Di Kampung Basket, Babi Lewat Paksa Time Out

Minggu, 25 Januari 2009 , 07:59:00

Di Balik DetEksi Basketball League dan Kehebohan Basket di Papua (3-Habis)

Sebelum datangnya DetEksi Basketball League (DBL), tanda-tanda heboh basket sudah ada di Papua. Kampung-kampung basket bertebaran di sekeliling Danau Sentani yang indah itu.
Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos dan commissioner DBL.

KOMPETISI basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League 2009 (DBL), diselenggarakan di 16 kota di 15 provinsi di Indonesia. Seri pertama di Papua, yang berakhir Jumat lalu (23/1) di Jayapura, tampaknya bakal menjadi salah satu yang terheboh.

Hingga penutupan, total berlangsung enam hari pertandingan. Sehari maksimal empat pertandingan. Hanya dalam waktu pendek itu, lebih dari 17 ribu penonton mengunjungi GOR Cenderawasih. Karena kapasitas gedung tak sampai 2.000 orang, pada saat semifinal dan final mereka harus rollingalias bergantian menonton.

Padahal, harga tiket tergolong tinggi. Harga tiket final bahkan lebih mahal daripada pertandingan profesional yang sedang berlangsung di Jakarta.

Usai final itu, Ketua Perbasi Papua Jhon Ibo berbicara kepada saya, berterima kasih telah menyelenggarakan Honda DBL 2009 di provinsinya. “Ini kebangkitan basket Papua,” ucapnya.

Terus terang, saya agak malu juga mendengar itu. Sebab, justru kamilah yang seharusnya berterima kasih kepada seluruh warga Papua. Sebab, mereka membantu kami membuktikan bahwa konsep student athlete dan penyelenggaraan standar tinggi bisa dilakukan di mana saja. Yang penting ada kemauan dan dukungan dari semua yang berkaitan.

Apalagi, sebelum Honda DBL 2009 datang, basket sepertinya memang sudah dahsyat di Papua. Minat masyarakatnya bahkan bisa dibilang menyetarai minat terhadap sepak bola.

Kamis lalu (22/1), saat libur pertandingan sebelum final, saya, Lucky Ireeuw (redaktur pelaksana Cenderawasih Pos dan ketua panitia Honda DBL 2009 di Papua), plus beberapa personel DBL Indonesia melihat betapa kuatnya grass root basket di Papua.

Kami diajak Jhon Ibo serta Jan R. Aragay dan beberapa teman lain dari Perbasi Papua, mengelilingi Danau Sentani naik speed boat. Bukan sekadar untuk menikmati keindahan, melainkan untuk mengunjungi “kampung-kampung basket” yang bertebaran di sekeliling dan di pulau-pulau yang terdapat di danau tersebut. Ikut pula Jecklin Ibo, 18, cucu Jhon Ibo yang sekarang telah menjadi atlet basket nasional.

***

Kampung pertama yang kami kunjungi adalah Ayapo. Kampung ini penduduknya 1.148 orang, dan punya sejarah menyumbangkan banyak atlet. Bukan hanya untuk Papua, juga nasional. Pada era 1970-an hingga 1980-an, banyak nama tenar muncul dari Ayapo.

Fredrik Deda, 46, kepala kampung tersebut, menyebutkan nama-nama seperti Hanock Deda, Adrianus Yomo, Lewi Puhili, Isack Deda, Moses Pulalo, Lukas Lali, dan beberapa lainnya.

Di Ayapo ini, memang ada lapangan basket. Letaknya di pinggir danau, di sisi satunya ada bukit kecil dan pemakaman. Kalau difoto dari bukit itu cukup menarik. Karena pemandangan di sisi lain adalah Danau Sentani yang indah.

Dulu, dasar lapangan itu tanah biasa. Sekitar lima tahun lalu, tutur Jhon Ibo, kampung ini diberi material untuk membangun lapangan dari beton. Warga yang mengerjakannya sendiri.

Fredrik Deda bercerita, kalau sore orang bisa berebut menggunakan lapangan itu. “Karena itu kami mengaturnya. Hari ini putra, besoknya putri. Kalau tidak, bisa marah-marah,” ungkapnya. “Kalau di sini ada empat lapangan, semua pasti terisi,” tambahnya.

Kampung itu total punya sekitar 100 pemain basket, putra maupun putri dari segala umur. Mereka punya klub. Yang putra bernama Putravo, yang putri bernama Putrivo.

Dengan bangga Fredrik bilang bahwa kedua tim itu baru saja meraih sukses di sebuah kejuaraan antarkampung terbuka di Pulau Putali, yang juga terletak di Danau Sentani. “Kami mengirimkan tim usia di bawah 20 tahun. Semua biaya transportasi dan pendaftaran didanai dari kampung ini. Tim putra dan putri kami sama-sama masuk final,” ucapnya.

***

Kampung di Pulau Putali itu merupakan kampung basket kedua yang kami kunjungi. Penduduknya juga sekitar 1.000 orang. Di sana lapangan basketnya juga terletak tepat di sisi danau. Tapi, fasilitasnya lebih “komplet.” Tak heran, lapangan inilah yang dipakai untuk turnamen terbuka antarkampung, yang diikuti puluhan tim pada Maret 2008 lalu.

Tentu saja, yang dimaksud “komplet” itu masih tergolong sederhana. Di satu sisi lapangan, ada “tribun” yang terbuat dari beton. Di sanalah penonton menikmati pertandingan.

Di sisi lain, ada sederet rumah penduduk, rumah panggung di atas air danau. Salah satu rumah itu punya dinding agak lebar, dan dinding itulah yang dijadikan papan scoreboard. Petugas pertandingan menggunakan kapur untuk menuliskan perolehan poin di lapangan.

Yang seru lagi, sama seperti di Ayapo dan kampung-kampung basket lain, binatang peliharaan dengan bebas berkeliaran. Baik anjing maupun babi. Besar maupun kecil. Tak jarang, binatang-binatang itu dengan cuek masuk lapangan, termasuk saat dilangsungkannya pertandingan resmi.

“Di sini kendala nonteknisnya adalah binatang lewat. Kalau ada anjing atau babi lewat, mau tak mau harus time out dulu,” papar Nico Malimongan, 32, seorang wasit dari Perbasi Papua.

Dari Putali, kami diajak ke tempat yang sangat spesial bagi Jhon Ibo. Yaitu, Pulau Ajau, tempatnya berasal dulu. Kampung pertama yang kami kunjungi adalah Kampung Ifale. Lagi-lagi, di sana ada lapangan basket beton. Sayang, sisi lapangan yang bersebelahan langsung dengan danau sudah amblas. Fondasinya tampak kurang kuat.

Dengan kondisi seperti itu, kalau pemain basketnya rewel, yang dipakai mungkin hanyalah satu sisi ring (yang tidak amblas). Tapi dasar gila basket, lapangan yang amblas sebelah bukanlah kendala untuk bermain dan berlatih. “Semua bagian lapangan tetap kami pakai,” ungkap Videl Suebu, 24, seorang pengurus basket di Ifale.

Melihat kondisi lapangan yang mulai rusak itu, Jhon Ibo punya kesimpulan. “Biasanya kami hanya mendatangkan material ke kampung-kampung basket ini. Lalu warga membangun lapangan sendiri. Campuran semen mereka mungkin tidak pas. Mungkin lain kali, biar tukang saja yang membangun lapangan-lapangan ini,” tuturnya.

***

Berjalan sedikit dari Ifale, tibalah kami di Kampung Hobong, kampung asal Jhon Ibo. Dia mengaku di Hobong-lah lapangan basket pertama dia bangun di sekitar Sentani.

Waktu itu pada 1966, saat dia masih berusia sekitar 19 tahun. Jhon Ibo mengaku jatuh cinta pada basket ketika masih SMA, di sebuah sekolah asrama di Jayapura. Di sana dia berteman dengan beberapa anak asal Filipina. Dari merekalah dia belajar bermain basket dan terinspirasi untuk mengembangkannya di kampung halaman.

“Lapangan pertamanya masih tanah. Tiang ring-nya dari pohon palem yang dipotong. Lingkar ring masih dari kawat,” kenang Jhon Ibo.

Sekarang, seperti lapangan-lapangan lain di kampung-kampung basket Sentani, lapangan itu sudah terbuat dari beton. Waktu kami berkunjung, ada beberapa anak sedang asyik main basket di situ. Ada pula Ignatius Suebu, 34. Dia dulu murid basket Jhon Ibo, dan sekarang dialah pelatih basket di Hobong.

Di lapangan ini pula Jecklin Ibo kali pertama bermain basket. Dia dulu sekolah di SD yang terletak tepat di sebelah lapangan tersebut.

Ketika di Hobong itu, senja sudah tiba. Tepat sebelum matahari terbenam, kami kembali ke “daratan” untuk kembali ke Jayapura.

Keesokan harinya, final Honda DBL 2009 diselenggarakan di Jayapura. Tim putri SMA Teruna Bakti Jayapura dan tim putra SMAN 1 Merauke tampil sebagai juara. Disaksikan sekitar 3.000 orang yang bergantian memenuhi gedung pertandingan.

Di Jayapura pula, pemecahan rekor terjadi. Yohana Magdalena “Super” Momot, bintang SMA Teruna Bakti, mencetak 71 poin dalam laga final melawan SMAN 1 Jayapura. Itu perolehan individual tertinggi sejak DBL kali pertama diselenggarakan di Surabaya pada 2004 lalu.

Dalam perjalanan pulang ke Surabaya Sabtu kemarin (24/1), setelah sepuluh hari di Jayapura dan “belajar” basket di Papua, saya merasa lega dan bangga. Pilihan kami untuk membuka Honda DBL 2009 di Jayapura tidaklah salah. Semua berlangsung melebihi ekspektasi.

Bagi semua anggota panitia, penyelenggaraan ini memang melelahkan. Tapi, seperti yang disampaikan Direktur Utama Cenderawasih Pos Suyoto, semua kerja keras dan kendala yang dihadapi itu terbayarkan dengan kehebohan yang dihasilkan.

Saya juga berpikir, mengapa sebelum ini tidak ada pihak lain dari luar Papua yang mau menyelenggarakan kompetisi di provinsi tersebut. Infrastrukturnya memang pas-pasan, tapi antusiasmenya lebih dari dahsyat dan pemandangan di sekitar kotanya sangat istimewa.

Soal gedung pertandingan yang kurang besar, sekarang juga sudah ada harapan. Katanya, gedung baru di Universitas Cenderawasih bakal selesai dibangun pada akhir 2009 ini. Kalau terwujud, itu peluang untuk tumbuh bagi even basket di Papua.

Sebelum pulang, banyak yang minta agar DBL kembali ke Papua tahun depan. Mulai pemain, pelatih, sampai warga kota Jayapura yang kami temui saat makan atau jalan-jalan.

Selama berlangsungnya Honda DBL 2009, di mana-mana di Jayapura orang memang membicarakan kompetisi ini. Di Bandara Sentani sebelum pulang kemarin (Sabtu, 24/1), di mana-mana kami melihat banyak orang menikmati liputan Honda DBL 2009 yang berhalaman-halaman di Cenderawasih Pos.

Saat di pesawat menuju Surabaya pun saya masih diajak diskusi soal kompetisi itu. Misalnya dengan Saul Salamuk, yang duduk dekat saya. Dia mengaku masih saudara dengan Yohana M. Momot, sang pemecah rekor. Juga dengan Elias Henche Thesia, pemain SMAN 1 Jayapura yang terpilih masuk League DBL First Team dan akan ikut terbang ke Surabaya bertemu bintang NBA.

“Di kantor orang semua meributkan (membicarakan, Red). Kenapa tidak dari dulu-dulu ada (DBL). Ini harus rutin diselenggarakan,” kata Saul.

Dengan antusiasme seperti itu, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak kembali tahun depan. (habis)

sumber : http://www.jpnn.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s