Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (6)

Capai Puncak 3.700 Meter, Tertinggi di Ajang Balap Dunia

PALING TINGGI DI DUNIA: Cipto S. Kurniawan, Sun Hin Tjendra, dan Azrul Ananda di puncak Independence Pass, Colorado, SELASA 20/8. Ketinggiannya 3.700 meter di atas permukaan laut. Pohon sudah tidak bisa tumbuh di atas sini. (JAWA POS PHOTO)

PALING TINGGI DI DUNIA: Cipto S. Kurniawan, Sun Hin Tjendra, dan Azrul Ananda di puncak Independence Pass, Colorado, SELASA 20/8. Ketinggiannya 3.700 meter di atas permukaan laut. Pohon sudah tidak bisa tumbuh di atas sini. (JAWA POS PHOTO)

Hari terberat program sepeda di Colorado terjadi Selasa lalu (20/8, Rabu kemarin WIB). Menanjak sampai ketinggian 3.700 meter, lalu terus turun-naik di kisaran 3.000 meter.

AZRUL ANANDA, Aspen

Sekali lagi perlu ditegaskan: Bersepeda di dataran setinggi Aspen dan sekitarnya di Colorado bukanlah bersepeda biasa. Dimulai di ketinggian 2.400 meter, lalu naik hingga 3.700 meter. Udara tipis, oksigen tipis. Apalagi, udara juga sangat kering. Kekuatan kita bisa turun hingga 25″30 persen.

Bahkan, para pembalap kelas dunia pun bisa tersiksa atau berguguran. Itu terlihat jelas dalam ajang USA Pro Challenge 2013, yang berlangsung 19″25 Agustus ini di Colorado.

Joe Dombrowski, bintang muda Team Sky, harus balapan dengan hidung terus mengucurkan darah di etape pertama, Senin lalu (19/8).

Di etape kedua, Peter Kennaugh, pembalap Team Sky yang lain, harus mundur karena sakit. Mathias Frank, pembalap BMC yang memenangi etape kedua, juga menegaskan betapa sulitnya menaklukkan ketinggian ini. Menurut dia, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah kunci utama sukses di Colorado.

“Ini bukan cycling normal. Ini sesuatu yang berbeda. Segalanya bisa terjadi di lomba ini,” ucap Frank.

Kalau pembalap saja suffering (tersiksa), apalagi kita-kita yang amatir. Apalagi kita-kita yang datang dari negara tropis, yang panas, lembap, dan dari kawasan yang ketinggiannya setara dengan permukaan laut.

Setelah beberapa hari di Aspen, sebenarnya kami mulai terbiasa dengan ketinggian ini. Pada hari pertama, 16 Agustus lalu, naik tangga saja sudah ngos-ngosan. Pada hari kedua, bersepeda 50 km rasanya sangat menyiksa.

Hari ketiga, bersepeda 90 km dan mendaki dua tanjakan tinggi di kisaran 3.000 meter membuat kami makin biasa. Hari keempat, kami ambil santai, hanya sekitar 35 km mengikuti sirkuit Aspen”Snowmass yang dijadikan rute etape pertama USA Pro Challenge.

Nah, pada hari keempat, Selasa 20 Agustus, kami dijadwalkan oleh Rapha “penyelenggara tur bersama Team Sky ini” melakukan rute paling menyiksa. Mendaki Independence Pass, yang tingginya mencapai 3.700 meter, dan merupakan titik tertinggi ajang balap sepeda apa pun di dunia.

Setelah itu, kami akan terus bersepeda menuju Breckenridge, sebuah kota wisata keluarga yang sangat indah. Total jarak yang rencananya kami tempuh: 100 mil atau sekitar 160 km.

Sejak awal, mengingat jarak dan tantangan tanjakan yang harus ditempuh, saya pribadi sudah agak pesimistis. Jangan salah, tahun ini saya dan teman-teman sudah berkali-kali ikut event bersepeda yang menempuh jarak lebih dari 200 km dalam sehari. Tapi, baru kali ini harus melakukannya di ketinggian se-ekstrem ini.

Tapi, saya, Sun Hin Tjendra, Cipto S. Kurniawan, dan Prajna Murdaya akan bertekad berusaha menyelesaikannya. Selasa itu, kami harus mulai sangat pagi. Pukul 07.30 sudah harus meninggalkan rumah penginapan di Aspen. Sebab, kami sudah harus sampai puncak Independence Pass sebelum pukul 12 siang. Jam itu, jalan akan ditutup karena para pembalap USA Pro Challenge dijadwalkan melintasinya.

Suhu pagi itu dingin. Sekitar 15 derajat. Jadi, kami mengenakan jersey lengan panjang, lapis jaket angin, leg warmer (ekstensi celana), topi di bawah helm, dan kebutuhan anti-dingin lainnya. Itu juga untuk mengantisipasi suhu yang makin dingin di atas, apalagi kalau hujan sampai turun.

Dari Aspen, sedikit keluar, memang sudah mencapai jalan menuju puncak Independence Pass. Bahkan, tanjakan sudah dimulai sekitar 8 km dari batas kota. Dan tanjakan itu jaraknya lebih dari 22 km. Total dari titik start kami adalah 32 km, dan hampir semuanya menanjak.

Tanjakan bermula langsung relatif berat. Konstan memiliki gradient (kemiringan) 6 persen sampai sekitar tengah tanjakan. Sebenarnya, itu bukan kemiringan ekstrem. Tapi, karena oksigen tipis, rasanya jadi jauh lebih berat.

Untungnya, tanjakan melandai saat menuju puncak. Di kisaran 3″4 persen, sesekali 5″6 persen. Tanjakan baru “menendang” di puncak, ketika kemiringan mencapai 9 persen.

Mengingat panjangnya tanjakan ini, saya dan Wawan (sapaan Cipto S. Kurniawan) memilih untuk menghemat diri sejak awal. Apalagi, setelah Independence Pass, kami masih harus mengayuh pedal lebih dari 100 km.

Saya terus memperhatikan layar Garmin (komputer sepeda), memastikan detak jantung saya tidak melonjak di atas 150 per menit, dan putaran kaki saya di kisaran RPM yang konstan moderate (tidak terlalu cepat untuk menjaga detak jantung).

Sun Hin Tjendra, yang memang dikenal sebagai orang terkuat di komunitas saya di Surabaya, dengan mantap melaju mengikuti bule-bule Rapha mendaki dengan cepat.

Prajna Murdaya perlu diacungi dua jempol. Kaki dan pinggul cedera dan luka karena sempat terjatuh dua hari sebelumnya, dia tetap bertekad menyelesaikan etape hari itu.

Di tengah-tengah tanjakan, saya dan Wawan (kami terus berdua) sempat berhenti untuk foto-foto sekaligus mengisi “bahan bakar”. Pagi itu, kami tidak makan banyak, supaya perut tidak berat di tanjakan awal. Triknya adalah ngemil sedikit-sedikit.

Kami diberi sangu rice cake (ketan) berisi cokelat atau yang lain, yang dibungkus kecil-kecil dengan aluminium foil. Makanan itu disiapkan Skratch Labs, yang merupakan supplier makanan para pembalap.

Pemandangan memang luar biasa indah. Perlahan, semakin terlihat puncak perbukitan tinggi di sekeliling semakin gundul. Di ketinggian itu, memang muncul “tree lines”. Maksudnya, garis ketinggian di mana pohon tidak bisa lagi tumbuh.

Ada begitu banyak cyclist yang menanjak hari itu. Semua ingin mencapai puncak untuk menonton para pembalap USA Pro Challenge melintas. Suasana sangat meriah. Mereka yang sudah camping di pinggir jalan terus membunyikan lonceng sapi mini, atau meneriakkan ucapan semangat kepada kami. Rasanya seperti ketika menjajal rute Tour de France tahun lalu!

Ketika akhirnya sampai puncak, rasanya bangga luar biasa. Kami mencapai titik tertinggi ajang balapan dunia! Dan karena hemat tenaga sejak awal, kondisi saya tidak “hancur” ketika sampai di puncak itu.

Personel Rapha, yang memiliki trailer kafe di puncak, langsung membantu memarkir sepeda kami dan memberikan supply makanan Burrito vegetarian (supaya tidak berat di perut), juga buatan Skratch Labs.

Saya dan Wawan butuh sekitar 2,5 jam mencapai puncak. Sun Hin sudah jauh lebih cepat. Brad Sauber, manajer tur dari Rapha, menyarankan kami ke arah sebuah papan besar untuk mengabadikan momen itu.

Ada tulisan besar “Independence Pass” dengan ketinggian setara 3.700 meter, plus tulisan “Continental Divide”. Ya, titik tertinggi ini merupakan bagian dari garis penanda aliran air. Dari atas, di jalur itu, air akan terpisah. Satu ke arah lautan Pasifik, satu lagi ke Atlantik.

Suasana di puncak pun begitu meriah. Sudah ada banyak fans dengan dandanan seru yang “berpesta” di sana. Bermain-main, saling menggoda, dan lain sebagainya.

Begitu semua peserta program sampai di puncak, kami disarankan langsung melaju menuruni puncak tersebut. Sebab, dalam waktu dekat, para pembalap akan lewat dan jalan ditutup. Menunda perjalanan kami yang masih sangat jauh.

Descent (turunan) tidak kalah dengan menanjaknya. Beberapa switchback (lekukan-lekukan tajam) membuat turunan itu menantang. Apalagi, kecepatan sangat tinggi, dengan mudah lebih dari 60 km/jam.

Sayang, kami tak sempat menyelesaikan seluruh turunan sebelum dihentikan oleh marshall lomba dan polisi pengawal. Di belakang kami, para pembalap sudah siap lewat. Kami pun memarkir sepeda di sisi jalan, dan menunggu para pembalap lewat.

Dan seru sekali. Para pembalap itu melaju begitu cepat! Tidak heran bila mereka mencapai lebih dari 100 km/jam saat turun! Yang lebih seru lagi: Para pembalap Team Sky mengenali kami di sisi jalan (karena memang hanya kami di situ). Christopher Froome, sang juara Tour de France 2013, melambaikan tangannya ke arah kami sambil tersenyum! Kanstantsin Siutsou, rekan setimnya, menunjukkan tanda “metal” ke arah kami.

“Mereka mengenali kalian. Luar biasa,” kata Brad Sauber.

Tertolong Chinese Food

Begitu peloton dan rombongan mobil pengiring lewat, kami pun bisa melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah Leadville, sebuah kota kecil, untuk makan siang di sana. Dari Aspen, jaraknya hampir 100 km. Jadi, kami saat itu masih harus menempuh lagi 40-an km.

Melintasi Twin Lakes, kawasan danau indah, kami berhenti untuk foto-foto. Lalu, kami bergantian saling “menarik” di depan, menjaga kecepatan menuju tujuan.

Mercedes Sprinter (van) Rapha yang disopiri Sauber berhenti di beberapa titik, siap memberi kami supply snack dan minuman kalau dibutuhkan.

Kami juga harus beberapa kali berhenti pasang-lepas jaket, karena cahaya matahari (atau tanjakan) bikin kepanasan, sedangkan angin dan hujan (serta turunan) bikin kedinginan.

Suhu sempat di 30-an derajat Celsius, sempat drop juga ke 18-an. Selama bersepeda itu, kami terus berada di kisaran ketinggian 3.000 meter. Sempat turun ke 2.800-an, lalu naik lagi ke atas 3.100 meter. Sun Hin Tjendra mengaku merasakan sekali bedanya.

“Kalau di bawah 3.000, napas lebih enak. Begitu napas berat, saya tahu ini sudah di atas 3.000 meter lagi,” katanya.

Akhirnya, kami sampai Leadville. Garmin menunjukkan kami sudah mengayuh sepeda sejauh 94 km. Jadwalnya, kami makan sandwich di sebuah kafe di situ. Tapi, kami melihat ada sebuah Chinese restaurant di sebelahnya. Szechuan Taste namanya. Karena sudah bosan makan roti dan tidak nafsu lagi menu bule, kami memutuskan untuk makan di sana.

Lega rasanya bisa makan nasi goreng, sup wonton, dan menu-menu lain yang familier!

Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Sauber mengingatkan kami untuk kembali jalan. Saat itu, spirit kami masih tinggi. Tetap berniat mencoba menyelesaikan rute.

Prajna, yang cedera, sempat disarankan untuk loading naik mobil. Apalagi, ada peserta lain yang juga memilih naik mobil. Tapi, dia tetap bertekad melanjutkan perjalanan.

Suhu dingin kembali kami rasakan. Hujan gerimis kembali turun, bikin makin dingin. Hanya sekitar 5 kilometer dari Leadville, Sun Hin tiba-tiba bilang akan berhenti dan naik mobil. Dia bilang, kepalanya pusing-pusing (normal di ketinggian ini).

Bahwa “Komandan” kami loading, sempat membuat saya down. Tapi, saya dan Wawan memutuskan untuk terus mengayuh pedal. Sampai 5 kilometer kemudian, giliran saya yang minta berhenti. Badan sudah terasa tidak nyaman. Mungkin, kalau dipaksakan, masih bisa meneruskan. Minimal 20 km lagi. Tapi, saya juga berpikir bahwa aktivitas kami masih banyak dalam beberapa hari ke depan. Kalau dipaksakan sekarang, nanti saya bisa “hancur”.

Saya pun berhenti di kilometer 105. Wawan sebenarnya masih kuat, tapi dia ikut loading sebagai bentuk solidaritas. “Tidak akan menyesal kok,” ucapnya.

Menurut data komputer, saya sudah mengayuh pedal selama 4 jam 45 menit, kebanyakan menanjak, membakar lebih dari 3.200 kalori.

Hebatnya, Prajna terus berusaha meneruskan rute. Walau dengan kecepatan yang sudah tertatih-tatih. Makin lama, dia makin terlihat nyaman, dan Brad Sauber membiarkannya terus mengayuh sampai puncak tanjakan selanjutnya di Copper Mountain (di kisaran kilometer 120). Baru Prajna diminta naik mobil, karena kami harus segera sampai di Breckenridge sebelum terlalu malam.

Tapi, apa yang dilakukan Prajna itu layak diacungi jempol. Secara kemampuan, dia tidak sekuat yang lain, tapi mentalnya paling kuat tidak mau menyerah. “Hari ini juaranya Prajna,” puji Sun Hin.

Kami pun sampai di Breckenridge. Sebuah kota yang tampak meriah karena menyambut datangnya USA Pro Challenge. Ada pesta jalanan, konser, dan lain sebagainya.

Malamnya, kami makan malam bareng peserta lain dan kru Rapha. Karena itu dinner bareng terakhir, Rapha memberikan award untuk beberapa peserta. Prajna mendapatkan topi merah limited edition (tidak dijual) bertema Lanterne Rouge. Tanda keberanian dan kekuatan mental, yang di Tour de France biasanya diberikan kepada pembalap yang finis terakhir (tidak menyerah walau terakhir).

Sun Hin juga dapat penghargaan sebagai orang yang bikin Paul Whiting paling kagum. Whiting, seorang pro masseuse (tukang pijat atlet kelas dunia) yang setiap hari merawat kami, menyatakan kagum atas kekuatan otot Sun Hin. Dia menyebut “Komandan” kami itu dengan julukan “Popeye”!

Rabu (21/8) adalah hari terakhir kami bersepeda. Masih ada tanjakan menantang, dengan jarak lebih dari 70 km. (bersambung)

Advertisements

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (4)

Usai Etape Pertama, Team Sky Jualan Mesin Kopi

Azrul Ananda bersama Jens Voigt, bintang RadioShack-Leopard yang sudah berusia 42 tahun. Voigt, asal Jerman, merupakan salah satu pembalap paling populer di peloton dunia

Azrul Ananda bersama Jens Voigt, bintang RadioShack-Leopard yang sudah berusia 42 tahun. Voigt, asal Jerman, merupakan salah satu pembalap paling populer di peloton dunia

Hari pertama USA Pro Challenge 2013, Senin lalu (19/8, kemarin WIB), merupakan hari minim penyiksaan bagi rombongan Indonesia. “Hanya” gowes 34 kilometer, lalu seru bertemu tim-tim dan pembalap bintang!

AZRUL ANANDA, Aspen

Setelah dua hari bersepeda 50 km dan 90 km di Aspen, Colorado, Senin lalu (19/8, Selasa kemarin WIB) merupakan hari yang lebih ringan bagi peserta program bersepeda bersama Team Sky yang dikelola Rapha.

Pagi itu, jadwalnya hanya bersepeda “ringan”, lalu memuaskan diri “main-main” di tengah Kota Aspen, menonton start dan finis etape pertama USA Pro Challenge 2013.

Yang dimaksud ringan: Menjajal rute lomba etape pertama tersebut. Yaitu, rute keliling dari Kota Aspen ke arah Snowmass, lalu balik ke Aspen lagi. Di tengah-tengahnya ada beberapa tanjakan menukik tajam. Panjang rute “hanya” sekitar 34 km, dengan total tanjakan mencapai 1.000 meter.

Beberapa tanjakan itu sudah kami rasakan pada hari pertama bersepeda di Aspen, saat mencoba menyesuaikan diri dengan udara tipis di ketinggian 2.400 meter. Beberapa di antaranya “menendang”, mencapai kemiringan 10″12 persen.

Bersepedanya pun tidak ngotot. “Gentlemen”s pace” alias santai. Berhenti beberapa kali di titik-titik penting sirkuit, seperti di garis KOM (King of Mountains). Sekaligus menunggu seluruh peserta berkumpul lagi. Bagi kami dari Indonesia, juga berhenti untuk foto-foto.

Sirkuit itu berakhir di tengah Kota Aspen. Total, kami menghabiskan waktu 1 jam 51 menit, dengan total waktu mengayuh sepeda 1 jam 30 menit (sekitar 21 menit istirahat atau berhenti).

Kami melakukannya mulai pukul 09.00. Sudah balik ke rumah penginapan pukul 11.00. Kebetulan, letak rumah mewah tempat kami tinggal di Aspen itu tidak sampai satu kilometer dari jalur start/finis.

Lomba sendiri dimulai pukul 13.00, dan para pembalap melintasi sirkuit itu sebanyak tiga kali. Asal tahu saja, mereka butuh tidak sampai satu jam untuk keliling satu lap!

Peter Sagan (Cannondale) yang menjadi juara etape pertama itu menyelesaikan lomba hanya dalam waktu 2 jam 26 menit. Balik ke rumah, kami langsung cepat-cepat mandi. Setelah itu, berjalan ke arah garis start/finis lomba. Teman-teman dari Rapha memberi tahu bahwa para pembalap akan cukup santai sebelum lomba, dan kami bisa bertemu mereka untuk foto-foto dan minta tanda tangan lagi.

Dan itu tidak hanya dengan Team Sky. Semua tim peserta dengan relatif mudah bisa ditemui. Yang paling populer, selain Team Sky, adalah RadioShack-Leopard, Garmin-Sharp, dan Cannondale.

Siang itu, kami berempat “saya, Prajna Murdaya, Sun Hin Tjendra, dan Cipto S. Kurniawan” kompak pakai batik lengan pendek. Warnanya pun biru Team Sky. Tampak manis dipadu dengan topi cycling Team Sky.

Saya belajar trik batik itu dari rekan saya penggemar Formula 1 di Surabaya, Dewo Pratomo. Dia selalu pakai batik kalau nonton/liputan F1, dan itu memudahkan proses mencari perhatian. Plus, membuat para pembalap yang diburu lebih mudah mengingat kita.

Dan kali ini, di Aspen, Colorado, trik itu berhasil lagi!

Kami benar-benar “berpesta”. Berhenti di semua kawasan kerja tim, foto-foto dengan sebanyak mungkin pembalap terkenal. Atau, memotreti sepeda-sepeda milik para pembalap, termasuk detail-detail komponennya.

Di Garmin-Sharp, kami berfoto dengan pembalap top Amerika, David Zabriskie. Kemudian, kami juga dapat foto dengan bintang Garmin-Sharp yang sangat terkenal, David Millar. Dia senior, dulu pernah terlibat doping, dan kemudian merebut hati penggemar lewat buku pengakuannya, Racing Through the Dark.

Dan tahun lalu, Millar juga berhasil memenangi satu etape Tour de France.

Di kawasan RadioShack-Leopard, kami berhasil “mengalahkan” begitu banyak orang yang menunggu satu orang: Jens Voigt. Usianya sudah 42 tahun, tapi dia luar biasa populer. Gaya membalapnya yang berani, selalu mencoba melarikan diri dari peloton, membuatnya punya jutaan penggemar. Di Amerika, dia mungkin lebih top dari pembalap-pembalap tuan rumah.

Dia juga dikenal dengan kutipan-kutipannya yang lucu. Misalnya, slogan paling topnya: “Shut up legs!” (Diamlah, kaki). Dia mengaku mengucapkannya ketika kakinya mulai “rewel” saat balapan.

Saya sendiri terus terang penggemar berat Jens Voigt! Dia dan Fabian Cancellara menjadikan RadioShack-Leopard (tahun depan jadi Trek Factory Team) sebagai salah satu tim favorit saya.

Setelah itu, ada foto-foto dengan pembalap Cannondale. Dan beberapa mengenali kami. Sebab, Prajna, Sun Hin, dan saya pada Mei lalu ikut Tour of California bersama mereka. Ted King dan Juraj Sagan (kakak Peter Sagan) dengan ramah melayani permintaan foto kami.

Juara nasional Amerika, “Fast” Freddie Rodriguez, juga foto-foto bareng kami. “Ini 15 menit paling seru,” kata Prajna.

Tidak lama, seluruh pembalap menuju garis start lomba. Ribuan penonton sudah berbaris di sisi lintasan, menyoraki nama-nama para bintang ketika nama mereka diumumkan para MC.

Lomba pun berjalan. Tak sampai tiga jam kemudian (tepatnya 2 jam 26 menit itu), Peter Sagan menang sprint dan berhak menjadi yang pertama mengenakan yellow jersey di Colorado.

Kami menonton lomba dengan berpindah-pindah. Sempat beli makanan di stan burger di tengah taman, lalu keliling stan-stan merchandise dan sponsor yang begitu banyak tersebar.

Harga lumayan mahal, tapi tidak semahal Tour of California. Replika jersey lomba dijual USD 80. Kaus sekitar USD 20 sampai USD 28. Dan lain sebagainya.

Ada panggung hiburan. Di atasnya seorang pelukis tampak sibuk menyelesaikan karyanya (gambar balap sepeda tentunya). Di sampingnya ada layar LED besar, dan kami mengikuti lomba dari situ.

Ada atraksi akrobat BMX di belakang panggung, arena permainan, dan lain sebagainya. Benar-benar meriah dan mengasyikkan suasana. Apalagi, semua terpusat di tengah Kota Aspen, di kawasan taman kota.

Begitu lomba selesai, kami pun balik ke rumah. Sebelumnya ketemu lagi dengan para pembalap yang sudah selesai berlomba. Khususnya Team Sky. Dengan sangat ramah, mereka menemui kami, melayani ajakan ngobrol, dan melayani lagi foto-foto serta tanda tangan.

Karena Froome sudah kami “dapatkan” saat gowes bareng Minggu lalu (18/8), kali ini yang paling dituju adalah Richie Porte.

Lucunya, saat itu Ian Boswell (pembalap Sky) menawari kami untuk membeli sebuah alat pembuat kopi. “Hanya 100 dolar. Dan kami satu tim sudah menandatanganinya. Kami menjualnya karena kami tidak menyukainya, dan kami ingin punya mesin pembuat espresso,” tuturnya disambut tawa semua orang di sekeliling.

Dia menunjuk jendela depan bus Team Sky. Benar saja, di situ ada sebuah kardus mesin kopi yang ditandatangani seluruh pembalap!

Karena kami tidak mau, Boswell dengan aktif menawar-nawarkannya lagi kepada orang-orang yang lewat. Lucu sekali. Batik yang kami kenakan benar-benar mencuri perhatian. Banyak orang yang menanyai, memotret, termasuk perwakilan media.

Setelah itu, kami benar-benar berjalan balik pulang. Hanya Prajna yang berlanjut mencari toko kebutuhan sehari-hari. Dan beruntung dia tidak segera pulang. Sebab, setelah itu, dia bertemu Peter Sagan (yang baru selesai dari seremoni lomba dan tes doping). Dia pun foto-foto dan dapat tanda tangan sang superstar asal Slovakia tersebut.

Sore itu, segalanya cukup santai. Malamnya, kami juga kedatangan tamu penting dari Team Sky. Setelah makan malam, kami dikunjungi Fran Millar, head of business operations tim nomor satu dunia tersebut.

Dengan blak-blakan dan seru, Millar “yang adik kandung pembalap David Millar” bercerita tentang latar belakang Sky, rencana masa depan, bahkan hal-hal di balik layar yang selama ini tidak diketahui orang.

Cipto S. Kurniawan, yang penggemar berat Sky, senang sekali. “Orang itu kalau ngomong apa adanya ya,” komentar Wawan, sapaan akrabnya.

Hari yang santai pun berakhir sekitar pukul 21.00. Setelah itu, Brad Sauber, manajer tur Rapha, kembali melaksanakan brifing untuk hari esok.

Dan ini waktu kami menyampaikan kepada pembaca, mengapa hari Senin itu begitu santai. Sebab, hari Selasa-nya adalah hari yang paling menyiksa!

Selasa pagi, pukul 07.30, kami sudah dijadwalkan berangkat. Rutenya merupakan rute termaut di rangkaian program di Colorado ini. Yaitu, menanjaki Independence Pass, jalanan yang pucuknya berada di ketinggian sekitar 3.700 meter. Saking tingginya, pohon pun sudah tidak bisa tumbuh!

Saking tingginya pula, antara November sampai Mei, jalan itu benar-benar ditutup untuk publik. Sebab, terlalu berbahaya untuk ditanjaki, khususnya bila bersalju!

Kalau segalanya lancar, tantangan hari itu bukan hanya Independence Pass. Kalau sesuai dengan rencana, hari itu kami akan bersepeda sejauh hampir 160 km menuju Breckenridge.Aduh! (bersambung)

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (2)

Azrul Ananda Dorong Math Frank

Azrul Ananda Dorong Math Frank

19 August 2013

Oksigen Tipis, Jalan Naik Sedikit Langsung Ngos-ngosan

Wow, Aspen indah luar biasa. Sayang, badan kita butuh sedikit waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian dan udara tipis. Apalagi, kalau untuk beraktivitas cukup berat, seperti bersepeda ratusan kilometer dalam beberapa hari ke depan.

AZRUL ANANDA, Aspen

Tak sabar. Semangat. Merasa sulit memercayai mata. Mungkin begitu perasaan kami ketika akan mendarat di Aspen-Pitkin County Airport, di Rocky Mountains, Colorado, Jumat sore lalu (16/8, Sabtu WIB).
Terbang dari San Francisco, California, kami harus lebih dulu ke Denver, kota utama di Colorado. Baru kemudian naik pesawat lebih kecil, Bombardier (seperti yang dipakai Garuda Indonesia untuk rute pendek), menuju Aspen.
Sebelum mendarat, sudah terlihat betapa menakjubkannya Aspen. Tak heran kota yang berpenduduk hanya 6.000-an orang itu begitu kondang, menjadi tempat istirahat orang-orang superkaya, menjadi tujuan liburan yang luar biasa.
Dari hasil baca-baca, saking populernya, harga rumah rata-rata di Aspen ini mencapai lebih dari USD 4 juta (lebih dari Rp 40 miliar) per buah! Disebut sebagai salah satu tempat termahal, mungkin termahal, di dataran Amerika.
Hampir tidak ada lahan datar di sekeliling Aspen. Bukit naik-turun ke arah mana pun mata memandang. Dan begitu hijaunya, mengingat kita datang di tengah musim panas.
Aspen-Pitkin County Airport sendiri merupakan bandara kecil, namun sangat sibuk. Sehari bisa terjadi 103 pesawat beroperasi di sana. Kebanyakan adalah pesawat pribadi atau carteran khusus. Hanya 26 persen yang pesawat komersial.
Katanya, kami agak beruntung sore itu. Sebab, pada pagi hari cuaca kurang baik sehingga penerbangan dialihkan kota lain, kemudian penumpangnya harus naik bus beberapa jam menuju Aspen.
Begitu mendarat dan turun pesawat, pemandangan indah sudah mengelilingi kawasan runway. Tapi, di situ juga kami langsung menghadapi realita, bahwa untuk menikmati keindahannya kita harus bersabar.
Aspen terletak di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Udara dan oksigen begitu tipis. Udara juga sangat kering, benar-benar kebalikan dengan Indonesia yang begitu lembab (humid).
Badan saya sempat mengeluarkan keringat dingin, kepala terasa ringan. Seharusnya, itu memang normal ketika beradaptasi dengan altitude (ketinggian).
Ketika masuk ke toilet bandara, ada fitur unik pula di dalamnya. Tersedia lotion (pelembab) untuk yang membutuhkan. Saking keringnya udara di Aspen! Baru kali ini saya ke toilet bandara yang menyediakan pelembab.
Di dalam bandara, kami dijemput oleh Tim Coghlan, wakil dari Rapha “partner seragam Team Sky– yang akan menemani kami selama di Colorado. Dia segera mengingatkan kami untuk banyak minum air, mengatasi keringnya udara dan mempercepat proses adaptasi dengan ketinggian.
Coghlan, yang tinggal di Portland, Oregon (kantor Rapha di Amerika), sendiri mengaku sempat struggling (kerepotan) ketika kali pertama tiba di Aspen, beberapa hari sebelumnya.
Naik sebuah Mercedes Sprinter van yang dibranding Rapha (dikendarai dari Oregon), kami diantar menuju Hotel Wildwood di Snowmass, tempat penginapan kami pada hari pertama itu. Rapha sebenarnya sudah menyiapkan sebuah rumah besar untuk 11 peserta program gowes bareng Team Sky ini. Tapi baru akan ditempati mulai Sabtu, 17 Agustus.
Meski demikian, kami tidak komplain. Hotel tempat kami menginap adalah tempat di mana hampir seluruh tim peserta USA Pro Challenge menginap. Dan salah satu kawasan parkirnya sudah disulap menjadi kawasan kerja tim. Jadi, kalau beruntung, kami bisa bertemu dengan para pembalap!

Satu Hotel dengan Tim Peserta
Begitu sampai, kami bertemu lagi dengan orang-orang Rapha yang akan terus menenami. Ada Brad Sauber, yang menjadi manager tur. Ada Ben Lieberson, pria asal Inggris yang akan menjadi pemandu saat bersepeda.
Lieberson ini cukup populer bagi penggemar Rapha. Dia merupakan salah satu tokoh penting di program Rapha Continental, program bersepeda di tempat-tempat unik dan langka di seluruh dunia. Video-videonya sangat populer di You Tube.
Berusia 40 tahun, Lieberson ini terus keliling dunia bersepeda. Sebelum ke Aspen, dia baru datang dari Eropa. Dan dia pun mengaku butuh waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian Colorado.
“Saya tiba cukup dehidrasi. Jadi butuh sampai 36 jam untuk benar-benar terbiasa dengan ketinggian di sini,” ungkapnya.
Usai makan siang di salah satu restoran di kawasan hotel (ada kawasan makan dan belanja di depan hotel), kami langsung menuju kawasan parkir tempat tim-tim bekerja.
Jalan dari bagian utama hotel ke sana menanjak sangat curam (sepertinya lebih dari 12 persen), dan kami langsung merasakan tantangan yang akan kami hadapi dalam seminggu ke depan. Rasanya mungkin seperti langsung ditempeleng”
Jalan naik ke atas, kami langsung ngos-ngosan. Terasa kalau udara sangatlah tipis.
Termasuk Sun Hin Tjendra, yang mungkin paling fit dan paling kuat di komunitas balap sepeda yang saya kenal (mungkin eksekutif paling fit se-Indonesia).
Wawan, sapaan akrab Cipto S. Kurniawan, merupakan salah satu jagoan climbing. Menu latihan sehari-harinya naik turun dari Pasuruan ke Puspo atau Tosari Bromo. Dia pun ngos-ngosan. “Mati sudah. Mati sudah. Seminggu ke depan bakal mati kita,” katanya lantas tertawa.
Sekali lagi, saya bersyukur kami memutuskan untuk datang sehari lebih cepat”
Rasa semangat kembali muncul melihat kawasan kerja para tim. Tentu saja, yang pertama kami hampiri adalah trailer dan truk milik Team Sky. Karena ini di Amerika, bukan di markas tim di Eropa, maka tim-tim WorldTour kebanyakan menyewa trailer dan truk, serta mobil-mobil operasional lain. Lalu menempelinya dengan stiker identitas tim.
Tampak seorang mekanik sibuk menservis sejumlah sepeda Pinarello milik Team Sky. Yang membuat mata kami langsung terbuka lebar: Sebuah Pinarello Dogma 65.1 Think 2 hitam milik Christopher Froome, sang juara Tour de France 2013!
Dan itu bukan sepeda latihannya. Itu sepeda utamanya yang akan dipakai balapan!
Froome tidak terlihat sore itu, tapi fotonya sudah cukup untuk jadi obyek foto bareng! Prajna Murdaya juga sempat berpose seolah dia akan mencuri sepeda tersebut”
Tidak lama, datang Joe Dombrowski, 22, pembalap muda Team Sky asal Amerika Serikat. Tinggi dan kurus, 186 cm tapi hanya 61 kilogram, Dombrowski ini disebut-sebut sebagai superstar masa depan cycling dunia. Tentu saja, kami foto-foto lagi.
Di sekeliling, tampak trailer milik Cannondale, Garmin-Sharp, BMC, dan beberapa tim lain.
Tidak lama, sejumlah pembalap BMC berdatangan, mengakhiri sesi latihan hari itu. Tanjakan menuju kawasan parkir begitu curam, mereka harus berdiri mengayuh dari dasar sampai atas.
Tampak sang juara nasional Swiss, Michael Schar. Di belakang, ada pula salah satu bintang tim, Mathias Frank. Ketika akan saya foto, Frank langsung minta tolong: “Please, push” (tolong bantu dorong).
Ya saya langsung dorong dia naik ke atas. Lumayan, setelah itu dia memberikan botol minumnya, yang tidak lama kemudian dia tanda tangani pula. Biasanya, botol minum pembalap merupakan salah satu “suvenir” paling diburu oleh penonton saat menyaksikan lomba di pinggir jalan.
Personel BMC sendiri kemudian memberi kami lebih banyak lagi botol minum. Kami masing-masing dapat dua bidon (botol minum sepeda) bekas pembalap.
Merasa lelah, dan kepala kembali pusing, kami kembali untuk istirahat dulu sebelum makan malam. Tidak terasa, saya tertidur dua jam.
Bangun, kami pun makan malam. Bagi para personel Rapha, hari itu hari supersibuk. Mereka terus menyiapkan segala kebutuhan program untuk seminggu ke depan.
Malam itu, sepeda-sepeda kami pun dirakit. Tim Coghlan, Brad Sauber, dan yang lain memilih kawasan dekat pepohonan yang berhiaskan lilitan lampu-lampu kecil untuk merakit sepeda kami. Coghlan mengenakan lampu sorot kecil di kepala.
Hanya sekitar satu jam, empat sepeda kami beres. Kami disarankan segera kembali ke kamar, tidur sebanyak mungkin dan terus minum air. Besok pagi (Sabtu, Red) tidak perlu bangun pagi, tidak perlu banyak beraktivitas. Sore hari baru akan bersepeda untuk menyesuaikan diri.
Lieberson menyarankan, kalau mampu, untuk jalan kaki keliling hotel untuk membiasakan diri lagi dengan udara tipis. Kalau tidak, tidur sebanyak mungkin.
Kami menuruti saran tersebut. Sebelum tidur, saya mempelajari lagi buku program dan rute yang mereka siapkan. Pada dasarnya, mereka telah menyiapkan program bersepeda total sejuah 398 km dalam lima hari ke depan. Termasuk mendaki tanjakan-tanjakan paling kondang, seperti Independence Pass, yang tingginya lebih dari 3.650 meter!
Sebelum tidur, saya mengulangi lagi ucapan Wawan sebelumnya: “Mati sudah” (bersambung)

Website Bisa Diakses, Pendaftaran Mulai 1 Mei

April 22, 2013

Audax East Java
Bukan Balapan, Kecepatan Terkontrol

SURABAYA – Jawa Pos Cycling Audax East Java 2013 semakin siap diselenggarakan. Event bersepeda jarak jauh untuk memperingati HUT Ke-64 Jawa Pos dan HUT Ke-67 Bhayangkara itu di laksanakan pada 30 Juni mendatang. Saat ini situs resmi http://www.audaxeastjava.com sudah bisa di akses, dan calon peserta bisa mendaftarkan diri mulai 1 Mei nanti.

Rencananya, event ini menempuh rute sejauh 232 kilometer. Start dari Polda Jawa Timur, lalu naik ke Pandaan (Kabupaten Pasuruan), Malang, Batu, dan Pujon, sebelum turun kembali ke Surabaya via Kandangan (Kabupaten Kediri) dan Mojokerto.

”Saat ini sudah banyak yang menanyakan pendaftarannya. Bahkan, calon peserta dari berbagai negara juga sudah siap mendaftar. Semua bisa dilakukan di tempat-tempat yang ditunjuk panitia di Surabaya,atau mendaftar langsung lewat situs resmi event,” jelas Azrul Ananda, direktur utama Jawa Pos Koran. ”Semua informasi rute, regulasi, dan pendaftaran ada di situs resmi tersebut,” tambahnya.

Mengacu hasil simulasi terakhir yang melibatkan Surabaya Road Bike Community (SRBC) dan sejumlah komunitas sepeda di Jatim, seluruh rute itu bisa diselesaikan dalam waktu 12 jam. ”Itu sudah termasuk masa-masa istirahat,” tegas Azrul.

Di sepanjang rute Audax East Java 2013 nanti ada lima pemberhentian. Setelah start di kantor Polda Jatim, peserta akan masuk stop pertama di Masjid Cheng Hoo Pandaan. Stop kedua di Universitas Brawijaya Malang, stop ketiga di Balai Kota Batu, stop keempat di Kantor Kecamatan Kandangan, dan stop kelima di Kantor Bupati Mojokerto. Titik finis di Graha Pena Surabaya.

Di setiap titik stop peserta bisa beristirahat 20 hingga 30 menit, bergantung pada jadwal yang ditetapkan penyelenggara. Kecuali pada saat di pemberhentian ketiga yang menempati Balai Kota Batu. Di sana peserta beristirahat satu jam sambil makan siang.

Rutenya memang cukup menantang. Babak-babak awalnya penuh dengan tanjakan. Tapi,panitia menyebut peserta tak perlu khawatir.  Akan ada full support crew untuk memudahkan perjalanan. Selain itu, event ini bukanlah balapan. Mengacu pada regulasi Audax Indonesia, pemegang lisensi resmi L’Union des Audax Francais (UAF), seluruh peserta akan bersepeda bersama-sama sejak start sampai finis dengan kecepatan yang terkontrol.

Para peserta juga diminta mematuhi segala regulasi yang telah ditetapkan. ”Istilah dari Audax Indonesia: Start together,ride together, dan finish together,” ujar Azrul. (c2/aga)

sumber : http://www.audaxeastjava.com

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (3)

Menikmati Gaya dan Orang Belanja di Kota Mode Dunia Milan

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2012
boks
JUJUKAN FASHIONISTA: Jalan Montenapoleone yang menjadi tempat berlangsungnya Milan Fashion Week pekan depan. FOTO ARIYANTI K.R./JPNN

Susuri Jalan Milan Fashion Week, Lupa Putari Bull’s Ball
Selain sepak bola, Milan dikenal karena fashion-nya. Bahkan, Milan sering disebut sebagai salah satu ibu kota fashion dunia. Berada di sana selama dua hari, kami menjadi tahu bagaimana sebutan itu bisa tersemat di kota yang masuk wilayah Lambordy, Italia, tersebut.
Laporan Ariyanti K.R., MILAN

Begitu menjejakkan kaki keluar terminal subway Metro kuning di Duomo siang itu (8/9), saya bersama Ivo Ananda, fashion police rubrik Jawa Pos For Her, langsung disuguhi pemandangan bak keramaian pasar. Banyak orang berlalu lalang dengan tentengan tas belanja berbagai ukuran. Berjalan ke kiri, ada gerai label United Colors of Benetton. Empat lantai gerai itu menyajikan kebutuhan berbeda. Bawah tanah untuk anak-anak, satu perempuan, dua laki-laki, dan tiga aksesori.

Melangkah ke seberang, ada butik Zara. Pengunjungnya juga ramai. Di kasir minimal selalu ada sepuluh orang yang mengantre hingga toko tutup pukul 20.00. Tren baju-baju bertema army dan celana panjang dengan ritsleting di samping bawah memang menarik minat.

Keluar dari situ, teruslah melintasi Corso Vittorio Emanuele tersebut. Ratusan outlet dengan brand populer berjajar. Levi’s, Guess, H&M, hingga merek lokal mengisi deretan toko yang sebagian besar merupakan bangunan klasik Italia itu.

Masih belum puas berbelanja baju, sepatu, tas, dan pernik-pernik fashion di situ, segeralah bergegas ke Galleria Vittorio Emanuele II yang letaknya tak sampai sepuluh menit berjalan kaki. Bangunan yang menjadi tempat shopping model arcade (gedung berlorong tertutup atap) itu sangat ikonis, elegan, dan berkelas.     Selesai didirikan pada 1877, Galleria yang menjadi jalan penghubung dua landmark Kota Milan, Piazza Duomo dan gedung opera Teatro Alla Scala, itu ditutup atap kaca berkombinasi dengan besi. Lantainya marmer bermozaik. Brand luxury seperti Prada, Gucci, dan Louis Vuitton berada di Galleria.

Di tempat itu juga tersebar kafe-kafe ternama dengan menu khas Italia. Sekali makan di situ, satu orang dengan porsi biasa appetizer oven baked dan  main course steak serta air mineral, harga yang dibayar sekitar Rp600 ribu. Wow! Harga makan di situ memang lebih mahal daripada tempat lain di Milan. Tetapi, itu pantas dengan kebanggaan bisa nongkrong di tempat prestisius tersebut.

Milan Fashion Week merupakan even mode yang sangat bergengsi. Di seluruh dunia hanya ada empat fashion week besar yang menjadi acuan tren mode. Skedulnya dimulai dari New York Fashion Week, kemudian London, selanjutnya Milan, serta berakhir di Paris. Dan, peragaan koleksi Prada sebagai brand ternama Italia selalu menjadi bagian pertunjukan yang paling dinanti.

Banyaknya turis yang datang membuat kami kesulitan menilai style warga setempat. Namanya turis sedang berbelanja di musim panas, gayanya nyaris seragam. Kasual dengan sepatu flat, celana pendek atau jins panjang, dengan atasan kaus. Yang penting nyaman. Camilla Stech, seorang SPG (sales promotion girl), juga mengatakan sebagai perempuan Milan, dia merasa kondisi yang tercipta di sekeliling membuatnya harus selalu gaya.

’’Di sini kami bisa melihat perkembangan fashion terkini. Seminggu sekali saya pasti jalan ke shopping mall untuk melihat apa yang menjadi tren. Tentu tidak semua bisa terbeli. Tetapi, saya menjadi pintar mix and match. Kalau mau aman, ya pakai saja dress warna hitam yang timeless,” kata perempuan 27 tahun itu.

Ucapan perempuan tersebut ada benarnya. Berada di subway Metro, baik pagi maupun malam, kami bisa dengan mudah menemukan perempuan dengan dandanan chic menenteng tas bermerek. Beberapa di antara mereka menambahkan syal untuk atribut gaya. Ankle boot, stiletto, hingga flat shoes modis menjadi pelengkap penampilan.

Perjumpaan Milan dengan fashion, baju, dan industri tekstil dimulai sejak akhir abad ke-19. Awalnya, industri fashion di sana menjiplak desain fashion papan atas Paris. Namun, tak lama kemudian, Milan mengembangkan gaya sendiri. Kota yang menjadi markas tim sepak bola AC Milan itu mulai memunculkan namanya pada dekade 1970 dan 1980-an, membuatnya makin prestisius pada 1990-an, dan pada 2000-an resmi menjadi salah satu di antara big four kota fashion dunia.

Tak semua jalan terkenal di Milan bisa kami singgahi dalam waktu sesingkat itu. Misalnya, kami tak sempat melakukan ’’ritual” memutari gambar Bull’s Ball di Galleria Vittorio Emanuele. Menurut kepercayaan warga di sana, jika ’’ritual’’ itu dilakukan, dipercaya membuat kita bisa kembali ke Milan dan bernasib baik. Bull’s Ball adalah sebuah mozaik batu bergambar kerbau dengan sebuah lubang tepat berada di testikelnya.

Meski tak menjalani ’’ritual” itu, kami tetap berharap bisa datang ke sana lagi. Sebab, aktivitas dunia fashion di Milan memang nikmat untuk dijelajahi. Dengan segala yang terjadi di dalamnya, Milan layak menjadi pusat mode dunia.

Apalagi, pemerintah Italia punya kebijakan goods and services tax (GST) refund. Pajak barang yang dibeli bisa dikembalikan saat kita akan meninggalkan bandara negeri pemilik Menara Pisa itu. Ow, siapa yang tak mau. Pemerintah Italia biasanya menetapkan pajak 20 persen untuk banyak hal. Bagi penduduk non-Uni Eropa, pajak itu akan dikembalikan lagi.

Syarat utama pembelian minimal harus sebesar 154,94 euro (Rp1,9 juta) dalam satu waktu di satu toko. Selain itu, barang yang dibeli untuk keperluan pribadi, diangkut dalam bagasi sendiri, harus diperiksa oleh petugas pabean, dan maksimal tiga bulan sesudah pembelian sudah harus dibawa keluar Uni Eropa. (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (2)

SELASA, 11 SEPTEMBER 2012
 

 

 

 

TOKO 100 TAHUN PLUS: Azrul Ananda (kiri) dan Agung Kurniawan di depan Rossignoli, toko sepeda di Milan yang berdiri sejak tahun 1900. FOTO JPNN

Usia Sudah 70 Tahun, Seminggu Hanya Bikin Dua Frame
Di Milan, ada toko sepeda yang sudah berdiri sejak 1900. Banyak pula artisan (seniman) sepeda yang namanya superkondang di seluruh penjuru dunia.
Laporan Azrul Ananda, MILAN

Kalau suka sepeda, sama dengan otomotif, nama-nama paling eksotis datang dari Italia. Kalau di dunia mobil ada Ferrari dan Lamborghini, di dunia sepeda ada Colnago, Pinarello, Cinelli, dan lain sebagainya.

Nah, kalau berkunjung ke Milan, ada kesempatan untuk mengunjungi langsung bengkel, pabrik, atau markas merek-merek ternama itu. Banyak di antara mereka yang letaknya di Milan atau di sekitar Milan.

Sebut saja Colnago, yang berpusat di Cambiano, di utara Milan, di dekat sirkuit Formula 1 Monza. Lalu ada De Rosa, Cinelli, dan lain-lain. Kalau seniman sepeda, nama yang kondang, antara lain, Masi. Kalau kita perhatian, merek-merek itu sudah tidak asing lagi di Indonesia. Banyak produk tersebut yang berseliweran di jalanan kita. Jika di Milan, tempat mereka berasal bisa dikunjungi secara langsung dengan relatif mudah.

Ketika tiba di Milan, sebagai penggemar sepeda, salah satu yang dicari pertama adalah toko sepeda. Searching di berbagai sumber, ada satu nama yang selalu muncul duluan. Yaitu, Rossignoli.

Usut punya usut, itu toko sepeda tua luar biasa. Berdiri sejak 1900. Jadi, sudah seratus tahun lebih eksis! Letaknya juga tidak berubah, selalu di kawasan Garibaldi. Itu masih di tengah Kota Milan. Kalau mau ke sana, tinggal naik subway jalur hijau, turun di Garibaldi atau lebih dekat lagi di Moscova.

Menemukan toko itu memang mudah. Tanya orang di sekitar stasiun, banyak yang tahu letaknya. Begitu tiba, toko tersebut langsung terlihat  ’’uzurnya”. Papan tulisan ’’Rossignoli” di depan dibiarkan memudar.

Apa isinya? Jangan mengharapkan sepeda-sepeda high-end yang harganya ajaib. Itu sebenarnya toko sepeda biasa untuk semua kalangan. Mau sepeda harga ribuan euro? Ada. Mau sepeda merek Rossignoli harga 200 euro (sekitar Rp2,4 juta)? Juga ada. Mau pesan sepeda custom sesuai bentuk dan ukuran badan kita? Juga bisa.

Dari begitu banyak sepeda (kebanyakan tipe urban) yang berkeliaran di jalanan Milan, sangat besar kemungkinan kita melihat yang bermerek Rossignoli.

Serunya, sepeda bekas juga banyak digantung di langit-langit toko. Sebuah sepeda balap Rossignoli edisi 1970-an, misalnya, dilego “hanya” 800 euro. Sebuah Pinarello KOBH (Dogma K) bekas edisi Team Sky, yang di Indonesia populer luar biasa, dijual  ’’hanya’’ 3.000-an euro.

Tokonya memang tidak besar. Seperti kebanyakan toko sepeda standar di Indonesia. Tapi, kalau jalan ke belakang, ada workshop, gudang, dan kantornya. Selama di Rossignoli, kami ditemani Matias Rossignoli, salah satu keturunan pendiri toko. Ya, toko itu masih terus dikelola keluarga secara turun-temurun. Sampai generasi keempat!

”Itu paman saya, itu juga cucu, itu keluarga yang lain,” kata Matias Rossignoli dengan menunjuk orang-orang yang bekerja di sekeliling toko. Iseng, saya tanya apakah bisa dibantu dibuatkan sepeda balap custom. Matias langsung mengajak saya ke workshop di belakang bersama seorang stafnya, Giovanni. Mereka pun langsung mengukur tinggi badan, panjang kaki, tangan, dan lain-lain.

Sebagai bahan informasi, tinggi saya 176 cm. Dengan inseam (jarak dari dasar lantai ke selangkangan) 82 cm. “Kamu ukuran 54. Kamu pakai stem 11 cm,” katanya. Kayaknya itu sangat akurat, sepeda saya di Indonesia kebanyakan memang berukuran 54, dan saya paling nyaman pakai stem 11 cm!

Matias lantas berjanji mengirim e-mail pilihan-pilihan spesifikasi sepeda. Bayangan saya, kalau tidak ketemu barang asyik di Milan, saya pesan saja sepeda balap klasik dari bahan steel (baja) di Rossignoli.

Dari toko utama itu, di sebelahnya ada lagi toko bernama “Rossignoli”. Isinya jualan pakaian dan aksesori bersepeda. Juga pakaian dan aksesori motor. “Ini pasti saudara yang lain,” kata saya dalam hati.

Rossignoli termasuk berkesan. Tapi, lebih berkesan lagi saat menuju Vigorelli Velodrome. Di sanalah tempat Alberto Masi bekerja membuat sepeda.

Untuk penggemar sepeda, nama Masi sangatlah familier. Khususnya di kalangan penggemar sepeda fixed gear (fixie) dan classic. Banyak sekali sepeda merek itu yang dijual di Indonesia. Harganya tidak supermahal, walau juga tidak murah.

Meski demikian, tidak banyak yang tahu bahwa merek Masi itu sudah pecah dua. Masi yang kebanyakan beredar bukanlah Masi yang ’’sebenarnya”. Bukan, bukan berarti palsu. Sama-sama asli. Tetapi, Masi yang satu sudah jadi ’’Masi industri”, sedangkan yang orisinal masih dibuat satu per satu sendiri oleh orang yang bernama Alberto Masi di Milan.

Ceritanya cukup panjang dan rumit. Pada 1950-an dan 1960-an Faliero Masi menjadi kondang berkat sepeda yang dia buat untuk para legenda balap. Seperti Eddy Merckx, Jacques Anquetil, Fiorenzo Magni, dan lain sebagainya.

Pada 1972 Faliero pindah ke Amerika Serikat sekaligus menjual hak nama Masi kepada investor di sana. Harapannya, mereka bisa mengembangkan perusahaan. Kenyataannya, Faliero tidak betah di California. Ingin pulang ke Italia.

Lanjut cerita, entah bagaimana detailnya, terjadi perselisihan yang tak bisa diselesaikan. Faliero, yang menurunkan kemampuan istimewanya kepada sang anak, Alberto, kemudian terus membuat sepeda-sepeda secara eksklusif untuk para klien. Toh, para klien itu tetap ingin sepeda yang dibuat oleh orang bernama Masi. Bukan sekadar merek Masi.

Alhasil, kini ada dua merek Masi. Yakni, yang produksi masal dari Amerika (dan diklaim oleh Alberto Masi berkualitas lebih buruk karena dibuat murni untuk bisnis) serta yang dibuat satu per satu oleh keluarga Masi di laboratoria (bengkel) mereka di Vigorelli.

Faliero sendiri meninggal di usia 93 tahun pada Desember 2000. Alberto, kini 70 tahun, masih bekerja di Vigorelli bersama beberapa asisten.

Konsekuensi hukum dari perselisihan itu: Dua-duanya boleh bikin sepeda merek Masi. Hanya, bengkel di Vigorelli tidak boleh menjual buatan mereka di Amerika dengan menggunakan nama tersebut. Kalau mau berjualan ke Negeri Paman Sam, mereka pakai merek Milano V3.

Beberapa klien kondang yang sekarang masih pesan sepeda di situ adalah Miguel Indurain, Greg LeMond, serta beberapa legenda balap lain dari era 1980-an dan awal 1990-an.

Nah, kalau ingin mengunjungi langsung Alberto Masi, saat ini masih sangat mungkin dilakukan. Vigorelli Velodrome sudah tidak lagi dipakai, tapi lokasinya mungkin menarik untuk dihampiri karena kedekatannya dengan tempat kondang lain: San Siro.

Kalau naik subway, turunnya di kawasan San Siro. Jalan kaki kira-kira 2 kilometer, sampailah kita di Vigorelli. Bengkel Masi, yang ada di situ sejak 1950-an, juga gampang didapati. Di ujung jalan, ada jersey warna pink (simbol juara sepeda di Italia) yang ditempel ke papan dengan tulisan “Masi” serta bendera Italia. Lalu, ada panah yang menunjukkan arah kita harus berjalan.  Tidak jauh dari situ, terlihatlah bengkel yang menempel di sisi velodrom tersebut. Tidak ada penanda mewah.

Saya dan rekan Agung Kurniawan mengunjungi Masi Kamis pagi (6/9), sekitar pukul 09.00. Rencananya, dari Masi, baru akan ke Sirkuit Monza untuk meliput hari persiapan Grand Prix Italia.

Pagi itu, ketika tiba di bengkel Masi, alangkah terkejutnya kami. Hanya ada satu orang yang sedang bersiap bekerja, memasangkan celemek. Dia adalah Alberto Masi sendiri!

Melihat kami dan setelah kami jelaskan (pakai bahasa Inggris) bahwa kami berasal dari Indonesia, dia memberi tanda pakai tangan untuk menunggu sesaat. Rupanya, dia tidak bisa bahasa Inggris dan meminta kami untuk menunggu beberapa menit. Rekannya akan datang untuk membantu menerjemahkan.

Sambil menunggu, dia bekerja membuat sepeda dan kami dipersilakan menikmati isi bengkel. Foto-foto dan melihat-lihat. Tempat yang kami kunjungi itu benar-benar “bengkel”. Tidak ada sepeda yang dijual, tidak ada aksesori yang dijual. Beberapa sepeda dipajang bukan untuk dijual, melainkan sebagai contoh atau penanda sejarah.

Sebuah sepeda bertulisan “Faema” merupakan yang dibanggakan. Itulah sepeda yang dipakai Eddy Merckx meraih kesuksesan pada 1968. Dan sepeda itu bukan untuk dijual!

Tidak lama, datanglah Romano Raptetti, salah satu asisten Alberto. Kami lantas berbincang dengan Alberto via Raptetti sebagai penerjemah. Percakapan sangat santai dan penuh canda. Alberto orangnya agak diam, tapi celetukannya lucu, sementara Raptetti dasarnya suka bercanda.

Alberto rupanya meneruskan passion ayahnya soal sepeda dari bahan baja. Sang ayah dulu ekstrem, bilang steel or nothing. “Bahan-bahan lain itu tak ada gunanya. Tujuan mereka hanya untuk cari uang.” Begitu komentar Faliero Masi dulu.

Alberto Masi agak beda. Baginya, steel tetap yang terbaik. Dengan kualitas bahan dan penggarapan, ia akan lebih abadi. Ada beberapa contoh frame rusak di bengkelnya, semua terbuat dari kombinasi karbon dan aluminium.

Kata mereka, dua bahan itu sebenarnya tak boleh dipadukan. Mereka seperti air dan minyak. “Seperti Mike Tyson melawan George Foreman,” tandas mereka.

Ditambahkan pula, bahan aluminium juga kurang oke. ’’Buat balapan, aluminium tidak bagus,” komentar mereka. Kami bertanya, berapa sepeda bisa dibuat Pak Masi dalam seminggu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pesan dari dia?

’’Biasanya pesanan bisa dipenuhi dalam 50 hari. Seminggu bisa bikin sekitar dua frame. Tetapi, bergantung situasi. Kalau lagi banyak pesanan, bisa lebih lama. Bulan Juli lalu, misalnya, ada orang Jepang yang pesan sepuluh frame,” jelas Alberto.

Alberto Masi menegaskan, barang garapannya orisinal. Bukan Masi yang dimassalkan. Dan kalau dipikir, memang tidak mungkin ada banyak barang yang beredar. Dijelaskan, dia tidak mungkin membuat lebih dari 800 frame per tahun.

Jadi, kalau ada yang menawari sepeda merek Masi di Indonesia, tanyakan kepastiannya. Itu berasal dari perusahaan Masi di Amerika atau buatan Masi di Vigorelli. Kalau buatan tangan Alberto Masi, ada tanda tangannya di top tube, di dekat sadel.

Harga buatan Alberto Masi juga tidak gila-gilaan. Di kisaran Rp25 juta-Rp40 juta untuk frame (bisa lebih kalau speknya lebih rumit dan kualitas bahan lebih tinggi).

Nah, itu bikin saya benar-benar tertarik. Buatan tangan Alberto Masi punya nilai masa depan. Alberto pun mengukur badan saya untuk membuatkan frame ukuran custom. Dia mengukur sendiri (dengan dibantu Raptetti) dan mencatat sendiri spek yang kami sepakati dengan tulisan tangan. Tidak ada komputer di bengkelnya di Vigorelli.

Ukuran saya? Kata Alberto, saya panjang di badan, relatif pendek di kaki, tapi dengan tapak kaki yang panjang (ukuran 46). “Kaki kamu semua panjangnya di telapak,” kelakarnya.

Jadi, saran dia adalah ukuran 54 cm dengan panjang top tube 545-550 cm. Plus stem 11,5 cm. Alberto ingin pemesan benar-benar puas. Semua detail dia tanyakan. Lekukan di bagian atas fork (garpu depan), warna yang benar-benar pas, warna tulisan, bentuk tulisan, dan lain sebagainya.

Ketika ada tambahan detail lagi, keesokannya Alberto sendiri yang menghubungi ponsel saya. Lewat Raptetti lagi, dia ingin memastikan sebuah spek yang saya inginkan. Dan memang, meski punya e-mail, Alberto lebih suka komunikasi via old school. Ya lewat telepon.

Sepeda buatan tangan Alberto Masi itu –kalau nanti selesai dan dikirim ke Indonesia– akan jadi kenang-kenangan paling orisinal dari Milan!  (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

SENIN, 10 SEPTEMBER 2012

STASIUN KECIL: Suasana Stasiun Lesmo di dekat Sirkuit Monza. Dari tribun utama, orang harus berjalan lebih dari 3 km untuk mencapai stasiun ini. FOTO AGUNG KURNIAWAN/JPNN

Kalau Tak Ada Kereta, Jangan-Jangan Harus Menginap di Toilet

Milan bukan sekadar pusat fashion Italia. Kota itu juga jadi tujuan untuk nonton Formula 1 plus tempat bernaungnya para seniman sepeda legendaris dunia. Berikut catatan Azrul Ananda dari kota tersebut.
Bulan September ini merupakan bulan istimewa untuk mengunjungi Milano alias Milan. Di awal bulan, penggemar balap dapat suguhan super, salah satu lomba Formula 1 paling bergengsi: Grand Prix Italia. Di akhir bulan nanti, ada salah satu ajang fashion paling top, Milan Fashion Week.Tentu saja sambil menonton Formula 1, ada banyak hal lain yang bisa dinikmati di Milan. Penggemar sepak bola pasti ingin melihat San Siro. Penggemar sepeda, seperti saya, punya tujuan lain lagi: mengunjungi nama-nama besar sepeda dunia. Misalnya Masi dan Colnago yang bermarkas di kawasan Milan.Jadi, selama akhir pekan lalu (6-9 September), saya dan rekan Agung Kurniawan menyempatkan diri keliling mengunjungi para seniman sepeda sebelum pergi ke Sirkuit Monza untuk meliput Formula 1. Bisa pagi hari, bisa sore hari. Sambil jalan-jalan untuk melihat Milan yang sebenarnya. Bukan lewat jalur-jalur turis yang ’’normal”. Hal paling penting yang harus dibawa/dipakai untuk melakukannya: sepatu yang supernyaman untuk banyak jalan.

Bagi penggemar balap, apalagi F1, Autodromo Nazionale Monza (Sirkuit Monza) merupakan salah satu venue impian yang ingin dikunjungi. Sudah eksis sejak 1922, sudah menjadi bagian dari F1 sejak seri paling bergengsi itu dimulai pada 1950.

Plus, itu adalah kandang Ferrari, tim paling legendaris yang punya jutaan penggemar di seluruh dunia. Tim berlogo Kuda Jingkrak itu bermarkas tak jauh dari Milan, di Maranello. Jadi, para penggemar juga bisa menyempatkan diri ke sana.

Juga memang meliput  dan menonton  F1 di Monza sangat seru. Para penonton, mayoritas tifosi (pendukung Ferrari), selalu memadati sirkuit berkapasitas tribun sekitar 115 ribu orang itu. Total diperkirakan lebih dari 300 ribu orang mengunjungi Monza selama akhir pekan F1.

Kamis saja, saat persiapan dan belum ada mobil turun ke lintasan, lebih dari 10 ribu orang sudah berkumpul di Monza. Padahal, bukan hal mudah untuk mencapai sirkuit tersebut. Letaknya agak jauh di utara Milan (sekitar 30 km) dan tidak ada jalur transportasi yang ideal. Semua tetap akan melibatkan banyak jalan kaki. Tinggal memilih, mau jalan 1 kilometer, 3 kilometer, atau lebih.

Bagi penggemar yang datang dari luar negeri, idealnya memang menginap di sekitar Monza. Atau di kota-kota kecil yang mengitarinya. Tapi, tempat menginap paling enak memang di Milan. Kalau tidak ke sirkuit, bisa jalan-jalan di kota yang keren tersebut.

Dari Milan itu, pilihan transportasinya harus jitu untuk bisa ke Monza. Kalau tidak, bisa kena jebakan Batman, jalan kaki superjauh. Jujur, karena saya dan Agung punya akreditasi media untuk meliput, jalur kami tidak seberat penonton biasa. Ada fasilitas mobil shuttle dan kawasan parkir khusus, bisa langsung masuk dekat paddock tempat tim dan media bekerja. Tapi, di tulisan ini saya ingin menyampaikan trik-trik kalau jadi penonton/penggemar.

So, mau ke Monza dari Milan?Berikut alternatif-alternatifnya: Naik taksi? Tentu saja oke. Bersiaplah membayar lebih dari 100 euro (lebih dari Rp 1,2 juta) untuk sekali jalan. Itu pun belum tentu bisa masuk ke kawasan sirkuit. Turun agak jauh, tetap jalan kaki lebih dari 2 kilometer untuk mencapai pintu sirkuit. Belum ke tribun atau jalan-jalan di dalamnya.

Sewa mobil, ini juga opsi. Namun, tetap saja kawasan parkirnya jauh. Kata seorang penonton yang temannya sewa mobil, makin hari area parkirnya juga makin jauh. Sebab, Sabtu lebih ramai daripada Jumat dan Minggu lebih ramai daripada Sabtu. Jadi, itu bukan opsi menarik kalau jadi penonton  ’’biasa’’.

Karena itu, ada beberapa alternatif lebih baik yang bisa dijalani, melibatkan kereta. Tetapi, kalau tidak tahu triknya, bisa jalan kaki jauh sekali. Ada teman-teman F1 Mania dari Indonesia yang merasakan jauhnya itu serta sempat membuat saya dan Agung ikut merasakannya.

***

Memang, kalau ikut panduan resmi, ada kereta yang nyambung langsung dari Milan ke Monza. Dengan sistem subway yang komplet dan cepat, dari mana saja kita tinggal menuju Stasiun Garibaldi di kawasan pusat kota. Di sana naik kereta  yang hampir setiap jam tersedia menuju Monza.

Tiketnya murah, hanya 1,5 euro untuk subway sekali jalan plus sekitar 2 euro untuk kereta menuju Monza. Tapi, hati-hati. Sebab, ada dua stasiun yang bisa dituju di kawasan Monza. Yang satu Stasiun Monza, dan itu letaknya bukan di sirkuit, melainkan di kotanya. Silakan turun di situ dan Anda tetap harus naik bus lagi atau jalan kaki 12 kilometer!

“Kami (Kamis, 6/9) naik kereta ke sana. Ternyata bus ke sirkuit belum ada. Jadi deh jalan kaki 12 kilometer ke sirkuit,” ucap Ihsan Raharjo, mahasiswa Indonesia di Jerman yang mengisi liburan dengan nonton F1 di Italia bersama temannya, Jefri Christian.

Stasiun kereta yang paling dekat dengan sirkuit adalah Stasiun Lesmo. Namanya sama dengan salah satu tikungan Sirkuit Monza dan memang letaknya berdekatan.

Rombongan lain dari Indonesia sempat diinstruksikan untuk turun di sana. Sebab, tiket nonton juga diminta diambil di sana. Katanya hanya 200 meter dari pintu sirkuit.

Benar memang, stasiun itu hanya 200 meter dari pintu sirkuit. Tapi, pintu yang jauuuuuuuuuuh dari tribun utama dan paddock. Dari ujung ke ujung. Total harus jalan kaki sekitar 3 kilometer dari pintu Lesmo menuju kawasan paddock. Bukan lewat jalan aspal atau jalan resmi, melainkan jalan setapak yang rasanya seperti menembus hutan.

Sirkuit Monza memang berada di dalam kompleks Parco di Monza, taman/hutan terbesar di belahan utara Italia. Luasnya mencapai 150 hektare. Saya dan Agung mencoba naik kereta di Stasiun Lesmo itu saat pulang dari lintasan, Jumat sore setelah babak latihan (7/9). Untung masih sore. Kalau kemalaman, bisa gelap gulita. Dan untung tepat waktu. Sebab, kereta terakhir lewat pukul 20.09.

Petang itu, sekitar pukul 19.00, saat matahari mulai terbenam, saya dan Agung di Stasiun Lesmo bersama dua orang penggemar dari Bulgaria, hanya berempat.

Kami sama-sama bengong khawatir. Sebab, pintu bangunan stasiun dikunci dan tidak ada orang sama sekali. Di dalam gedung hanya ada screen yang menyala, menyebut masih ada kereta terakhir pukul 20.09. Kami berempat benar-benar ragu. Sebab, dari ribuan orang penonton di Monza, mengapa hanya kami berempat di situ?

’’Ini kali pertama kami nonton F1, kali pertama kami ke Monza,’’ aku Adrian Tsvetkov, pemuda dari Bulgaria itu. “Kami diberi tahu bahwa ini jalan yang lebih baik untuk kembali ke Milan,” lanjutnya.

Kami pun bercanda, seandainya tidak ada kereta, kami akan berjalan ke kawasan parkir para camper. Tempat orang-orang yang naik karavan parkir dan menginap selama akhir pekan. ’’Kita ketuk saja pintu mereka, minta menumpang tidur,’’ canda Adrian.

Kalau tidak boleh? Rekannya, Dobrin Dimitrov, punya ide lebih lucu. Dia menunjuk bilik-bilik toilet di depan stasiun. ’’Di situ saja, satu orang satu,” ucapnya, lantas tertawa.

Untunglah, benar-benar ada kereta di stasiun itu. Dan kami tidak berempat. Teman-teman F1 Mania Indonesia tiba di situ sekitar lima menit sebelum kereta berangkat (kalau tidak, gawat itu!). Penonton-penonton lain juga datang tepat waktu. Amanlah kami balik ke Milan, tidak perlu menginap di toilet.

Setelah beberapa hari, kami sekarang tahu jalur paling enak dari Milan ke Monza. Manfaatkan sistem subway yang lengkap dan cepat itu. Cukup 1,5 euro, terus naik subway jalur merah sampai pemberhentian terakhir di utara Milan. Total perjalanan dari Duomo (tempat turis dan belanja di pusat kota) hanya sekitar 15 menit.

Dari Sesto 1 Maggio, nama stasiun terakhir itu, ada dua opsi yang bisa diambil. Pertama, naik bus. Hanya bayar lagi 2 euro, ada bus nomor 221 yang turun di jalanan sekitar sirkuit. Tapi, cukup lama karena berhenti-berhenti, total bisa 45 menitan. Dan kalau bus penuh, bisa berdiri sepanjang jalan.

Alternatif lain, dari stasiun itu, naik taksi. Asal tahu saja, sepanjang akhir pekan grand prix, ada banyak jalan menuju sirkuit yang ditutup. Hanya taksi dan kendaraan dengan tanda khusus yang boleh masuk. Jadi, itu alasan lain naik mobil sendiri bukanlah alternatif.

Naik taksi dari situ relatif lebih fair harganya. Sekitar 30 sampai 40 euro, bergantung jalur dan kemacetan. Kalau berempat, bisa bagi ongkos maksimal.

Kalau naik taksi, minta turun di Via 4 Novembre 1918. Jalan itu lurus menuju pintu utama sirkuit. Dan jalan itu menarik karena ada pasarnya. Bayangkan, ada dua stan berseberangan. Satu berjualan buah, satu lagi berjualan merchandise Ferrari. Di sebelahnya, jualan ikan dan hasil laut!

Kalau naik taksi itu, pulangnya memang ribet. Apalagi pas rush hour, semua penonton mau pulang berbarengan. Kalau pulang, enaknya ya naik bus 221 itu lagi untuk kembali ke stasiun subway. Agak lama, tapi toh sudah tidak tergesa-gesa ke lintasan.

Walau banyak jalan kaki, bagi penggemar F1 Monza tetap berasa “ajaib”. Bagaimanapun, “budaya” F1 begitu kuat sehingga atmosfernya begitu hidup. Tidak seperti ke sirkuit-sirkuit “modern” di negara-negara yang tidak punya sejarah F1 (seperti kebanyakan di Asia atau Timur Tengah).

“Asyik lah sirkuitnya. Asyik banget suasananya,” kata Robianto Haripurnomo, 45, yang sering mengelola tur nonton bersama istrinya, Yenny “Ekies” Erika, lewat Lily Tour.

Bagi Sugeng Haryadi, 45, dan istrinya, Eka Dewi Vegajanti, 44, jalan jauh nonton F1 sudah jadi makanan selama belasan tahun. Pasangan Ferrari Mania dari Surabaya itu sejak 2000 rajin nonton F1 ke mana-mana. Mulai Malaysia, Tiongkok, Australia, hingga beberapa negara lain.

Karena penggemar berat Ferrari, mereka sekarang seperti ada di alam yang benar. Sabtu lalu (8/9) mereka sempat ikut tur ke Maranello, markas Ferrari. “(Jalan jauh) ini sudah biasa. Saya dulu hamil tujuh bulan juga tetap niat jalan kaki terus nonton F1 di Sepang (Malaysia, Red),” tutur Eka Dewi Vegajanti.

Saking gilanya pasangan itu terhadap Ferrari, putri terakhir mereka diberi nama Fiorano. Sama dengan nama sirkuit uji coba yang dimiliki pasukan Kuda Jingkrak!

Bagi saya pribadi, yang paling ingin saya lihat di Monza adalah bagian dari sirkuit lamanya. Khususnya bagian banking (lintasan miring) yang dulu merupakan bagian penting lintasan oval Monza. Ya, sirkuit itu dulu punya bagian oval.

Karena terlalu cepat dan berbahaya, bagian oval tersebut sudah puluhan tahun tidak dipakai. Tapi, dulu itu merupakan bagian dari magic Monza, banyak korbannya. Sampai sekarang, logo sirkuit masih menampilkan bentuk Monza sekarang plus lintasan oval tersebut.

Salah satu film balap favorit saya berjudul Grand Prix keluaran 1970. Film yang memenangi Piala Oscar itu bercerita tentang F1 zaman bahaya dulu. Dan salah satu tokoh utamanya tewas di oval Monza.

Kalau melihat di televisi, agak sulit mencari di mana bagian oval itu. Beberapa disembunyikan sebagai bando reklame. Di sirkuit, juga harus jalan “masuk ke hutan” untuk menemukannya. Sekarang lintasan oval itu sudah tidak dirawat, rerumputan tumbuh di sela-sela aspalnya.

Senang rasanya bisa melihat banking itu. Ketika mencoba mendakinya, alamak, ternyata miring sekali. Harus merangkak untuk mencapai ujung atasnya. Alangkah mengerikannya balapan di sana! (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id