Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (7-Habis)

Edan, Jalan Mulus Antar-Kota Khusus untuk Sepeda

RUTE PENUTUP: Azrul Ananda (kanan) bersama Karen Jarchow, atlet profesional MTB papan atas Amerika, saat melewati jalur khusus sepeda menuju kota Vail, Colorado, Rabu 21/8. BRAD SAUBER-RAPHA FOR JAWA POS/JPNN

RUTE PENUTUP: Azrul Ananda (kanan) bersama Karen Jarchow, atlet profesional MTB papan atas Amerika, saat melewati jalur khusus sepeda menuju kota Vail, Colorado, Rabu 21/8. BRAD SAUBER-RAPHA FOR JAWA POS/JPNN

AKHIRNYA, berakhir juga program “siksaan menyenangkan” bersepeda di Colorado. Sebagai penutup, rute dari Breckenridge ke Vail ditempuh melewati jalan antar-kota khusus untuk sepeda!

AZRUL ANANDA, Colorado

Tidak terasa, berakhirlah program bersepeda bersama Rapha dan Team Sky, membarengi even USA Pro Challenge, di dataran tinggi Colorado.
Jujur, mungkin kata “tidak terasa” kurang pas. Program ini benar-benar “terasa.” Bagaimana tidak, kami bersepeda lima hari berturut-turut, di ketinggian 2.400 sampai 3.700 meter, dan mayoritas rutenya adalah menanjak berat.

Kalau ditambah dengan acara pemanasan kami mendaki Mount Tamalpais, dekat San Francisco, California, 15 Agustus lalu, maka angkanya lumayan seru.

Dalam tujuh hari, 15-21 Agustus, kami bersepeda enam hari. Total kilometer yang kami tempuh melewati angka 430 km. Rata-rata lebih dari 70 km/hari.

Ya, bagi penghobi sepeda berat, 70 km sehari bukan angka spektakuler. Tapi kami harus mengingatkan, ini semua di ketinggian ekstrem, dan kami harus berjuang melawan udara/oksigen tipis.

Bila dibandingkan dengan di dataran “normal” alias tak jauh dari permukaan laut, maka kemampuan/kekuatan kami menurun sampai 25-30 persen.

Dan sekali lagi, mayoritas rute yang harus kami tempuh adalah menanjak!

Jadi, bisa dibayangkan betapa leganya kami ketika rute terakhir berhasil kami selesaikan Rabu lalu (21/8).

Rute itu sendiri tidaklah terlalu berat. Totalnya hampir 65 km, dari Breckenridge, melintasi lagi Copper Mountain, Vail Pass, dan berakhir di kota wisata Vail.

Dan badan kami sudah lumayan beradaptasi dengan ketinggian. Kota Breckenridge, sebuah kota wisata keluarga, terletak di ketinggian sekitar 3.000 meter.

Jadi, titik startnya sudah sekitar 600 meter lebih tinggi dari kota Aspen, tempat kami tinggal beberapa hari sebelumnya.

Untuk pernapasan, kami sudah tidak lagi seberat sebelumnya. Cipto S. Kurniawan misalnya, mengaku sudah hampir “normal” dalam kemampuan bersepeda. “Hari ini saya sudah bisa interval, sudah lebih mudah bernapas saat mengayuh pedal,” kata Wawan, sapaan akrab pengusaha muda Pasuruan berusia 31 tahun itu.

Sun Hin Tjendra, 41, bahkan semakin mantap “bersaing” dengan peserta program lain yang kuat-kuat.

Saya” Napas lumayan, tapi kaki sudah terasa berat sekali. Lelah setelah berhari-hari kena rute menanjak tinggi. Hari itu, target saya pokoknya menikmati menu bersepeda terakhir!

Prajna Murdaya juga masih recovery dari cedera kaki akibat terjatuh, tapi sangat bersemangat menyelesaikan hari terakhir itu.

Jalan Kecil Spektakuler

Walau sempat ngos-ngosan lagi saat menanjak (Vail Pass tingginya di atas 3.200 meter), tapi perjalanan hari itu melintasi jalanan yang sangat spesial, yang sangat langka di dunia.

Dari Breckenridge sampai Vail, hampir semua jalan yang kami lewati adalah jalan khusus sepeda. Posisinya hampir selalu paralel dengan highway (jalan bebas hambatan) untuk mobil.

Jalan khusus sepeda itu aspalnya sangat mulus. Beberapa bagian yang belum sedang dalam proses pelapisan aspal mulus. Lebarnya kira-kira satu jalur mobil, tapi dibagi dua arah dengan garis di tengah.

Kanan dan kirinya, di banyak tempat, juga seperti jalan antar-kota lain. Kalau tidak sedang bersebelahan langsung dengan highway, jalan sepeda ini juga dipagari dengan pepohonan indah.

Di beberapa tempat, ada tempat untuk beristirahat dan toilet umum. Di beberapa tikungan atau tanjakan/turunan, juga ada rambu-rambu pengingat khusus untuk pemakai sepeda.

Rasanya seperti “miniatur jalan tol” untuk sepeda!

Bukan hanya dari Breckenridge ke Vail, jalan khusus sepeda yang panjangnya ratusan (mungkin ribuan) kilometer ini bahkan menyambung sampai Denver, kota terbesar di negara bagian Colorado!

Melintasi jalur sepeda antar-kota ini, yang takjub bukan hanya kami dari Indonesia. Peserta yang datang dari negara bagian lain di Amerika pun ikut takjub, dan cemburu.

“Colorado benar-benar serius dalam (jalur sepeda) ini. Tempat asal saya di Austin (Texas, Red) harus belajar banyak dari sini,” puji Veronica Scheer, satu-satunya peserta perempuan, yang sehari-hari bekerja sebagai pelatih olahraga dayung.

Dalam perjalanan ini, seorang atlet perempuan MTB papan atas Amerika, Karen Jarchow, ikut bergabung. Dia membantu memandu menuju Vail. Kebetulan, dia dekat dengan Rapha, dan tinggal tak jauh dari Vail.

Jarchow menjelaskan, sebagian jalur khusus sepeda ini dulunya merupakan jalanan antar-kota untuk mobil. Kelihatan memang seperti jalan antar-kota yang sekarang ada di Indonesia.

Nah, begitu jalan bebas hambatan dibangun, sebagian jalan ini dialihfungsikan menjadi jalan antar-kota khusus untuk sepeda.

Sakit hati juga rasanya mengetahui dan merasakan kenyataan di Colorado ini. Di Indonesia, kita masih belum punya jalan antar-kota untuk mobil yang benar-benar mulus dan layak. Di Colorado, jalan antar-kota untuk sepedanya jauh lebih bagus dan mulus!

Dan jauh lebih indah!

Jalan khusus sepeda ini pula yang dimanfaatkan oleh USA Pro Challenge sebagai salah satu rute penting lomba. Etape kelima lomba, Jumat (23/8), adalah etape time trial (adu cepat melawan waktu) sejauh 16 km. Dari kota Vail menyusui jalan khusus sepeda menanjak ke atas.

Jalur yang sama kami lewati Rabu lalu menuju Vail (arah terbalik).

Begitu sampai Vail, kami merasa begitu lega. Berakhir sudah program bersepeda terberat yang pernah kami jalani ini. Sangat menyenangkan” Ya. Kelak ingin lagi” Ya.

Tapi sekarang istirahat dulu”

Sebagai “perpisahan,” kami makan siang bareng di kawasan wisata Vail yang indah. Ini kota wisata yang dikenal pula sebagai kotanya orang-orang kaya. Dan paling ramai saat musim dingin, untuk bermain ski. Saat musim panas begini, pengunjung juga banyak. Dan ada banyak hal menarik lain di sekitar sini, seperti wisata rafting.

Vail sendiri tidak seperti di Amerika. Kawasan tempat kami pergi memilik rumah-rumah dengan arsitektur seperti di pegunungan Eropa. Jalanannya pun dari bebatuan.

“Saya kok merasa seperti di Swiss ya,” celetuk Wawan.

Usai makan siang, kelompok terbagi dua. Satu mobil duluan berangkat kembali ke Aspen. Karena ada yang harus mengejar pesawat balik ke tempat asal masing-masing sore itu juga.

Rombongan Indonesia ikut Mercedes Sprinter van milik Rapha. Kembali ke rumah mewah tempat kami menginap sebelumnya untuk mengepaki lagi sepeda dan segala peralatan.

Seluruh kru Rapha dengan sigap membantu segala proses kemas-kemas.

Setelah semua beres, kru Rapha mengantarkan kami ke Snowmass, kota tetangga Aspen, untuk menginap lagi semalam. Kami memang tidak langsung balik ke Indonesia.

Kami akan keliling dulu ke beberapa kota lain di Colorado. “Mengejar” lagi nonton USA Pro Challenge di kota lain, dan mengunjungi beberapa seniman sepeda di negara bagian tersebut.

Baru Minggu nanti (25/8) kami terbang kembali ke Indonesia.

Kami bercanda, gara-gara setiap hari sibuk bersepeda dan setelah itu kelelahan, program ini termasuk bikin irit pengeluaran. Jangankan punya kesempatan belanja, kesempatan untuk istirahat saja harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kami juga membayangkan, ketika balik ke Indonesia nanti, mungkin kemampuan kami akan meningkat. Seminggu ini kami sudah belajar untuk bernapas lebih efisien. Ketika di Indonesia, semoga saja kami benar-benar jadi lebih tangguh!

Dan kelak, kami sepakat ingin kembali ke Colorado. Menurut kami, tidak ada tempat bersepeda lain yang lebih asyik. Walau Pegunungan Pyrenees di Prancis (yang kami kunjungi tahun lalu) juga luar biasa, dan katanya kawasan Dolomites di Italia lebih spektakuler.

Andai kembali, mungkin juga bukan untuk bersepeda. Melainkan mengajak keluarga. Aspen, Breckenridge, dan Vail cocok sekali untuk liburan keluarga. Selain asyik untuk anak-anak, mungkin juga istimewa untuk honeymoon kedua.

Yang penting ingat untuk menjadwalkan satu atau dua hari pertama untuk istirahat total, beradaptasi penuh dengan udara dan oksigen tipis”

Terima kasih Rapha dan Team Sky, terima kasih Colorado! (habis)

Advertisements

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (3)

Azrul Ananda dan Pembalap

Azrul Ananda dan Pembalap

Gowes Pertama, Jantung Berdebar seperti saat Jatuh Cinta

Akhirnya, rombongan Indonesia dapat kesempatan bersepeda di Aspen. Tapi, acara santai justru jadi penyiksaan luar biasa. Udara tipis, suhu sampai 41 derajat. Rasanya seperti belajar naik sepeda lagi.

AZRUL ANANDA, Aspen

Program bersepeda di Colorado bersama Team Sky secara resmi dimulai Sabtu siang, 17 Agustus (Minggu, 18/8 WIB). Pukul 13.00 waktu setempat, sebelas peserta telah berkumpul di Aspen.

Empat dari Indonesia, satu dari Kanada, sisanya dari berbagai penjuru Amerika. Mulai dari Seattle, Austin, serta kota-kota lain.

Siang itu, semua berkumpul di sebuah rumah mewah, yang dijadikan penginapan selama beberapa hari di Aspen. Setelah bagi kamar, tur fasilitas, tim Rapha “partner apparel Team Sky” yang mengelola program ini mengumpulkan seluruh peserta di ruang santai.

Acara kenalan resmi dimulai.

Di situ ada Brad Sauber, pengelola program-program tur Rapha yang datang dari Inggris. Ada Tim Coghlan, yang bekerja di kantor Rapha di Portland, Oregon, AS. Ada pula Ben Lieberson, legenda touring Rapha yang pekerjaannya keliling dunia bersepeda.

Tidak tertinggal Paul Whiting, pro masseuse, pakar fisio asal Inggris yang akan “merawat” badan para peserta selama program di Colorado. Selama bertahun-tahun Whiting menjadi andalan para pembalap sepeda dunia (dan atlet dunia lain) untuk masalah-masalah pada badan.

“Paul memilih menemani kita semua, menolak tawaran kerja dari tim-tim kelas dunia di event ini,” kata Sauber, yang juga menjelaskan bahwa dirinya dulu punya banyak pengalaman sebagai mekanik sepeda tim profesional. Jadi, dia akan bertindak bila peserta punya masalah sepeda.

Mereka berempat menjelaskan seperti apa kira-kira program dalam beberapa hari ke depan. Termasuk, kemungkinan-kemungkinan perubahan. Khususnya yang berkaitan dengan interaksi bersama Team Sky. Serta, tamu-tamu spesial lain yang akan menemani peserta.

Intinya, mereka berempat akan bekerja bersama untuk memastikan program ini berlangsung memuaskan, menjadi kenangan tidak terlupakan.

Sebagai contoh servis penuh yang mereka terapkan: Setiap malam sepeda akan dibersihkan dan diperiksa. Setiap pagi semua botol minum sudah disiapkan dan terisi penuh. Kalau habis, tinggal minta tolong ke mobil yang selalu mendampingi. Dan setiap malam, jersey serta bibshort yang dipakai akan dicucikan. Pagi hari, baju sudah fresh siap dipakai lagi.

Saat bersepeda pun, tiga di antara empat akan turun gowes bersama peserta. Ada yang memimpin di depan, menemani di tengah, dan mengawal di belakang.

Ingat, setiap malam Whiting juga siap memijat bagian-bagian tubuh peserta yang dirasa sakit atau kurang nyaman.

Setelah brifing, pukul 14.00, program bersepeda pertama dilakukan. “Ini sepeda santai, kecepatan biasa. Untuk membiasakan diri dengan keadaan, sekaligus ngobrol dan kenalan satu sama lain,” tegas Sauber.

Acara santai itu, bagi rombongan Indonesia, berubah jadi shock therapy. Ternyata, benar-benar tidak mudah untuk beraktivitas fisik di ketinggian 2.400 meter”

Benar-Benar Sulit Bernapas
Malam sebelumnya (Jumat, 16/8), Ben Lieberson mengingatkan kami bahwa tidak mudah untuk beradaptasi di ketinggian Colorado. Udara tipis, oksigen tipis. Jadi, jangan paksakan diri saat kali pertama bersepeda.

“Kalau kita push, detak jantung tidak bisa recovery dengan cepat. Begitu detaknya tinggi, akan terus tinggi,” ujarnya. “Karena kering, teruslah minum air,” tambahnya.

Begitu keluar dari rumah penginapan, rombongan bersepeda pelan (20″25 km) melintasi jalanan taman yang indah. Melintasi sungai kecil, jembatan kayu, dan jalanan gravel (kerikil halus). Setelah sekitar sepuluh kilometer, rasanya kami bisa beradaptasi dengan baik.

Tapi kemudian, kami diajak melewati tanjakan-tanjakan yang biasa digunakan sebagai rute latihan para pembalap. Tidaklah ekstrem. Ada beberapa bagian yang mencapai kemiringan 10 persen, tapi kebanyakan di angka 4″6 persen.

Di situlah kami mulai merasakan betapa beratnya bersepeda di ketinggian 2.400 meter.

Kami benar-benar sulit bernapas. Dan setelah tanjakan terlewati, napas juga tidak segera normal. Kami benar-benar tersengal-sengal berusaha mengikuti rombongan. Padahal, kecepatan sangat rendah. Sekitar 10″15 km/jam di tanjakan, 20″25 km/jam di jalan datar.

“Edan. Kalau latihan di Indonesia (di ketinggian “normal”, Red), kemiringan 4″6 persen itu, kita masih bisa ngobrol. Di sini saya tidak berani bicara,” kata Cipto S. Kurniawan, 31, pria asal Pasuruan yang dikenal sebagai jagoan climbing. “Sejak awal sudah tidak cukup mengandalkan bernapas pakai hidung,” tambahnya.

Sun Hin Tjendra, 41, yang dikenal sebagai “pembalap eksekutif” yang superkuat, juga merasakan sulitnya bernapas di Aspen. “Jantung berdebar-debar seperti ketika jatuh cinta dulu,” ujarnya.

Temperatur yang panas, siang itu mencapai 41 derajat Celsius, ikut menyiksa. Angin dingin tidak menolong saat kami harus menanjak. Di jalanan datar, rasanya melaju 25 km/jam itu seperti memaksakan diri melaju 40″45 km/jam.

Belum bicara soal udara kering. Karena diminta terus minum, tidak terasa saya menghabiskan hampir enam botol air. Dua botol di antaranya berisi air dengan campuran ramuan khusus dari Skratch Labs.

Padahal, total bersepeda kami hanya sekitar 50 km. Tergolong pendek, dan dengan kecepatan relatif rendah. Tapi, rasanya seperti ikut event jarak jauh Audax lebih dari 200 km!

Rasanya seperti ketika kali pertama serius menekuni road bike dulu, bukan seperti cyclist yang sudah berpengalaman.

Sejak selesai bersepeda sampai malam, kami terus membicarakan itu. Di Indonesia, beberapa pekan sebelum berangkat ke Amerika, kami sudah latihan tergolong intensif. Di Jawa Timur, kami hampir setiap hari latihan menanjak ke berbagai tempat. Misalnya, Tretes, Tosari Bromo, dan Nongkojajar Malang. Semua masuk tanjakan kategori 1 atau bahkan HC (hors categorie, kategori terberat). Minimal kategori 2.

Latihan endurance juga kami lakukan, berkali-kali bersepeda lebih dari 100 km. Dan ketika pemanasan 85 km menanjak Mount Tamalpais di kawasan San Francisco Kamis lalu (15/8), kami juga merasa nyaman.

Tapi, semua latihan itu dilakukan di ketinggian dekat dengan permukaan laut. Beda sekali dengan di ketinggian 2.400 meter! Ketika mengecek data di komputer, tanjakan-tanjakan yang kami jajal pada hari pertama ini hanya di kategori 3 atau 4. Seharusnya relatif gampang.

“Segala latihan jadi seperti tidak berguna,” cetus Wawan, sapaan akrab Cipto S. Kurniawan.

Kami berharap, pada hari pertama bersepeda itu, badan kami sudah diberi tahu harus berubah bagaimana untuk hari-hari selanjutnya. Malamnya, kami diminta untuk terus banyak minum air, dan tidur secara maksimal.

Semoga saja, besok paginya sudah membaik, dan hari-hari berikutnya terus membaik.

Menu Khusus Pakar Nutrisi
Beruntung bagi kami, soal makanan dan nutrisi, Rapha memberikan perhatian ekstraspesial. Untuk makan malam pertama, setelah acara bersepeda pertama, mereka mendatangkan tim dari Skratch Labs, yang dipimpin langsung oleh Dr Allen Lim.

Dr Allen Lim punya reputasi hebat di kalangan pembalap profesional. Dialah pembuat menu untuk tim-tim terbaik dunia. Dan untuk kami, dia sendiri yang memasakkan menu khusus malam itu.

Dibuka dengan keju-kejuan eksotis dan roti, plus salad campuran khusus berisi beetroot, akar-akaran yang disebut baik untuk stamina. Disambung dengan ayam panggang dan beberapa menu lainnya.

Sebagai penutup, ada almond pie.

Sepanjang makan malam, Dr Allen Lim rajin mengajak bicara para peserta. Menanyai mereka berasal dari mana, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan soal nutrisi dari para peserta.

Perut kenyang, hati tenang. Banyak minum air. Tidur yang nyenyak. Usai makan malam, Brad Sauber memberi tahu rencana untuk hari selanjutnya (Minggu, 18/8, atau Senin WIB).

Dan rencananya besar! Minggu pagi itu, sehari sebelum USA Pro Challenge 2013 dimulai di Colorado, kami akan bertemu bersama Team Sky! Bukan hanya itu, kami juga akan bersepeda bersama para bintang-bintangnya!(bersambung)

Bersepeda Bareng Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (1)

Minggu, 18 Agustus 2013

Pemanasan di California, Menuju Aspen Sehari Lebih Dini

Dari seluruh dunia, hanya sebelas orang yang dapat kesempatan bersepeda bersama Team Sky, di USA Pro Challenge di Colorado. Empat di antaranya dari Indonesia. Termasuk AZRUL ANANDA dari Jawa Pos.

Penggemar sepeda, khususnya ajang balap sepeda, mungkin sudah sangat familier dengan nama Sky Pro Cycling alias Team Sky. Tim asal Inggris itu kini berada di urutan pertama dunia, dan telah dua tahun berturut-turut menjadi jawara Tour de France.

Termasuk Juli lalu, saat Christopher Froome merebut yellow jersey di edisi ke-100 ajang paling bergengsi di dunia tersebut.

Hebatnya lagi, walau baru eksis sejak 2010, tim ini telah mengubah standar bagaimana sebuah tim profesional dikelola dan di-marketing-kan. Tim ini dikenal selalu memakai peralatan termewah atau yang dianggap sangat mewah.

Misalnya, bus pendamping tim paling megah. Mobil pendukung merek Jaguar (yang juga asal Inggris). Sepeda yang dipakai merek Pinarello asal Italia, yang terkenal masuk barisan paling mewah. Pilihan kerja sama jersey dan seragam lain pun merek Rapha. Juga asal inggris, Rapha dianggap sebagai “Louis Vuitton”-nya baju sepeda.

Saat ini, untuk bisa mendekat saja dengan Team Sky merupakan sebuah tantangan. Baik mendekat di arena balap maupun di luar arena.

Karena itu, ketika ada kesempatan untuk bersepeda bareng mereka, harus diambil dengan sangat segera. “Kereta” yang sama belum tentu lewat lagi walau kita tunggu seumur hidup di stasiun.

Kesempatan tersebut datang dari Rapha. Kesempatan itu diberikan di ajang USA Pro Challenge, ajang lomba sepekan yang sejak 2011 diselenggarakan di pegunungan Colorado, Amerika Serikat.

Hanya ada jatah yang sangat terbatas untuk mengikuti kiprah Team Sky saat berlaga di Colorado. Tinggal di satu kawasan, makan bareng, bahkan bersepeda bareng saat sesi latihan. Lomba berlangsung pada 19–25 Agustus, sedangkan kesempatan “mendampingi” tim diberikan pada 17–21 Agustus.

Ketika e-mail “peluang” itu sampai kepada kami (customer Rapha) beberapa bulan lalu, seperti biasa e-mail dari Eropa sampai pada dini hari WIB. Prajna Murdaya, rekan bersepeda saya saat mengikuti Tour de France 2012 dan Tour of California 2013 lalu, merupakan yang pertama yang membukanya. Secara instan, dia langsung mendaftar detik itu juga.

Pagi itu, dia berusaha menelepon saya. Tapi, kala itu saya sedang latihan sepeda, baru membukanya saat makan pagi. Saat saya angkat, dia langsung bilang: “Kamu punya sepuluh menit untuk membuat keputusan, ikut atau tidak.”

Walau belum buka e-mail, saya tahu kesempatan seperti ini sangat langka. Tentu saya bilang iya. Dalam hitungan jam, saya juga mengajak dua rekan lain. Sun Hin Tjendra, rekan lain sesama founder di Surabaya Road Bike Community (SRBC), menyatakan ikut. Cipto S. Kurniawan alias Wawan, rekan bersepeda dari Pasuruan, juga bilang iya. Padahal, ketika saya hubungi pagi itu, Wawan sedang dalam perjalanan bisnis di Tiongkok.

Empat orang pun terdaftar hari itu juga. Semula, Rapha menyebut peserta bakal 14 orang. Angka tersebut kemudian dikecilkan lagi menjadi hanya 11 orang, untuk memudahkan servis dan pelayanan selama program. Hebat, dari total 11 jatah sedunia, empat peserta dari Indonesia!

Prajna mengaku ditelepon Rapha, yang tampaknya sempat ragu dan bingung melihat ada empat orang Indonesia mengikuti program unik mereka!

Saat kami mendaftar itu, Tour de France 2013 belum berlangsung. Dan belum dipastikan siapa saja pembalap Team Sky yang turun di Colorado.

Alangkah senangnya kami ketika menonton Team Sky (Christopher Froome) menang di Tour de France. Senang itu jadi bahagia bukan kepalang ketika tahu Christopher Froome, beserta rekan setim terbaiknya, Richie Porte, bakal turun di Colorado!

Oh ya, ketika mendaftar, tidak semua di antara kami langsung memberi tahu keluarga (istri) masing-masing. Tapi, kami sepakat dengan prinsip: “Meminta maaf lebih mudah daripada meminta izin…”

Tantangan Udara Tipis
Rocky Mountains, alias pegunungan Colorado, merupakan dataran yang sangat tinggi. Denver, kota terbesar di negara bagian tersebut, punya julukan “Mile High”, terletak satu mil (1,6 km) di atas permukaan laut.

USA Pro Challenge akan finis di Denver, tapi bakal dimulai di Aspen. Nah, di Aspen ini pula kami akan “bergabung” dengan Team Sky. Ketinggiannya” 2.400 meter…
Sebagai perbandingan, titik tertinggi Tour de France 2013 adalah Col de Pailheres, “hanya” 2.001 meter. Jadi, titik start USA Pro Challenge sudah lebih tinggi daripada titik tertinggi Tour de France!

Dalam lomba, para pembalap akan menghadapi tanjakan-tanjakan yang lebih tinggi. Puncaknya adalah Independence Pass, yang mencapai lebih dari 3.650 meter. Itu merupakan titik tertinggi ajang balap sepeda di seluruh dunia.

Dan kami, sebagai peserta program, juga akan diajak mendakinya…

Untuk bisa menjalani program, kami harus berlatih ekstra. Walau semua sibuk, kami berusaha meluangkan waktu semaksimal mungkin untuk berlatih. Khususnya untuk menanjak.

Tapi, itu saja pasti tidak cukup. Karena ketinggian Colorado juga akan dibarengi udara tipis, kami jadi semakin kerepotan.

Bahkan, para pembalap akan merasa tersiksa dengan tipisnya udara. Christopher Froome, begitu tiba dan berlatih di Aspen, langsung berkomentar via Twitter: “Bersepeda keliling Aspen bikin shock badan. Indah, tapi tak banyak oksigen! Balapan seminggu ke depan bakal kejam.”

Dalam program yang disiapkan, tanggal 17 Agustus adalah hari santai untuk membiasakan diri dengan udara di ketinggian Aspen. Tapi, kami memutuskan untuk terbang lebih dini, tiba lebih cepat.

Tanggal 14 Agustus meninggalkan Indonesia, menyempatkan bersepeda sehari di kawasan berbukit di sekitar San Francisco, lalu tiba di Aspen pada 16 Agustus.

Menanjak Mount Tamalpais
Tiba di San Francisco, California, Rabu, 14 Agustus malam, kami langsung cari makan malam di Yuet Lee di China Town, salah satu restoran favorit orang Indonesia yang kondang lewat cumi goreng keringnya.

Kemudian, langsung membongkar koper dan merakit sepeda yang kami bawa (semua Pinarello). Kami merakit sepeda sampai Kamis dini hari pukul 01.00.
Kamis pagi, kami sudah ingin bersepeda dulu. Selain “pemanasan” menanjak di udara kering (walau tidak tipis), juga mengecek untuk memastikan tidak ada masalah pada komponen-komponen sepeda yang kami bawa.

Pagi itu, pukul 07.00, kami mampir dulu ke Rapha Cycle Club, butik/kafe untuk ngopi. Baru kemudian menuju kawasan jembatan Golden Gate, menunggu Franklyn Wu, teman Prajna asal Taiwan yang akan menjadi pemandu.

Dari sana, kami menyeberangi Golden Gate, memasuki Marin County, dan menuju Mount Tamalpais.

Bagi Wawan, ini kesempatan yang sudah lama diimpikan. Ketika liburan keluarga ke San Francisco empat tahun lalu, dia sangat ingin menyewa sepeda dan menyeberangi Golden Gate. Tapi, tidak ada waktu. Sekarang dia benar-benar puas, walau kabut tebal menyelimuti jembatan tersebut.

Mount Tamalpais sendiri merupakan salah satu tujuan bersepeda favorit warga San Francisco dan sekitar. Tidak hanya untuk bersepeda, tapi juga untuk running (lari). Di situ juga ada jalur mountain bike yang sangat populer, tempat nama-nama besar sepeda, seperti Gary Fisher dan Tom Ritchey, “bermain”.

Puncak Mount Tamalpais tidaklah terlalu tinggi, 785 meter. Tapi, tanjakannya lumayan menantang, dan punya bagian seru berupa tujuh bukit berseri. Orang-orang di sana menyebutnya “seven sisters” (tujuh cewek bersaudara).

Di atas, kita seharusnya bisa melihat seluruh kawasan Bay Area. Sayang, kabut tebal membuat pemandangan hari itu sangat terbatas.

Tidak terasa, hari itu kami bersepeda sekitar 85 kilometer. Lebih dari sekadar “pemanasan”. Setelah makan siang, kami mengunjungi beberapa toko sepeda, sebelum kembali untuk membongkar dan mengepak lagi sepeda. Sebab, Jumat pagi (16/8) kami sudah harus terbang ke Colorado.

California terletak di pantai barat, sedangkan Colorado ada di kawasan tengah Amerika. Menuju Aspen, kami harus transit dulu di Denver. Baru Jumat menjelang sore kami mendarat di Aspen, menghadapi langsung sulitnya beradaptasi di dataran tinggi. (bersambung)

Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013

Jatim tuan rumah balap sepeda taraf Internasional

Editor:  |

Rabu, 08 Mei 2013 19:28 WIB,

Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013 - Jatim tuan rumah balap sepeda taraf Internasional - Gelaran Tour East Java di JatimGelaran Tour East Java di Jatim(Foto: Angga)

LENSAINDONESIA.COM: Layaknya Tour the East Java, namun kali ini event long distance cycling diadakan di Jawa Timur (Jatim). Acara yang rencananya akan dilaksanakan pada 30 Juni ini bertajuk Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013.

Seperti yang dipaparkan oleh Direktur Utama (Dirut) PT Jawa Pos Koran, Azrul Ananda, Rabu (8/5) siang, event on day cycling ini akan menempuh total jarak 232 Km dengan mengambil start dan finish di Surabaya.

Rute yang akan ditempuh oleh kurang lebih 300 peserta ini akan dibagi dalam enam etape, yakni Surabaya-Pandaan, Pandaan – Universitas Brawijaya (Unbraw) Malang, Unbraw-Batu, Batu-Kandangan, Kandangan-Mojokerto, Mojokerto-Surabaya.

“Tantangan terberat di tiga etape awal dan puncaknya saat peserta bergerak dari Malang menuju Pujon. Setelah itu, peserta akan meewati rutu turunan dan flat,” jelas Azrul.

Menurut putra Menteri BUMN, Dahlan Iskan ini animo peserta Audax Jatim sangat luar biasa. Ketika pendaftaran baru dibuka awal Mei lalu, dalam kurun waktu 36 jam kuota awal, yakni 250 peserta sudah habis. Akibatnya, panitia menetapkan kebijakan pembatasan jumlah peserta menjadi 300.

“Pesertanya berasal dari Jawa Timur, luar Jatim dan beberapa negara di luar negeri, seperti Amerika Serikat, Singapura dan beberapa negara Eropa,” ucap Azrul.

Sementara itu, dalam sambutannya, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf mengaku antusias dan memberikan dukungan penuh pada Audax East Java 2013. “Kami memberikan dukungan penuh. Kita merasa berkepentingan untuk membantu. Sebab melalui event ini Jatim lebih dikenal di dunia luar,” kata Gus Ipul, sapaan akrabnya.

Saifullah hanya berharap, kejadian di Tour de East Java (TdEJ) 2012 berupa banyaknya jalan berlubang, bisa segera teratasi.

“Jangan sampai itu terjadi lagi. Sebab ini diikuti peserta luar Jatim dan luar negeri,” pungkas orang nomor dua di pemerintahan Provinsi Jatim ini. @angga_perkasa

sumber : http://www.lensaindonesia.com