Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (7-Habis)

Edan, Jalan Mulus Antar-Kota Khusus untuk Sepeda

RUTE PENUTUP: Azrul Ananda (kanan) bersama Karen Jarchow, atlet profesional MTB papan atas Amerika, saat melewati jalur khusus sepeda menuju kota Vail, Colorado, Rabu 21/8. BRAD SAUBER-RAPHA FOR JAWA POS/JPNN

RUTE PENUTUP: Azrul Ananda (kanan) bersama Karen Jarchow, atlet profesional MTB papan atas Amerika, saat melewati jalur khusus sepeda menuju kota Vail, Colorado, Rabu 21/8. BRAD SAUBER-RAPHA FOR JAWA POS/JPNN

AKHIRNYA, berakhir juga program “siksaan menyenangkan” bersepeda di Colorado. Sebagai penutup, rute dari Breckenridge ke Vail ditempuh melewati jalan antar-kota khusus untuk sepeda!

AZRUL ANANDA, Colorado

Tidak terasa, berakhirlah program bersepeda bersama Rapha dan Team Sky, membarengi even USA Pro Challenge, di dataran tinggi Colorado.
Jujur, mungkin kata “tidak terasa” kurang pas. Program ini benar-benar “terasa.” Bagaimana tidak, kami bersepeda lima hari berturut-turut, di ketinggian 2.400 sampai 3.700 meter, dan mayoritas rutenya adalah menanjak berat.

Kalau ditambah dengan acara pemanasan kami mendaki Mount Tamalpais, dekat San Francisco, California, 15 Agustus lalu, maka angkanya lumayan seru.

Dalam tujuh hari, 15-21 Agustus, kami bersepeda enam hari. Total kilometer yang kami tempuh melewati angka 430 km. Rata-rata lebih dari 70 km/hari.

Ya, bagi penghobi sepeda berat, 70 km sehari bukan angka spektakuler. Tapi kami harus mengingatkan, ini semua di ketinggian ekstrem, dan kami harus berjuang melawan udara/oksigen tipis.

Bila dibandingkan dengan di dataran “normal” alias tak jauh dari permukaan laut, maka kemampuan/kekuatan kami menurun sampai 25-30 persen.

Dan sekali lagi, mayoritas rute yang harus kami tempuh adalah menanjak!

Jadi, bisa dibayangkan betapa leganya kami ketika rute terakhir berhasil kami selesaikan Rabu lalu (21/8).

Rute itu sendiri tidaklah terlalu berat. Totalnya hampir 65 km, dari Breckenridge, melintasi lagi Copper Mountain, Vail Pass, dan berakhir di kota wisata Vail.

Dan badan kami sudah lumayan beradaptasi dengan ketinggian. Kota Breckenridge, sebuah kota wisata keluarga, terletak di ketinggian sekitar 3.000 meter.

Jadi, titik startnya sudah sekitar 600 meter lebih tinggi dari kota Aspen, tempat kami tinggal beberapa hari sebelumnya.

Untuk pernapasan, kami sudah tidak lagi seberat sebelumnya. Cipto S. Kurniawan misalnya, mengaku sudah hampir “normal” dalam kemampuan bersepeda. “Hari ini saya sudah bisa interval, sudah lebih mudah bernapas saat mengayuh pedal,” kata Wawan, sapaan akrab pengusaha muda Pasuruan berusia 31 tahun itu.

Sun Hin Tjendra, 41, bahkan semakin mantap “bersaing” dengan peserta program lain yang kuat-kuat.

Saya” Napas lumayan, tapi kaki sudah terasa berat sekali. Lelah setelah berhari-hari kena rute menanjak tinggi. Hari itu, target saya pokoknya menikmati menu bersepeda terakhir!

Prajna Murdaya juga masih recovery dari cedera kaki akibat terjatuh, tapi sangat bersemangat menyelesaikan hari terakhir itu.

Jalan Kecil Spektakuler

Walau sempat ngos-ngosan lagi saat menanjak (Vail Pass tingginya di atas 3.200 meter), tapi perjalanan hari itu melintasi jalanan yang sangat spesial, yang sangat langka di dunia.

Dari Breckenridge sampai Vail, hampir semua jalan yang kami lewati adalah jalan khusus sepeda. Posisinya hampir selalu paralel dengan highway (jalan bebas hambatan) untuk mobil.

Jalan khusus sepeda itu aspalnya sangat mulus. Beberapa bagian yang belum sedang dalam proses pelapisan aspal mulus. Lebarnya kira-kira satu jalur mobil, tapi dibagi dua arah dengan garis di tengah.

Kanan dan kirinya, di banyak tempat, juga seperti jalan antar-kota lain. Kalau tidak sedang bersebelahan langsung dengan highway, jalan sepeda ini juga dipagari dengan pepohonan indah.

Di beberapa tempat, ada tempat untuk beristirahat dan toilet umum. Di beberapa tikungan atau tanjakan/turunan, juga ada rambu-rambu pengingat khusus untuk pemakai sepeda.

Rasanya seperti “miniatur jalan tol” untuk sepeda!

Bukan hanya dari Breckenridge ke Vail, jalan khusus sepeda yang panjangnya ratusan (mungkin ribuan) kilometer ini bahkan menyambung sampai Denver, kota terbesar di negara bagian Colorado!

Melintasi jalur sepeda antar-kota ini, yang takjub bukan hanya kami dari Indonesia. Peserta yang datang dari negara bagian lain di Amerika pun ikut takjub, dan cemburu.

“Colorado benar-benar serius dalam (jalur sepeda) ini. Tempat asal saya di Austin (Texas, Red) harus belajar banyak dari sini,” puji Veronica Scheer, satu-satunya peserta perempuan, yang sehari-hari bekerja sebagai pelatih olahraga dayung.

Dalam perjalanan ini, seorang atlet perempuan MTB papan atas Amerika, Karen Jarchow, ikut bergabung. Dia membantu memandu menuju Vail. Kebetulan, dia dekat dengan Rapha, dan tinggal tak jauh dari Vail.

Jarchow menjelaskan, sebagian jalur khusus sepeda ini dulunya merupakan jalanan antar-kota untuk mobil. Kelihatan memang seperti jalan antar-kota yang sekarang ada di Indonesia.

Nah, begitu jalan bebas hambatan dibangun, sebagian jalan ini dialihfungsikan menjadi jalan antar-kota khusus untuk sepeda.

Sakit hati juga rasanya mengetahui dan merasakan kenyataan di Colorado ini. Di Indonesia, kita masih belum punya jalan antar-kota untuk mobil yang benar-benar mulus dan layak. Di Colorado, jalan antar-kota untuk sepedanya jauh lebih bagus dan mulus!

Dan jauh lebih indah!

Jalan khusus sepeda ini pula yang dimanfaatkan oleh USA Pro Challenge sebagai salah satu rute penting lomba. Etape kelima lomba, Jumat (23/8), adalah etape time trial (adu cepat melawan waktu) sejauh 16 km. Dari kota Vail menyusui jalan khusus sepeda menanjak ke atas.

Jalur yang sama kami lewati Rabu lalu menuju Vail (arah terbalik).

Begitu sampai Vail, kami merasa begitu lega. Berakhir sudah program bersepeda terberat yang pernah kami jalani ini. Sangat menyenangkan” Ya. Kelak ingin lagi” Ya.

Tapi sekarang istirahat dulu”

Sebagai “perpisahan,” kami makan siang bareng di kawasan wisata Vail yang indah. Ini kota wisata yang dikenal pula sebagai kotanya orang-orang kaya. Dan paling ramai saat musim dingin, untuk bermain ski. Saat musim panas begini, pengunjung juga banyak. Dan ada banyak hal menarik lain di sekitar sini, seperti wisata rafting.

Vail sendiri tidak seperti di Amerika. Kawasan tempat kami pergi memilik rumah-rumah dengan arsitektur seperti di pegunungan Eropa. Jalanannya pun dari bebatuan.

“Saya kok merasa seperti di Swiss ya,” celetuk Wawan.

Usai makan siang, kelompok terbagi dua. Satu mobil duluan berangkat kembali ke Aspen. Karena ada yang harus mengejar pesawat balik ke tempat asal masing-masing sore itu juga.

Rombongan Indonesia ikut Mercedes Sprinter van milik Rapha. Kembali ke rumah mewah tempat kami menginap sebelumnya untuk mengepaki lagi sepeda dan segala peralatan.

Seluruh kru Rapha dengan sigap membantu segala proses kemas-kemas.

Setelah semua beres, kru Rapha mengantarkan kami ke Snowmass, kota tetangga Aspen, untuk menginap lagi semalam. Kami memang tidak langsung balik ke Indonesia.

Kami akan keliling dulu ke beberapa kota lain di Colorado. “Mengejar” lagi nonton USA Pro Challenge di kota lain, dan mengunjungi beberapa seniman sepeda di negara bagian tersebut.

Baru Minggu nanti (25/8) kami terbang kembali ke Indonesia.

Kami bercanda, gara-gara setiap hari sibuk bersepeda dan setelah itu kelelahan, program ini termasuk bikin irit pengeluaran. Jangankan punya kesempatan belanja, kesempatan untuk istirahat saja harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kami juga membayangkan, ketika balik ke Indonesia nanti, mungkin kemampuan kami akan meningkat. Seminggu ini kami sudah belajar untuk bernapas lebih efisien. Ketika di Indonesia, semoga saja kami benar-benar jadi lebih tangguh!

Dan kelak, kami sepakat ingin kembali ke Colorado. Menurut kami, tidak ada tempat bersepeda lain yang lebih asyik. Walau Pegunungan Pyrenees di Prancis (yang kami kunjungi tahun lalu) juga luar biasa, dan katanya kawasan Dolomites di Italia lebih spektakuler.

Andai kembali, mungkin juga bukan untuk bersepeda. Melainkan mengajak keluarga. Aspen, Breckenridge, dan Vail cocok sekali untuk liburan keluarga. Selain asyik untuk anak-anak, mungkin juga istimewa untuk honeymoon kedua.

Yang penting ingat untuk menjadwalkan satu atau dua hari pertama untuk istirahat total, beradaptasi penuh dengan udara dan oksigen tipis”

Terima kasih Rapha dan Team Sky, terima kasih Colorado! (habis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s