Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (3)

Menikmati Gaya dan Orang Belanja di Kota Mode Dunia Milan

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2012
boks
JUJUKAN FASHIONISTA: Jalan Montenapoleone yang menjadi tempat berlangsungnya Milan Fashion Week pekan depan. FOTO ARIYANTI K.R./JPNN

Susuri Jalan Milan Fashion Week, Lupa Putari Bull’s Ball
Selain sepak bola, Milan dikenal karena fashion-nya. Bahkan, Milan sering disebut sebagai salah satu ibu kota fashion dunia. Berada di sana selama dua hari, kami menjadi tahu bagaimana sebutan itu bisa tersemat di kota yang masuk wilayah Lambordy, Italia, tersebut.
Laporan Ariyanti K.R., MILAN

Begitu menjejakkan kaki keluar terminal subway Metro kuning di Duomo siang itu (8/9), saya bersama Ivo Ananda, fashion police rubrik Jawa Pos For Her, langsung disuguhi pemandangan bak keramaian pasar. Banyak orang berlalu lalang dengan tentengan tas belanja berbagai ukuran. Berjalan ke kiri, ada gerai label United Colors of Benetton. Empat lantai gerai itu menyajikan kebutuhan berbeda. Bawah tanah untuk anak-anak, satu perempuan, dua laki-laki, dan tiga aksesori.

Melangkah ke seberang, ada butik Zara. Pengunjungnya juga ramai. Di kasir minimal selalu ada sepuluh orang yang mengantre hingga toko tutup pukul 20.00. Tren baju-baju bertema army dan celana panjang dengan ritsleting di samping bawah memang menarik minat.

Keluar dari situ, teruslah melintasi Corso Vittorio Emanuele tersebut. Ratusan outlet dengan brand populer berjajar. Levi’s, Guess, H&M, hingga merek lokal mengisi deretan toko yang sebagian besar merupakan bangunan klasik Italia itu.

Masih belum puas berbelanja baju, sepatu, tas, dan pernik-pernik fashion di situ, segeralah bergegas ke Galleria Vittorio Emanuele II yang letaknya tak sampai sepuluh menit berjalan kaki. Bangunan yang menjadi tempat shopping model arcade (gedung berlorong tertutup atap) itu sangat ikonis, elegan, dan berkelas.     Selesai didirikan pada 1877, Galleria yang menjadi jalan penghubung dua landmark Kota Milan, Piazza Duomo dan gedung opera Teatro Alla Scala, itu ditutup atap kaca berkombinasi dengan besi. Lantainya marmer bermozaik. Brand luxury seperti Prada, Gucci, dan Louis Vuitton berada di Galleria.

Di tempat itu juga tersebar kafe-kafe ternama dengan menu khas Italia. Sekali makan di situ, satu orang dengan porsi biasa appetizer oven baked dan  main course steak serta air mineral, harga yang dibayar sekitar Rp600 ribu. Wow! Harga makan di situ memang lebih mahal daripada tempat lain di Milan. Tetapi, itu pantas dengan kebanggaan bisa nongkrong di tempat prestisius tersebut.

Milan Fashion Week merupakan even mode yang sangat bergengsi. Di seluruh dunia hanya ada empat fashion week besar yang menjadi acuan tren mode. Skedulnya dimulai dari New York Fashion Week, kemudian London, selanjutnya Milan, serta berakhir di Paris. Dan, peragaan koleksi Prada sebagai brand ternama Italia selalu menjadi bagian pertunjukan yang paling dinanti.

Banyaknya turis yang datang membuat kami kesulitan menilai style warga setempat. Namanya turis sedang berbelanja di musim panas, gayanya nyaris seragam. Kasual dengan sepatu flat, celana pendek atau jins panjang, dengan atasan kaus. Yang penting nyaman. Camilla Stech, seorang SPG (sales promotion girl), juga mengatakan sebagai perempuan Milan, dia merasa kondisi yang tercipta di sekeliling membuatnya harus selalu gaya.

’’Di sini kami bisa melihat perkembangan fashion terkini. Seminggu sekali saya pasti jalan ke shopping mall untuk melihat apa yang menjadi tren. Tentu tidak semua bisa terbeli. Tetapi, saya menjadi pintar mix and match. Kalau mau aman, ya pakai saja dress warna hitam yang timeless,” kata perempuan 27 tahun itu.

Ucapan perempuan tersebut ada benarnya. Berada di subway Metro, baik pagi maupun malam, kami bisa dengan mudah menemukan perempuan dengan dandanan chic menenteng tas bermerek. Beberapa di antara mereka menambahkan syal untuk atribut gaya. Ankle boot, stiletto, hingga flat shoes modis menjadi pelengkap penampilan.

Perjumpaan Milan dengan fashion, baju, dan industri tekstil dimulai sejak akhir abad ke-19. Awalnya, industri fashion di sana menjiplak desain fashion papan atas Paris. Namun, tak lama kemudian, Milan mengembangkan gaya sendiri. Kota yang menjadi markas tim sepak bola AC Milan itu mulai memunculkan namanya pada dekade 1970 dan 1980-an, membuatnya makin prestisius pada 1990-an, dan pada 2000-an resmi menjadi salah satu di antara big four kota fashion dunia.

Tak semua jalan terkenal di Milan bisa kami singgahi dalam waktu sesingkat itu. Misalnya, kami tak sempat melakukan ’’ritual” memutari gambar Bull’s Ball di Galleria Vittorio Emanuele. Menurut kepercayaan warga di sana, jika ’’ritual’’ itu dilakukan, dipercaya membuat kita bisa kembali ke Milan dan bernasib baik. Bull’s Ball adalah sebuah mozaik batu bergambar kerbau dengan sebuah lubang tepat berada di testikelnya.

Meski tak menjalani ’’ritual” itu, kami tetap berharap bisa datang ke sana lagi. Sebab, aktivitas dunia fashion di Milan memang nikmat untuk dijelajahi. Dengan segala yang terjadi di dalamnya, Milan layak menjadi pusat mode dunia.

Apalagi, pemerintah Italia punya kebijakan goods and services tax (GST) refund. Pajak barang yang dibeli bisa dikembalikan saat kita akan meninggalkan bandara negeri pemilik Menara Pisa itu. Ow, siapa yang tak mau. Pemerintah Italia biasanya menetapkan pajak 20 persen untuk banyak hal. Bagi penduduk non-Uni Eropa, pajak itu akan dikembalikan lagi.

Syarat utama pembelian minimal harus sebesar 154,94 euro (Rp1,9 juta) dalam satu waktu di satu toko. Selain itu, barang yang dibeli untuk keperluan pribadi, diangkut dalam bagasi sendiri, harus diperiksa oleh petugas pabean, dan maksimal tiga bulan sesudah pembelian sudah harus dibawa keluar Uni Eropa. (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s