Warga Siap Pindah atau Mulai Cari Pekerjaan Lain

nblindonesia.com – 27/02/2011

Sacramento; Ketika Sebuah Kota Terancam Kehilangan Tim NBA (1)
20110226230708-OKE-20110226072250-KINGS-ArcoArenaGantiNama3

Seberapa besar dampak sebuah tim profesional bagi sebuah kota di Amerika? Sacramento, ibu kota California, kini sedang resah karena terancam kehilangan Kings, tim NBA kebanggaan masyarakatnya. Berikut catatan AZRUL ANANDA, yang baru mengunjungi Sacramento.

Banyak yang bilang, punya tim olahraga profesional –apapun ca bangnya– bisa memberikan nilai tambah bagi sebuah kota. Di mana pun kota itu berada, di negara mana pun. Selain memberi nilai ekonomi, juga memberi nilai psikis karena memberi warganya kebanggaan, sekaligus membuat kota tersebut lebih dikenal secara nasional (atau internasional).

Paragraf di atas agak klise. Sebab, tidak mudah menghitung pasti dampak-dampak positif yang dihasilkan. Gampangnya: Pokoknya positif! Selama tim itu mampu meraih sukses dan kondisi keuangan baik (tim maupun kota), tidak ada yang perlu dipusingkan.

Sebaliknya, ketika tim itu terus kalahan, sementara ekonomi kota tidak lagi menggembirakan, gunung pun terancam meletus. Ketika kota –dan masyarakatnya– tidak bisa lagi mendukung penuh, tim lantas merugi.

Ketika tim sudah tidak bisa lagi meraih keindahan, mereka pun harus mencari jalan keluar. Kalau jalan keluar dengan kota tidak bisa lagi didapatkan, mereka pun mencari jalan di luar kota.

Situasi itulah yang kini sedang berlangsung di Sacramento, ibu kota negara bagian California. Mereka terancam kehilangan Kings, tim basket profesional yang tergabung di liga paling bergengsi dunia: National Basketball Association (NBA).

Ketika All-Star di Los Angeles, muncul omongan dari NBA bahwa Kings sedang bersiap pindah ke Anaheim (kawasan Los Angeles), begitu musim 2010-2011 ini berakhir.

Bagi kota lain, masalah seperti itu mungkin bukan masalah besar. Sebab, masih ada tim dari cabang lain yang bertahan. Namun, di Sacramento –yang kawasan metropolitannya berpenduduk sekitar 2,1 juta– ini masalah paling meresahkan. Mendominasi seluruh media setempat, mulai koran, online, radio, televisi, dan lain-lain.

Maklum bila begitu. Sacramento ini termasuk one-horse town. Hanya punya satu andalan: Kings. Tidak ada lagi tim profesional lain. Kalau tak ada Kings, ya tidak ada lagi yang bisa dibanggakan.

Dan kota ini benar-benar kota basket. Buktinya: Yang terpilih sebagai wali kota sangatlah ”basket.” Wali kotanya adalah Kevin Johnson, ”produk lokal” yang pada era 1990-an menjadi salah satu bintang terbesar NBA bersama tim Phoenix Suns.

Bayangkan: Kota yang suka basket, dengan wali kota mantan bintang basket dunia, kehilangan tim basket profesionalnya. Pantas bila situasi jadi resah dan heboh!

Mampir ke Markas Kings

Terus terang, catatan ini termasuk bersifat pribadi. Setelah menonton even NBA All-Star 2011 di Los Angeles, 18–20 Februari lalu, saya menyempatkan diri ”pulang” ke Sacramento, sekitar enam jam naik mobil ke arah utara.

”Pulang,” karena saya dulu tinggal lebih dari lima tahun di Sacramento. Sampai menyelesaikan kuliah di California State University Sacramento di pengujung 1999. Jadi, mumpung sudah jauh, menyempatkan diri dulu bertemu dengan teman-teman lama sebelum balik ke Indonesia.

Ternyata, kehebohan Kings itu yang menyambut. Semua orang membicarakannya.

Tinggal lama di Sac, tentu saya jadi penggemar Sacramento Kings. Sejak masih zaman susah di pertengahan 1990-an (dengan bintang utama Mitch Richmond), lalu zaman jaya di awal 2000-an (Chris Webber dkk), lalu sampai zaman susah lagi beberapa tahun terakhir.

Salah seorang teman baik saya (anak Indonesia) dulu pernah tinggal dengan host family yang bekerja di Arco Arena. Jadi sering banget dapat tiket gratis nonton. Sebagai kenangan tambahan, saya dulu juga wisuda di Arco Arena.

Ketika dalam beberapa tahun terakhir banyak bekerja bersama NBA (sebagai commissioner liga basket pelajar, DBL alias Development Basketball League, dan liga profesional NBL alias National Basketball League Indonesia), channel ke Kings menjadi semakin besar.

Tahu ada kabar Kings bakal pindah, tentu saya jadi ingin berkunjung lagi ke teman-teman yang bekerja di Kings. Bersama Masany Audri, general manager DBL Indonesia, Rabu pagi lalu (23/2) kami mampir ke Arco Arena, yang terletak di kawasan Natomas, di utara Sacramento.

Mumpung sedang tidak ada pertandingan, kami bisa berjam-jam ngobrol dan diberi tur fasilitas yang dibangun pada 1988 tersebut. Termasuk masuk ke dalam locker room (ruang ganti) Kings yang supermewah. Dilengkapi sauna, ruang trainer (pengobatan dan massage), layar-layar televisi besar, serta berbagai fasilitas lain.

Kunjungan ini memberi lebih banyak gambaran tentang situasi yang dihadapi Kings sekarang. Mulai benar atau tidak bakal pindah, sampai status gedung basket yang sudah dianggap ”kuno” oleh NBA tersebut.

Karyawan Resah

Kabar Kings bakal pindah sebenarnya bukan cerita baru. Bertahun-tahun lamanya gosip sudah beredar, tim ini akan pindah ke kota lain. Namun, selama ini, tidak pernah menjadi kenyataan. Selama ini pula, karyawan di Kings tidak terlalu pusing tentang segala gosip tersebut.

Kali ini agak beda. Gosip yang bilang Kings bakal pindah ke Anaheim membuat sejumlah karyawan resah.

Salah seorang teman saya yang bekerja di Maloof Sports and Entertainment (perusahaan yang mendapat lisensi mengelola Kings dari NBA) mengaku sudah siap-siap andai tim tersebut benar-benar pindah.

”Dulu, ketika gosip seperti ini beredar, manajemen selalu memberi penjelasan atau penegasan. Saat ini, tidak ada satu pun yang bicara memberi penjelasan. Karena itu, kami jadi lebih khawatir,” kata teman saya tersebut, yang sudah tujuh tahun ngantor di Arco Arena.

Teman saya itu mengaku siap saja bila harus pindah ke Anaheim. Dia berharap istrinya mau pengertian. ”Tapi terus terang, saya juga sudah mulai cari-cari pekerjaan lain,” akunya.

Tentu saja, teman saya –dan kebanyakan warga Sacramento– tidak ingin Kings pindah. Mereka berharap, segala masalah teratasi. Khususnya soal status gedung, yang menjadi pemicu utama segala masalah yang berbuntut terancam pindahnya tim. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s