62 Tahun dan Semakin Muda

Jum’at, 01 Juli 2011 , 13:59:00

62 Tahun dan Semakin Muda

Dalam beberapa bulan terakhir, saya menghadiri dua acara “kewartawanan dan media cetak” tingkat nasional. Masing-masing dihadiri ratusan “insan media” dari berbagai penjuru Indonesia. Agak “serem” juga rasanya. Kok yang usianya di bawah 35 tahun rasanya cuman saya ya?

***

Hari ini (1 Juli 2011), Jawa Pos kembali merayakan ulang tahun. Kali ini ulang tahun ke-62. Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada seluruh pembaca, khususnya penggemar berat, harian ini. Tanpa Anda semua, tentu Jawa Pos tidak bisa bertahan sejauh ini, tidak bisa berkembang sejauh ini.

Dan kami mengucapkan terima kasih lebih khusus lagi kepada para pembaca muda. Karena Anda-lah yang membuat Jawa Pos menjadi lebih muda di usia ke-62 ini.

Lebih muda” Ya.

Survei membuktikannya.

Menurut data dari Nielsen Media Research di penghujung 2010 lalu, pembaca Jawa Pos benar-benar muda. Jauh lebih muda dari koran-koran utama lain di Indonesia.

Saking mudanya, terhitung 51 persen pembaca Jawa Pos berusia antara 10-29 tahun. Ya, lebih dari separo pembaca Jawa Pos berusia di bawah 30 tahun!

Mereka yang berusia 20-29 tahun merupakan kelompok pembaca terbesar, mencapai 35 persen dari total pembaca.

Ada orang barat bilang: “You earn what you sow.” Bahwa kita akan meraup hasil dari benih yang kita tebarkan. Kalau dihitung mundur sepuluh tahun, maka kelompok pembaca terbesar Jawa Pos ini masih berusia 10-19 tahun.

Orang yang mengikuti perkembangan harian ini mungkin ingat, kalau 11 tahun lalu Jawa Pos melakukan sesuatu yang berani. Dan waktu itu, apa yang dilakukan Jawa Pos itu banyak mengundang protes, banyak mengundang kecaman.

Waktu itu, tepatnya 26 Februari 2000, Jawa Pos menerbitkan halaman-halaman khusus anak muda bernama DetEksi. Dan waktu itu, dengan teguh kami menegaskan bahwa DetEksi adalah untuk pembaca masa depan, untuk membangun basis pembaca Jawa Pos sepuluh tahun ke depan (atau lebih).

Tahun ini, kami bisa mengelus-elus dada karena lega. Karena apa yang kami sesumbarkan dulu itu telah menjadi kenyataan. Kelompok pembaca terbesar Jawa Pos sekarang adalah kelompok yang dulunya basis pembaca DetEksi.

Sekarang, kami berharap kelompok terbesar ini tetap terus bertahan bersama Jawa Pos. Sambil jalan, kami terus menerbitkan dan mengaktifkan DetEksi untuk terus “mengamankan” pembaca-pembaca masa depan.

Tanda-tandanya sih masih sangat positif. Survei dari Enciety Business Consult memperkuat data dari Nielsen Media Research.

Menurut Enciety, di Surabaya, jumlah pembaca mudanya jauh lebih besar daripada kota-kota besar lain di Indonesia. Dari data 2010, sebanyak 41,7 persen remaja usia 15-19 tahun di Surabaya membaca koran. Sebanyak 69,9 persen orang berusia 20-29 tahun membaca koran.

Dua angka persentase itu minimal sepuluh persen lebih tinggi dari kota-kota besar lain. Di Jakarta misalnya, hanya 28,6 persen remaja 15-19 tahun membaca koran, dan hanya 42,8 persen orang berusia 20-29 tahun membaca koran!

***

Sebenarnya ini bukan kabar baru. Tapi kami harus terus rajin menyampaikan kabar ini karena masih belum banyak yang percaya (he he he): Jawa Pos kini adalah koran dengan jumlah pembaca terbesar.

Paling tidak, menurut survei Nielsen di sembilan kota besar di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar).

Sudah sejak akhir 2009, Jawa Pos tak tertandingi di posisi tertinggi. Koran dari Jakarta yang disebut-sebut sebagai nomor satu, sejak akhir 2009 sudah konsisten berada di urutan kedua.

Malahan, dalam beberapa kuarter terakhir, Jawa Pos merupakan satu-satunya koran yang memiliki readership “nyaman” di atas angka satu juta orang. Koran yang dulu dianggap nomor satu itu, belakangan kesulitan menembus angka satu juta pembaca.

Padahal, dari sembilan kota yang disurvei Nielsen itu, Jawa Pos hanya terhitung di empat kota: Surabaya, Semarang, Jogjakarta, dan Denpasar.

Bayangkan kalau Malang, Solo, atau kota-kota besar lain di Jawa Timur dan sekitarnya dihitung. Angkanya bisa melejit lebih tinggi.

Untuk ini, kami benar-benar berterima kasih kepada pembaca setia Jawa Pos. Kita bersama berhasil menegaskan kepada seluruh Indonesia (dan dunia), kalau untuk jadi nomor satu memang tidak harus dari ibu kota!

***

What?s next” Ini pertanyaan yang sangat berat. Tantangan zaman sekarang sangat beda dengan sepuluh tahun lalu, dengan 20 tahun lalu.

Tapi minimal, tidak ada lagi kekhawatiran tentang masa depan koran. Minimal untuk lima sampai sepuluh tahun lagi. Konferensi WAN-IFRA (asosiasi koran sedunia) di Bangkok beberapa bulan lalu sudah menegaskan itu. Bahwa sekarang ini bukan lagi memikirkan koran versus online. Melainkan bayar versus gratis.

Percuma online kalau tidak ada pemasukan. Siapa yang bayar biaya pemberitaan dan lain-lainnya?

Soal koran format iPad juga masih dianggap sebagai sambilan. Ngapain ngotot bikin format iPad kalau pemakainya di dunia masih sedikit. Ada rekan saya dari koran Korea yang menyinggung soal itu. Dia bilang, di Korea dia tidak butuh format iPad. Lha wong pemakainya di Korea baru 100 ribu orang! Sedangkan pembaca korannya jutaan orang?

Ya, kelak pemakainya akan bertambah. Bukan hanya iPad, tapi tablet-tablet lain. Tapi sambil menunggu, mending fokus ke yang menghasilkan bukan?

Di konferensi itu, semua diingatkan untuk memikirkan hal-hal yang lebih konkret. Bukan hal-hal yang sekadar fashionable?

Di Kongres Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di Bali baru-baru ini, juga ada pengakuan yang menarik. Sebuah media online kondang, yang belakangan sangat gencar berpromosi dan mengembangkan diri, mengakui kalau pemasukannya hanyalah 1 persen dari pemasukan korannya?

Meski demikian, kami tentu tak boleh meremehkan media format lain. Kita tak tahu masa depan seperti apa. Yang jelas kami akan tetap fokus mengembangkan Jawa Pos, sambil terus melirik dan melatih diri dengan format lain. Seperti yang rajin kami sampaikan pula: Kalau memang harus online, toh nanti tinggal pencet tombol “Enter.?

***

Jawa Pos sudah berusia 62 tahun. Bukannya menua, barisan pembaca Jawa Pos justru menjadi semakin muda. Masalahnya, apakah industri koran (atau media secara umum) juga seperti itu?

Ketika menghadiri dua acara “kewartawanan dan media cetak” besar belakangan ini, banyak orang datang ke saya mengucapkan selamat. “Begini dong, harus ada orang yang muda,” kata mereka.

Masalahnya, ketika saya melihat sekeliling, tidak ada lagi yang muda! Para “tokoh-tokoh” lain rata-rata sudah berusia di kisaran angka 50-an. Tidak sedikit yang 60-an. Tidak jarang yang 70-an. Ada yang 80-an!

“Aduh!” Begitu kata hati saya. Kalau yang muda cuman saya, ya tidak ada gunanya!

Jadi, di ending catatan ini, saya ingin minta tolong kepada seluruh petinggi-petinggi media yang lain: Carikan saya teman dong!

Cobalah percaya kepada yang muda-muda itu. Jangan takut mundur selangkah untuk maju dua langkah. Jangan takut untuk “melepaskan” sesuatu kepada yang muda.

Ya, kami bakal bikin ulah. Ya, kami bakal bikin salah. Tapi Anda semua dulu kan juga begitu?

Please, kasih kesempatan kepada yang muda. Kasih porsi besar kepada pembaca yang muda. Mumpung kita “sepertinya– masih punya waktu. (*)

2 thoughts on “62 Tahun dan Semakin Muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s