Harus Ulangi Lagi, Jangan Sampai Bobot Bertambah

Senin, 23 Juli 2012 , 00:03:00

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (6)

064428_936179_tdf_6Jersey Persahabatan-Jersey Jawa Poss Cycling Tour de France menarik perhatian peserta tour lain. Usai diner, Paula Braden, asal Alanta, USA meminang Jersey salah satu peserta rombongan Jawa Pos Cycling untuk dibawa sebagai kenangan ke negaranya. Foto : Boy Slamet/Jawa Pos
 
Ikut program bersepeda Tour de France, rombongan Jawa Pos Cycling dapat kesempatan bertemu dengan cyclist dari negara-negara lain. Bisa berbagi cerita dan pengalaman.

Catatan AZRUL ANANDA

Setelah empat hari bersepeda melawan tanjakan, panas, dan dingin, Jumat (20/7) adalah hari travel sekaligus istirahat. Rombongan menuju utara Prancis, bersiap menikmati dua hari penutup Tour de France 2012.

Jumat itu kami sebenarnya juga “menjauh” sebentar dari sirkus “Le Tour”. Ketika para pembalap menjalani rute flat 222,5 km dari Blagnac (dekat Toulouse) menuju Brive-la-Gaillarde, kami naik kereta dari Pau menuju Nogent le Rotrou (semakin dekat ke Paris).

Diberi waktu istirahat dan bangun lebih siang, Jumat itu kami baru check out dan meninggalkan hotel di Pau sekitar pukul 11.00. Satu jam kemudian, kami naik TGV yang bisa melaju lebih dari 200 km/jam.

Total perjalanan yang harus kami tempuh lebih dari enam jam. Dua setengah jam dari Pau ke Bordeaux, lalu hampir tiga jam ke Stasiun Saint Pierre des Corps, kemudian sekitar 20 menit naik kereta komuter ke Vendome. Di sana makan malam dulu, lantas naik bus lagi sekitar sejam menuju penginapan di Nogent le Rotrou.

Mengapa ke sana? Sebab, kami akan mengejar dua etape terakhir yang sangat menentukan. Letak Nogent le Rotrou dekat sekali dengan Chartres, tempat etape 19 berakhir pada Sabtu (21/7).

Hari itu (kemarin, Red) kami akan mengunjungi beberapa kawasan wisata, lalu menonton ending etape di kawasan khusus VIP. Itu akan jadi pengalaman unik. Sebab, pembalap tidaklah “balapan”. Melainkan menjalani individual time trial (ITT), satu per satu berlomba melawan waktu dengan menggunakan sepeda-sepeda TT yang eksotis dan aerodinamis.

Panjang etape itu 53,5 km. Tanda-tandanya, juara Tour de France 2012 akan dikunci di etape itu. Bradley Wiggins, andalan Team Sky, adalah unggulannya.

Setelah etape TT usai, kami langsung diangkut menuju Paris. Minggu pagi (22/7) kami akan diberi kesempatan merasakan bersepeda di Champ-Elysees, salah satu jalan paling kondang di dunia. Di jalur itulah Tour de France 2012 berakhir dan kami akan melintasi garis finis beberapa jam sebelum para pembalap datang.

Siangnya, kami dapat area nonton khusus lagi, menyaksikan finis terakhir Tour de France 2012. Sekaligus menonton penobatan juara di atas podium.

Bahwa pada hari perjalanan itu tidak ada acara bersepeda, bukan berarti tidak ada cerita. Pertama-tama, kami bersemangat naik TGV. Lama-lama bosan juga.

“Pilih mana, lima jam naik kereta atau bersepeda?” tanya Bambang Poerniawan.

“Ya jelas pilih naik sepeda,” timpal Djoko Andono, salah satu penghobi sepeda paling top di Surabaya.

Kami pun bicara betapa serunya “siksaan” tanjakan-tanjakan yang telah kami lalui. Col d’Aubisque, tanjakan hors categorie setinggi 1.709 meter, dipelesetkan oleh teman-teman jadi “Engkol Abis”.

Sony Hendarto mengatakan bahwa kami harus ikut tur itu lagi tahun-tahun ke depan. Sebab, masih banyak tanjakan kondang Tour de France yang bisa dijajal. Toh, sekarang kami semua sudah tahu seperti apa kira-kira beratnya dan lain kali bisa menyiapkan setelan sepeda yang lebih pas lagi.

“Masih ada Tourmalet, Galibier, Alp d’Huez, dan Ventu,” ujarnya, menyebut empat tanjakan “paling menyeramkan” dalam sejarah lomba.

Dalam perjalanan itu, kami juga bertemu lagi dengan kelompok peserta dari negara-negara lain. Misalnya Amerika Serikat, Australia, Brasil, dan Kanada.

Karena ada banyak waktu longgar dan kami tidak bertemu dalam kondisi ngos-ngosan, percakapan jadi lebih panjang. Beberapa di antara mereka ternyata sebelumnya pernah ikut program tersebut. Misalnya pasangan dari Vancouver, Kanada, Eric dan Elaine Edwards. Ini adalah kali kedua mereka ikut tur sepeda di Prancis.

Tiga tahun lalu mereka menjajal yang lebih “seram”, termasuk di antaranya mendaki dua puncak tinggi dalam hari yang sama. “Butuh waktu seharian,” ungkap Eric Edwards.

Kepada kami, mereka menyarankan kami kelak kembali lagi. Sama dengan yang disebut Sony Hendarto sebelumnya, masih banyak tempat yang belum kami rasakan “siksaannya”. Padahal, dia melihat kami benar-benar kesulitan menaklukkan tanjakan Col d’Aubisque!

“Kalau ingin mengulangi, saran saya satu: Jangan sampai berat badan Anda bertambah,” ucapnya.

Paula Braden dari Atlanta, Georgia, datang sendirian untuk ikut program itu. Penggemar berat balap sepeda tersebut tidak punya alasan khusus. “Saya suka bersepeda dan saya suka sekali Tour de France,” katanya.

Braden termasuk yang sangat senang melihat kehebohan grup Indonesia, yang tak pernah berhenti bercanda. Dia juga suka melihat kami selalu kompak berseragam saat bersepeda dan setiap hari ada seragam yang berbeda.

Kepada kelompok kami, dia pernah minta salah satu jersey untuk kenang-kenangan. Dia minta khusus yang hitam-biru bertulisan “Jawa Pos Cycling”. Kebetulan, Djoko Andono punya ekstra dan tentu kami semua dengan senang hati memberikan jersey itu kepadanya.

Hengky Kantono menyerahkan jersey itu kepada Braden dalam salah satu acara makan malam di Pau. Selama di kereta, kami juga mulai menyiapkan rencana akan ngapain saja di Paris beberapa hari kemudian, setelah Tour de France berakhir. Karena sudah jauh-jauh di Prancis, kami akan mencoba keliling Paris naik sepeda sendiri, mengunjungi tempat-tempat paling terkenal dan foto-foto.

Saya bicara kepada beberapa teman, perjalanan ini harus selengkap mungkin. Harus bisa membawa pulang cerita (karena saya juga menulis tentang ini setiap hari!). Prajna Murdaya sepakat. “Hidup ini seperti momen yang berseri. Bukan sesuatu yang dirangkum di bagian akhir,” ujarnya.

Tapi, jangan sampai lupa mengunjungi butik-butik fashion kondang. Bukan untuk diri sendiri karena kami semua lebih suka mengunjungi toko-toko sepeda. Melainkan belanja untuk yang di rumah. Khususnya bagi mereka yang butuh “visa khusus” dari istri, supaya kelak (mungkin tahun depan?) diizinkan pergi lagi”. (bersambung)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s