Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

SENIN, 10 SEPTEMBER 2012

STASIUN KECIL: Suasana Stasiun Lesmo di dekat Sirkuit Monza. Dari tribun utama, orang harus berjalan lebih dari 3 km untuk mencapai stasiun ini. FOTO AGUNG KURNIAWAN/JPNN

Kalau Tak Ada Kereta, Jangan-Jangan Harus Menginap di Toilet

Milan bukan sekadar pusat fashion Italia. Kota itu juga jadi tujuan untuk nonton Formula 1 plus tempat bernaungnya para seniman sepeda legendaris dunia. Berikut catatan Azrul Ananda dari kota tersebut.
Bulan September ini merupakan bulan istimewa untuk mengunjungi Milano alias Milan. Di awal bulan, penggemar balap dapat suguhan super, salah satu lomba Formula 1 paling bergengsi: Grand Prix Italia. Di akhir bulan nanti, ada salah satu ajang fashion paling top, Milan Fashion Week.Tentu saja sambil menonton Formula 1, ada banyak hal lain yang bisa dinikmati di Milan. Penggemar sepak bola pasti ingin melihat San Siro. Penggemar sepeda, seperti saya, punya tujuan lain lagi: mengunjungi nama-nama besar sepeda dunia. Misalnya Masi dan Colnago yang bermarkas di kawasan Milan.Jadi, selama akhir pekan lalu (6-9 September), saya dan rekan Agung Kurniawan menyempatkan diri keliling mengunjungi para seniman sepeda sebelum pergi ke Sirkuit Monza untuk meliput Formula 1. Bisa pagi hari, bisa sore hari. Sambil jalan-jalan untuk melihat Milan yang sebenarnya. Bukan lewat jalur-jalur turis yang ’’normal”. Hal paling penting yang harus dibawa/dipakai untuk melakukannya: sepatu yang supernyaman untuk banyak jalan.

Bagi penggemar balap, apalagi F1, Autodromo Nazionale Monza (Sirkuit Monza) merupakan salah satu venue impian yang ingin dikunjungi. Sudah eksis sejak 1922, sudah menjadi bagian dari F1 sejak seri paling bergengsi itu dimulai pada 1950.

Plus, itu adalah kandang Ferrari, tim paling legendaris yang punya jutaan penggemar di seluruh dunia. Tim berlogo Kuda Jingkrak itu bermarkas tak jauh dari Milan, di Maranello. Jadi, para penggemar juga bisa menyempatkan diri ke sana.

Juga memang meliput  dan menonton  F1 di Monza sangat seru. Para penonton, mayoritas tifosi (pendukung Ferrari), selalu memadati sirkuit berkapasitas tribun sekitar 115 ribu orang itu. Total diperkirakan lebih dari 300 ribu orang mengunjungi Monza selama akhir pekan F1.

Kamis saja, saat persiapan dan belum ada mobil turun ke lintasan, lebih dari 10 ribu orang sudah berkumpul di Monza. Padahal, bukan hal mudah untuk mencapai sirkuit tersebut. Letaknya agak jauh di utara Milan (sekitar 30 km) dan tidak ada jalur transportasi yang ideal. Semua tetap akan melibatkan banyak jalan kaki. Tinggal memilih, mau jalan 1 kilometer, 3 kilometer, atau lebih.

Bagi penggemar yang datang dari luar negeri, idealnya memang menginap di sekitar Monza. Atau di kota-kota kecil yang mengitarinya. Tapi, tempat menginap paling enak memang di Milan. Kalau tidak ke sirkuit, bisa jalan-jalan di kota yang keren tersebut.

Dari Milan itu, pilihan transportasinya harus jitu untuk bisa ke Monza. Kalau tidak, bisa kena jebakan Batman, jalan kaki superjauh. Jujur, karena saya dan Agung punya akreditasi media untuk meliput, jalur kami tidak seberat penonton biasa. Ada fasilitas mobil shuttle dan kawasan parkir khusus, bisa langsung masuk dekat paddock tempat tim dan media bekerja. Tapi, di tulisan ini saya ingin menyampaikan trik-trik kalau jadi penonton/penggemar.

So, mau ke Monza dari Milan?Berikut alternatif-alternatifnya: Naik taksi? Tentu saja oke. Bersiaplah membayar lebih dari 100 euro (lebih dari Rp 1,2 juta) untuk sekali jalan. Itu pun belum tentu bisa masuk ke kawasan sirkuit. Turun agak jauh, tetap jalan kaki lebih dari 2 kilometer untuk mencapai pintu sirkuit. Belum ke tribun atau jalan-jalan di dalamnya.

Sewa mobil, ini juga opsi. Namun, tetap saja kawasan parkirnya jauh. Kata seorang penonton yang temannya sewa mobil, makin hari area parkirnya juga makin jauh. Sebab, Sabtu lebih ramai daripada Jumat dan Minggu lebih ramai daripada Sabtu. Jadi, itu bukan opsi menarik kalau jadi penonton  ’’biasa’’.

Karena itu, ada beberapa alternatif lebih baik yang bisa dijalani, melibatkan kereta. Tetapi, kalau tidak tahu triknya, bisa jalan kaki jauh sekali. Ada teman-teman F1 Mania dari Indonesia yang merasakan jauhnya itu serta sempat membuat saya dan Agung ikut merasakannya.

***

Memang, kalau ikut panduan resmi, ada kereta yang nyambung langsung dari Milan ke Monza. Dengan sistem subway yang komplet dan cepat, dari mana saja kita tinggal menuju Stasiun Garibaldi di kawasan pusat kota. Di sana naik kereta  yang hampir setiap jam tersedia menuju Monza.

Tiketnya murah, hanya 1,5 euro untuk subway sekali jalan plus sekitar 2 euro untuk kereta menuju Monza. Tapi, hati-hati. Sebab, ada dua stasiun yang bisa dituju di kawasan Monza. Yang satu Stasiun Monza, dan itu letaknya bukan di sirkuit, melainkan di kotanya. Silakan turun di situ dan Anda tetap harus naik bus lagi atau jalan kaki 12 kilometer!

“Kami (Kamis, 6/9) naik kereta ke sana. Ternyata bus ke sirkuit belum ada. Jadi deh jalan kaki 12 kilometer ke sirkuit,” ucap Ihsan Raharjo, mahasiswa Indonesia di Jerman yang mengisi liburan dengan nonton F1 di Italia bersama temannya, Jefri Christian.

Stasiun kereta yang paling dekat dengan sirkuit adalah Stasiun Lesmo. Namanya sama dengan salah satu tikungan Sirkuit Monza dan memang letaknya berdekatan.

Rombongan lain dari Indonesia sempat diinstruksikan untuk turun di sana. Sebab, tiket nonton juga diminta diambil di sana. Katanya hanya 200 meter dari pintu sirkuit.

Benar memang, stasiun itu hanya 200 meter dari pintu sirkuit. Tapi, pintu yang jauuuuuuuuuuh dari tribun utama dan paddock. Dari ujung ke ujung. Total harus jalan kaki sekitar 3 kilometer dari pintu Lesmo menuju kawasan paddock. Bukan lewat jalan aspal atau jalan resmi, melainkan jalan setapak yang rasanya seperti menembus hutan.

Sirkuit Monza memang berada di dalam kompleks Parco di Monza, taman/hutan terbesar di belahan utara Italia. Luasnya mencapai 150 hektare. Saya dan Agung mencoba naik kereta di Stasiun Lesmo itu saat pulang dari lintasan, Jumat sore setelah babak latihan (7/9). Untung masih sore. Kalau kemalaman, bisa gelap gulita. Dan untung tepat waktu. Sebab, kereta terakhir lewat pukul 20.09.

Petang itu, sekitar pukul 19.00, saat matahari mulai terbenam, saya dan Agung di Stasiun Lesmo bersama dua orang penggemar dari Bulgaria, hanya berempat.

Kami sama-sama bengong khawatir. Sebab, pintu bangunan stasiun dikunci dan tidak ada orang sama sekali. Di dalam gedung hanya ada screen yang menyala, menyebut masih ada kereta terakhir pukul 20.09. Kami berempat benar-benar ragu. Sebab, dari ribuan orang penonton di Monza, mengapa hanya kami berempat di situ?

’’Ini kali pertama kami nonton F1, kali pertama kami ke Monza,’’ aku Adrian Tsvetkov, pemuda dari Bulgaria itu. “Kami diberi tahu bahwa ini jalan yang lebih baik untuk kembali ke Milan,” lanjutnya.

Kami pun bercanda, seandainya tidak ada kereta, kami akan berjalan ke kawasan parkir para camper. Tempat orang-orang yang naik karavan parkir dan menginap selama akhir pekan. ’’Kita ketuk saja pintu mereka, minta menumpang tidur,’’ canda Adrian.

Kalau tidak boleh? Rekannya, Dobrin Dimitrov, punya ide lebih lucu. Dia menunjuk bilik-bilik toilet di depan stasiun. ’’Di situ saja, satu orang satu,” ucapnya, lantas tertawa.

Untunglah, benar-benar ada kereta di stasiun itu. Dan kami tidak berempat. Teman-teman F1 Mania Indonesia tiba di situ sekitar lima menit sebelum kereta berangkat (kalau tidak, gawat itu!). Penonton-penonton lain juga datang tepat waktu. Amanlah kami balik ke Milan, tidak perlu menginap di toilet.

Setelah beberapa hari, kami sekarang tahu jalur paling enak dari Milan ke Monza. Manfaatkan sistem subway yang lengkap dan cepat itu. Cukup 1,5 euro, terus naik subway jalur merah sampai pemberhentian terakhir di utara Milan. Total perjalanan dari Duomo (tempat turis dan belanja di pusat kota) hanya sekitar 15 menit.

Dari Sesto 1 Maggio, nama stasiun terakhir itu, ada dua opsi yang bisa diambil. Pertama, naik bus. Hanya bayar lagi 2 euro, ada bus nomor 221 yang turun di jalanan sekitar sirkuit. Tapi, cukup lama karena berhenti-berhenti, total bisa 45 menitan. Dan kalau bus penuh, bisa berdiri sepanjang jalan.

Alternatif lain, dari stasiun itu, naik taksi. Asal tahu saja, sepanjang akhir pekan grand prix, ada banyak jalan menuju sirkuit yang ditutup. Hanya taksi dan kendaraan dengan tanda khusus yang boleh masuk. Jadi, itu alasan lain naik mobil sendiri bukanlah alternatif.

Naik taksi dari situ relatif lebih fair harganya. Sekitar 30 sampai 40 euro, bergantung jalur dan kemacetan. Kalau berempat, bisa bagi ongkos maksimal.

Kalau naik taksi, minta turun di Via 4 Novembre 1918. Jalan itu lurus menuju pintu utama sirkuit. Dan jalan itu menarik karena ada pasarnya. Bayangkan, ada dua stan berseberangan. Satu berjualan buah, satu lagi berjualan merchandise Ferrari. Di sebelahnya, jualan ikan dan hasil laut!

Kalau naik taksi itu, pulangnya memang ribet. Apalagi pas rush hour, semua penonton mau pulang berbarengan. Kalau pulang, enaknya ya naik bus 221 itu lagi untuk kembali ke stasiun subway. Agak lama, tapi toh sudah tidak tergesa-gesa ke lintasan.

Walau banyak jalan kaki, bagi penggemar F1 Monza tetap berasa “ajaib”. Bagaimanapun, “budaya” F1 begitu kuat sehingga atmosfernya begitu hidup. Tidak seperti ke sirkuit-sirkuit “modern” di negara-negara yang tidak punya sejarah F1 (seperti kebanyakan di Asia atau Timur Tengah).

“Asyik lah sirkuitnya. Asyik banget suasananya,” kata Robianto Haripurnomo, 45, yang sering mengelola tur nonton bersama istrinya, Yenny “Ekies” Erika, lewat Lily Tour.

Bagi Sugeng Haryadi, 45, dan istrinya, Eka Dewi Vegajanti, 44, jalan jauh nonton F1 sudah jadi makanan selama belasan tahun. Pasangan Ferrari Mania dari Surabaya itu sejak 2000 rajin nonton F1 ke mana-mana. Mulai Malaysia, Tiongkok, Australia, hingga beberapa negara lain.

Karena penggemar berat Ferrari, mereka sekarang seperti ada di alam yang benar. Sabtu lalu (8/9) mereka sempat ikut tur ke Maranello, markas Ferrari. “(Jalan jauh) ini sudah biasa. Saya dulu hamil tujuh bulan juga tetap niat jalan kaki terus nonton F1 di Sepang (Malaysia, Red),” tutur Eka Dewi Vegajanti.

Saking gilanya pasangan itu terhadap Ferrari, putri terakhir mereka diberi nama Fiorano. Sama dengan nama sirkuit uji coba yang dimiliki pasukan Kuda Jingkrak!

Bagi saya pribadi, yang paling ingin saya lihat di Monza adalah bagian dari sirkuit lamanya. Khususnya bagian banking (lintasan miring) yang dulu merupakan bagian penting lintasan oval Monza. Ya, sirkuit itu dulu punya bagian oval.

Karena terlalu cepat dan berbahaya, bagian oval tersebut sudah puluhan tahun tidak dipakai. Tapi, dulu itu merupakan bagian dari magic Monza, banyak korbannya. Sampai sekarang, logo sirkuit masih menampilkan bentuk Monza sekarang plus lintasan oval tersebut.

Salah satu film balap favorit saya berjudul Grand Prix keluaran 1970. Film yang memenangi Piala Oscar itu bercerita tentang F1 zaman bahaya dulu. Dan salah satu tokoh utamanya tewas di oval Monza.

Kalau melihat di televisi, agak sulit mencari di mana bagian oval itu. Beberapa disembunyikan sebagai bando reklame. Di sirkuit, juga harus jalan “masuk ke hutan” untuk menemukannya. Sekarang lintasan oval itu sudah tidak dirawat, rerumputan tumbuh di sela-sela aspalnya.

Senang rasanya bisa melihat banking itu. Ketika mencoba mendakinya, alamak, ternyata miring sekali. Harus merangkak untuk mencapai ujung atasnya. Alangkah mengerikannya balapan di sana! (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s