Jawa Pos Peduli Perempuan

OCTOBER 31, 2011 | BY 

IMG 1773 Jawa Pos Peduli Perempuan

Biasanya, kalau kita melihat survei pembaca majalah dan koran, laki-laki selalu mendominasi. Namun, di balik dominasi laki-laki itu, peran perempuan sangat besar. Paling tidak inilah yang dilihat Azrul Ananda, Presiden Direktur Jawa Pos.

“Sejak sepuluh tahun lalu, Jawa Pos menyadari peran perempuan sangat besar. Mengingat 75 persen pembaca itu pelanggan dan bukan pembeli eceran. Di sini, orang membeli koran ternyata lebih dipengaruhi oleh perempuan dan bukan bapaknya. Keputusan keluarga dipengaruhi oleh perempuan,” kata Azrul sebelum tampil sebagai narasumber Marketeers Dinner Seminar, di Ballroom FourSeasons Hotel, Jakarta, Senin (31/10/2011).

Sebab itu, Jawa Pos juga memberi porsi untuk pembaca perempuan ini. Kalau untuk pembaca muda, Jawa Pos memunyai  halam khusus DetEksi, untuk pembaca perempuan Jawa Pos juga memberikan halam khusus. “Dalam tradisi redakktur Jawa Pos, sebelum mengeluarkan berita, wajib memikirkan berita untuk perempuan. Tidak harus ada berita tentang perempuan, tapi harus ada unsur perempuannya. Itu wajib ada di Jawa Pos,” kata Azrul.

Setahun terakhir, Jawa Pos mendedikasikan empat halaman setiap terbit untuk kaum perempuan dengan nama Jawa Pos For Her. “Biasanya halaman khusus perempuan bukanlah hal baru di koran-koran. Namun, di Jawa Pos pemberitaannya lebih tajam dan fokus untuk perempuan,” tambah Azrul.

Selain itu, untuk membentuk kultur yang menghormati perempuan, sambung Azrul, Jawa Pos berusaha mengubah cara berpikir timnya.  Misalnya, di Jawa Pos, tidak boleh lagi ada kata “wanita.” Kata “perempuan” dipilih karena dinilai lebih memuat nilai penghormatan pada perempuan. “Sudut pandang halaman juga harus perempuan dan dikelola oleh tim redaksi yang semuanya adalah perempuan termasuk fotografer,’ kata Azrul.

Menariknya lagi, di halaman perempuan tersebut ada rubrik khusus yang membahas tentang perceraian dari sudut padang perempuan yang bernama rubrik “Divorce.” “Ini merupakan rubrik pertama di koran Indonesia yang terbit setiap Rabu. Rubrik ini diangkat untuk mengimbangi berita-berita seperti berita seputar perceraian selebriti yang lebih kental sudut pandang laki-lakinya. Kita justru mau angkat cerita-cerita orang-orang lain dan terutama khusus dari sudut pandang perempuan,” kata Azrul.

Satu lagi yang unik. Setiap edisi Minggu, ada satu halaman penuh yang didedikasikan khusus untuk perempuan untuk “curhat” tentang suami atau laki-laki yang bernama “Letter to Him.” “Di sini, perempuan bebas bicara bahkan ‘menghujat’ suami, pacar, maupun teman laki-lakinya,” imbuh Azrul.

Selain dalam rubrikasi, Jawa Pos juga rajin mengadakan roadshow untuk menemui komunitas-komunitas perempuan dengan aneka program.  Azrul menandaskan percuma kalau melakukan pemberdayaan perempuan di luar, kalau di dalam diri Jawa Pos sendiri tidak dilakukan. Di Jawa Pos, semua karyawan laki-lakinya harus ikut pelatihan seputar dunia perempuan. Hal ini hukumnya wajib bagi karyawan laki-laki yang ingin naik gaji. Untuk karyawan perempuan, diharuskan untuk ikut pelatihan-pelatihan, seperti tentang kesehatan reproduksi perempuan. “Ruang redaksi kami cat dengan warna pink.  Seragam karyawan baik laki-laki dan peremuan untuk setiap Kamis harus berseragam warna pink. Dengan cara totalitas ini, misinya baru bisa dicapai,” pungkas Azrul.

sumber : http://the-marketeers.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s