Enam Jam Menanjak Lawan Lebah dan Panas 38 Derajat Celsius

20 July, 2012

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (4)

Hari kedua bersepeda di Prancis, siksaan lebih panjang dan berat menyambut. Mencoba menaklukkan Col d’Aubisque, yang masuk top ten tanjakan terberat dalam sejarah Tour de France.

Catatan: AZRUL ANANDA

PEMANDANGAN INDAH: Liem Tjong San dari Makassar bersama Azrul Ananda hanya beberapa kilometer dari puncak Col d’Aubisque.
PEMANDANGAN INDAH: Liem Tjong San dari Makassar bersama Azrul Ananda hanya beberapa kilometer dari puncak Col d’Aubisque.

Sebelum berangkat ikut program Tour de France, rombongan Jawa Pos Cycling tak punya bayangan bahwa rute-rute yang ditawarkan begitu berat. Toh, sehari ‘hanya’ sekitar 60 kilometer. Bagi banyak penghobi sepeda yang ikut, itu merupakan makanan rutin latihan di Indonesian
Tapi, setelah dua hari bersepeda, semua merasa beruntung rute hariannya hanya di kisaran 60 kilometer. Sebab, di Prancis yang utama bukan kuantitasnya, melainkan kualitas ‘siksaan’-nya!

Menaklukkan puncak Col de Marie-Blanque dengan ketinggian 1.035 meter Senin lalu (16/7) sudah memberikan kebanggaan tersendiri. Begitu melelahkan, begitu menyiksa kaki, punggung, dan pikiran.

Luar biasa rasanya bisa mencapai puncak yang tingkat kesulitannya masuk kategori 1 tersebut.
Begitu selesai, kami langsung membayangkan tantangan hari kedua. Lebih tepatnya, seram membayangkan tantangan hari kedua. Sebab, rute yang harus kami hadapi adalah Hors Categorie (HC) alias kategori terberat.

Dan, tanjakan itu tercatat sebagai salah satu di antara sepuluh tanjakan terberat dalam sejarah Tour de France!
Col d’Aubisque namanya, 1.709 meter ketinggiannya. Kalau melihat angka ketinggian itu, memang kesannya tidak mengerikan. Ada teman di Surabaya yang nyeletuk bahwa sebuah tanjakan di Jawa Timur memiliki ketinggian 2.000 meter.

Ya, tapi 2.000 meter itu relatif lurus. Tanjakannya curam, tapi pendek. Kalau di Prancis, ketinggian itu harus dilalui lewat jalan yang melingkar-lingkar atau zig-zag. Jadi, siksaannya jauh lebih panjang.

Ketika mencapai ‘kaki’ tanjakan, kami harus mengayuh sepeda sebetah mungkin sejauh 16,6 km untuk mencapai puncak. SEMUA menanjak, dengan rata-rata kecuraman lebih dari 7%.

Dan, Col d’Aubisque ini sangat legendaris. Nama-nama besar balap sepedalah yang mampu dan pernah memenanginya. ‘Michael Jordan’-nya balap sepeda, Eddy Merckx, pernah menang di sana pada 1969.

Juara Tour de France lima kali, Miguel Indurain, pernah finis duluan di Col d’Aubisque pada 1989. Dan bagi penggemar era sekarang, juara Tour de France 2011 lalu, Cadel Evans, pernah memimpin di sana pada 2005.

Bila data-data di atas bikin merinding, ada juga iming-iming kuat bagi kita untuk mencoba menaklukkan Col d’Aubisque: Rute ini kami lintasi sehari sebelum dipakai oleh para pembalap World Tour.

Pada Rabu (18/7), Col d’Aubisque merupakan bagian dari Etape Ke-16 Tour de France 2012.

Jadi, kami akan melintasi rute yang sama dengan para pembalap. Ketika melintasinya pun, kami akan mengikuti panah-panah atau petunjuk-petunjuk jalan resmi Tour de France!

***

POSE: Rombongan berpose bersama  puncak Col d\'Aubisque,  ketinggian 1.709 meter. //Boy Slamet/Jawa Pos/jpnn

BOY SLAMET/JAWA POS/JPNN

POSE: Rombongan berpose bersama di puncak Col d\’Aubisque, di ketinggian 1.709 meter.

Sebenarnya, kalau menghadapi Col d’Aubisque dengan kondisi fresh, mungkin kami tidak terlalu pusing. Hajar saja, kuat atau tidak urusan nanti.
Seperti sudah disebut, ini menghadapi Col d’Aubisque setelah sehari sebelumnya dihajar Col de Marie-Blanque. Jadi, kami harus naik dua gunung dua hari berturut-turut!

Francois Bernard dan Martin Caujolle, pemandu kami dari Discover France, tampaknya, sadar bahwa kondisi kami sedang ‘hancur’. Jadi, kami tidak bersepeda dari hotel di Pau. Pukul 08.30 pagi kami naik van dulu menuju Gan, sekitar 20 km di selatan Pau. Hari itu kami bersepakat mengenakan seragam jersey SRBC (Surabaya Road Bike Community).

Di Gan, kami menyiapkan sepeda. Dari sana, kami harus mengayuh sepeda sekitar 34 km menuju ‘kaki’ Col d’Aubisque. Setelah itu, baru menjalani menu siksaan utama, 16 km mendaki.

Sebelum berangkat, seperti biasanya, ada safety briefing. Lalu, kami berdoa bersama. Waktu itu kami sama-sama bersepakat untuk ‘damai’ menuju kaki Col d’Aubisque.

Maksudnya, jangan kebut-kebutan, kontrol kecepatan supaya rombongan bisa terus bersama. Kesepakatannya adalah rata-rata 25 km/jam. Ketika yang memimpin di depan melaju terlalu cepat, yang di belakang langsung teriak, “Damai! Damai!” untuk mengingatkan.

Dua puluh kilometer pertama rasanya berat sekali. Kalau mencapai dasar tanjakan saja berat, apalagi tanjakannya nanti! Karena kelelahan, salah seorang anggota kami hari itu memutuskan tidak ikut bersepeda. Tapi, dia tidak bengong karena tetap ikut di dalam van dan menjadi support crew bagi yang bersepeda. Membantu mengisi botol minum dan lain-lain.

Bernard dan Caujolle, dua-duanya cyclist hebat (Caujolle dulu ternyata pembalap semi profesional), tahu bagaimana me-manage energi kami. Setelah 20 kilometer, kami berhenti. Lalu, mereka menyiapkan snack yang pas. Ada buah-buahan dan manisan untuk energi instan, ada kacang-kacangan (almond dll) untuk energi lanjutan.

Ketika mencapai kaki Col d’Aubisque, kami juga berhenti dulu. Mengunyah lagi gel, energy bar, dan memastikan botol minum penuh terisi.
Setelah itu, waktunya habis-habisan. Banyak yang bertekad menuntaskan Col d’Aubisque bagaimana pun kesulitannya. Berapa lama pun waktu yang harus dijalani akan dilakoni. Tidak harus ngebut, yang penting finis!

Empat kilometer pertama relatif nyaman dan konstan. Rata-rata menanjak 4-5%, di bawah pepohonan yang rindang. Mereka yang jago dengan cepat melahapnya. Saya sendiri (kemampuan tengah-tengah) mampu melaju konstan 12-15 km/jam tanpa detak jantung yang berlebihan.

Setelah itu, tanjakan semakin curam, matahari semakin menyengat. Tanjakan mulai 7%, lalu 8%, kemudian 10%. Bahkan, ada satu bagian yang paling curam, sampai 13%.

Sampai di atas, tidak ada semeter pun jalan datar. Semua menanjak paling rendah 7%. Menurut data di panduan, rata-rata tanjakan dari pangkal sampai puncak adalah 7,2%.

Sewaktu ke Col de Marie-Blanque, rata-ratanya tanjakannya ‘hanya’ 4-5%.

Saat itu saya belajar bersabar. Menempel salah seorang jagoan sabar di tanjakan, Khoiri Soetomo, dan mengikuti kecepatan kayuhannya. Putaran kaki kira-kira 40 rpm, dengan kecepatan 6-9 km/jam.

Jagoan tanjakan kelompok kami adalah Bambang Poerniawan. Usianya sudah 57 tahun, tapi dia dikenal sulit dikalahkan di tanjakan mana pun di Indonesia.

Ketika menuju Col d’Aubisque, dia katanya sampai kram empat kali. Sun Hin Tjendra, jagoan tanjakan lain, terus menemani dan membantu. “Dia (Bambang, Red) orangnya bandel dan nekat. Luar biasa. Kram, saya pijat sebentar. Langsung naik sepeda lagi. Seratus meter kemudian kram lagi, tapi tidak mau menyerah,” ungkap Sun Hin, yang berkali-kali menang lomba eksekutif di Jawa Timur.

Semakin tinggi kami mendaki, panas matahari semakin terasa. Temperatur di Garmin (komputer sepeda) saya menunjukkan angka maksimal 38 derajat Celsius!

Memang tidak lembab, jadi rasanya kering terus. Angin dingin pegunungan juga membantu ‘mengelabui’ hawa panas. Namun, sengatan mataharinya maut. Dan kami masing-masing mungkin menghabiskan air lebih dari satu galon menuju puncak.
Tidak hanya panas, lebah dan lalat juga ikut mengganggu. Konsentrasi kami terus terganggu karena harus memukul-mukul bagian badan yang disinggahi lebah.

“Ini agak tidak lazim. Biasanya tidak mengganggu seperti ini. Tapi, kalau bersepedanya lebih cepat, kemungkinan tidak masalah,” ucap Bernard.
Masalahnya, kami tidak mampu bersepeda lebih cepat. Mendengar itu, kami hanya bisa tersenyum kecut.
Pemandangan indah seharusnya bisa menjadi obat lelah. Tapi, itu seharusnya. Kenyataannya, mata kami lebih banyak melihat aspal di bawah. Takut melihat curamnya tanjakan di depan. Kami hanya bisa menikmatinya saat berhenti untuk menenangkan diri. Sesekali menyempatkan diri foto-foto pakai iPhone atau BlackBerry.

Kalaupun ada yang membantu melupakan sakit, mereka adalah ratusan orang yang sudah camping di sepanjang sisi jalan menuju puncak. Mereka sudah menempatkan tenda atau caravan dan akan terus berada di situ sampai Tour de France benar-benar melintasinya pada Rabu siang (18/7).
Melihat kami, dan cyclist yang lain, mereka bersorak-sorak memberikan semangat: “Allez! Allez! Allez!”
Ada pula yang terus membunyikan bel.

Ketika melewati mereka, rasanya seperti menjadi pembalap beneran!

***
Hingga tinggal beberapa kilometer, siksaan makin terasa berat. Apalagi, ketika kurang 2 km, tanjakannya mencapai 10%. Pada kilometer terakhir, masih 8%.

Ada sebuah kafe sekitar 1,5 km dari finis. Meski sudah dekat dan puncak mulai terlihat, kami memilih berhenti dulu di sana. Beberapa sepeda tampak sudah tertata di atas van, pertanda sudah tidak sanggup lagi.

Ketika melanjutkan pada kilometer terakhir, saya memilih berhenti sebelum tikungan terakhir. Rasanya benar-benar berat dan agak seram melihat curamnya tanjakan terakhir sebelum finis. Pak Khoiri menyemangati, bilang ada fotografer menunggu di atas. Dia tancap gas duluan. Saya dan Pak Liem Tjong San dari Makassar menyusul.

Di atas, setelah melewati garis penanda puncak, rasanya legaaaaaa.

Teman-teman yang sudah di atas menyambut dengan tos tangan atau pelukan. Mereka yang finis kemudian juga disambut dengan tos tangan dan pelukan.
Kami bukan pembalap, jadi ini sebuah puncak pencapaian bersepeda. Bahkan, Bambang Poerniawan menyebut ini sebagai pencapaian terbaiknya selama puluhan tahun bersepeda. Dan dia merasa, kemungkinan tidak akan bisa mengulanginya lagi. Bukan karena masalah tak mau pergi ke Prancis lagi.
“Usia saya sudah 57 tahun. Sebentar lagi 60 tahun. Kalaupun ke sini lagi, mungkin sudah tidak cukup kuat untuk mendaki yang seperti ini,” ujarnya.
Bambang bilang, di Jawa Timur yang paling berat itu tanjakan di Cangar, Batu. “Tapi, Cangar tidak ada apa-apanya bila dibadingkan dengan yang ini!” tandasnya.

Total jarak yang kami tempuh memang hanya 50 km. Tapi, kami membutuhkan waktu lebih dari lima jam untuk menyelesaikannya (termasuk berhenti-berhentinya). Komputer saya menunjukkan angka 5 jam 53 menit. Ada yang lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu  hampir tujuh jam.
Tidak masalah karena kami telah menaklukkan tanjakan top ten terberat dalam sejarah Tour de France!
***
Begitu semua berkumpul di puncak, kami berfoto-foto dan makan gaya piknik di bawah sinar matahari. Setelah mencopot helm, kacamata, dan kaus tangan, kami semua terlihat belang-belang terbakar sinar matahari.

Kami pun terus membicarakan betapa beratnya tantangan ini. Lalu membicarakan dan makin mengagumi, betapa hebatnya para pembalap kelas dunia.
Bagi kami, 50 km menuju puncak berat luar biasa. Nah, di Etape Ke-16 Tour de France 2012, para bintang akan melahap Col d’Aubisque hanya sebagai santapan pembuka.

Etape dari Pau ke Bagneres-de-Luchon itu berjarak 197 km. Setelah Col d’Aubisque, para pembalap menghadapi satu lagi tanjakan Hors Categorie yang lebih tinggi, yaitu Col du Tourmalet (2.115 meter). Dan sebelum finis, mereka harus melewati pula dua tanjakan category 1, yaitu Col d’Aspin dan Col de Peyresourde.

Dan mereka mampu menyelesaikan SEMUA itu dalam waktu sekitar ENAM jam! Mengagumkan sekali”. (bersambung)

Read more: http://www.jpnn.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s