Jalan Enam Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (2)

Sabtu, 23 Maret 2013 , 08:14:00

Bakal Sepertiga Asia, Sepertiga Eropa, dan Sepertiga Amerika

TERKESAN: Philip Gordon White (Founder Cervelo) bersama Azrul Ananda menunjukkan frame Cervelo RCA pada pameran Taipei International Cycle Show di Taipei Nangang Exhibition Hall, Jumat (22/3).

Pameran sepeda tidak seru tanpa melihat sepeda-sepeda konsep, eksotis, dan supermahal. Di Taipei, harian ini sempat berbicara pula dengan tokoh-tokoh kondang di balik karya-karya spektakuler itu. AZRUL ANANDA danDIPTA WAHYU – TAIPEI

PAMERAN sepeda mirip pameran mobil. Seberapa banyak pun mobil yang terjual, seberapa banyak pun model yang dipajang, tetap tidak akan menarik tanpa konsep-konsep baru atau produk-produk yang bisa bikin orang berdecak kagum atau geleng-geleng kepala.

Di Taipei Cycle 2013, khususnya di gedung utama Nangang Exhibition Hall, ada beberapa  yang mampu memberikan efek serupa. Khususnya dari “aliran cepat” alias road bike.

Kalau di pameran mobil, produkproduk ini seperti mobil balap atau supercar yang dipajang di tengah kumpulan sedan. Langsung menonjol dan mencuri perhatian.

Di lantai 4 Nangang, di booth Cer velo, ada sebuah brand highend road bike asal Kanada. Ada satu sepeda berwarna hitam polos, dengan komponen dan aksesori kar bon polos, yang terpajang. Warnanya memang tidak mencolok. Tapi, bagi kalangan penggemar se peda, yang satu ini wajib dipandangi dan dikagumi.

Produk ini benar-benar baru gres. Baru dalam hitungan hari diperke nalkan ke dunia dan menghebohkan para penggemar. Sepeda balap itu dibangun dari frame bernama Cervelo Rca. Sebuah frame yang hanya akan dijual 325 biji di seluruh dunia, yang harganya tertulis USD 11.500. Ya, hanya frame yang harganya di kisaran Rp110 juta!

Apa istimewanya? Frame itu diran cang khusus di unit riset dan pengembangan Cervelo di California, AS. Frame tersebut dibuat memenuhi beberapa tuntutan desain, yang beberapa tahun lalu bisa dianggap “impossible”. Yaitu, bobot di kisaran 600 gram bersama baut-bautnya, tapi tetap memiliki stifness (tingkat kekakuan) superior, plus harus aerodinamis.

Frame seringan itu tentu mampu menghasilkan full bike yang spektakuler ringannya. Nah, sepeda hitam yang dipajang tersebut adalah buktinya.

Dipadu dengan wheelset dan komponen-komponen karbon ringan merek AX Lightness, plus groupset Shimano Dura-Ace 9000 terbaru 11-speed dan crank Rotor, bobot total sepeda itu hanya 4,5 kilogram!

Itu dengan frame ukuran 54 (medium, untuk tinggi kisaran 175 cm). Kalau kecil seperti kebanyakan ukuran Asia, bisa lebih ringan lagi.

“Kalau ukuran 48 (extra small, red), bobot frame-nya turun lagi di angka 500-an gram,” ungkap Phil White, salah seorang founder Cervelo, yang di Taipei meluangkan waktu khusus untuk berbincang dengan Jawa Pos.

Di kalangan sepeda, nama Phil White -yang mendirikan Cervelo bersama Gerard Vroomen- sangat melegenda. Pria kelahiran 1962 itu seperti Ernesto Colnago dan Giovanni Pinarello di Italia. Dan di kancah pasar niche sepeda balap elite, White menyebut Cervelo memang berada di lahan yang sama dengan dua brand tersebut.

“Kami tak bisa menyebut berapa angka penjualannya. Tapi, kami mungkin setara dengan Pinarello, sedangkan Colnago sekitar 20-30 persen lebih sedikit,” ujarnya.

Dari situ, kita bisa menebak berapa kisarannya. Sebab, secara publik, Ernesto Colnago, yang pernah diwawancarai Jawa Pos di Italia akhir 2012, mengaku membatasi jumlah produksinya di angka 20 ribu sepeda per tahun.

Cervelo sendiri, tampaknya, tidak ingin membatasi jumlah produksi. Sekitar setahun lalu, Cervelo diakuisisi grup besar Belanda, Pon, yang juga memiliki merek sepeda lain seperti Focus danGiselle. Meski demikian, fokusnya tetap pada produk high-end di aliran road bike.

“Pon memosisikan Cervelo seperti Lamborghini atau Porsche-nya sepeda. Sedangkan merek Focus lebih masal seperti Volkswagen,” jelas White.

Dengan akuisisi itu, White tidak lagi menjabat CEO. Dia kini chairman. Dan dia merasa itu lebih  baik. Sebagai orang dengan latar belakang inovasi, dia mengaku lega pekerjaan-pekerjaan keras dan membosankan seperti operasional dan bisnis dipegang orang lain. Apalagi, ini di tangan grup besar, yang bisa mendorong Cervelo lebih besar lagi.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan modal produksi. Sekarang masalah itu bisa teratasi,” paparnya. Pada masa mendatang, memang

akan ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang makin global. Apalagi dengan potensi pasar Asia yang luar biasa. “Saat ini, pasar Amerika-Kanada dan Amerika Serikat kami anggap satu, masih yang terbesar bagi kami. Eropa mungkin akan menyalip jadi pasar terbesar. Tapi, dalam lima sampai sepuluh tahun, saya kira komposisinya akan setara. Sepertiga di Asia, sepertiga di Eropa, dan sepertiga di Amerika,” paparnya.

Kini, White dan Vroomen bisa lebih bebas untuk kembali berin ovasi. White, yang mengaku hobi balap mobil, bisa memikirkan hal-hal baru yang bisa membantu Cervelo menghasilkan kejutan-kejutan baru. Sementara itu, Vroo men kini malah bereksplorasi di arena mountain bike, membuat merek baru lagi bernama “Open Cycle”.

Setelah Rca, kapan ada inovasi kejutan lagi? “Kita butuh tiga sampai empat tahun untuk menghasilkan Rca. Jadi, terobosan baru lagi mungkin butuh tiga tahun lagi,” pungkasnya.
***

Cervelo dulu adalah brand yang dikembangkan inovator dan entrepreneur yang kini meraup sukses besar. Di lantai dasar Nangang, ada brand inovatif, yang mulai jadi pergunjingan, dan kelak berpotensi jadi merek besar baru.

Merek itu adalah “Culprit”, yang fokus di arena aero road bike. Pendirinya adalah Joshua Colp. Pria asal California, AS, itu baru berusia 31 tahun. Tapi, dia sudah delapan tahun tinggal di Taiwan ber sama istri, dan menegaskan tidak ingin kembali ke Amerika.

“Kalau sedang di Amerika, saya justru kangen dan ingin segera balik ke sini,” ungkapnya.

Hebatnya, Colp tidak punya latar belakang teknis. Latar belakangnya adalah bisnis, dan bertahun-tahun bekerja di Taiwan untuk brand kondang asal negara tersebut, Trigon.

“Tapi, saya sangat cinta bersepeda. Dan saat bersepeda, saya selalu berpikir bagaimana membuat pengalaman itu lebih hebat lagi, dan perubahan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya,” ujarnya.

Dia pun mendirikan Culprit. Visinya bisa direalisasikan di Taiwan, yang memiliki industri pendukung. Karya utamanya sekarang adalah Culprit Croz Blade, yang memenangi 2013 Taipei Bike Show IF Design Award. Itu adalah sepeda balap aero, yang bisa dipakai sebagai sepeda time trial (TT).

Apa uniknya? Desain aero road  bike memang sudah banyak. Semua brand terbesar memiliki model aero road bike. Bedanya, sejak awal Culprit fokus memakai disc brake. Merek itu merupakan salah satu di antara segelintir yang mengeluarkan sepeda balap memakai disc brake.

Colp percaya, masa depan road bike memakai disc brake. Dan slogan Culprit adalah “The future is now”.

Karya terbesar Culprit sendiri sekarang belum beredar. Di Taipei Cycle 2013, yang dipajang baru prototipenya. Namanya Culprit Legend, sepeda TT khusus triathlon.

Colp mengizinkan sepeda itu difoto hanya oleh media. Yang lain sama sekali dilarang, karena takut banyak inovasinya akan dipalsu (walau sudah dia patenkan). Dia pun memohon agar detailnya tidak difoto.

Legend, mungkin, akan membuat Colp menjadi legenda sepeda masa depan. Fitur paling berani: Tidak memakai seatstay, atau sepasang “batang” penopang yang meng hubungkan bagian belakang frame dengan bagian atas di dekat sadel.

Mengapa? Colp menjelaskan, sepeda TT memang sangat cepat, tapi biasanya juga sangat kaku dan keras. “Tanpa seatstay, sepeda jadi lebih nyaman, karena tidak ada getaran yang naik ke sadel,” jelasnya.

Sepeda itu disebut akan memberikan keunggulan bagi atlet triathlon. Karena lebih nyaman, pengendaranya akan lebih fresh dan bisa mengikuti fase lomba berikutnya (lari) lebih kuat.

Untuk melakukan itu, butuh proses produksi yang inovatif, yang memastikan chainstay (penopang roda belakang) cukup kuat dan kaku.

Legend juga memakai disc brake. Plus, semua kabelnya di kawasan kokpit (depan) tersembunyi di dalam frame atau fork (garpu depan). Tentu saja, bobotnya harus ringan. Colp menarget bobot sepeda total di kisaran 6-7 kilogram.

Colp mengungkapkan, prototipe Legend yang dipajang itu masih terbuat dari plastik. Versi karbonnya baru akan selesai dibangun bulan depan. “Saya akan mengujinya dulu, memastikan keandalannya sebelum mulai menjualnya,” ucapnya.

Selain bikin aero road bike, Culprit punya obsesi unik: Membuat sepeda balap terbaik untuk anakanak. Salah satu produknya, Junior One, juga memenangi 2013 IF Design Award.

“Sebab, small rider (anak-anak, Red) juga punya hasrat untuk naik sepeda high-end.” Begitu yang tertulis di profil Culprit.
***

Di Taipei Cycle 2013, produk eksotis dan inovatif tidak hanya dari arena road bike. Sepeda listrik dan lipat pun bisa mengajak kita geleng-geleng kepala.(*)
(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s