Surprise! Juraj Sagan Jadi Guide Naik Gunung Setan

GUIDE KEJUTAN: Yudy Hananta berfoto bersama Juraj Sagan (Cannondale Procycling) di Livermore, sebelum berangkat menuju Mount Diablo, Sabtu (18/05). Juraj Sagan adalah kakak kandung Peter Sagan, salah satu bintang utama cycling dunia. FOTO:Dipta Wahyu/Jawa Pos
GUIDE KEJUTAN: Yudy Hananta berfoto bersama Juraj Sagan (Cannondale Procycling) di Livermore, sebelum berangkat menuju Mount Diablo, Sabtu (18/05). Juraj Sagan adalah kakak kandung Peter Sagan, salah satu bintang utama cycling dunia. FOTO:Dipta Wahyu/Jawa Pos
Kado kejutan didapatkan rombongan Jawa Pos Cycling di Tour of California Sabtu lalu (18/5). Menanjak Mount Diablo, Cannondale menyediakan dua pembalapnya untuk jadi guide. Salah satunya kakak Peter Sagan.

===========================================================
Catatan  AZRUL ANANDA, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU dari Mount Diablo
===========================================================HARI yang paling dinantikan itu akhirnya tiba. Sabtu, 18 Mei, adalah hari yang paling diimpi-impikan (atau paling bikin deg-degan) bagi rombongan Jawa Pos Cycling di event Tour of California 2013.

Mungkin bukan hanya kami yang berdebar-debar. Para pembalap kelas dunia yang mengikuti lomba mungkin juga dag-dig-dug menantikan etape ketujuh hari itu.

Bagaimana tidak. Etape ketujuh itu dijuluki “Queen Stage” alias paling menentukan. Finisnya di tanjakan paling maut lomba: Menanjak Mount Diablo, tak jauh dari Kota Livermore, di California Utara.

Kata “diablo” itu bahasa Spanyol, artinya setan. Secara keseluruhan, ini memang tanjakan seru. Masuk kategori 1, tapi ending-nya bisa tergolong HC (hors categorie) alias kategori yang melebihi segala kategori alias terberat.

Memiliki panjang sekitar 18 km, penanjakan ini memiliki rata-rata kemiringan 5,8 persen. Maksudnya, setiap 1 km jalan, menanjak sampai 58 meter.

Semakin ke puncak, semakin curam. Pada 150 meter terakhir, ada bagian yang mencapai kemiringan 16 persen.

Nah, sebelum para pembalap mendaki Mount Diablo di sore hari, paginya rombongan Jawa Pos Cycling diberi jadwal untuk mendakinya.

Seluruh latihan, seluruh persiapan selama di Indonesia, ditujukan untuk bisa menyelesaikan tantangan Gunung Setan ini…

Dan untuk hari istimewa ini, Cannondale Tours (dioperasikan Duvine Adventure) memberikan kejutan istimewa”

***

Dari Hotel Valencia yang mewah di kawasan Santana Row, San Jose, rombongan bangun pagi pukul 06.00. Pukul 07.30 sudah harus loading semua koper dan berangkat naik dua van ke lokasi start rute di Livermore.

Sabtu itu Cannondale Tours meminta kami mengenakan jersey dan bibshort yang mereka sediakan. Yaitu setelan seragam buatan merek papan atas Sugoi, replika seragam yang dipakai tim balap Cannondale. Warnanya hijau terang menyala, dengan paduan corak hitam, putih, dan biru.

Kami pun bercanda. Kalau tim resminya bernama Cannondale Procycling, kami adalah Cannondale NOT Procycling, impor dari Indonesia.

Tiba di sebuah taman kota di Livermore, kami menyiapkan sepeda dan perlengkapan lain. Suhu udara hari itu diperkirakan cukup hangat, tapi angin dingin bakal menerpa kencang. Jadi, kami pun mengenakan arm warmer, leg warmer.

Lama tidak segera berangkat, ternyata ada alasannya.

Sekitar pukul 09.00, datang sebuah mobil berstiker Cannondale Procycling, dengan dua sepeda SuperSix Evo corak tim terpasang di atas atapnya.

Keluarlah tiga orang. Yang berbaju kasual adalah Rory Mason, salah seorang manajer Cannondale selama di Tour of California. Dua lainnya berbadan kecil dan ramping, dandan lengkap tim balap Cannondale.

Ryan Fowler, salah seorang guide kami, menjelaskan bahwa para pembalap kelas dunia itu adalah guide kejutan bagi rombongan Indonesia. Mereka adalah pembalap Cannondale yang kebetulan tidak diturunkan di Tour of California. Didatangkan untuk menemani kami mendaki Mount Diablo!

Yang pertama adalah pembalap muda tim asal Italia Stefano Agostini, 24. Dia salah satu calon andalan masa depan, mantan juara nasional U-23 di Italia.

Yang kedua punya nama sangat familier bagi penggemar balap sepeda: Juraj Sagan asal Slovakia. Ya, pembalap 24 tahun itu adalah keluarga Sagan. Tepatnya, dia adalah kakak Peter Sagan, salah seorang superstar cycling dunia saat ini.

Wow! Tentu saja para cyclist Indonesia merasa senang bukan kepalang. Kapan lagi bersepeda bareng pembalap kelas dunia, apalagi dipandu untuk menaklukkan salah satu tanjakan paling kondang di California!

Kontan, keberangkatan ke puncak Gunung Setan tertunda lagi. Semua ingin foto-foto dulu dengan para pembalap itu. Khususnya dengan Juraj (baca: Yuray) Sagan.

Pukul 09.30, barulah rombongan berangkat bersama. Hari itu, termasuk menanjak dari sisi selatan dan descent (turun) di sisi utara, kami diperkirakan bakal menempuh jarak sekitar 70 km.

Sebelum berangkat, kami punya pesan sangat penting bagi para guide itu (termasuk lagi Lyne Bessette, mantan juara nasional Kanada): “Tolong selalu ingat bahwa kami bukan pembalap profesional. Yang sabar kalau menanjak bersama, jangan terlalu cepat.

***
Dari Livermore, kami harus menempuh dulu rute rolling di kawasan perbukitan sejauh sekitar 37 km. Juraj Sagan dan Bessette hampir selalu berada di depan, memimpin rombongan beriringan dua-dua. Sesekali Bessette mengizinkan kami memimpin di depan, bersebelahan dengan Juraj Sagan.

Sagan sendiri cenderung pendiam. Bukannya sombong, karena dia selalu ramah. Kata Bessette, mungkin karena kemampuan bahasa Inggris Sagan masih terbatas. Agostini justru lebih proaktif dan sering berbincang dengan rombongan kami.

Tentu saja, ini dijadikan kesempatan untuk tanya-tanya ke mereka. Aris Utama sempat bertanya bagaimana posisi sprint yang paling baik, dan Agostini menunjukkan posisi yang paling ekstrem. Tangan di bagian drop bawah, kepala di depan serendah mungkin, hampir sejajar dengan setir. Dengan bagian pantat menungging tinggi di atas sadel.

Begitu memasuki kaki tanjakan, “perang” pun dimulai. Walau ini bukan balapan, ketika sudah di atas sadel, para cyclist biasanya punya target sendiri-sendiri. Misalnya harus finis duluan. Atau mengalahkan salah satu rekan. Atau tidak ingin jadi juru kunci!

Dengan santai, Juraj Sagan dan Agostini menanjak cepat. Anggota rombongan yang tergolong paling kuat langsung melaju mencoba mengikuti. Sony Hendarto, asal Madiun, ingin melejit duluan “menabung” keunggulan sebelum finis. Khoiri Soetomo dan Liem Tjong San memilih cara “sabar”, menyimpan tenaga dengan harapan menyalipi pesaing yang rontok satu per satu.

“Kunci menaklukkan tanjakan seperti ini memang hanya satu: Sabar,” ucap San, 56, asal Makassar.

Seperti ketika latihan atau touring di Indonesia, Sun Hin Tjendra jadi jagoan. Menjadi anggota rombongan pertama yang mencapai garis akhir. Dia “mengalahkan” Rudi “Oyee” Sudarso selama tiga menit.

Menurut Sun Hin, dirinya mencoba sebisa mungkin membuntuti Sagan dan Agostini. Dia mampu membuntuti hingga 6 km menjelang finis. Setelah itu rontok.

“Mereka kuat sekali. Mereka santai ngobrol berdua. Saya habis-habisan mencoba membuntuti,” aku Sun Hin.

Yang paling apes adalah Slamet dari Madiun. Berada di barisan depan, dia terpaksa DNF (did not finish) karena mechanical (masalah teknis). Sekitar 3 km dari titik ending, pedalnya terlepas dari crank.

Ketika diperbaiki, rombongan sudah selesai dan diajak para guide kembali turun.

Di satu sisi, Slamet merasa penasaran. “Suatu saat harus diulangi lagi,” ucapnya. Di sisi lain, dia tetap puas dengan rute tersebut. “Mount Diablo memang keren. Pemandangannya sangat indah. Selain itu, banyak cyclist bule yang ramah menyapa kita di sepanjang jalan. Tapi, panjangnya memang amit-amit. Bikin capek,” ujar Slamet.

Memang, ribuan orang pagi-siang itu mendaki Mount Diablo. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda. Banyak penggemar balap yang sudah stand by di kanan kiri jalan. Tidak sedikit yang membawa lonceng sapi (cow bell), membunyikannya setiap ada cyclist yang lewat.

Banyak yang berdandan aneh-aneh, seperti dandan ala superhero Captain America. Ada yang menanjak naik sepeda tandem, sepeda fixie, sambil menarik trailer kecil berisi anak balitanya, dan lain-lain.

Sayangnya, yang kami maksud dengan titik akhir bukanlah puncak Gunung Setan. Karena persiapan lomba, jalan ditutup sekitar 2 km sebelum puncak. Hanya kalangan tertentu yang berkaitan dengan lomba yang boleh naik ke puncak.

Di garis akhir itu (total bersepeda 71 km), panitia Tour of California menyediakan kawasan parkir sepeda bagi mereka yang ingin terus menunggu untuk menonton lomba.

Kami sendiri diajak turun. Terus turun melewati sisi utara Mount Diablo. Finis di sebuah kawasan parkir luas di sebuah gereja di Walnut Creek. Kenapa di sana?

Pertama, Cannondale Tours menyiapkan tenda piknik untuk makan siang. Ini sangat penting, karena kami semua sangat lapar.

Kedua, karena di kawasan parkir itulah truk-truk, bus-bus, dan trailer tim peserta Tour of California diparkir. Dan kami diberi tur khusus oleh Rory Mason untuk masuk ke dalam trailer Cannondale Procycling.

Trailer besar ini dibeli Cannondale untuk melayani tim selama mengikuti lomba-lomba di Amerika dan Kanada. Ketika di Tour of California, misalnya, tim ini membawa 8 pembalap serta 12 ofisial dan mekanik. Semua dilayani di dalam trailer ini. Ada kamar mandi, dapur, tempat duduk, plus kompartemen untuk menyimpan sepeda dan perlengkapan lain.

Di sana Mason menunjukkan kepada kami trofi berbentuk beruang, simbol Negara Bagian California. Trofi itu diraih Peter Sagan saat memenangi etape ketiga lomba.

Di sekeliling tampak ada bus besar milik RadioShack-Leopard. Trailer milik Omega Pharma-QuickStep parkir di sebelahnya. Siswo Wardojo termasuk beruntung. Ketika foto-foto di depan bus Garmin-Sharp, seorang staf tim itu keluar dan memberinya hadiah topi!

Sebelum berpisah dengan Juraj Sagan dan Stefano Agostini, para rombongan ramai-ramai minta tanda tangan mereka. Ada yang di jersey, ada yang di sepeda!

Hari itu, tampaknya, bakal menjadi hari yang tidak akan pernah terlupakan”

***

Salah satu keasyikan mengikuti program Tour of California ini adalah hotel-hotel yang menarik. Setelah menginap di Santana Row, San Jose, dari Mount Diablo rombongan diajak kembali ke kawasan di sekitar San Francisco.

Sabtu malam itu rombongan menginap di Cavallo Point, Marine Headlands, di kawasan kaki jembatan Golden Gate, seberang San Francisco.

Hotel ini dulunya markas militer, Fort Baker. Tapi disulap jadi hotel mewah yang trendi plus ramah lingkungan.

Semua perabotnya dari bahan yang ramah lingkungan. Khususnya bambu. Bagian-bagian lain dari bahan yang alami atau hasil daur ulang.

Saat makan malam bersama, Lyne Bessette kembali memberikan brifing tentang jadwal dua hari berikutnya.

Minggu siang (19/5, Senin dini hari tadi WIB), kami dijadwalkan menonton etape terakhir Tour of California 2013, menyaksikan penobatan juara di Santa Rosa. Lalu makan siang dan bersepeda di kawasan indah sekaligus kondang, di Sonoma County.

Kawasan itu adalah kawasan produksi wine yang superkondang. Jadi, kami akan bersepeda menyusuri perkebunan anggur dan sebagainya.(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s