Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (2)

SELASA, 11 SEPTEMBER 2012
 

 

 

 

TOKO 100 TAHUN PLUS: Azrul Ananda (kiri) dan Agung Kurniawan di depan Rossignoli, toko sepeda di Milan yang berdiri sejak tahun 1900. FOTO JPNN

Usia Sudah 70 Tahun, Seminggu Hanya Bikin Dua Frame
Di Milan, ada toko sepeda yang sudah berdiri sejak 1900. Banyak pula artisan (seniman) sepeda yang namanya superkondang di seluruh penjuru dunia.
Laporan Azrul Ananda, MILAN

Kalau suka sepeda, sama dengan otomotif, nama-nama paling eksotis datang dari Italia. Kalau di dunia mobil ada Ferrari dan Lamborghini, di dunia sepeda ada Colnago, Pinarello, Cinelli, dan lain sebagainya.

Nah, kalau berkunjung ke Milan, ada kesempatan untuk mengunjungi langsung bengkel, pabrik, atau markas merek-merek ternama itu. Banyak di antara mereka yang letaknya di Milan atau di sekitar Milan.

Sebut saja Colnago, yang berpusat di Cambiano, di utara Milan, di dekat sirkuit Formula 1 Monza. Lalu ada De Rosa, Cinelli, dan lain-lain. Kalau seniman sepeda, nama yang kondang, antara lain, Masi. Kalau kita perhatian, merek-merek itu sudah tidak asing lagi di Indonesia. Banyak produk tersebut yang berseliweran di jalanan kita. Jika di Milan, tempat mereka berasal bisa dikunjungi secara langsung dengan relatif mudah.

Ketika tiba di Milan, sebagai penggemar sepeda, salah satu yang dicari pertama adalah toko sepeda. Searching di berbagai sumber, ada satu nama yang selalu muncul duluan. Yaitu, Rossignoli.

Usut punya usut, itu toko sepeda tua luar biasa. Berdiri sejak 1900. Jadi, sudah seratus tahun lebih eksis! Letaknya juga tidak berubah, selalu di kawasan Garibaldi. Itu masih di tengah Kota Milan. Kalau mau ke sana, tinggal naik subway jalur hijau, turun di Garibaldi atau lebih dekat lagi di Moscova.

Menemukan toko itu memang mudah. Tanya orang di sekitar stasiun, banyak yang tahu letaknya. Begitu tiba, toko tersebut langsung terlihat  ’’uzurnya”. Papan tulisan ’’Rossignoli” di depan dibiarkan memudar.

Apa isinya? Jangan mengharapkan sepeda-sepeda high-end yang harganya ajaib. Itu sebenarnya toko sepeda biasa untuk semua kalangan. Mau sepeda harga ribuan euro? Ada. Mau sepeda merek Rossignoli harga 200 euro (sekitar Rp2,4 juta)? Juga ada. Mau pesan sepeda custom sesuai bentuk dan ukuran badan kita? Juga bisa.

Dari begitu banyak sepeda (kebanyakan tipe urban) yang berkeliaran di jalanan Milan, sangat besar kemungkinan kita melihat yang bermerek Rossignoli.

Serunya, sepeda bekas juga banyak digantung di langit-langit toko. Sebuah sepeda balap Rossignoli edisi 1970-an, misalnya, dilego “hanya” 800 euro. Sebuah Pinarello KOBH (Dogma K) bekas edisi Team Sky, yang di Indonesia populer luar biasa, dijual  ’’hanya’’ 3.000-an euro.

Tokonya memang tidak besar. Seperti kebanyakan toko sepeda standar di Indonesia. Tapi, kalau jalan ke belakang, ada workshop, gudang, dan kantornya. Selama di Rossignoli, kami ditemani Matias Rossignoli, salah satu keturunan pendiri toko. Ya, toko itu masih terus dikelola keluarga secara turun-temurun. Sampai generasi keempat!

”Itu paman saya, itu juga cucu, itu keluarga yang lain,” kata Matias Rossignoli dengan menunjuk orang-orang yang bekerja di sekeliling toko. Iseng, saya tanya apakah bisa dibantu dibuatkan sepeda balap custom. Matias langsung mengajak saya ke workshop di belakang bersama seorang stafnya, Giovanni. Mereka pun langsung mengukur tinggi badan, panjang kaki, tangan, dan lain-lain.

Sebagai bahan informasi, tinggi saya 176 cm. Dengan inseam (jarak dari dasar lantai ke selangkangan) 82 cm. “Kamu ukuran 54. Kamu pakai stem 11 cm,” katanya. Kayaknya itu sangat akurat, sepeda saya di Indonesia kebanyakan memang berukuran 54, dan saya paling nyaman pakai stem 11 cm!

Matias lantas berjanji mengirim e-mail pilihan-pilihan spesifikasi sepeda. Bayangan saya, kalau tidak ketemu barang asyik di Milan, saya pesan saja sepeda balap klasik dari bahan steel (baja) di Rossignoli.

Dari toko utama itu, di sebelahnya ada lagi toko bernama “Rossignoli”. Isinya jualan pakaian dan aksesori bersepeda. Juga pakaian dan aksesori motor. “Ini pasti saudara yang lain,” kata saya dalam hati.

Rossignoli termasuk berkesan. Tapi, lebih berkesan lagi saat menuju Vigorelli Velodrome. Di sanalah tempat Alberto Masi bekerja membuat sepeda.

Untuk penggemar sepeda, nama Masi sangatlah familier. Khususnya di kalangan penggemar sepeda fixed gear (fixie) dan classic. Banyak sekali sepeda merek itu yang dijual di Indonesia. Harganya tidak supermahal, walau juga tidak murah.

Meski demikian, tidak banyak yang tahu bahwa merek Masi itu sudah pecah dua. Masi yang kebanyakan beredar bukanlah Masi yang ’’sebenarnya”. Bukan, bukan berarti palsu. Sama-sama asli. Tetapi, Masi yang satu sudah jadi ’’Masi industri”, sedangkan yang orisinal masih dibuat satu per satu sendiri oleh orang yang bernama Alberto Masi di Milan.

Ceritanya cukup panjang dan rumit. Pada 1950-an dan 1960-an Faliero Masi menjadi kondang berkat sepeda yang dia buat untuk para legenda balap. Seperti Eddy Merckx, Jacques Anquetil, Fiorenzo Magni, dan lain sebagainya.

Pada 1972 Faliero pindah ke Amerika Serikat sekaligus menjual hak nama Masi kepada investor di sana. Harapannya, mereka bisa mengembangkan perusahaan. Kenyataannya, Faliero tidak betah di California. Ingin pulang ke Italia.

Lanjut cerita, entah bagaimana detailnya, terjadi perselisihan yang tak bisa diselesaikan. Faliero, yang menurunkan kemampuan istimewanya kepada sang anak, Alberto, kemudian terus membuat sepeda-sepeda secara eksklusif untuk para klien. Toh, para klien itu tetap ingin sepeda yang dibuat oleh orang bernama Masi. Bukan sekadar merek Masi.

Alhasil, kini ada dua merek Masi. Yakni, yang produksi masal dari Amerika (dan diklaim oleh Alberto Masi berkualitas lebih buruk karena dibuat murni untuk bisnis) serta yang dibuat satu per satu oleh keluarga Masi di laboratoria (bengkel) mereka di Vigorelli.

Faliero sendiri meninggal di usia 93 tahun pada Desember 2000. Alberto, kini 70 tahun, masih bekerja di Vigorelli bersama beberapa asisten.

Konsekuensi hukum dari perselisihan itu: Dua-duanya boleh bikin sepeda merek Masi. Hanya, bengkel di Vigorelli tidak boleh menjual buatan mereka di Amerika dengan menggunakan nama tersebut. Kalau mau berjualan ke Negeri Paman Sam, mereka pakai merek Milano V3.

Beberapa klien kondang yang sekarang masih pesan sepeda di situ adalah Miguel Indurain, Greg LeMond, serta beberapa legenda balap lain dari era 1980-an dan awal 1990-an.

Nah, kalau ingin mengunjungi langsung Alberto Masi, saat ini masih sangat mungkin dilakukan. Vigorelli Velodrome sudah tidak lagi dipakai, tapi lokasinya mungkin menarik untuk dihampiri karena kedekatannya dengan tempat kondang lain: San Siro.

Kalau naik subway, turunnya di kawasan San Siro. Jalan kaki kira-kira 2 kilometer, sampailah kita di Vigorelli. Bengkel Masi, yang ada di situ sejak 1950-an, juga gampang didapati. Di ujung jalan, ada jersey warna pink (simbol juara sepeda di Italia) yang ditempel ke papan dengan tulisan “Masi” serta bendera Italia. Lalu, ada panah yang menunjukkan arah kita harus berjalan.  Tidak jauh dari situ, terlihatlah bengkel yang menempel di sisi velodrom tersebut. Tidak ada penanda mewah.

Saya dan rekan Agung Kurniawan mengunjungi Masi Kamis pagi (6/9), sekitar pukul 09.00. Rencananya, dari Masi, baru akan ke Sirkuit Monza untuk meliput hari persiapan Grand Prix Italia.

Pagi itu, ketika tiba di bengkel Masi, alangkah terkejutnya kami. Hanya ada satu orang yang sedang bersiap bekerja, memasangkan celemek. Dia adalah Alberto Masi sendiri!

Melihat kami dan setelah kami jelaskan (pakai bahasa Inggris) bahwa kami berasal dari Indonesia, dia memberi tanda pakai tangan untuk menunggu sesaat. Rupanya, dia tidak bisa bahasa Inggris dan meminta kami untuk menunggu beberapa menit. Rekannya akan datang untuk membantu menerjemahkan.

Sambil menunggu, dia bekerja membuat sepeda dan kami dipersilakan menikmati isi bengkel. Foto-foto dan melihat-lihat. Tempat yang kami kunjungi itu benar-benar “bengkel”. Tidak ada sepeda yang dijual, tidak ada aksesori yang dijual. Beberapa sepeda dipajang bukan untuk dijual, melainkan sebagai contoh atau penanda sejarah.

Sebuah sepeda bertulisan “Faema” merupakan yang dibanggakan. Itulah sepeda yang dipakai Eddy Merckx meraih kesuksesan pada 1968. Dan sepeda itu bukan untuk dijual!

Tidak lama, datanglah Romano Raptetti, salah satu asisten Alberto. Kami lantas berbincang dengan Alberto via Raptetti sebagai penerjemah. Percakapan sangat santai dan penuh canda. Alberto orangnya agak diam, tapi celetukannya lucu, sementara Raptetti dasarnya suka bercanda.

Alberto rupanya meneruskan passion ayahnya soal sepeda dari bahan baja. Sang ayah dulu ekstrem, bilang steel or nothing. “Bahan-bahan lain itu tak ada gunanya. Tujuan mereka hanya untuk cari uang.” Begitu komentar Faliero Masi dulu.

Alberto Masi agak beda. Baginya, steel tetap yang terbaik. Dengan kualitas bahan dan penggarapan, ia akan lebih abadi. Ada beberapa contoh frame rusak di bengkelnya, semua terbuat dari kombinasi karbon dan aluminium.

Kata mereka, dua bahan itu sebenarnya tak boleh dipadukan. Mereka seperti air dan minyak. “Seperti Mike Tyson melawan George Foreman,” tandas mereka.

Ditambahkan pula, bahan aluminium juga kurang oke. ’’Buat balapan, aluminium tidak bagus,” komentar mereka. Kami bertanya, berapa sepeda bisa dibuat Pak Masi dalam seminggu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pesan dari dia?

’’Biasanya pesanan bisa dipenuhi dalam 50 hari. Seminggu bisa bikin sekitar dua frame. Tetapi, bergantung situasi. Kalau lagi banyak pesanan, bisa lebih lama. Bulan Juli lalu, misalnya, ada orang Jepang yang pesan sepuluh frame,” jelas Alberto.

Alberto Masi menegaskan, barang garapannya orisinal. Bukan Masi yang dimassalkan. Dan kalau dipikir, memang tidak mungkin ada banyak barang yang beredar. Dijelaskan, dia tidak mungkin membuat lebih dari 800 frame per tahun.

Jadi, kalau ada yang menawari sepeda merek Masi di Indonesia, tanyakan kepastiannya. Itu berasal dari perusahaan Masi di Amerika atau buatan Masi di Vigorelli. Kalau buatan tangan Alberto Masi, ada tanda tangannya di top tube, di dekat sadel.

Harga buatan Alberto Masi juga tidak gila-gilaan. Di kisaran Rp25 juta-Rp40 juta untuk frame (bisa lebih kalau speknya lebih rumit dan kualitas bahan lebih tinggi).

Nah, itu bikin saya benar-benar tertarik. Buatan tangan Alberto Masi punya nilai masa depan. Alberto pun mengukur badan saya untuk membuatkan frame ukuran custom. Dia mengukur sendiri (dengan dibantu Raptetti) dan mencatat sendiri spek yang kami sepakati dengan tulisan tangan. Tidak ada komputer di bengkelnya di Vigorelli.

Ukuran saya? Kata Alberto, saya panjang di badan, relatif pendek di kaki, tapi dengan tapak kaki yang panjang (ukuran 46). “Kaki kamu semua panjangnya di telapak,” kelakarnya.

Jadi, saran dia adalah ukuran 54 cm dengan panjang top tube 545-550 cm. Plus stem 11,5 cm. Alberto ingin pemesan benar-benar puas. Semua detail dia tanyakan. Lekukan di bagian atas fork (garpu depan), warna yang benar-benar pas, warna tulisan, bentuk tulisan, dan lain sebagainya.

Ketika ada tambahan detail lagi, keesokannya Alberto sendiri yang menghubungi ponsel saya. Lewat Raptetti lagi, dia ingin memastikan sebuah spek yang saya inginkan. Dan memang, meski punya e-mail, Alberto lebih suka komunikasi via old school. Ya lewat telepon.

Sepeda buatan tangan Alberto Masi itu –kalau nanti selesai dan dikirim ke Indonesia– akan jadi kenang-kenangan paling orisinal dari Milan!  (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s