Tantang Lawan Lebih Besar untuk Belajar Tantangan Hidup

nblindonesia.com – 05/11/2010

Belajar & Bertanding Bersama DBL All-Star di Seattle (3)
assembly_dbl_allstar

Setelah mengunjungi SMA negeri yang ultramodern, Rabu lalu (3/11, Kamis kemarin WIB) tim DBL Indonesia All-Star 2010 menjadi tamu kehormatan di sebuah sekolah swasta elite. Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL dari Seattle.

Rombongan Development Basketball League (DBL) Indonesia All- Star 2010 begitu terkagum-kagum setelah seharian berlatih dan belajar di Glacier Peak High School di kawasan pinggir Seattle Selasa lalu (2/11).

Sekolah negeri yang dibangun tiga tahun lalu itu begitu komplet dan canggih. Padahal, masuk di sana tidak di pungut biaya alias gratis.

Sehari kemudian rombongan pemain dan pelatih SMA pilihan dari kompetisi Honda DBL 2010 itu terkagum-kagum di sekolah yang sangat berbeda di kawasan utara Seattle. Yaitu, di Lakeside High School.

Kalau ingat film-film Barat dan membayangkan seperti apa bangunan sekolahnya, mungkin yang digambarkan itu adalah yang seperti Lakeside ini.

Bangungan-bangunannya klasik dengan dinding bata merah tua. Ornamen-ornamennya pun klasik. Misalnya, papanpapan pengumuman atau informasi dari kayu.

Warna kebesaran sekolah pun sangat klasik. Merah marun dengan kombinasi kuning gelap seperti warna kebangsaan universitas kondang Harvard. Ada pula yang nyeletuk: ’’Seperti di Hogwarts.’’

Setelah berkunjung, memang ditegaskan bahwa Hogwarts, eh, Lakeside itu klasik. Sekolah ini berdiri pada 1919! ’’Ketika terus menjalani renovasi, kami terus berupaya menjaga desain asli gedung ini,’’ kata Than Healy, pimpinan Lakeside.

Karena ini sekolah swasta, tentu saja siswa harus membayar tuisi (uang pendidikan) untuk bisa menimba ilmu di situ. Biayanya tidaklah murah.

’’Biaya setahun sekolah di sini USD 24 ribu (sekitar Rp 216 juta, Red). Tetapi, tidak banyak yang membayar penuh. Kami punya program-program beasiswa untuk mengurangi beban biaya,’’ ungkap Abe Wehmiller, direktur olahraga Lakeside.

Wehmiller menegaskan, Lakeside adalah sekolah yang sangat mengutamakan kemampuan akademis. Sangat sulit diterima masuk di sekolah ini. Selain harus mampu membayar, calon siswa harus mampu bersaing.

’’Tak heran, 99 sampai 100 persen lulusan kami pasti masuk universitas. Bahkan berani menarget sekolah-sekolah sepuluh besar di Amerika,’’ ujarnya.

***

Walau mengutamakan akademis, dalam hal olahraga Lakeside punya reputasi hebat. Datang ke sekolah ini akan langsung mendapatkan kesan tersebut. Sebuah lapangan American football/sepak bola yang ’’mulus’’ menyambut di sisi jalan (1st Avenue NE). Warna rumputnya hijau gelap rapi, tanpa ada sedikit pun bagian yang menguning atau belang.

’’Seperti foto yang di-Photoshop,’’ celetuk salah seorang kru DBL Indonesia yang selalu ikut mendampingi tim.

Usut punya usut, ada alasan kuat mengapa lapangan itu begitu hijau. Ternyata rumput sintetis! Tetapi, kalau diinjak, benar-benar soft, sangat terasa se perti rumput beneran yang lebat.

’’Beberapa tahun lalu kami memutuskan memasang rumput sintetis. Karena setelah musim football berakhir di penghujung tahun, kondisi lapangan menjadi begitu rusak. Butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat kembali hijau dan indah. Jadi kami ganti saja dengan sintetis,’’ tutur Healy.

Total, ada 24 program olahraga di Lakeside. Memasuki musim dingin ini, segera dimulai musim renang (indoor), gulat, basket putra, dan basket putri. Untuk basket, ada dua ruang yang bisa dipakai latihan.

Di basement gedung olahraga ada lapangan sintetis berisi satu lapangan basket normal (horizontal) dan dua lapangan basket pendek (vertikal). Seperti di kebanyakan SMA, ada enam ring basket yang bisa dipakai latihan.

Tim DBL Indonesia All-Star 2010 sempat menggunakan lapangan lantai sintetis (karet) itu untuk latihan Rabu pagi lalu.

Di atas, ada lapangan pertandingan utama. Tidaklah terlalu besar, hanya ada satu sisi tribun yang bisa menampung 500–750 penonton. Menurut Wehmiller (yang bertanggung jawab atas seluruh program olahraga), ketika pertandingan resmi, penonton sampai harus berdiri berdesakan di sisi lapangan. Harga tiket USD 5 per lembar.

’’Gedung kecil ini memberi kami keunggulan saat menjamu lawan. Suasana menjadi sangat riuh, benar-benar menjadi home-court advantage,’’ tandas Wehmiller.

Dengan bangga, Wehmiller mengatakan bahwa Lakeside tampil di liga paling berat di negara bagian Washington. Yaitu, Seattle Metropolitan League, yang terdiri atas sekolah-sekolah terbesar di kota tersebut.

Meski Lakeside tergolong sekolah kecil, mereka tidak gentar. Tim putri mereka pernah lima kali juara negara bagian (State champion, gelar tertinggi SMA di AS). Tim putranya sekali menjadi runner-up.

Bukan pencapaian mudah. ’’Untuk menjadi state champion, harus juara liga, juara distrik, baru dapat kesempatan memburu gelar tertinggi,’’ ucapnya.

Th an Healy menegaskan hal tersebut. Sekolahnya tidak takut menghadapi lawan-lawan besar. Khususnya di Seattle, yang dikenal sebagai kota penghasil banyak bintang basket andal. Beberapa bintang NBA, seperti Nate Robinson (Boston Celtics) dan Brandon Roy (Portland Trail Blazers), berasal dari kota itu. Bahkan, mereka bermain untuk liga yang sama, jadi pernah tampil di gedung kecil Lakeside.

’’Dengan bermain dengan lawan berat, kami memberikan pelajaran hidup penting bagi siswa kami. Bahwa harus berani menghadapi tantangan terberat dan bekerja keras untuk mengalahkan tantangan tersebut,’’ ucapnya.

Semangat itu agak setara dengan misi DBL Indonesia, yang menghadapkan tim All-Star melawan tim-tim muda ’’negara raksasa’’ basket, seperti Australia dan AS. Kalau mau maju, memang harus berani melawan yang jauh lebih tinggi! Hasilnya mungkin tidak segera didapat, tapi sangat mungkin dicapai untuk jangka panjang. Yang penting konsisten.

Tidaklah sederhana bagi Lakeside untuk membangun tim yang baik. Mengingat sekolah itu punya standar akademis yang berat. Linda Wijaya, pemain DBL All-Star asal SMA Santu Petrus Pontianak, bertanya bagaimana sekolah tersebut membangun tim basketnya.

’’Kami berusaha agar punya dua atau tiga pemain basket hebat di setiap tingkat kelas. Lalu, punya beberapa atlet hebat –jago di berbagai olahraga– di kelas yang sama. Dengan begitu, kami bisa membangun tim yang solid,’’ jawab Wehmiller.

Beruntung bagi Lakeside, banyak anak ingin masuk ke situ (atau banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke situ). Mereka juga siap terus mendampingi kebutuhan belajar para pemain.

’’Kami menunjukkan diri sebagai tempat yang baik untuk bermain basket. Kalau ada yang kesulitan meraih nilai baik, kami akan membantu dengan menyediakan tutor khusus. Kalau perlu, satu tutor untuk satu anak,’’ lanjutnya, lantas menjelaskan bahwa Lakeside punya 12 pelatih basket.

***

Rabu itu rombongan DBL Indonesia All-Star 2010 menjadi tamu istimewa. Sesudah shower dan berganti pakaian setelah latihan pagi, anak-anak DBL All-Star didampingkan lagi dengan anak-anak basket Lakeside.

Mereka lantas makan siang bersama. Meski baru kenal, suasana akrab langsung tercipta. Tawa riuh sering terdengar dari meja tempat anak-anak basket itu makan bersama. ’’Remaja di mana-mana sama. Gampang nyambung,’’ kata Healy.

Setelah makan, ada acara istimewa yang disuguhkan Lakeside. Seluruh siswa, 500 lebih, berkumpul di auditorium sekolah. Setiap pekan Lakeside memang punya School Assembly selama 45 menit, yaitu seluruh warga sekolah berkumpul. Kali ini acara itu dipaskan dengan kehadiran tim DBL All-Star.

Dalam Assembly itu selalu ada acara khusus. ’’Biasanya kami mendatangkan pembicara penting atau tokoh penting untuk berbicara di hadapan anak-anak. Kadang mereka juga saling menghibur,’’ jelas Healy.

Ketika DBL All-Star hadir, kelompok orkestra sekolah tampil membuka acara. Lalu, ada penampilan grup acapella sekolah yang kocak. Beberapa siswa bergantian maju di depan panggung, mengumumkan rangkaian program yang bisa diikuti. Termasuk acara sumbang makanan untuk kalangan tidak mampu. Semua dipandu oleh para siswa.

Di tengah acara itu, anak-anak DBL All-Star diperkenalkan kepada seluruh warga sekolah dan disambut dengan aplaus hangat.

Kami pun menjelaskan apa itu DBL Indonesia dan betapa sulitnya menjadi anggota DBL All- Star, yang dipilih dari 24 ribuan peserta kompetisi di 21 kota, 18 provinsi di Indonesia.

Setelah Assembly, anak-anak DBL All-Star tampak begitu senang. Mereka tidak menyangka sebuah SMA bisa membuat acara yang begitu seru. Sama sekali tidak ada kekakuan seperti kebanyakan sekolah di Indonesia. ’’Acaranya lucu. Sederhana, tapi menghibur,’’ kata Yuni Anggraeni dari SMA Tri Tunggal, Semarang.

Dari pihak Lakeside, kehadiran anak-anak DBL All-Star memberikan kesempatan kepada siswanya untuk semakin sadar atas pentingnya globalisasi. ’’Anak-anak kami bisa punya kenalan dengan anak-anak dari negara lain. Sesuai dengan misi sekolah kami untuk menyiapkan siswa yang siap bersaing di tingkat dunia, bukan hanya Amerika,’’ papar Healy.

Lakeside merupakan SMA terakhir yang dikunjungi DBL All-Star selama kunjungan di AS. Setelah itu, tim fokus kelatihan dan latih tanding sebelum pertandingan utama melawan Rainier Select Bulldogs di Rainier Vista Boys & Girls Club, Jumat, 6 November (Sabtu pagi WIB). (bersambung/dibantu M. Aziz Hasibuan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s