di luar basket.

Tentang arah setelah DBL, memang sekarang belum jelas benar. Di Surabaya, Pengcab Perbasi sudah ”menangkap” para lulusan DBL di ajang antarkampus independen. Kelak, setiap kota akan punya solusi sendiri-sendiri. Atau mungkin ada solusi lain dari kami.

Tapi, yang pasti, kami ingin fokus ke SMA (dan SMP untuk Surabaya dan sekitarnya). Sebab, seperti di negara-negara lain termasuk Amerika Serikat, puncak karir kebanyakan pemain adalah di tingkat SMA. Sedikit yang lanjut ke tingkat kampus, lebih sedikit lagi yang lanjut sampai tingkat profesional.

Karena itu, kami akan mengutamakan yang  ”kebanyakan” itu. Supaya ”puncak karir” mereka tidak diremehkan, terselenggara sebaik-baiknya. Ketika mereka bahagia dan pride, kami pun bahagia dan pride.

Di Surabaya, final DBL diselenggarakan sangat meriah (lihat video-videonya di http://www.deteksibasketball.com). Andai para finalis itu lolos ke jenjang lebih tinggi, belum tentu mereka merasakan kehebohan yang sama.

Dan tahun ini, para juara Honda DBL 2008 akan merasakan kehebohan terdahsyat: Bertemu dengan pemain NBA beneran.

Saya jadi ingat pengalaman pertama saya bertemu pemain NBA… (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s