Nonton Peter Sagan Menang, Naik Turun Perkebunan Anggur

Bersepeda Ikuti Tour of California, Event Balap Terbesar di Amerika (5)

TOUR of California 2013 berakhir di Santa Rosa, Minggu lalu (19/5). Rombongan Jawa Pos Cycling ikut menyaksikan ending-nya di tengah-tengah festival kota yang meriah.

Catatan AZRUL ANANDA bersama YUDY HANANTA dan DIPTA WAHYU dari Santa Rosa
————————————————————————————————————————–Hari Minggu lalu (19/5) mungkin adalah hari terpadat rombongan cyclist Indonesia selama mengikuti Tour of California (ToC) bersama Cannondale Tours (dioperasikan oleh Duvine Adventures).

Pagi bersepeda sedikit, lalu menonton finis etape terakhir lomba, lantas bersepeda lagi sejauh 48 kilometer di Sonoma Valley, kawasan penghasil anggur dan wine kondang Amerika Serikat.

Bangun pagi-pagi di Cavallo Point, hotel indah di kaki jembatan Golden Gate, rombongan sebenarnya dijadwalkan makan pagi pukul 07.00. Tapi, karena menunya dihidangkan secara khusus, para guide memutuskan untuk menunda dulu breakfast hingga pukul 09.00.

Setelah makan roti-rotian, rombongan langsung mengambil sepeda masing-masing (bangun pagi sudah dandan siap bersepeda). Pagi itu, semua memang harus agak tergesa. Kami harus segera bersepeda sedikit, naik ke Headlands Lookout, puncak sebuah bukit yang menghadap jembatan Golden Gate (sekaligus kota San Francisco sebagai latar belakang).

Posisi di atas itu penting. Sebab, kami semua ingin melihat kilometer-kilometer awal Etape 8 sekaligus penutup ToC 2013, yang berlangsung dari San Francisco menuju Santa Rosa. Kami harus cepat-cepat naik supaya tidak kehilangan momen spektakuler, melihat peloton pembalap kelas dunia melintasi jembatan Golden Gate.

Pagi itu, lomba start pukul 08.15. Hanya dalam hitungan menit, peloton sudah akan melintasi Golden Gate. Jarak dari hotel ke tempat menonton itu hanya 2,5 km. Tapi, semuanya menanjak, dengan kemiringan mencapai 12 persen. Bisa dibilang, kami harus interval (out of saddle alias berdiri) di hampir sepanjang perjalanan ke atas. Butuh sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi.

Kompak mengenakan jersey merah bertulisan “Indonesia”, kami melihat jembatan itu kosong karena ditutup untuk publik. Kami melihat sedikitnya empat helikopter berseliweran. Berharap disyuting kamera dari atas, kami semua melambaikan tangan dengan penuh antusias.

Tidak lama kemudian, peloton pun lewat. Masih tampak santai, lebih mirip parade daripada balapan. Walau sudah start, “lomba” memang belum dimulai saat melintasi Golden Gate. Baru tidak lama setelah melewatinya, para pembalap tancap gas.

Begitu peloton lewat, kami pun turun kembali ke hotel. Makan pagi sesuai rencana, lalu memastikan semua koper dan barang sudah di-loading ke dua van plus satu trailer yang selama ini jadi kendaraan sehari-hari.

Saat kami makan, Ryan Fowler, Jen Slowey, dan Lyne Bessette menata sepeda-sepeda kami dengan rapi di atas kedua van. Setelah makan, langsung naik kendaraan dan menempuh perjalanan sekitar 45 menit ke downtown Santa Rosa.

Di kota itulah ToC 2013 berakhir. Di kota itulah para juaranya dinobatkan. Di kota itu pula diselenggarakan festival merayakan ending ajang balap sepeda terbesar di Amerika tersebut.

Begitu tiba, suasananya memang balap sepeda banget. Jalan-jalan mulai ditutup karena para pembalap dijadwalkan sampai sekitar pukul 11.30. Etape hari itu memang relatif pendek, “hanya” 130,4 km. Ending-nya melakukan dua lap di tengah kota Santa Rosa, sebelum adu sprint menuju garis finis.

Kabarnya, sekitar 30 ribu orang memadati downtown Santa Rosa pagi itu. Berjam-jam mereka menunggu finis sambil menikmati berbagai hiburan dan stan sponsor atau merchandise.

Banyak barang kecil dibagi-bagikan kepada penonton. Yang paling populer: lonceng sapi mini. Para penonton dengan heboh membunyikannya setiap kali para pembalap lewat.

Banyak tokoh sepeda berkumpul di Santa Rosa hari itu. Secara tidak sengaja, kami bertemu Nick Frey, pembalap sekaligus pemilik merek sepeda custom Boo Bicycles. Lulusan Princeton berusia 25 tahun itu memproduksi sepeda unik, paduan bambu dengan karbon.

Walau seorang entrepreneur, Frey juga anggota tim Jamis-Hagens Berman, tim Amerika. Dia datang mendukung rekan-rekannya, khususnya pembalap bernama Tyler Wren.

Frey-lah yang memandu kami tentang kecepatan lomba. Di putaran pertama di Santa Rosa, Frey menjelaskan bahwa kecepatan peloton mencapai 55 km/jam. Menjelang finis, kecepatan naik di atas 60 km/jam.

“Peter Sagan (pembalap Cannondale, Red) akan memenangi lomba ini,” prediksinya mantap.

Kami bilang, Tyler Farrar (Garmin-Sharp) bakal menjadi penantang. “Garmin tidak punya lead train (pasukan tukang tarik, Red) sekuat Cannondale. Farrar akan finis ketiga,” balas Frey.

Omongan Frey itu menjadi kenyataan! Sagan menang, meraih kemenangan keduanya tahun ini, kesepuluh total selama empat tahun ikut ToC. Itu rekor terbanyak. Plus, Sagan berhasil mengamankan Green Jersey, sebagai pemenang point classification (sprinter terbaik). Farrar Finis ketiga! Di belakang Daniel Schorn (NetApp-Endura).

Begitu lomba berakhir dan seremoni podium berakhir Tejay van Garderen dari BMC berhasil jadi juara keseluruhan alias yellow jersey” kami pun makan siang dan berlanjut menikmati stan-stan yang ada.

Hebat, dalam hitungan dua jam, hampir semua sudah dibongkar. Mulai podium, pintu finis, sampai sejumlah stan merchandise. Sore itu, kami yakin downtown Santa Rosa sudah kembali “normal”.

***
Dari downtown, kami berangkat ke Shiloh Ranch Regional Park. Di sana, sepeda kembali diturunkan, dan kami kembali bersiap bersepeda. Rutenya bukan tergolong berat. Dirancang 30 mil (48 km) menyusuri Sonoma Valley, kawasan penghasil wine superkondang di Amerika. Finisnya di Healdsburg, sebuah kota kecil yang indah.

Jalannya memang naik turun, dengan beberapa tanjakan pendek yang cukup bikin ngos-ngosan. Tapi, pemandangannya sangat spektakuler. Di kanan kiri perkebunan anggur serta beberapa rumah indah dan tempat-tempat untuk wine tasting.

“Ini sempurna. Tempat ini sempurna untuk bersepeda,” komentar Rudi “Oyee” Sudarso dari komunitas Free Surabaya.

Rute menuju Healdsburg ini memang rute bersepeda yang populer. Sejumlah cyclist kami jumpai selama perjalanan. Walau relatif mudah, cuaca hari itu cukup unik. Sebelum bersepeda, beberapa peserta merasakan panasnya sengatan matahari. Suhu berkisar 33 derajat Celsius, tapi terasa sangat kering dan menyengat.

Ketika bersepeda, baru rasanya lebih nyaman. Sebab, anginnya terasa dingin. Meski demikian, keringnya udara membuat kami terus merasa haus. Lyne Bessette, yang memandu, menghentikan peloton di kilometer 30. Alasannya untuk kembali mengisi botol minum dengan air yang disiapkan di van yang dikendarai Jen Slowey.

“Bibir ini rasanya kering terus minta dibasahi,” aku Khoiri Soetomo, salah satu founder Surabaya Road Bike Community (SRBC), yang memprakarsai program ini bersama Jawa Pos Cycling.

Setelah itu, kami kembali melaju menuju Healdsburg. Kecepatan rata-rata kami mendekati 30 km/jam. Tidak terlalu cepat, tapi cukup berat bagi sebagian peserta. Apalagi dengan udara yang begitu kering.

Rombongan tiba di Hotel Healdsburg yang terletak di downtown kota berpenduduk 11 ribu jiwa tersebut sekitar pukul 16.30. Setelah itu, semua beristirahat sebelum melanjutkan briefing dan makan malam pukul 19.00.

Makan malam itu disiapkan para guide sebagai farewell dinner. Sebab, Seninnya (20/5), rombongan akan bersepeda sekali lagi sebelum berpisah saat makan siang.

Saat makan malam, Lyne Bessette memberikan suvenir menarik kepada para peserta. Berupa foto yang sudah dia tanda tangani. Fotonya adalah aksi dirinya ketika mengikuti Paralimpik 2012 di London, Inggris.

Ketika itu, Bessette menjadi pilot untuk atlet sepeda buta Robbi Weldon dalam ajang road race tandem. Ketika itu, mereka meraih medali emas!

Prestasi itu merupakan lanjutan rangkaian pencapaian hebat dalam karir Bessette. Perempuan 38 tahun tersebut dulu juga pernah menjadi juara nasional Kanada (road race dan time trial) serta memenangi banyak lomba internasional.

Sebagai balasan, rombongan memberikan suvenir jersey INDONESIA dan jersey bercorak koran Jawa Pos kepada Bessette, Fowler, dan Slowey. “Jersey Indonesia ini begitu mencolok. Bagus sekali ketika kalian kenakan saat melintasi perkebunan anggur,” puji Slowey.

Setelah beberapa hari bersama, malam itu rombongan sudah makin cair dan akrab dengan para guide. Sayangnya, itu adalah dinner terakhir bersama dalam program ini. Tapi, para guide menjanjikan hari penutupan yang sangat seru.

“Kita akan berangkat pagi pukul 07.15. Bersepeda sekitar 30 sampai 40 mil di kawasan Sonoma Lake (danau, Red). Setelah itu balik hotel, mandi, dan berkemas. Dan paling lambat pukul 10.30 sudah berangkat menuju San Francisco,” terang Ryan Fowler.

Ada apa di San Francisco? “Di sana, kita akan bertemu dengan pembalap Tim Cannondale. Jadi, bisa foto-foto serta minta tanda tangan,” ungkapnya.(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s