Azrul Ananda dan Isna Fitriana, Antara Takdir dan Passion

Azrul Ananda dan Isna Fitriana, Antara Takdir dan Passion

Dalam tubuh keduanya mengalir darah yang sama. Soal karier, mereka ternyata punya pilihan berbeda. Azrul memilih mengikuti jejak sang ayah, sementara Isna memutuskan menggeluti duniafashion dengan membuka butik.

Azrul Ananda

Azrul Ananda

Ulik, panggilan akrab Azrul yang lahir di Samarinda, 4 Juli 1977, memang tidak serta- merta menduduki posisi puncak di GJP. Ia memulai sebagai reporter. Membuktikan kemampuan, sejumlah terobosan dibesutnya. Lulusan International Marketing dari Universitas California, Sacramento, AS, ini sukses mengubah citra Jawa Pos menjadi lebih muda lewat halaman DetEksi. Aktivasi merek DetEksi berupa kompetisi basket tingkat SMA di Surabaya yang dibesutnya menjadi cikal-bakalDevelopment Basketball Leaque (DBL). Atas kiprah DetEksi ini, Jawa Pos menyabet penghargaan World Young Reader Prize 2011, menebas kampiun-kampiun surat kabar dunia:Wall Streat JournalChicago Tribune danYomiuri Shimbun dari Jepang.

Sejak bergabung dengan GJP, Azrul memang bertarget memperbesar gelembung prestasi yang telah ditorehkan sang ayah. Menurutnya, orang akan angkat topi tinggi-tinggi jika ia mampu mengembangkan GJP menjadi jauh lebih besar lagi. “Mereka akan mengakui, di bawah pimpinan generasi kedua, GJP makin kokoh,” ujar CEO GJP ini.

Bagaimana dengan Isna? “Saya itu senang desain,” ujar Isna, kelahiran 30 tahun lalu. Sejak pulang dari AS pada 1998, ia bertekad mengikuti pilihan hatinya meski harus memulai dari nol. Memulai bisnis sendiri, Isna yang sejak lulus SMP terbang ke AS mengawali dari garasi rumahnya. Toko pakaiannya diisi dengan aneka baju hasil kulakannya di Kota Kembang. Pilihan produknya ternyata membuat banyak orang terpincut sehingga ia memutuskan membeli ruko di kawasan Pumpungan, Surabaya. Modal membeli ruko seharga Rp 500 juta itu, dikatakan Isna, berasal dari keuntungan bisnisnya yang terus dikumpulkan. “Ditambah dari bowone manten yang dikasihkan ke saya,“ ujarnya sembari terbahak.

Bersama sang suami yang dinikahinya pada 2003, butiknya yang ia beri nama Inshopnia terus merebak. Sampai saat ini butiknya sudah tersebar di pusat-pusat perbelanjaan di Kota Buaya. Sampai saat ini, total ada tujuh butik Inshopnia. Untuk menggenjot pendapatan, Inshopnia juga dijalankan lewat media online. “Omset paling besar ya masih disumbang dari outlet yang di Royal Plaza,” ujar ibunda Khalisha Salwa Dinata, Aqila Radja Dinata dan Aliqa Quinsha Dinata ini.

Tak hanya melebarkan sayap dengan memperbanyak jaringan toko, bersama sang suami yang menyukai dunia entertaiment, Isna juga terjun di bisnis penyewaan sound system dan recording. Bahkan, mereka juga menaungi enam grup band. Karena ada kebutuhan untuk kostum anak-anak band itu, intuisi bisnisnya menginspirasi untuk membuat desain sendiri. “Saya pikir-pikir, kok nggak ada nilai lebihnya kalau terus-terusan kulakan. Makanya, saya terus bikin desain sendiri,” katanya.

Isna Fitriana

Isna Fitriana

Dalam perjalanan bisnisnya, merek sendiri ternyata yang justru banyak diminati pasar. Menyasar kelas menengah-bawah, produknya mengusung ciri khas produk untuk pasangan dan keluarga. Tak hanya baju, Isna pun menjual aneka tas, sandal, dompet yang juga bercirikan produk untuk pasangan. “Itu menjadi diferensiasi produk kami,” katanya lagi.

Intuisi bisnis Isna sepertinya menurun dari sang ayah. Di kalangan dunia usaha, sosok Dahlan dikenal luas sebagai pengusaha andal. Ingat cerita Jawa Pos? Di tangan Dahlan, Jawa Posyang awalnya megap-megap menjadi konglomerasi bisnis media dengan sekitar 120 media cetak dan 20-an stasiun televisi lokal yang terserak di berbagai wilayah Nusantara, 40 jaringan percetakan, pabrik kertas, power plant, perminyakan, agribisnis dan properti.

Melihat karakter orang Surabaya yang dalam pengamatannya suka menawar harga, Isna kemudian membesut toko baju khusus perempuan dengan harga murah. “Matek-urip, pokoke nawar. Sing penting oleh rego murah,” ujarnya dalam logat Suroboyoan yang kental.

Inshopnia Queen, butik ekonomis yang dibangun pada 2011 itu, ternyata mendapat sambutan luar biasa. Bagaimana tidak? Harga yang dibanderol, mulai dari Rp 19 ribu, Rp 29 ribu, Rp 39 ribu dan Rp 49 ribu. “Produk yang kami jual laku keras sehingga banyak outlet lain meniru,” imbuhnya. Diakuinya, total omset seluruh butiknya mencapai Rp 100-an juta per bulan.

Namun, menurut Isna, bisnisnya tak selalu moncer. Ia juga sempat gagal. “Ya, namanya juga usaha,” katanya. Tertarik pada penawaran untuk membuka butik di Tunjungan Plaza, ia pun tak menampik peluang tersebut. Pada 2010, ia mendirikan Inshopnia di pusat perbelanjaan papan atas di Surabaya itu. Setelah berjalan, ternyata hasilnya jauh panggang dari api. Rupanya, perilaku konsumen kebanyakan window shopping. Yang benar-benar belanja adalah high class, sementara produk Inshopnia berada di segmen yang tidak sesuai dengan kelas Tunjungan Plaza. “Setelah jalan, ehmalah nggak kuat. Nggak kuat dengan harga sewanya. Saya cuma bertahan enam bulan,” paparnya. Ia mengaku menderita rugi Rp 50-an juta. “Akhirnya, saya tutup.”

Kegagalan tersebut memicunya untuk lebih jeli memilih lokasi yang sesuai dengan produk yang ditawarkannya. Selain tengah mengincar untuk membuka gerai di Delta Plaza, BG Junction dan Jembatan Merah Plaza, Isna pun berencana memiliki toko mobil. “Supaya bisa jualan di mana pun dan bisa mangkal di daerah-daerah dan hari-hari tertentu,” ungkapnya.

Isna mengaku, ayahnya ikut andil membuat roda bisnis Inshopnia menggelinding mulus. Bagi Isna, Dahlan adalah mentor. Ia melaporkan perkembangan bisnisnya dan mendiskusikan rencana pengembangannya ke depan. Dahlan juga bertindak sebagai pemodal. Ketika Isna punya rencana menambah gerai, Dahlan pun menyokong dengan memberikan tambahan modal. “Abah cuma memberi satu catatan, omset harus terus naik. Agak berat memang. Tetapi, itulah Abah. Perlahan-lahan saya bisa memenuhi harapan Abah itu,” ungkap Isna yang memanggil Dahlan dengan panggilan “Abah”.

Azrul Ananda dan Isna Fitriana, begitu Dahlan Iskan dan Nafsiah Sabri menyematkan nama kepada putra dan putri semata wayangnya. Azrul memilih mengembangkan gurita GJP. Dan, Isna memilih mengguritakan Inshopnia, benderanya sendiri. “Isna sih boro-boro punya passion bergabung dengan Grup Jawa Pos,” ungkap Dahlan kepada SWA, beberapa waktu lalu. Pertautan darah yang membawa mereka pada pencapaian prestasi seperti yang ditorehkan sang ayah.(*)

Henni T. Soelaeman

Reportase: Suhariyanto

sumber :http://swa.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s