Deteksi – The Power of Youth Community

NOVEMBER 10, 2010 | BY 

FocusOnYoungPeople Option2 284x300 Deteksi – The Power of Youth Community

ilustrarsi dari http://www.statistics.gov.uk

Mengapa Deteksi?

Berawal dari keinginan Azrul Ananda, Direktur Jawa Pos saat ini, agar anak muda membaca koran. Karena fakta yang ada saat ini, 35 persen  dari penduduk indonesia, yaitu sekitar 100 juta jiwa dibawah umur 25 tahun. Maka orang muda adalah target market yang sangat berpeluang besar jika dia ingin Jawa Pos tetap eksis di masa depan.

Awalnya, banyak yang mencibir dan mengecam, karena selain dianggap tidak penting karena tidak memuat berita, selain itu tema-tema yang vulgar seperti ‘First Kiss, Siapa yang lebih Baik? Papa atau Mama?’ dll, sempat dikecam oleh pihak agamawan karena dianggap melawan orang tua. Namun, Deteksi tetap berjalan dengan tim anak muda usia belasan dan kuliahan.

Namun, passion Azrul yang luar biasa besar, ingin membawa Deteksi lebih maju dengan Deteksi Mading Competition yang fenomenal. Setiap tahun, kompetisi ini menjadi ajang ‘Aktualisasi Diri’ para pelajar SMA di Jawa Timur. Menurutnya, Mading lebih canggih dari internet, karena Mading bisa lebih dirasakan oleh panca indera, dan bisa dibuat dalam bentuk apa saja. Dan hal tesebut terbukti, karena setiap tahun, Convention Hall terbesar di Surabaya selalu menjadi tempat yang penuh sesak untuk kompetisi ini. Kompetisi Deteksi terus berkembang, tidak hanya melulu ke kompetisi mading, tetapi juga Model Competition, Pop Group Competition, Custom Shoes, dll.

Kemudian, Deteksi berkembang lagi merambah dunia olahraga, dengan DBL (Deteksi Basketball League) yang disambut luar biasa bagi pelajar SMA dan SMP di Jawa Timur. Setiap tahunnya, DBL harus menolak beberapa tim karena quota yang tidak mencukupi. Sedemikian luar biasa animo pelajar terhadap ajang seperti ini. Bahkan, Deteksi sudah menjadi barometer para pelajar di Jawa Timur.

Yang lebih hebat lagi, tahun 2010 ini DBL dipercaya untuk mengelola IBL yang dulunya KOBATAMA (liga basket nasional) supaya berhasil seperti DBL. Luar biasanya, tim DBL hampir seluruhnya di bawah usia 30 tahun. Azrul menyadari bahwa Young Talent adalah kekuatan yang luar biasa, karena orang muda FIGHT with CREATIVITY dan tidak ada yang bisa membendung hal tersebut.

Potensi pasar Youth bisa menjadi inspirasi bagi para Marketers, seperti yang dilakukan oleh Deteksi. Youth Community adalah pasar dengan potensi yang sangat besar, karena ketika persepsi mereka dimenangkan oleh suatu Brand, mereka akan menjadi Ambassador yang efektif. Terbukti Deteksi menjadi Brand yangpowerful karena kekuatan Youth, bahkan berdampak pada image Jawa Pos yang menjadi lebih young saat ini.

There is a fountain of youth: it is your mind, your talents, the creativity you bring to your life and the lives of people you love. When you learn to tap this source, you will truly have defeated age.” (Sophia Loren)

sumber : http://the-marketeers.com

Advertisements

Azrul Ananda, Jiwa Muda Jawa Pos!

OCTOBER 13, 2011 | BY 

asrul ananda Azrul Ananda, Jiwa Muda Jawa Pos!

Sumber: RadarSukabumi

DetEksi, halaman anak muda, di koran Jawa Pos telah mengantarkan koran besutan Dahlan Iskan menyabet gelar Newspaper of the Year dari World Young Reader Prize 2011. Penghargaan ini diterima oleh Direktur Utama Jawa Pos Azrul Ananda di Wina, Rabu (12/1/2011).

Kehadiran DetEksi memang fenomenal. Kolom anak muda ini hadir dengan mengembuskan kesegaran baru bagi Jawa Pos yang sebelumnya lebih terkesan sebagai koran untuk pembaca dewasa sekaligus Islami. Sejarah kehadiran DetEksi pun unik dan penuh kesengajaan. Orang di balik hadirnya kolom anak muda ini adalah Azrul Ananda  yang tak lain adalah anak semata wayang Dahlan Iskan—sekarang Dirut PLN— yang sekarang menjabat sebagai dirut. Ia bergabung dengan Jawa Pos pada tahun 2000 dan kemudian lahirlah DeteEksi.

Azrul yang akrab disapa dengan sapaan “Ulik” itu mendirikan DetEksi. Di tangan lulusan pemasaran California State University itu, DetEksi dalam waktu singkat digandrungi anak muda dan sontak mengubah citra Jawa Pos menjadi lebih muda. Azrul menilai Jawa Pos terlalu banyak tulisan serius dan kental berita politiknya. Saat menjabat sebagai Pemred Jawa Pos, anak muda kelahiran Samarinda pada 4 Juli 1977 itu mampu membawa koran ini makin diminati pembaca dengan jangkauan ekspansi distribusi yang lebih luas. Bahkan, DetEksi diklaim sebagai kolom anak muda pertama di koran Indonesia.

Kolom anak muda ini digawangi oleh dari dan untuk orang muda. Darah muda Azrul juga mengalir dalam kolom-kolom Jawa Pos. Bahkan, boleh dibilang, halaman anak muda ini menjadi tempat dirinya mengekspresikan jiwa mudanya. Apa yang menjadi kebutuhan dan kesenangannya sebagai anak muda ia terjemahkan dalam rubrikasi.

Azrul pun tidak hanya menyuguhkan sajian menghibur dan populer anak muda dalam bentuk tulisan dan grafis. DetEksi melakukan brand activation dengan menggelar lomba majalah dinding (mading) yang dikenal dengan DetEksi Mading Championship—sekarang dikenal DetEksi Convention—yang dimulai pertama kali pada 13-15 Oktober. Target lomba ini adalah komunitas pelajar. Dari sinilah, DetEksi semakin digandrungi oleh anak muda. Anak muda yang doyan membaca, inilah yang menjadi salah satu impian Azrul saat membuka kolom muda tersebut.

Olahraga juga dijadikan sarana. Azrul memang doyan olahraga, khususnya bola dan menjadi pebulu tangkis andal.  Pada tahun 1993-1994, Azrul ikut dalam pertukaran pelajar di Ellinwood High School di Kansas. Di sini, ia ikut mengerjakan koran sekolah. Di koran sekolah ini, ia memilih sebagai fotografer tim basket. Dari sini, ia mulai mengenal dn belajar basket. Pada tahun 2004, Azrul membuat brand activity DetEksi berupa kompetisi basket tingkat SMA di Surabaya. Respons anak muda cukup besar. Inilah yang menjadi cikal bakal DBL—Development Baskell Leaque (DBL)—yang tenar saat ini.

Dalam buku terbitan MarkPlus berjudul Anxieties Desires (2010), salah satu kebutuhan anak muda adalah olahraga. Di balik olah raga, ada kebutuhan lebih mendasar yakni kebebasan berekspresi. Dan, tampaknya, Azrul sebagai orang muda yang doyan olahraga sukses menghadirkan sesuatu yang juga dicari oleh banyak anak muda. Boleh dibilang pada tahap ini, Azrul mampu menangkap anxiety-desire anak muda. Dan, DetEksi pun sukses mendeteksinya dan meresponsnya dalam kolom bacaan tersebut.

Bahkan,  usai sukses dengan DetEksi, Jawa Pos membuat halaman For Her yang membidik komunitas perempuan muda urban dan Life Begin at 50 yang membidik komunitas dewasa matang.

Passionnya pada anak muda mengantarkan Jawa Pos menyabet penghargaan dunia World Young Reader Prize 2011. Mengalahkan kampiun-kampiun surat kabar dunia, seperti The Hindu asal India, Wall Streat Journal dan Chicago Tribune asal Amerika Serikat, dan Yomiuri Shimbun dari Jepang.

sumber: http://the-marketeers.com

Wow, Jawa Pos Jadi Koran Favorit Anak Muda Dunia!

OCTOBER 13, 2011 | BY 

Jawa Pos Wow, Jawa Pos Jadi Koran Favorit Anak Muda Dunia!

Sumber: Radar Sukabumi

Jawa Pos kembali meraih prestasi sebagai koran yang digandrungi anak muda. Kali ini, tidak hanya tingkat nasional. Jawa Pos mendapat penghargaan Newspaper of the Year, World Young Reader Prize 2011. Penghargaan ini diberikan di Reed Meese Wien, Wina, Austria dalam rangkaian hajatan koran terakbar World Newspaper Week. Penghargaan ini langsung diberikan oleh Presiden Asosiasi koran dunia WAN-IFRA kepada Direktur Utama Jawa Pos Azrul Ananda.

Yang mengantarkan Jawa Pos menyabet penghargaan prestisius tingkat dunia itu adalah program DetEksi, halaman yang didedikasikan untuk anak muda. Rubrik DetEksi ini sudah ada sejak tahun 2000. Tim juri yang terdiri dari pakar dan pemerhati koran menilai DetEksi menerapkan total youth think terbaik.

Dalam ajang tersebut, Jawa Pos menyabet dua trofi sekaligus, yakni trofi tertinggi Newspaper of the Year dan trofi kategori Enduring Excellence.  Penghargaan tidak hanya membanggakan Jawa Pos saja, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Azrul Ananda mengartakan meskipun tim sepakbola dan bulu tangkis masih susah untuk menjadi juara dunia, minimal dari surat kabar, Indonesia berada di peringkat pertama sebagai koran terbaik, khususnya bagi anak muda, tahun  ini. Kemenangan ini, sambung Azrul, semoga bisa menginspirasi 200 an koran dan stasiusn televisi di bawah bendera Grup Jawa Pos.

Kemenangan Jawa Pos juga dirayakan oleh tim Kedutaan Indonesia untuk Austria. Azrul Ananda didaulat untuk memberikan presentasi keredaksian Jawa Pos dalam Young Reader Rountable kemarin dan berbagi pengalaman berinovasi keredaksian dalam World Editors Forum Jumat 14, Oktober besok.

Wow, selamat!

sumber : http://the-marketeers.com

62 Tahun dan Semakin Muda

Jum’at, 01 Juli 2011 , 13:59:00

62 Tahun dan Semakin Muda

Dalam beberapa bulan terakhir, saya menghadiri dua acara “kewartawanan dan media cetak” tingkat nasional. Masing-masing dihadiri ratusan “insan media” dari berbagai penjuru Indonesia. Agak “serem” juga rasanya. Kok yang usianya di bawah 35 tahun rasanya cuman saya ya?

***

Hari ini (1 Juli 2011), Jawa Pos kembali merayakan ulang tahun. Kali ini ulang tahun ke-62. Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada seluruh pembaca, khususnya penggemar berat, harian ini. Tanpa Anda semua, tentu Jawa Pos tidak bisa bertahan sejauh ini, tidak bisa berkembang sejauh ini.

Dan kami mengucapkan terima kasih lebih khusus lagi kepada para pembaca muda. Karena Anda-lah yang membuat Jawa Pos menjadi lebih muda di usia ke-62 ini.

Lebih muda” Ya.

Survei membuktikannya.

Menurut data dari Nielsen Media Research di penghujung 2010 lalu, pembaca Jawa Pos benar-benar muda. Jauh lebih muda dari koran-koran utama lain di Indonesia.

Saking mudanya, terhitung 51 persen pembaca Jawa Pos berusia antara 10-29 tahun. Ya, lebih dari separo pembaca Jawa Pos berusia di bawah 30 tahun!

Mereka yang berusia 20-29 tahun merupakan kelompok pembaca terbesar, mencapai 35 persen dari total pembaca.

Ada orang barat bilang: “You earn what you sow.” Bahwa kita akan meraup hasil dari benih yang kita tebarkan. Kalau dihitung mundur sepuluh tahun, maka kelompok pembaca terbesar Jawa Pos ini masih berusia 10-19 tahun.

Orang yang mengikuti perkembangan harian ini mungkin ingat, kalau 11 tahun lalu Jawa Pos melakukan sesuatu yang berani. Dan waktu itu, apa yang dilakukan Jawa Pos itu banyak mengundang protes, banyak mengundang kecaman.

Waktu itu, tepatnya 26 Februari 2000, Jawa Pos menerbitkan halaman-halaman khusus anak muda bernama DetEksi. Dan waktu itu, dengan teguh kami menegaskan bahwa DetEksi adalah untuk pembaca masa depan, untuk membangun basis pembaca Jawa Pos sepuluh tahun ke depan (atau lebih).

Tahun ini, kami bisa mengelus-elus dada karena lega. Karena apa yang kami sesumbarkan dulu itu telah menjadi kenyataan. Kelompok pembaca terbesar Jawa Pos sekarang adalah kelompok yang dulunya basis pembaca DetEksi.

Sekarang, kami berharap kelompok terbesar ini tetap terus bertahan bersama Jawa Pos. Sambil jalan, kami terus menerbitkan dan mengaktifkan DetEksi untuk terus “mengamankan” pembaca-pembaca masa depan.

Tanda-tandanya sih masih sangat positif. Survei dari Enciety Business Consult memperkuat data dari Nielsen Media Research.

Menurut Enciety, di Surabaya, jumlah pembaca mudanya jauh lebih besar daripada kota-kota besar lain di Indonesia. Dari data 2010, sebanyak 41,7 persen remaja usia 15-19 tahun di Surabaya membaca koran. Sebanyak 69,9 persen orang berusia 20-29 tahun membaca koran.

Dua angka persentase itu minimal sepuluh persen lebih tinggi dari kota-kota besar lain. Di Jakarta misalnya, hanya 28,6 persen remaja 15-19 tahun membaca koran, dan hanya 42,8 persen orang berusia 20-29 tahun membaca koran!

***

Sebenarnya ini bukan kabar baru. Tapi kami harus terus rajin menyampaikan kabar ini karena masih belum banyak yang percaya (he he he): Jawa Pos kini adalah koran dengan jumlah pembaca terbesar.

Paling tidak, menurut survei Nielsen di sembilan kota besar di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar).

Sudah sejak akhir 2009, Jawa Pos tak tertandingi di posisi tertinggi. Koran dari Jakarta yang disebut-sebut sebagai nomor satu, sejak akhir 2009 sudah konsisten berada di urutan kedua.

Malahan, dalam beberapa kuarter terakhir, Jawa Pos merupakan satu-satunya koran yang memiliki readership “nyaman” di atas angka satu juta orang. Koran yang dulu dianggap nomor satu itu, belakangan kesulitan menembus angka satu juta pembaca.

Padahal, dari sembilan kota yang disurvei Nielsen itu, Jawa Pos hanya terhitung di empat kota: Surabaya, Semarang, Jogjakarta, dan Denpasar.

Bayangkan kalau Malang, Solo, atau kota-kota besar lain di Jawa Timur dan sekitarnya dihitung. Angkanya bisa melejit lebih tinggi.

Untuk ini, kami benar-benar berterima kasih kepada pembaca setia Jawa Pos. Kita bersama berhasil menegaskan kepada seluruh Indonesia (dan dunia), kalau untuk jadi nomor satu memang tidak harus dari ibu kota!

***

What?s next” Ini pertanyaan yang sangat berat. Tantangan zaman sekarang sangat beda dengan sepuluh tahun lalu, dengan 20 tahun lalu.

Tapi minimal, tidak ada lagi kekhawatiran tentang masa depan koran. Minimal untuk lima sampai sepuluh tahun lagi. Konferensi WAN-IFRA (asosiasi koran sedunia) di Bangkok beberapa bulan lalu sudah menegaskan itu. Bahwa sekarang ini bukan lagi memikirkan koran versus online. Melainkan bayar versus gratis.

Percuma online kalau tidak ada pemasukan. Siapa yang bayar biaya pemberitaan dan lain-lainnya?

Soal koran format iPad juga masih dianggap sebagai sambilan. Ngapain ngotot bikin format iPad kalau pemakainya di dunia masih sedikit. Ada rekan saya dari koran Korea yang menyinggung soal itu. Dia bilang, di Korea dia tidak butuh format iPad. Lha wong pemakainya di Korea baru 100 ribu orang! Sedangkan pembaca korannya jutaan orang?

Ya, kelak pemakainya akan bertambah. Bukan hanya iPad, tapi tablet-tablet lain. Tapi sambil menunggu, mending fokus ke yang menghasilkan bukan?

Di konferensi itu, semua diingatkan untuk memikirkan hal-hal yang lebih konkret. Bukan hal-hal yang sekadar fashionable?

Di Kongres Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di Bali baru-baru ini, juga ada pengakuan yang menarik. Sebuah media online kondang, yang belakangan sangat gencar berpromosi dan mengembangkan diri, mengakui kalau pemasukannya hanyalah 1 persen dari pemasukan korannya?

Meski demikian, kami tentu tak boleh meremehkan media format lain. Kita tak tahu masa depan seperti apa. Yang jelas kami akan tetap fokus mengembangkan Jawa Pos, sambil terus melirik dan melatih diri dengan format lain. Seperti yang rajin kami sampaikan pula: Kalau memang harus online, toh nanti tinggal pencet tombol “Enter.?

***

Jawa Pos sudah berusia 62 tahun. Bukannya menua, barisan pembaca Jawa Pos justru menjadi semakin muda. Masalahnya, apakah industri koran (atau media secara umum) juga seperti itu?

Ketika menghadiri dua acara “kewartawanan dan media cetak” besar belakangan ini, banyak orang datang ke saya mengucapkan selamat. “Begini dong, harus ada orang yang muda,” kata mereka.

Masalahnya, ketika saya melihat sekeliling, tidak ada lagi yang muda! Para “tokoh-tokoh” lain rata-rata sudah berusia di kisaran angka 50-an. Tidak sedikit yang 60-an. Tidak jarang yang 70-an. Ada yang 80-an!

“Aduh!” Begitu kata hati saya. Kalau yang muda cuman saya, ya tidak ada gunanya!

Jadi, di ending catatan ini, saya ingin minta tolong kepada seluruh petinggi-petinggi media yang lain: Carikan saya teman dong!

Cobalah percaya kepada yang muda-muda itu. Jangan takut mundur selangkah untuk maju dua langkah. Jangan takut untuk “melepaskan” sesuatu kepada yang muda.

Ya, kami bakal bikin ulah. Ya, kami bakal bikin salah. Tapi Anda semua dulu kan juga begitu?

Please, kasih kesempatan kepada yang muda. Kasih porsi besar kepada pembaca yang muda. Mumpung kita “sepertinya– masih punya waktu. (*)

Jawa Pos Sisihkan Koran-Koran Besar Dunia

Senin, 22 Agustus 2011 , 06:32:00

Jawa Pos Sisihkan Koran-Koran Besar Dunia

Resmi Raih World Young Reader Newspaper of the Year 2011

 

PARIS – Harian Jawa Pos resmi menjadi peraih penghargaan tertinggi Newspaper of the Year, World Young Reader Prize 2011. Pengumuman resminya dirilis Asosiasi Penerbit Dunia, WAN-IFRA, di Paris, Prancis, Jumat malam lalu (19/8, Sabtu dini hari WIB).

Dalam pengumuman resmi itu, WAN-IFRA (World Association of Newspapers and News Publishers) menyebutkan daftar pemenang dalam berbagai kategori. Sejumlah harian paling kondang di dunia, seperti Yomiuri Shimbun (Jepang), Chicago Tribune, dan Wall Street Journal (Amerika Serikat), termasuk dalam barisan yang disisihkan Jawa Pos untuk meraih penghargaan tertinggi.

World Young Reader Prize 2011 merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan WAN-IFRA, yang beranggota lebih dari 18 ribu penerbitan di 120 negara. Penghargaan diberikan dalam berbagai kategori, untuk menghargai inovasi-inovasi yang dilakukan koran dalam menggandeng pembaca muda.

Dalam ajang 2011 ini, Jawa Pos meraih Top Prize (penghargaan utama) untuk kategori Enduring Excellence (konsistensi dalam menghasilkan karya superior). Penghargaan diraih berkat program DetEksi, sebuah departemen dan halaman khusus anak muda yang aktif sejak Februari 2000.

Tim juri lantas menobatkan Jawa Pos sebagai pemenang secara keseluruhan, meraih gelar Newspaper of the Year. ’’Jawa Pos telah menunjukkan kerja luar biasa. Memiliki program yang substansial, yang dijalani bertahun-tahun, dan punya komitmen sukses dalam menggandeng anak muda, baik lewat halaman koran maupun kegiatan off-print,’’ begitu tulis pesan dari tim juri dalam rilis resmi WAN-IFRA.

Pesan itu sebelumnya disampaikan dalam pemberitahuan awal kepada Jawa Pos, akhir Juli lalu.

Lebih lanjut, juri menilai lembaran DetEksi –yang terbit setiap hari di Jawa Pos– sebagai sesuatu yang ’’lebih’’ dari sekadar halaman anak muda biasa. ’’DetEksi merupakan sebuah strategi komplet untuk menemukan, menggandeng, dan mempertahankan pembaca muda. Dan, yang paling penting, DetEksi berhasil melakukan semua itu,’’ tegas tim juri.

Menurut Dr Aralynn McMane, executive director Young Readership Development WAN-IFRA, Jawa Pos meraih kemenangan secara mutlak. ’’Terus terang, tim juri membuat keputusan dengan sangat mudah,’’ ungkap McMane, yang juga menjadi salah satu juri, bersama pakar-pakar pembaca muda dunia dan pemenang-pemenang terdahulu.

Para juri tahun ini, antara lain, Lynne Cahill (harian The West Australian, Australia); Altair Nobre (Zero Hora, Brazil); Wendy Tribaldos (La Prensa, Panama); Grzgorz Piechota (Gazeta Wyborcza, Polandia); dan Lisa Blakeway (EISH, Afrika Selatan).

Selain itu, ada Christopher K. Sopher, pendiri Younger Thinking dari Amerika Serikat; Cristiane Parente, executive newspaper in education coordinator untuk ANJ (Asosiasi Koran Brazil); serta Angela Ravazzolo dan Mariana Muller, dua spesialis anak muda dari koran Zero Hora Brazil.

Diskusi penentuan pemenang diselenggarakan di kantor pusat Zero Hora, pemenang ajang ini pada 2009, di Porto Alegre, Brazil. Tahun lalu, gelar Newspaper of the Year diraih harian Metro asal Polandia.

Dari daftar lengkap pemenang, Jawa Pos bukanlah satu-satunya koran asal Indonesia yang mendapat penghargaan. Harian Kompas ikut meraih Jury Commendations (pujian juri) di kategori Public Service.

Pengumuman resmi ini akan dilanjutkan dengan acara penyerahan penghargaan yang dilakukan di Wina, Austria, 12 Oktober mendatang. Yaitu, saat diselenggarakannya World Newspaper Congress dan World Editors Forum.

Azrul Ananda, direktur Jawa Pos, mengaku semakin senang setelah dirilisnya pengumuman resmi dari WAN-IFRA. Apalagi setelah mengetahui daftar pesaing yang ikut ajang ini berasal dari seluruh dunia.

’’Rasanya masih sulit memercayai kesuksesan ini. Sebuah koran dari Surabaya bersaing dengan koran-koran raksasa dunia seperti Yomiuri Shimbun koran Jepang yang tirasnya di atas sepuluh juta eksemplar dan Wall Street Journal. Penghargaan ini membuktikan bahwa siapa pun bisa meraih sukses tertinggi dengan kerja keras, inovasi, dan konsistensi,’’ ucapnya. ’’Semoga penghargaan ini bisa menyemangati koran-koran lain di Indonesia. Kalau Jawa Pos bisa, yang lain pasti juga bisa,’’ tegas Azrul. (iro

Habis Ini, Apa Lagi Yang Baru?

Selasa, 23 Agustus 2011 , 14:48:00
RASANYA sulit dipercaya.
Jawa Pos, koran yang terbit dari Surabaya, meraih penghargaan tingkat dunia. Tim juri internasional memilih Jawa Pos sebagai peraih gelar tertinggi Newspaper of the Year 2011, di ajang World Young Reader Prize, yang setiap tahun diselenggarakan oleh asosiasi koran dunia, WAN-IFRA.Rasanya sulit dipercaya.
Jawa Pos, koran yang terbit dari Jawa Timur, menang di tingkat dunia. Mengalahkan koran-koran bernama superkondang seperti Wall Street Journal, Chicago Tribune, South China Morning Post, juga koran dengan oplah terbesar di dunia asal Jepang (lebih dari 10 juta eksemplar per hari) Yomiuri Shimbun.Rasanya sulit dipercaya.
Jawa Pos, koran asal Indonesia, pada 12 Oktober nanti akan tampil sebagai peraih penghargaan tertinggi di World Newspaper Congress dan World Editors Forum, di gelaran WAN-IFRA yang beranggotakan lebih dari 18 ribu penerbitan dan 15 ribu situs online di 120 negara di dunia.

Rasanya sulit dipercaya.
Tingkat dunia Bos!

***

Melalui catatan ini, saya mewakili seluruh teman-teman di Jawa Pos ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya seluruh pembaca. Dukungan Anda terhadap Jawa Pos mungkin melebihi dukungan pembaca koran-koran lain di Indonesia, mungkin di dunia.

Bagaimana tidak. Ketika semua koran pesaing menurunkan harga, Jawa Pos malah menaikkan harga, dan Anda tetap memilih untuk membeli atau berlangganan Jawa Pos.

Kadang saya tidak habis pikir. Kalau melihat di jalan-jalan, harga Jawa Pos itu bisa sampai empat kali lipat koran pesaing. Harga bandrol kami Rp 4.500, harga koran lain hanya Rp 1.000. Tapi survei –dari Nielsen Media Research maupun Enciety Business Consult– terus menunjukkan kalau readershare Jawa Pos jauh di atas yang lain.

Khusus di Surabaya, share kami bisa sampai 93 persen. Berarti sembilan dari sepuluh pembaca koran memilih Jawa Pos.

Dan berkat pembaca setia pula, sudah beberapa tahun ini total pembaca Jawa Pos menjadi yang terbanyak di Indonesia (Nielsen). Malah, saat ini Jawa Pos satu-satunya koran dengan jumlah pembaca yang angkanya “nyaman” di atas satu juta orang per hari.

Dukungan pembaca ini yang terus membuat kami bersemangat. Apalagi, mereka begitu setianya, hingga tak pernah lelah memberi masukan-masukan kepada kami. Terus memberikan tantangan, dengan bertanya: “Habis ini apa lagi yang baru?”

Kami juga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada agen dan penyalur, serta para relasi dan mitra kerja Jawa Pos. Semua terus memberikan dukungan dan kepercayaan, meski kebijakan-kebijakan kami sebagai perusahaan kadang-kadang sulit dipercaya atau dipahami.

Bagaimana tidak. Ketika yang lain menurunkan harga, kami malah menaikkan. Ketika yang lain melonggarkan ketentuan, kami justru mengetati. Tapi seperti yang saya sampaikan kepada agen-agen iklan baru-baru ini:

“Tolong benar-benar dipahami, bahwa kami siap diomeli saat ini demi kebaikan jangka panjang. Kami siap dihujat masa sekarang demi kesuksesan masa depan. Toh tujuannya jelas. Kalau kami baik, semua relasi dan mitra kerja juga akan baik.”

Saya selalu percaya, market leader yang baik adalah market leader yang mau berkorban (meski jangan banyak-banyak!) demi menjaga industrinya. Harus berani bikin kecewa sebentar demi senyum jangka panjang. Kalau market leader-nya banting harga atau awur-awuran, apa jadinya industri tersebut nantinya?

***

Sebenarnya sulit juga jadi media di Indonesia, tapi sebenarnya hampir sama di industri media di mana-mana. Kalau ada satu yang meraih sesuatu yang luar biasa, yang lain bisa diam saja. Terus terang, Jawa Pos pun kadang juga begitu.

Karena itu, di kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh media di Indonesia. Kita semua berkompetisi secara sehat, dan kompetisi itulah yang menghasilkan karya-karya hebat.

Kepada media di bawah bendera Jawa Pos Group, yang kini jumlahnya sudah mendekati total 200 koran dan stasiun televisi dari Aceh sampai Papua, saya ingin memberi ucapan terima kasih khusus.

Keliling Indonesia, melihat dinamika koran-koran di daerah-daerah, memberi suntikan motivasi dan ide supaya Jawa Pos terus berbenah dan mengembangkan diri. Karena ide-ide terbaik kadang muncul dari tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan.

Ucapan terima kasih istimewa ingin saya sampaikan kepada teman-teman di Kompas. Bagaimana pun, Anda-lah Gold Standard koran di Indonesia. Dan di Wina, Austria, 12 Oktober nanti, kita bakal bersama membuat Indonesia bangga. Karena Kompas juga meraih penghargaan khusus World Young Reader Prize 2011 dari dewan juri di kategori Public Service.

Ayo bersama kita tunjukkan, kalau koran dari Indonesia bisa lebih hebat dari koran-koran lain di dunia! Dan ayo kita semangati koran-koran lain supaya terus berkreasi dan berkembang. Industri koran masih bisa terus menempuh perjalanan panjang yang menyenangkan!

Satu lagi apresiasi ingin saya sampaikan kepada harian olahraga pertama di Indonesia, Top Skor. Anda hebat. Ada koran harian olahraga yang pembacanya di Jabodetabek mampu mengalahkan koran-koran umum, dan secara overall (Nielsen) pada pertengahan 2011 ini berada di urutan tiga di belakang Jawa Pos dan Kompas.

Dan Top Skor melakukannya dengan harga yang sangat sehat. Harga jual Rp 3.500 dengan 16 halaman per hari? Koran Anda sudah mencapai titik sustainability hebat dan sekarang bisa melangkah cepat dan berkembang!

Saya baru bicara dengan Ketua Umum Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Indonesia, supaya Top Skor diberi penghargaan khusus. Itu koran telah melakukan gebrakan luar biasa.

***

Sebagai penutup, saya dan barisan manajemen Jawa Pos lain ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh personel Jawa Pos. Sukses kita di ajang dunia ini merupakan hasil kerja bersama.

Kepada seluruh personel DetEksi, sekarang maupun yang dulu, terima kasih tak terhingga harus kami ucapkan. Saya dari dulu percaya, departemen dan halaman khusus anak muda Jawa Pos itu bakal mampu meregenerasi pembaca dan membantu mengamankan pembaca masa depan harian ini.

Sudah ada contoh yang menunjukkan, kalau koran bisa hilang ketika pembacanya terus menua dan kemudian “menghilang.” Harus ada halaman seperti DetEksi yang menjaga supaya itu tidak terjadi pada Jawa Pos.

Tapi, tetap saja tak pernah terbayangkan DetEksi bisa berbuah sebuah penghargaan tertinggi dunia.

Begitu mendapat pemberitahuan menang di tingkat dunia, saya langsung mengutarakan kabar luar biasa itu ke John R. Mohn, ayah angkat saya waktu jadi siswa SMA pertukaran di Amerika Serikat dulu.

Kini berusia 70-an tahun, dia dulu yang mengajari saya banyak sekali tentang basic manajemen koran dan jurnalistik, lewat koran kecilnya, The Leader, di Ellinwood, negara bagian Kansas. Dia yang mengajari saya dan teman-teman di Ellinwood High School, bagaimana sekelompok anak muda bisa menghasilkan produk koran yang lebih baik dari garapan para profesional.

Pelajaran itulah yang berbuntut DetEksi, yang kali pertama terbit 26 Februari 2000.

John R. Mohn langsung membalas kabar baik itu. Dia mengingatkan saya –dan seluruh staf muda Jawa Pos– untuk tidak lupa diri.
Dalam emailnya, John bilang: “Penghargaan ini bukan hanya untuk personel DetEksi. Ini juga sebuah tribute untuk seluruh personel Jawa Pos yang lebih senior, yang selama ini harus bersabar dalam menghadapi dan membantu anak-anak muda di DetEksi yang gila-gila!”

Terima kasih semua! (*)

Coba Buktikan Kompetisi Terbesar Tak Harus di Jakarta

Jum’at, 23 Januari 2009 , 01:47:00

Di Balik DetEksi Basketball League dan Kehebohan Basket di Papua (1)

SUASANA GOR Cenderawasih, Jayapura, Rabu (21/1). Sekitar4000 orang secara bergantian memadati GOR tersebut.Foto: Hendra Eka/JAWA POS
SUASANA GOR Cenderawasih, Jayapura, Rabu (21/1). Sekitar4000 orang secara bergantian memadati GOR tersebut. Foto: Hendra Eka/JAWA POS
Kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2009, baru saja dimulai. Pilihan Jayapura sebagai kota pembuka sempat bikin banyak orang mengernyitkan dahi.
Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos dan commissioner DBL.
SEJAK 2004, DetEksi Basketball League (DBL) sudah diselenggarakan. Liga basket pelajar pertama yang menerapkan konsep student athlete. Pemain tak hanya dituntut jago di lapangan basket, dia juga harus menunjukkan kemampuan di sekolah. Kalau pernah tidak naik kelas, dia tidak boleh tampil di DBL. Hingga 2007, meski hanya diselenggarakan di Jawa Timur, DBL berkembang menjadi liga terbesar. Pada 2007 saja, pesertanya sudah mencapai 220 tim, melibatkan lebih dari 4.000 pemain, ofisial, dan yel-yel.
Pada 2008 lalu, setelah mematangkan konsep dan sistem, sudah waktunya menyebar ke provinsi lain di Indonesia. Sebelas kota dan sepuluh provinsi pun merasakan Honda DBL 2008.Tahun 2008, bagi kami, merupakan tahun belajar. Harus mengulangi lagi masalah-masalah yang dulu dihadapi waktu kali pertama menyelenggarakan DBL pada 2004.
Kali ini di kota-kota yang berbeda. Tahun 2008, bagi kami juga tahun keberuntungan. Siapa sangka, DBL menjadi liga pertama di Indonesia yang bekerja sama resmi dengan liga paling bergengsi di dunia, NBA.Bukan hanya itu, untuk kali pertama DBL mengirimkan pemain-pemain pilihannya ke luar negeri. Terima kasih kepada pemerintah Australia, pemain kami bukan hanya bertanding di Perth. Mereka juga belajar dan bertemu banyak teman.
Bila 2008 adalah tahun belajar, 2009 ini adalah tahun pengembangan. Total, Honda DBL 2009 akan diselenggarakan di 16 kota, di 15 provinsi di Indonesia. Total, diperkirakan bakal diikuti oleh lebih dari 750 tim dan 15 ribu peserta. Belum pernah ada kompetisi basket yang memiliki jumlah partisipan sebesar ini. Dan pembukaannya diselenggarakan di Jayapura…
***

Mengapa Jayapura? Setiap kali ditanya begitu –dan saya bersama teman-teman di DBL Indonesia sering ditanya begitu–, saya akan langsung menjawabnya lagi dengan pertanyaan: Mengapa tidak? Tahun lalu, kami sudah mendapatkan pertanyaan yang sama saat membuka Honda DBL 2008 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Hanya, waktu itu kami memilih Pulau Lombok dengan alasan khusus. Peserta tidak akan terlalu banyak, namun infrastruktur (stadion) memadai. Sebab, Mataram bagi kami adalah tempat training camp untuk panitia. Semua kumpul dulu di sana, belajar segala masalah, baru kemudian terbagi dan menyebar ke kota-kota lain.

Keinginan ke Jayapura ini sebenarnya sudah tercetus sebelum movement ini dimulai tahun lalu. Lalu makin getol dibicarakan saat menyelenggarakan kompetisi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Februari tahun lalu.  Kami makin sadar betapa besarnya tantangan menyelenggarakan kompetisi berstandar tinggi di kota-kota ”non-tradisional” basket. Dan, kami sudah berkali-kali bilang bahwa DBL tidak mengenal batasan wilayah. Kalau tidak ada batasan, kenapa tidak ambil yang ujung? Dalam hal ini, ujung sebelah timur: Jayapura. Apalagi, belakangan nama Papua begitu heboh dalam hal basket. Banyak atlet hebat datang dari sana.

Di Banjarmasin itu pula kami bertemu seorang anak muda asal Papua, Andi Suebu. Dia juga gila basket, dan setiap hari datang menonton Honda DBL 2008 di Banjarmasin (dia bekerja di sebuah bank di sana). ”Kamu harus menyelenggarakan ini di Papua,” katanya kepada saya dan rekan-rekan DBL.

Beberapa bulan kemudian, di kediaman Duta Besar Australia Bill Farmer di Jakarta, saya bertemu tim PON putri Papua yang akan berangkat untuk latihan di Melbourne. Saya dan beberapa teman DBL sendiri datang di sana juga untuk basket, karena akan mengirimkan tim All-Star DBL untuk belajar dan bertanding di Perth, Australia (terwujud Oktober 2008 lalu).

Di sana saya bertemu Ketua Perbasi Papua, Jhon Ibo, dan sekretaris umumnya, Jan R. Aragay. Saya sampaikan saja keinginan menyelenggarakan di Papua. Pak Jhon tidak bicara banyak. Tapi, dari tatapan matanya saya menangkap ada kebahagiaan. Perasaan ini pun makin mantap. Meski mungkin waktu itu Pak Jhon punya rasa tak percaya (jangan-jangan saya dianggap asal bicara dan obral janji saja, he he he).

***

Tentu saja, bicara dan pelaksanaan tidaklah sama. Sebelum berlanjut ke kendala, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua partner. Khususnya Astra Honda Motor, yang percaya sepenuhnya terhadap misi basket kami yang unik. Juga kepada Relaxa, BNI, League, PT Sinar Sosro, dan Proteam.

Terus terang, saya sering sakit hati kalau bicara dengan calon partner di Jakarta. Tidak banyak yang bisa melihat sebuah rancangan kompetisi secara menyeluruh. Bukan hanya sisi komersialnya, tapi juga misi dan idealismenya. Beberapa selalu bilang, percuma kalau menyelenggarakan di banyak kota, tapi Jakarta tidak dikunjungi. Misalnya kalau menggunakan dasar survei rating televisi. Sebanyak 50 persen lebih dihitung di Jakarta. Surabaya hanya dihitung sekitar 20 persen. Lalu beberapa kota lain.

Kebanyakan kota di luar Jawa sama sekali tidak dihitung. Karena dasar surveinya tidak meluas, beberapa potensial partner di Jakarta pun seolah menggunakan kaca mata kuda. Di mata mereka, kota seperti Jayapura tidak ada nilai angkanya.

Anggapan itu membuat kami (khususnya saya) makin bersemangat menyelenggarakan DBL di luar Jakarta. Harus ada yang bisa membuktikan bahwa liga terbesar tak harus diselenggarakan di Jakarta. Sekali lagi, terima kasih kepada para partner DBL tahun ini. Proses pembuktian itu sekarang bisa berjalan…

***

Kalau tidak ada kendala, tidak ada cerita. Kalau tidak menjalani proses, tidak ada hasil. Menyelenggarakan Honda DBL 2009 di Jayapura merupakan tantangan tersendiri. Saking serunya, tim DBL Indonesia yang dapat jatah ke Papua menyebut diri sendiri sebagai ”Tim Tempur” (juga karena dari sini langsung ke Makassar).

Dari segi logistik, ada banyak kendala. Entah mengapa, kargo pesawat ke Jayapura sering terkendala. Ada kru kami yang mendarat dengan selamat di Jayapura, tapi bagasi (dan baju-bajunya) baru datang tiga hari kemudian. Bola pertandingan dari Proteam yang dijatah untuk Jayapura pun tak kunjung datang pada hari pembukaan, Jumat, 16 Januari lalu. Bahkan, bola-bola itu baru Selasa lalu (20/1), lebih dari dua minggu setelah pengiriman!

Beruntung, kami punya beberapa bola untuk display yang saya bawa di bagasi pesawat. Jadi, pertandingan pertama masih bisa dilangsungkan meski jumlahnya kurang (khususnya untuk pemanasan). Pada hari pembukaan itu pula, markas DBL Indonesia di Surabaya langsung mengirimkan bola-bola baru untuk dikirim overnight. Pada hari kedua (17/1), kami sudah punya bola cukup.

Asal tahu saja, jersey untuk para finalis juga datang sangat mepet. Padahal, sudah dikirim lama. Final diselenggarakan Jumat hari ini (23/1), tapi jersey final itu baru datang Kamis kemarin (22/1). Terima kasih kepada League, yang cepat-cepat membuatkan jersey ekstra dan menerbangkan jersey itu di bagasi seorang personel Rabu malam lalu (21/1) dari Jakarta (tiba Kamis kemarin).

Totalitas juga ditunjukkan sehari sebelum pembukaan, Kamis, 15 Januari lalu. Hari itu, semestinya semua pihak, baik DBL Indonesia, panitia dari Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group), Perbasi Papua, Astra Honda Papua, dan sponsor lain mulai loading barang ke GOR Cenderawasih di Jayapura.

Dasar edan, di luar segala kesepakatan, ada sebuah partai menyelenggarakan pertemuan di GOR tersebut hari itu. Namanya juga partai politik, tidak mau tahu kami butuh waktu untuk menyiapkan gedung. Bahkan, mereka tak kunjung selesai sampai sekitar pukul 19.00 WIT. Pakai karaoke-karaokean segala lagi!

Berarti, kami hanya punya waktu kurang dari 18 jam untuk menunggu partai itu membongkar panggung, lalu menyiapkan gedung sesuai standar DBL yang cukup tinggi. Saya tak mau sebut itu partai apa, tapi kami semua sudah sepakat tidak akan mencoblosnya saat pemilu nanti. Bahkan, ada kru kami yang bilang bahwa sampai anak cucunya nanti tidak akan pernah boleh mencoblos partai itu.

Saat itulah totalitas semua pihak terbukti. Pihak sponsor (Astra Honda di bawah Jefri Rimeldo) mengerahkan banyak pasukan untuk menghiasi gedung. Tim DBL Indonesia dan Cenderawasih Pos (dengan ketua Lucky Ireeuw) menyiapkan perangkat penyelenggaraan. Dan yang patut diacungi semua jempol: Perbasi Papua.

Mereka turun penuh semalaman menyiapkan lapangan pertandingan. Tidak seperti kebanyakan gedung basket, GOR Cenderawasih tidak punya lapangan yang layak. Perbasi Papua memasangkan sports tile, lapangan plastik yang ditata seperti mainan Lego. Kotak-kotak kecil dirangkai menjadi lapangan luas.

Di Jawa dan beberapa daerah lain, berdasarkan pengalaman kami, sangat mudah mendapati pekerja-pekerja ”lamban.” Tidak di sini. Semua total supaya pertandingan besoknya bisa berlangsung… (bersambung)

sumber : http://www.jpnn.com