Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (2)

Azrul Ananda Dorong Math Frank

Azrul Ananda Dorong Math Frank

19 August 2013

Oksigen Tipis, Jalan Naik Sedikit Langsung Ngos-ngosan

Wow, Aspen indah luar biasa. Sayang, badan kita butuh sedikit waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian dan udara tipis. Apalagi, kalau untuk beraktivitas cukup berat, seperti bersepeda ratusan kilometer dalam beberapa hari ke depan.

AZRUL ANANDA, Aspen

Tak sabar. Semangat. Merasa sulit memercayai mata. Mungkin begitu perasaan kami ketika akan mendarat di Aspen-Pitkin County Airport, di Rocky Mountains, Colorado, Jumat sore lalu (16/8, Sabtu WIB).
Terbang dari San Francisco, California, kami harus lebih dulu ke Denver, kota utama di Colorado. Baru kemudian naik pesawat lebih kecil, Bombardier (seperti yang dipakai Garuda Indonesia untuk rute pendek), menuju Aspen.
Sebelum mendarat, sudah terlihat betapa menakjubkannya Aspen. Tak heran kota yang berpenduduk hanya 6.000-an orang itu begitu kondang, menjadi tempat istirahat orang-orang superkaya, menjadi tujuan liburan yang luar biasa.
Dari hasil baca-baca, saking populernya, harga rumah rata-rata di Aspen ini mencapai lebih dari USD 4 juta (lebih dari Rp 40 miliar) per buah! Disebut sebagai salah satu tempat termahal, mungkin termahal, di dataran Amerika.
Hampir tidak ada lahan datar di sekeliling Aspen. Bukit naik-turun ke arah mana pun mata memandang. Dan begitu hijaunya, mengingat kita datang di tengah musim panas.
Aspen-Pitkin County Airport sendiri merupakan bandara kecil, namun sangat sibuk. Sehari bisa terjadi 103 pesawat beroperasi di sana. Kebanyakan adalah pesawat pribadi atau carteran khusus. Hanya 26 persen yang pesawat komersial.
Katanya, kami agak beruntung sore itu. Sebab, pada pagi hari cuaca kurang baik sehingga penerbangan dialihkan kota lain, kemudian penumpangnya harus naik bus beberapa jam menuju Aspen.
Begitu mendarat dan turun pesawat, pemandangan indah sudah mengelilingi kawasan runway. Tapi, di situ juga kami langsung menghadapi realita, bahwa untuk menikmati keindahannya kita harus bersabar.
Aspen terletak di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Udara dan oksigen begitu tipis. Udara juga sangat kering, benar-benar kebalikan dengan Indonesia yang begitu lembab (humid).
Badan saya sempat mengeluarkan keringat dingin, kepala terasa ringan. Seharusnya, itu memang normal ketika beradaptasi dengan altitude (ketinggian).
Ketika masuk ke toilet bandara, ada fitur unik pula di dalamnya. Tersedia lotion (pelembab) untuk yang membutuhkan. Saking keringnya udara di Aspen! Baru kali ini saya ke toilet bandara yang menyediakan pelembab.
Di dalam bandara, kami dijemput oleh Tim Coghlan, wakil dari Rapha “partner seragam Team Sky– yang akan menemani kami selama di Colorado. Dia segera mengingatkan kami untuk banyak minum air, mengatasi keringnya udara dan mempercepat proses adaptasi dengan ketinggian.
Coghlan, yang tinggal di Portland, Oregon (kantor Rapha di Amerika), sendiri mengaku sempat struggling (kerepotan) ketika kali pertama tiba di Aspen, beberapa hari sebelumnya.
Naik sebuah Mercedes Sprinter van yang dibranding Rapha (dikendarai dari Oregon), kami diantar menuju Hotel Wildwood di Snowmass, tempat penginapan kami pada hari pertama itu. Rapha sebenarnya sudah menyiapkan sebuah rumah besar untuk 11 peserta program gowes bareng Team Sky ini. Tapi baru akan ditempati mulai Sabtu, 17 Agustus.
Meski demikian, kami tidak komplain. Hotel tempat kami menginap adalah tempat di mana hampir seluruh tim peserta USA Pro Challenge menginap. Dan salah satu kawasan parkirnya sudah disulap menjadi kawasan kerja tim. Jadi, kalau beruntung, kami bisa bertemu dengan para pembalap!

Satu Hotel dengan Tim Peserta
Begitu sampai, kami bertemu lagi dengan orang-orang Rapha yang akan terus menenami. Ada Brad Sauber, yang menjadi manager tur. Ada Ben Lieberson, pria asal Inggris yang akan menjadi pemandu saat bersepeda.
Lieberson ini cukup populer bagi penggemar Rapha. Dia merupakan salah satu tokoh penting di program Rapha Continental, program bersepeda di tempat-tempat unik dan langka di seluruh dunia. Video-videonya sangat populer di You Tube.
Berusia 40 tahun, Lieberson ini terus keliling dunia bersepeda. Sebelum ke Aspen, dia baru datang dari Eropa. Dan dia pun mengaku butuh waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian Colorado.
“Saya tiba cukup dehidrasi. Jadi butuh sampai 36 jam untuk benar-benar terbiasa dengan ketinggian di sini,” ungkapnya.
Usai makan siang di salah satu restoran di kawasan hotel (ada kawasan makan dan belanja di depan hotel), kami langsung menuju kawasan parkir tempat tim-tim bekerja.
Jalan dari bagian utama hotel ke sana menanjak sangat curam (sepertinya lebih dari 12 persen), dan kami langsung merasakan tantangan yang akan kami hadapi dalam seminggu ke depan. Rasanya mungkin seperti langsung ditempeleng”
Jalan naik ke atas, kami langsung ngos-ngosan. Terasa kalau udara sangatlah tipis.
Termasuk Sun Hin Tjendra, yang mungkin paling fit dan paling kuat di komunitas balap sepeda yang saya kenal (mungkin eksekutif paling fit se-Indonesia).
Wawan, sapaan akrab Cipto S. Kurniawan, merupakan salah satu jagoan climbing. Menu latihan sehari-harinya naik turun dari Pasuruan ke Puspo atau Tosari Bromo. Dia pun ngos-ngosan. “Mati sudah. Mati sudah. Seminggu ke depan bakal mati kita,” katanya lantas tertawa.
Sekali lagi, saya bersyukur kami memutuskan untuk datang sehari lebih cepat”
Rasa semangat kembali muncul melihat kawasan kerja para tim. Tentu saja, yang pertama kami hampiri adalah trailer dan truk milik Team Sky. Karena ini di Amerika, bukan di markas tim di Eropa, maka tim-tim WorldTour kebanyakan menyewa trailer dan truk, serta mobil-mobil operasional lain. Lalu menempelinya dengan stiker identitas tim.
Tampak seorang mekanik sibuk menservis sejumlah sepeda Pinarello milik Team Sky. Yang membuat mata kami langsung terbuka lebar: Sebuah Pinarello Dogma 65.1 Think 2 hitam milik Christopher Froome, sang juara Tour de France 2013!
Dan itu bukan sepeda latihannya. Itu sepeda utamanya yang akan dipakai balapan!
Froome tidak terlihat sore itu, tapi fotonya sudah cukup untuk jadi obyek foto bareng! Prajna Murdaya juga sempat berpose seolah dia akan mencuri sepeda tersebut”
Tidak lama, datang Joe Dombrowski, 22, pembalap muda Team Sky asal Amerika Serikat. Tinggi dan kurus, 186 cm tapi hanya 61 kilogram, Dombrowski ini disebut-sebut sebagai superstar masa depan cycling dunia. Tentu saja, kami foto-foto lagi.
Di sekeliling, tampak trailer milik Cannondale, Garmin-Sharp, BMC, dan beberapa tim lain.
Tidak lama, sejumlah pembalap BMC berdatangan, mengakhiri sesi latihan hari itu. Tanjakan menuju kawasan parkir begitu curam, mereka harus berdiri mengayuh dari dasar sampai atas.
Tampak sang juara nasional Swiss, Michael Schar. Di belakang, ada pula salah satu bintang tim, Mathias Frank. Ketika akan saya foto, Frank langsung minta tolong: “Please, push” (tolong bantu dorong).
Ya saya langsung dorong dia naik ke atas. Lumayan, setelah itu dia memberikan botol minumnya, yang tidak lama kemudian dia tanda tangani pula. Biasanya, botol minum pembalap merupakan salah satu “suvenir” paling diburu oleh penonton saat menyaksikan lomba di pinggir jalan.
Personel BMC sendiri kemudian memberi kami lebih banyak lagi botol minum. Kami masing-masing dapat dua bidon (botol minum sepeda) bekas pembalap.
Merasa lelah, dan kepala kembali pusing, kami kembali untuk istirahat dulu sebelum makan malam. Tidak terasa, saya tertidur dua jam.
Bangun, kami pun makan malam. Bagi para personel Rapha, hari itu hari supersibuk. Mereka terus menyiapkan segala kebutuhan program untuk seminggu ke depan.
Malam itu, sepeda-sepeda kami pun dirakit. Tim Coghlan, Brad Sauber, dan yang lain memilih kawasan dekat pepohonan yang berhiaskan lilitan lampu-lampu kecil untuk merakit sepeda kami. Coghlan mengenakan lampu sorot kecil di kepala.
Hanya sekitar satu jam, empat sepeda kami beres. Kami disarankan segera kembali ke kamar, tidur sebanyak mungkin dan terus minum air. Besok pagi (Sabtu, Red) tidak perlu bangun pagi, tidak perlu banyak beraktivitas. Sore hari baru akan bersepeda untuk menyesuaikan diri.
Lieberson menyarankan, kalau mampu, untuk jalan kaki keliling hotel untuk membiasakan diri lagi dengan udara tipis. Kalau tidak, tidur sebanyak mungkin.
Kami menuruti saran tersebut. Sebelum tidur, saya mempelajari lagi buku program dan rute yang mereka siapkan. Pada dasarnya, mereka telah menyiapkan program bersepeda total sejuah 398 km dalam lima hari ke depan. Termasuk mendaki tanjakan-tanjakan paling kondang, seperti Independence Pass, yang tingginya lebih dari 3.650 meter!
Sebelum tidur, saya mengulangi lagi ucapan Wawan sebelumnya: “Mati sudah” (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s