Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Letters to Commissioner Edisi Juli 2012
Dari: Stella N.
Email: space4_stella@yahoo.com

Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Dear Commissioner,

Saya ingin bertanya. Musim lalu adalah musim perdana WNBL Indonesia. Nah, apa sih syarat bagi sebuah klub untuk mengikuti WNBL? Saya ingin sekali membentuk klub basket wanita yang bisa berkompetisi di level WNBL. Terima kasih banyak, Mas Azrul. Semoga basket Indonesia makin jaya!

Dear Stella,

Sebelum kami menjalankan WNBL, ketika berembug dengan Pak Anggito Abimanyu, ketua umum PP Perbasi, kami sepakat bahwa barrier (halangan) untuk membentuk tim harus dibuat seminimal mungkin. Dalam artian, syarat dipermudah, biaya dipermurah, dan lain sebagainya. Karena misinya adalah menghidupkan lagi liga perempuan yang ketika itu sudah empat tahun hilang.

Dan itulah yang kami lakukan pada 2012, sehingga terjadilah musim perdana WNBL.

Namun, walau sudah dipermudah, tetap saja sulit bagi tim untuk berpartisipasi. Satu, biaya. Dua, jumlah pemain yang minimal. Sulit melengkapi lima tim, apalagi sepuluh tim, yang kualitasnya layak disebut sebagai liga perempuan tertinggi di Indonesia.

Untuk ke depan, kami harus lebih hati-hati dalam menerima tim baru. Apalagi, sekarang sudah terbentuk Dewan Komisaris WNBL Indonesia yang beranggotakan tim-tim yang ada, plus saya sebagai commissioner dan wakil dari PP Perbasi.

Semoga WNBL bisa menggairahkan lagi minat di liga perempuan, sehingga kelak makin banyak tim bisa terbentuk secara sehat dan punya masa depan yang sustainable.

——————-

Dari: Andreas Bordes
Email: andreasbordes@gmail.com

Akun Twitter Commissioner

Dear Commissioner,

Apa kabar Mas Azrul? Surat saya ini sangat singkat, tapi saya yakin mampu mewakili pertanyaan banyak fans basket di luar sana. Kenapa sih Mas Azrul tidak membuat account Twitter? Pasti akan lebih mudah dan menyenangkan bagi kami untuk memberi masukan atau ide untuk kemajuan basket tanah air. 🙂 Salam basket Indonesia!

Dear semua yang penasaran sama akun twitter saya:

Mohon maaf, saya tidak punya akun twitter, dan tidak punya rencana punya akun twitter. Facebook pun sudah tidak lagi aktif selama bertahun-tahun. Mohon semua memahami, bahwa menjadi commissioner, sesibuk apa pun, bukanlah satu-satunya pekerjaan saya. Punya handphone satu saja rasanya sudah kebanyakan untuk membalas telepon dan pesan yang masuk. Tapi ini bukan berarti saya tidak mau mendengar masukan. Saya terus aktif meraba-raba apa kira-kira yang dibutuhkan agar basket kita terus maju. Dan harus maju dengan cara yang benar. Saya terus mendengar (dengan cara saya sendiri), membaca (di mana pun), dan terus berusaha belajar dari pengalaman di negara-negara lain.

Dan dengan demikian, waktu saya bisa dipakai untuk melakukan action. Kan doing lebih baik daripada talking…

——————-

Dari: @doniikurniawan

Setiap tahun, Championship Series-nya di kota berbeda dong, biar semua bisa ngerasain atmosfer Championship. #DearCommissioner

Dear Doni,

Tentu kami ingin menyelenggarakan NBL di sebanyak mungkin kota, menyapa sebanyak mungkin tim dan fans. Tapi harus dipahami, khusus untuk Championship Series, ada syarat-syarat tertentu yang tidak bisa dipenuhi banyak kota. Pertama, harus ada basis fans yang kuat. Tidak harus untuk satu tim. Minimal, kota itu harus punya gairah yang bagus dalam menyambut sebuah even akbar. Kedua, harus ada gedung yang memadai. Nah, ini syarat yang paling berat. Kita lihat saja, di Surabaya tahun 2011 benar-benar penuh sesak. Di Jogjakarta pun, dengan gedung yang berkapasitas lebih besar, tetap penuh sesak. Semoga ini membuat kota-kota lain bergairah dan membangun fasilitas yang benar-benar mampu menjadi tuan rumah sebuah Championship Series NBL Indonesia.

——————-

Dari: @gerrykrisnata11

Bikin sistem supaya pemain bintang menyebar di setiap klub, jadi calon juara sulit diprediksi. #DearCommissioner

Dear Gerry,

Ini bukan hanya impian Anda. Ini juga impian kami sebagai penyelenggara. Dan ini juga –percaya atau tidak– impian tim-tim peserta. Saat ini, walau popularitas NBL terus meroket, kami tetap harus menyentuh bumi. Liga ini masih bayi. Baru dua musim. Jadi harus tertata baik dulu fondasinya sebelum bisa mengembangkan yang lainnya. Sabar, itu akan terjadi!

Bikin Akademi Basket Indonesia

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Most Valuable Letter Edisi Juli 2012
Bikin Akademi Basket Indonesia
Dari: Adjie Nugroho
Email: adjiengrh98@gmail.com

Bikin Akademi Basket Indonesia

Dear Commissioner,

Saya punya saran nih untuk memajukan basket indonesia di level dunia. Bagaimana kalau dibikin semacam akademi basket Indonesia (bukan klub basket). Akademi itu diberi nama: Indonesian Basketball Academic League. Pelatih-pelatih muda dipilih untuk menggembleng training harian peserta, sementara pelatih asing kita manfaatkan untuk men-drill peserta menjelang kompetisi (bila ada). Sekian dulu masukan dari saya. Maju basket Indonesia!

Dear Adjie,

Terima kasih usulannya. Setiap kali saya ke luar negeri melihat sistem pengembangan basket, rasanya selalu jadi iri. Kenapa di Indonesia tidak ada yang bikin seperti itu. Kami dari DBL Indonesia tentu sangat ingin punya fasilitas gedung latihan berisi delapan lapangan, plus fasilitas gym lengkap, dan lain sebagainya. Tapi kami bukan pemerintah!

Dari dulu, kami juga ingin punya akademi yang bukan sekolah basket maupun klub. Saya tegaskan: Saya tidak pernah punya klub basket dan tidak akan pernah punya klub basket. Bakat dan expertise kami adalah di management liga. Semoga bisa terwujud ya!

Logo Nomor 1 Baru untuk 2011

 Monday, 17 January 2011 07:17 WIB

                   EMPAT KALI. Jorge Lorenzo, Azrul Ananda dan Ellen Tansil usai wawancara ekslusif di Hotel Marriot Surabaya, kemarin (16/1). 

EMPAT KALI. Jorge Lorenzo, Azrul Ananda dan Ellen Tansil usai wawancara ekslusif di Hotel Marriot Surabaya, kemarin (16/1).

Jorge Lorenzo sudah empat kali ini datang di Indonesia. Namun, kali ini dia jadi ‘atraksi utama,’ sebagai seorang juara dunia. Bagaimana rasanya? Seperti apa MotoGP 2011 dan 2012 nanti?

Berikut petikan wawancara khusus Azrul Ananda dengan pembalap Spanyol tersebut di Surabaya kemarin (16/1).

Kesempatan eksklusif ini terwujud berkat Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) dan Surya Timur Sakti Jatim (STSJ), yang mendatangkan sang world champion ke Indonesia.

Selamat datang lagi di Indonesia. Sudah empat kali Anda datang ke sini, jadi Anda tentu sudah familiar dengan segalanya. Seperti apa rasanya kunjungan ini sejauh ini?
Ini memang sudah kali keempat saya ke Indonesia. Saya selalu merasa nyaman, merasa senang berada di sini. Karena ini negara yang sangat indah, banyak hijaunya, dan orang-orangnya selalu tersenyum. Memberi kita feeling yang sangat baik.
Rasanya saya seperti lebih terkenal di sini daripada di Spanyol. Itu sulit dipercaya!
Benar lebih terkenal? Apakah ada negara lain di mana Anda merasa sama terkenalnya dengan di Spanyol? Selain Indonesia?

Mungkin Spanyol tetap negara tempat saya paling terkenal. Di sini (Indonesia) yang kedua. Lalu negara seperti Italia dan Inggris setelah itu. Yang jelas, sulit dipercaya betapa besar passion orang di sini untuk MotoGP.

Anda sudah mengunjungi sejumlah kota di Indonesia, tapi ini kali pertama di Surabaya. Apa pendapat Anda sejauh ini?

Well, saya mendarat langsung datang ke hotel ini (tempat wawancara kemarin, red), jadi saya belum sempat lihat-lihat kota. Tapi saya sudah diberi informasi, dan saya belajar sedikit tentang kota ini. Saya diberi tahu ini kota terbesar kedua. Enam juta penduduknya?
Surabaya dan sekitarnya hampir sembilan juta.
Sembilan juta? Jadi ini hampir empat kali lipat Barcelona (Spanyol, red) tempat saya tinggal.
Kalau begitu Anda bisa lebih punya banyak penggemar di sini daripada di Barcelona.
Ya, saya rasa begitu!

Ini kali pertama Anda datang ke sini sebagai juara dunia. Sebelumnya, Valentino Rossi biasanya juga ke sini. Jadi, baru tahun ini Anda datang sebagai atraksi utama. Bagaimana rasanya datang sebagai atraksi utama?

Well, selalu senangnya datang sebagai bintang untuk merek legendaris seperti Yamaha. Valentino (Rossi) bagi saya selalu seperti cerita besar. Karena ketika masuk MotoGP, saya hampir tidak tahu apa-apa. Jadi bersaing dengan dia, dan ketika sebelum masuk MotoGP banyak menonton balapannya, saya banyak belajar dari dia. Dan saya terus belajar, karena dia tahu begitu banyak hal.
Saya selalu ingin belajar dari pembalap lain, karena pembalap lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki.

You know, datang ke sini sebagai atraksi utama untuk number one brand seperti Yamaha memberi kepuasan tersendiri. Saya bangga bisa merasakannya.
Sekarang mari bicara MotoGP. Tahun lalu Anda juara dunia, meraup begitu banyak poin (387 poin, red). Tapi, sejumlah orang bilang Anda mendapat sedikit bantuan, karena Valentino cedera, lalu Dani Pedrosa cedera, dan Casey Stoner tidak maksimal. Bagaimana pendapat Anda tentang itu, dan apa menurut Anda yang akan berubah di 2011?

Normal kalau ada orang yang masih bicara seperti itu. Normalnya, orang-orang yang bicara seperti itu adalah penggemar Valentino atau penggemar Pedrosa. Normal bila orang-orang itu selalu mencari-cari alasan supaya bisa bilang kalau saya tidak layak mendapatkan gelar.

Tapi ingat, 2009 adalah tahun kedua saya di MotoGP, tahun pertama memakai ban Bridgestone, dan saya mampu bersaing dengan Valentino untuk memperebutkan gelar.
Pada 2010 saya pikir kami lebih siap. Kami lebih punya keunggulan. Jadi ketika Valentino mengalami kecelakaannya, kami sudah memimpin cukup jauh di klasemen. Dan ketika Dani (Pedrosa) mengalami kecelakaan karena masalah motor, saya sudah memimpin klasemen sebanyak 50 poin.

Jadi, kecelakaan-kecelakaan (pesaing) itu mungkin membantu kami merebut gelar juara dunia. Tapi tanpa kecelakaan-kecelakaan itu pun saya yakin masih akan menjadi juara dunia.

Anda sangat percaya diri?
Bukan, ini bukan sekadar percaya diri. Saya pikir memang begitu. Mungkin saja berbeda, karena kita tidak akan bisa memprediksi masa depan. Tapi saya rasa begitu.
Bagaimana menurut Anda tentang 2011. Siapa yang menurut Anda bakal menjadi ancaman utama. Casey Stoner dengan motor barunya (Honda, red) atau Valentino Rossi dengan motor barunya (Ducati, red)?

Saya pikir kami layak menjadi juara dunia 2010. Tapi 2011 adalah dunia yang berbeda. Akan ada kejuaraan baru dan semua orang akan mengawalinya dengan poin nol. Jadi tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Karena masa depan adalah masa depan. Tidak ada yang tahu akan seperti apa.
Kita akan mencoba memberikan yang terbaik. Yamaha akan mencoba untuk membuat motor lebih baik, saya akan mencoba untuk meng-improve cara membalap saya, bersama kami akan mencoba memberikan yang maksimal.

Brand dan pembalap lain akan melakukan hal yang sama, jadi (2011) akan menyuguhkan persaingan yang sangat kompetitif. Banyak pembalap bisa bersaing berebut kemenangan.
Mari melihat lebih jauh lagi ke depan, ke 2012. Karena MotoGP akan menggunakan motor 1.000 cc. Anda belum pernah merasakan 1.000 cc, karena ketika Anda masuk MotoGP (pada 2008) regulasinya sudah 800 cc.

Apakah Anda akan mendapatkan disadvantage pada 2012? Karena pada 2012 Anda masih akan membalap untuk Yamaha.
Ya, beberapa orang bilang bahwa pembalap yang datang dari kelas 250 cc ke MotoGP 800 cc mendapat sedikit keuntungan. Karena motor 800 cc butuh dikendarai dengan gaya seperti 250 cc.

Tapi saya pikir, pembalap yang bisa cepat naik 125 cc dan 250 cc juga bisa cepat naik MotoGP. Memang ada bedanya. Motor 125 cc punya tenaga kurang, 250 cc sedikit lebih bertenaga, dan MotoGP jauh lebih bertenaga. Tapi semuanya tetap memakai dua roda dan satu mesin!

Jadi kalau kita bisa cepat naik satu motor, kita bisa cepat naik semua motor.
Apa yang Anda butuhkan lebih baik dari motor Yamaha (YZR M1) untuk bisa kembali menjadi juara pada 2011 dan 2012?

Well, I love my bike. Dan Yamaha adalah motor yang lebih kompetitif dalam tiga tahun terakhir, dan kami mampu merebut triple crown. Bukan hanya gelar juara pembalap, tapi juga konstruktor dan tim.

Tapi brand yang lain bekerja sangat keras, mereka mampu mendekat di setiap lomba, di setiap tahun. Jadi untuk terus mempertahankan posisi sebagai nomor satu kita harus terus bekerja. Lebih keras dan lebih keras.
Saya pikir, satu hal yang harus kami perbaiki adalah power yang dihasilkan mesin. Kami butuh sedikit lebih banyak lagi tenaga.

Sekarang mari bicara soal kelakuan-kelakuan antik Anda di setiap akhir lomba. Anda punya begitu banyak show untuk penggemar. Siapa yang muncul dengan ide-ide itu. Apakah Anda, atau Anda punya tim yang bertemu untuk melakukan sesuatu bila menang?
Ha ha ha. Bagi saya, sangatlah penting untuk melakukan sesuatu yang berbeda setelah setiap kemenangan atau setelah setiap lomba. Kalau kita memenangi sebuah lomba, kita harus merayakannya seperti telah meraih sesuatu yang sangat penting.

Sangatlah sulit untuk memenangi sebuah lomba. Jadi kita harus melakukan sesuatu untuk mengenang lomba tersebut dan mencoba menikmatinya bersama penonton.
Saya mulai melakukan selebrasi (unik) mulai 2007. Berlanjut sampai sekarang. Bagi saya, yang paling saya nikmati adalah balapan di Jerez (Spanyol) pada 2010, saat saya melompat ke dalam danau.

Kadang, idenya muncul begitu saja di kepala saya. Saya harus punya selebrasi, jadi saya harus terus memikirkannya. Kadang orang-orang di sekeliling saya, teman-teman saya, turut bekerja untuk mengembangkan lagi ide-ide itu. Yang paling sulit adalah untuk benar-benar mewujudkannya.

Anda punya ciri khas bendera Lorenzo’s Land (ditancapkan setelah meraih kemenangan di satu tempat, menandai penaklukkan suatu wilayah, red). Apa yang terjadi kalau Anda sudah meraih kemenangan di semua sirkuit yang ada di dunia. Setelah itu apa? Apakah Anda akan punya filosofi baru atau ide baru? Bendera yang berbeda?
Anda tahu kan, ketika kita berhasil menaklukkan sebuah negara (dalam sebuah lomba), kita hanya menikmatinya untuk dua pekan. Setelah itu kita tidak memilikinya lagi, dan harus menaklukkannya lagi di tahun berikutnya.

Baik, ini pertanyaan terakhir saya, setelah itu ada dua lagi pertanyaan dari penggemar (yang menitipkan pertanyaan via JTV, red). Pertanyaan terakhir saya: Apakah Anda akan membalap di tahun 2011 memakai nomor 1 (tanda juara dunia, red), atau tetap memakai nomor 99?
Seratus persen akan membalap pakai nomor 1.
(Lanjutan). Seperti apa nomor satunya? Desainnya? Karena nomor 99 Anda didesain merah dan putih (satu setan, satu malaikat).

Saya tidak bisa menjelaskannya. Karena dalam satu pekan atau lebih sedikit, kami akan meluncurkan (desain) nomor 1 itu. Dalam satu pekan atau lebih itu kita akan melihatnya.
(Desain) itu sangat spesial, sangat beda. Ada kaitannya dengan nama saya. Dengan “Jorge Lorenzo.” Jadi Anda akan lihat nanti.

OK, sekarang dua titipan pertanyaan dari pemirsa JTV. Yang pertama dari Sigit di Madiun. Pertanyaannya, kalau Anda menghadapi lomba di lintasan basah (hujan). Apa tantangan utama yang harus Anda atasi sebelum start?

Yang paling utama adalah rasa takut. Karena kita tahu kondisi permukaan sangatlah berbahaya. Kita harus sangat smooth. Karena kalau kita agresif maka motor akan banyak bergerak dan kita akan celaka dengan mudah.

Jadi, pertama-tama kita harus melepaskan rasa takut. Hanya berpikir untuk menikmati mengendarai motor. Harus sangat hati-hati, harus sangat konsentrasi. Lalu mencoba mengambil line (jalur, red) yang sama di setiap tikungan. Karena kalau kita membuat kesalahan di satu jalur atau satu tikungan, kita akan celaka dengan mudah.
Balapan di sirkuit basah itu seperti art (seni, red).

Pertanyaan terakhir ini dari Hadi di Kediri. Kalau Anda di Indonesia untuk balapan. Kalau Anda ikut road race di Indonesia menggunakan motor-motor jalanan yang ada di Indonesia. Apakah Anda merasa bisa akan menang seperti di MotoGP?
Saya yakin pasti akan finis paling belakang! Karena mereka di sini crazy!

(Kalau balapan) mereka pasti punya lebih banyak pengalaman dari saya. Kalau saya hanya punya dua atau tiga hari persiapan, saya pasti tidak kompetitif.
Mereka pasti akan crazy dan selalu membalap seratus persen! Mungkin mereka semua akan mengalahkan saya, atau mereka semua kecelakaan dan memberi saya kemenangan! (*)

sumber : http://radarcirebon.com

TAK MULUK-MULUK TETAPKAN TARGET

National Basketball League 2012-2013

Gugum Rachmat Gumilar

Minggu,  25 November 2012  −  00:33 WIB

Tak muluk-muluk tetapkan target

Sindonews.com – Kejuaraan bola basket tertinggi di tanah air, Speedy National Basketball League (NBL) Indonesia kembai digelar untuk musim kompetisi 2012-2013. Penyelenggara kejuaraan mengklaim hal ini sebagai keberhasilan ditengah terpuruknya prestasi olahraga dalam negeri.

Comissioner NBL sekaligus Direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia Azrul Ananda mengatakan, di awal penyelenggaraan, pihaknya tidak menyangka kompetisi ini bisa bertahan hingga tahun ketiga. Bahkan di setiap musim, NBL selalu menunjukkan peningkatan kualitas kejuaraan.

“Saya tidak menyangka kejuaraan ini bisa survive sampai sejauh ini, bertahan hingga musim ke tiga. Bahkan selama penyelenggaraannya, saya melihat banyak hal yang diluar dugaan. Termasuk kesimpulan bahwa tidak ada liga lain, selain tentunya sepak bola, yang penontonnya bisa seheboh ini. Apa lagi jika melihat penonton di Bandung dan Surabaya, luar biasa. Itu pencapaian di tahun-tahun sebelumnya yang tentu harus kami tingkatkan di penyelenggaraan selanjutnya,” ujarnya.

Meski terus menunjukkan kemajuan di setiap tahun penyelenggaraannya, ujar Azrul, pihaknya tidak menetapkan target tinggi di perhelatan tahun ini. Termasuk dengan pencapaian yang ingin dihasilkan dalam NBL tahun ini. Sebagai langkah awal meningkatkan prestasi bola basket nasional, ajang ini hanya menargetkan tingginya partisipasi masyarakat Indonesia terhadap olahraga basket. Jika keikutsertaan khalayak sudah membludak, ujar Azrul, maka prestasi basket dalam negeri secara otomatis akan meningkat.

“Memang menjadi cita-cita kami agar basket Indonesia bisa menjadi raja di Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Tapi itu butuh proses. Untuk saat ini, cukup menargetkan bagaimana caranya agar banyak yang nonton basket, termasuk NBL. Sehingga nantinya banyak juga yang bermain baskt. Jika sudah seperti itu, dengan melimpahnya jumlah masyarakat Indonesia, masa tidak ada satu orang saja yang bisa seperti Michael Jordan,” tuturnya.

Azrul mengaku optimistis pamor basket di Indonesia terus meningkat. Terlebih, berbagai kejuaraan olahraga ini selalu mengedepankan profesionalisme. Hal itu merupakan imbas dari minimnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk berbagai kegiatan bola basket.

“Basket itu semuanya swasta. Mulai dari kejuaraan hingga timnasnya pun dibiayai sendiri, karena tidak ada kucuran dana dari pemerintah. Tapi justru dengan anggaran dari pihak swasta melalui sistem sponsor, semua harus dilakukan dengan profesional. Ini yang membuat bola basket terus meningkat perkembangannya. Bahkan beberapa survey mengatakan, bahwa basket saat ini menjadi olahraga kedua di Indonesia setelah sepakbola. Di tahun-tahun mendatang, bukan tidak mungkin kami menjadi nomor satu di negeri ini,” kata Azrul.

sumber : http://sports.sindonews.com

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

Kamis, 20 Oktober 2011 17:28 WIB

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Seluruh tim peserta liga basket tertinggi di tanah air telah menyerahkan susunan ofisial dan pemainnya untuk kompetisi National Basketball League (NBL) Indonesia musim 2011-2012 yang akan mulai bergulir 10 Desember.

Tercatat ada puluhan rookie yang akan mengawali kariernya di musim reguler liga basket tertinggi Indonesia ini. Seitar 31 wajah baru akan berebut gelar pendatang baru terbaik. Itu belum termasuk barisan pemain yang memperkuat dua tim baru, Pacific Caesar Surabaya dan NSH GMC Riau.

Kebanyakan pemain muda itu telah menunjukkan kemampuan mereka saat Preseason Tournament di Malang, 23 September hingga 2 Oktober lalu. Dua yang paling menonjol adalah Arki Dikania Wisnu dari Satria Muda Britama Jakarta dan Herman “Wewe” Lo dari Nuvo CLS Knights Surabaya.

Banyaknya bintang muda ini dianggap sebagai pertanda baik untuk masa depan basket Indonesia. “Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum era NBL Indonesia, gairah di arena basket bisa dibilang redup. Tidak banyak tim berinvestasi untuk membina bintang-bintang masa depan basket Indonesia. Sekarang, setelah sukses musim perdana, gairah itu sangat terasa di NBL Indonesia 2011-2012,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.

“Fondasi yang baik ini bukan hanya untuk setahun ke depan. Ini baik untuk bertahun-tahun ke depan,” tambahnya.

Bella Erwin Harahap, ketua Dewan Komisaris NBL Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perbasi, merasa yakin hadirnya para pemain muda itu akan membuat basket Indonesia semakin mantap melangkah.

“Banyaknya wajah baru ini bukti bahwa regenerasi telah berjalan. Kompetisi menjadi lebih enak dinikmati dengan tenaga-tenaga muda tersebut. Kita semua jadi punya lebih banyak pilihan untuk mencari pemain-pemain masa depan tim nasional Indonesia,” ujar Ade Bella, sapaan akrabnya.

Musim reguler NBL Indonesia 2011-2012 terdiri atas enam seri. Pembukanya di Bandung, 10-18 Desember, berlanjut ke Solo, Denpasar, Palembang, Surabaya, dan Jakarta. Delapan dari 12 tim terbaik lantas lolos ke Championship Series, yang dijadwalkan berlangsung di Jogjakarta pada April 2012.

sumber : http://www.tribunnews.com

Komisioner NBL berharap olahraga Indonesia lekas privatisasi

Sabtu, 12 Januari 2013 05:20 WIB

NBL (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) – Komisioner Liga Bola Basket Nasional (NBL), Azrul Ananda mengharapkan dunia olahraga di Indonsia lekas mengalami privatisasi secara meluas dan bukan hanya bola basket.

“Jadi sebenarnya di Indonesia ini kan olahraga itu bisa dibilang campur tangan pemerintah sudah tidak terlalu penting, makanya saya harap ada cara supaya olahraga kita itu cepat lebih banyak diambil alih oleh swasta,” kata Azrul di Jakarta, Jumat (11/1).

Azrul mencontohkan bagaimana kompetisi bola basket yang ia kelola akhirnya menarik perhatian pemerintah dan kemudian otoritas olahraga terkait menawarkan dirinya untuk mengambil alih dan menjalankan liga.

Ia mengatakan, bahwa dalam kompetisi yang ia jalankan bisa dikatakan tidak sedikitpun terdapat campur tangan dari pemerintah.

“NBL Indonesia ini kan nol dari pemerintah, dikelola secara swasta, klub-klubnya juga dikelola secara swasta. Hampir tidak ada uang pemerintah dan kita baik-baik saja,” ujar Azrul

Lebih lanjutan Azrul menyebutkan bahwa dalam olahraga, kucuran dana dari pemerintah untuk bergulirnya liga seharusnya tidak lagi dibutuhkan.

“Yang kita butuhkan dari pemerintah bukan dukungan finansial, tetapi stabilitas, jaminan dan `support` moral sehingga memberi kami ruang cukup untuk bekerja,” ujar dia.

Ia mengharapkan pemerintah melalui otoritas olahraga secara spesifik ataupun Kementerian Pemuda dan Olahraga, tidak mengambil kebijakan yang mempersulit ataupun membebani pihak swasta dalam mengelola olahraga.

Azrul tak berhenti hanya berbicara pada tataran bola basket dan olahraga umum, ia sedikit memberi komentar tentang bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia saat ini baik secara kompetisi maupun secara kepengurusan.

Azrul mengatakan bahwa sepak bola pada masanya sempat mengalami privatisasi sebagaimana bola basket saat ini, yaitu di masa Galatama. Lantas, pergeseran dan pembesaran makna sepak bola dalam kehidupan masyarakat ikut mengubah nasib persepakbolaan di Indonesia.

“Tapi kemudian ini menjadi sebuah komoditas politik, dan ini tidak bisa dielakkan. Ada beberapa pemimpin daerah yang saya temui mengatakan sepakbola itu punya peran sebagai kontrol sosial,” kata dia.

Azrul mengakui dapat memahami sudut pandang kontrol sosial tersebut, meskipun kemudian mempertanyakan apa jadinya ketika olahraga dibiarkan menjadi besar dan masih merasakan campur tangan pemerintah.

“Ketika uang pemerintah, yang mungkin kita bisa katakan tak terbatas, bercampur baur dengan olahraga maka mereka tak bisa lagi melihat atap. Pada saat itulah berbondong-bondong orang ingin ikut ke sana, dan `bermain` di dalamnya,” tutur Azrul.

Oleh karena itu, Azrul kembali menawarkan solusi yaitu memprivatisasi pengelolaan sepak bola. Meskipun, ia juga ragu dengan keinginan dan kemauan berbagai pihak yang terlibat dalam sepak bola.

“Kalau sekarang sistem sepak bola mulai dari nol lagi, kita kembangkan lagi dari dasar seperti basket ini, apakah mereka mau susah lagi? Ya pertanyaannya bukan sesusah apa nantinya, tapi apakah mau susah?” kata dia.

“Karena sepak bola ini sudah terlalu tinggi, tuntutan pemainnya sudah terlalu tinggi, tuntutan timnya sudah terlalu tinggi, tuntutan macem-macemnya itu sudah terlalu tinggi. Jadi kalo harus `direset` kembali untuk memulai dari titik yang paling sehat, mau nggak,” ujar dia.

Selain itu, ia bersyukur bahwa dalam dunia bola basket lebih mudah menemukan rekan-rekan swasta yang memiliki kesamaan visi bahkan kesamaan semangat sebagai pemuda.

“Akhirnya enak, kita bekerjasama, kebanyakan swasta, kebanyakan muda-muda lagi, dan kebanyakan tidak berafiliasi dengan pemerintah. Itu advantage basket menurut saya,” ujar dia menutup perbincangan. (G006)
Editor: B Kunto Wibisono

sumber : http://www.antaranews.com

Prestasi = Ongkos, Partisipasi = Income, oleh Azrul Ananda

Oktober 17, 2009 by mainbasket

Setelah “mendapat” pencerahan dari Malcolm Gladwell pada posting gw yang ke-500, posting-an selanjutnya rupanya tak kalah menggugah. Datang dari penggagas dan pemimpin liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Azrul Ananda. (Head Coach Nuvo CLS Knights Surabaya, Simon Wong bahkan pernah mengatakan bahwa menurutnya, Deteksi Basketball League adalah liga basket pelajar terbesar di dunia!)

DBL Australia Games

DBL Australia Games Logo

Prestasi adalah ongkos. Partisipasi adalah income. Kalau terus dipacu, partisipasi bisa mengongkosi prestasi.

Hari ini (17/10), pertandingan basket penting diselenggarakan di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya. Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009, yang terdiri atas pemain-pemain SMA pilihan dari 15 provinsi di Indonesia, bertanding melawan wakil Australia, Darwin Basketball Association (DBA) U-18.

Sejak Senin, 12 Oktober lalu, kedua kubu sudah berkumpul di Surabaya, menjalani serangkaian pertandingan pemanasan dan acara. Puncaknya sore ini, bertanding di ajang DBL Australia Games 2009.

Bagi DBL Indonesia, pertandingan ini merupakan alat ukur dari sebuah eksperimen besar. Yaitu membentuk “tim nasional junior” lewat jalur kompetisi yang konsisten dan konsekuen.

Tahun ini, total ada 18.739 peserta yang mengikuti Honda DBL 2009 di 16 kota, 15 provinsi di Indonesia. Semua harus menuruti aturan ketat dari konsep student athlete. Harus baik di sekolah. Tidak naik kelas, berarti tidak boleh ikut. Di Jawa Timur, kalau nilai mata pelajaran utama di bawah 6, tidak boleh main.

Dari situ, dipilihlah 160 pemain terbaik (80 putra, 80 putri), untuk ikut Indonesia Development Camp 2009. Pada 16-18 Agustus lalu, mereka berlatih bersama pemain dan pelatih NBA. Saat itu, 50 pelatih terbaik DBL juga menimba ilmu.

Di akhir camp itulah, dipilih 12 pemain putra, 12 pemain putri, dan lima pelatih untuk masuk DBL Indonesia All-Star 2009. Ada yang datang dari Palembang, dari Bandung, Pontianak, Surabaya, Bali, sampai Papua. Ada yang bilang, ini adalah “timnas junior swasta.” Bagi kami, terserah mau disebut apa. Kami juga mengakui, pemain-pemain ini mungkin belum tentu benar-benar yang terbaik di Indonesia. Mungkin masih banyak pemain yang lebih hebat tersembunyi atau tersebar.
Namun, bagi kami, tim ini sangat penting, karena dipilih melalui sebuah sistem besar. Lewat kompetisi yang standar dasarnya sama dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar lewat pantauan pemandu bakat atau ditemukan secara tidak sengaja.

Dan meski belum tentu pemain terbaik, bagi kami mereka adalah student athlete terbaik. Ingat, mereka belum tentu menjadi atlet basket. Mungkin, kelak mereka akan jauh lebih berguna bagi kita semua dalam hal-hal di luar basket.
Nanti, ketika DBL terus berkembang ke lebih banyak provinsi, lalu ketika lebih banyak anak berpartisipasi di setiap provinsi, maka akan semakin banyak anak yang bisa “dipilih” untuk basket.

Secara teori, nantinya akan semakin mudah menemukan bintang-bintang basket. Selama ini mereka mungkin sudah ada, tapi tidak terlihat karena tidak berpartisipasi di kompetisi yang tertata.
Tapi itu teori. Kalau tidak pernah dijalani atau dicoba, ya selamanya hanya akan menjadi teori.

***

DBL Australia Games

Tidak mudah membentuk tim seperti DBL Indonesia All-Star 2009. Tentu saja tidak murah. Karena harus menyelenggarakan even di mana-mana dengan skala besar. Cara lebih murah mungkin ya dengan mencari bakat ke sana ke mari. Dikumpulkan, lalu melatih mereka untuk membentuk tim. Selama ini, mungkin inilah yang sudah dilakukan.

Menurut saya, cara ini tentu baik-baik saja. Hanya saja, mungkin ini bukanlah cara yang baik untuk jangka panjang. Bagi saya, ini juga bukan cara yang sustainable. Untuk efektif, dengan cara ini kita butuh keberuntungan, menemukan pemain berbakat yang mencuat sedikit-sedikit di sana-sini. Mungkin ada anak petani yang tingginya 216 cm, tapi harus dilatih dulu bermain basket. Mungkin ada anak hutan yang bisa berlari supercepat, tapi tak pernah bermain basket.

Cara terbaik, menurut saya, tetap lewat kompetisi. Yang standarnya sama di sana-sini. Mungkin lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk menemukan bintang. Tapi, cara ini juga menyedot tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi. Tingginya partisipasi adalah kunci sukses prestasi masa depan yang sustainable.

Bagi saya, Indonesia sekarang tidak perlu ngotot mengejar prestasi olahraga. Fondasinya belum cukup kuat untuk itu.
Bagi Indonesia, saat ini prestasi adalah ongkos. Jadi bukan sekadar fondasi yang belum cukup kuat, kemampuan mengongkosi juga belum ada. Paling tidak, kemampuan untuk mengongkosi secara efektif.

Sebaliknya, partisipasi adalah income. Bukan sekadar pemasukan uang. Juga pemasukan bakat dan tetek bengek yang lain.
Semakin banyak partisipasi, semakin hidup pula industrinya. Lebih banyak yang beli bola, lebih banyak yang beli sepatu olahraga, semakin banyak yang beli tiket nonton even olahraga. Semakin banyak partisipasi, seperti sudah disinggung di atas, semakin banyak pula bakat yang bisa dipilih untuk mengejar prestasi di tingkat lebih tinggi.

Kelak, ketika partisipasi sudah sangat tinggi, partisipasi itulah yang mengongkosi prestasi. Bukan pemerintah, bukan sumbangan, bukan orang-orang kaya gila, dan bukan sponsor secara langsung.

Yang jadi pertanyaan sekarang: Maukah kita melupakan prestasi untuk lima tahun ke depan, lalu fokus mengejar partisipasi?

***

DBL Australia Games

Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bukan hanya melawan tim muda Darwin. Senin, 19 Oktober nanti, tim ini terbang ke Perth, melawan tim muda Australia Barat.

Pertandingan di Perth bukanlah pertandingan baru. Tahun lalu, tim DBL Indonesia All-Star 2008 sudah pernah bermain di sana.

Pertandingan di DBL Arena Surabaya hari ini merupakan sejarah penting. Sebab, untuk kali pertama DBL Indonesia All-Star bertanding di negeri sendiri.

DBL Indonesia sendiri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Darwin Basketball Association (DBA) Australia. Sama seperti DBL Indonesia, DBA ini juga swasta yang self-sustain.

Jadi, pertandingan ini lebih dari sekadar negara lawan negara. Melainkan pertandingan people to people. Baik DBL Indonesia maupun DBA sama sekali tidak mendapat pemasukan dari pemerintah untuk mengembangkan diri dan mengirim tim ke luar negeri.

Dan mereka lawan yang tepat. Mereka adalah alat ukur yang paling baik untuk “timnas swasta/eksperimen Indonesia.”

Di Australia, dan negara-negara maju lain, sistem pengembangannya sudah begitu tertata. Fondasinya begitu kuat. Tidak butuh menemukan pemain berbakat. Semua orang bisa dilatih dengan baik, lalu menjadi pemain yang hebat.
Partisipasi tinggi, infrastruktur komplet, kompetisi lancar.

Kita? Sampai sekarang masih harus memikirkan partisipasi. Infrastruktur pun mungkin belum dipikir. Kompetisi amburadul.
Saya kadang berpikir, andai duit olahraga ratusan miliar (atau lebih) yang selama ini digunakan untuk prestasi itu distop. Lalu digunakan untuk membangun banyak infrastruktur olahraga, maka partisipasi akan langsung naik. Dua masalah terjawab sekaligus, dan dari sana tinggal melangkah mencari prestasi.

Dan kita tidak perlu gedung yang bagus-bagus. Yang penting ada tempat olahraga yang komplet. Tak perlu Gedung Taj Mahal, tapi perlu banyak gedung Tak Mahal.

***
Hari ini, tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bakal menghadapi DBA Australia.
Siapa bakal menang? Hari ini, pertandingan tim putra tampaknya bakal berlangsung seru dan menghibur. Tim DBA Australia punya postur lebih tinggi, namun tim DBL Indonesia lebih lincah dan merata. Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena (tampaknya bakal ribuan orang), jangan lewatkan duel ini.

Pertandingan putri? Peluang tim DBL Indonesia termasuk berat. Tim DBA punya dua pemain hebat, Tamara Sheppard dan Claire O’Bryan. Keduanya dalam waktu dekat pindah ke Amerika, mengejar mimpi main di liga paling bergengsi dunia, WNBA.
Meski peluang berat, saya yakin tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 akan memberikan yang terbaik.
Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena, saya minta tolong untuk terus menyemangati mereka. Kita bukan hanya menyemangati mereka untuk tampil kompetitif atau mengejar kemenangan. Kita menyemangati mereka karena merekalah fondasi masa depan.

Kalau banyak yang bersorak menyemangati mereka, maka akan banyak pemain muda lain yang bertambah semangat untuk menjadi seperti mereka. Dan seperti “hukum partisipasi” yang saya sampaikan di atas: Semakin banyak yang ikut, semakin banyak pilihan, semakin kuatlah tim yang dihasilkan.

Sorakan semangat hari ini mungkin tidak akan membuahkan kemenangan hari ini juga.Sorakan semangat hari ini, siapa tahu, akan membuahkan gelar juara dunia basket untuk Indonesia pada 2030 nanti!

Masih lama memang, tapi harus dimulai dari sekarang. Dan yang diperlukan hanyalah berpartisipasi dalam bentuk sorakan! (*)

sumber : https://mainbasket.wordpress.com

Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas Sepakbola

MAY 9, 2012 | BY 

azrul ananda Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas SepakbolaAzrul mengungkapkan rasa syukurnya karena liga basket yang ia bentuk sejak di Surabaya sudah besar seperti sekarang. DBL sekarang menjangkau lebih dari 27.000 peserta dengan 1.500 tim dari Aceh sampai Papua. “Saat itu, hal ini dimaksudkan untuk mendukung penjualan koran Jawa Pos. Tapi, ternyata cukup booming dan mendapat dukungan besar dari berbagai kalangan, khususnya anak muda. Dari Jawa Timur, DBL berhasil mengekspansi seluruh Indonesia. Tahun 2012,” kata Azrul di tengah-tengah pertandingan liga antarsekolah yang digelar di Gelora Pemuda, Bulungan, Jakarta, Rabu (09/05/2012).

Presiden Direktur Grup Jawa Pos ini berani mengklaim DBL merupakan liga terbesar nomer dua di Indonesia setelah sepakbola. Azrul optimistis pada tahun ini, liga ini berhasil menjangkau 700.000 penonton. “Ini akan menjadi liga pertama selain sepakbola yang menghadirkan sejuta penonton dalam waktu dekat,” kata Azrul.

Boleh dibilang DBL ini cukup fenomenal. DBL memiliki cikal bakal dari rubrik DeTeksi, kolom khusus anak muda besutan Jawa Pos. DBL dulunya merupakan singkatan dari DetEksi Basketball Leaque dan dimulai pada tahun 2004. Dari Surabaya, DBL berekspansi ke kota-kota lain. Pada tahun 2009, DBL berekspansi sampai Australia yang mana Tim pura DBL Indonesia All-Star 2009 memenangi pertandingan dengan menaklukkan tim Western Australia. Pada tahun 2010, singkatan DBL berganti menjadi Development Basketball League. Perubahan nama ini sebagai langkah penting untuk mencapai misi DBL, yakni mengembangkan konsep atlit pelajar yang tidak hanya mengembangkan sisi olahraganya, tapi juga kepribadian dan profesionalitas.

DBL Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas Sepakbola“Ini kami buat karena waktu itu tidak ada event untuk anak muda yang digelar secara konsisten. Mereka hanya berhantung pada satu sponsor. Kalau hanya satu sponsor, mereka tergantung pada kebutuhan pemasaran merek tersebut. Nah, kami lain, pada tahun 2008, kami membentuk PT DBL Indonesia yang mengelola event ini secara penuh fulltime. Event ini jalan terus walaupun mungkin tanpa sponsor,” tandas Azrul.

Dengan PT sendiri, DBL bisa fokus menggarap tim dan penontonnya, termasuk sistem merchandising. Tak heran bila di pertandingan ada suvenir-suvenir khas DBL, seperti sepatu Azrul Ananda. “Kami juga berhasil mengambil liga profesional seperti NBL Indonesia. Kami juga membentuk liga khusus perempuan dengan nama WNBL Indonesia. Ini produk-produk kami yang kami kelola secara perusahaan,” imbuh Azrul.

Azrul menambahkan DBL berhasil memasarkan olahraga yang selama ini digerakkan kalangan ekonomi sosial AB menjadi yang disukai masyarakat, khususnya anak muda. “Menurut survei yang kami lakukan bersama Astra Honda Motor, untuk remaja usia 13-17 tahun, basket merupakan olahraga nomer satu di atas sepak bola. Masa depan basket sangat cemerlang dan bisa jadi nantinya mengalahkan sepakbola,” tandas Azrul.\

sumber : http://the-marketeers.com

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (3)

Menikmati Gaya dan Orang Belanja di Kota Mode Dunia Milan

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2012
boks
JUJUKAN FASHIONISTA: Jalan Montenapoleone yang menjadi tempat berlangsungnya Milan Fashion Week pekan depan. FOTO ARIYANTI K.R./JPNN

Susuri Jalan Milan Fashion Week, Lupa Putari Bull’s Ball
Selain sepak bola, Milan dikenal karena fashion-nya. Bahkan, Milan sering disebut sebagai salah satu ibu kota fashion dunia. Berada di sana selama dua hari, kami menjadi tahu bagaimana sebutan itu bisa tersemat di kota yang masuk wilayah Lambordy, Italia, tersebut.
Laporan Ariyanti K.R., MILAN

Begitu menjejakkan kaki keluar terminal subway Metro kuning di Duomo siang itu (8/9), saya bersama Ivo Ananda, fashion police rubrik Jawa Pos For Her, langsung disuguhi pemandangan bak keramaian pasar. Banyak orang berlalu lalang dengan tentengan tas belanja berbagai ukuran. Berjalan ke kiri, ada gerai label United Colors of Benetton. Empat lantai gerai itu menyajikan kebutuhan berbeda. Bawah tanah untuk anak-anak, satu perempuan, dua laki-laki, dan tiga aksesori.

Melangkah ke seberang, ada butik Zara. Pengunjungnya juga ramai. Di kasir minimal selalu ada sepuluh orang yang mengantre hingga toko tutup pukul 20.00. Tren baju-baju bertema army dan celana panjang dengan ritsleting di samping bawah memang menarik minat.

Keluar dari situ, teruslah melintasi Corso Vittorio Emanuele tersebut. Ratusan outlet dengan brand populer berjajar. Levi’s, Guess, H&M, hingga merek lokal mengisi deretan toko yang sebagian besar merupakan bangunan klasik Italia itu.

Masih belum puas berbelanja baju, sepatu, tas, dan pernik-pernik fashion di situ, segeralah bergegas ke Galleria Vittorio Emanuele II yang letaknya tak sampai sepuluh menit berjalan kaki. Bangunan yang menjadi tempat shopping model arcade (gedung berlorong tertutup atap) itu sangat ikonis, elegan, dan berkelas.     Selesai didirikan pada 1877, Galleria yang menjadi jalan penghubung dua landmark Kota Milan, Piazza Duomo dan gedung opera Teatro Alla Scala, itu ditutup atap kaca berkombinasi dengan besi. Lantainya marmer bermozaik. Brand luxury seperti Prada, Gucci, dan Louis Vuitton berada di Galleria.

Di tempat itu juga tersebar kafe-kafe ternama dengan menu khas Italia. Sekali makan di situ, satu orang dengan porsi biasa appetizer oven baked dan  main course steak serta air mineral, harga yang dibayar sekitar Rp600 ribu. Wow! Harga makan di situ memang lebih mahal daripada tempat lain di Milan. Tetapi, itu pantas dengan kebanggaan bisa nongkrong di tempat prestisius tersebut.

Milan Fashion Week merupakan even mode yang sangat bergengsi. Di seluruh dunia hanya ada empat fashion week besar yang menjadi acuan tren mode. Skedulnya dimulai dari New York Fashion Week, kemudian London, selanjutnya Milan, serta berakhir di Paris. Dan, peragaan koleksi Prada sebagai brand ternama Italia selalu menjadi bagian pertunjukan yang paling dinanti.

Banyaknya turis yang datang membuat kami kesulitan menilai style warga setempat. Namanya turis sedang berbelanja di musim panas, gayanya nyaris seragam. Kasual dengan sepatu flat, celana pendek atau jins panjang, dengan atasan kaus. Yang penting nyaman. Camilla Stech, seorang SPG (sales promotion girl), juga mengatakan sebagai perempuan Milan, dia merasa kondisi yang tercipta di sekeliling membuatnya harus selalu gaya.

’’Di sini kami bisa melihat perkembangan fashion terkini. Seminggu sekali saya pasti jalan ke shopping mall untuk melihat apa yang menjadi tren. Tentu tidak semua bisa terbeli. Tetapi, saya menjadi pintar mix and match. Kalau mau aman, ya pakai saja dress warna hitam yang timeless,” kata perempuan 27 tahun itu.

Ucapan perempuan tersebut ada benarnya. Berada di subway Metro, baik pagi maupun malam, kami bisa dengan mudah menemukan perempuan dengan dandanan chic menenteng tas bermerek. Beberapa di antara mereka menambahkan syal untuk atribut gaya. Ankle boot, stiletto, hingga flat shoes modis menjadi pelengkap penampilan.

Perjumpaan Milan dengan fashion, baju, dan industri tekstil dimulai sejak akhir abad ke-19. Awalnya, industri fashion di sana menjiplak desain fashion papan atas Paris. Namun, tak lama kemudian, Milan mengembangkan gaya sendiri. Kota yang menjadi markas tim sepak bola AC Milan itu mulai memunculkan namanya pada dekade 1970 dan 1980-an, membuatnya makin prestisius pada 1990-an, dan pada 2000-an resmi menjadi salah satu di antara big four kota fashion dunia.

Tak semua jalan terkenal di Milan bisa kami singgahi dalam waktu sesingkat itu. Misalnya, kami tak sempat melakukan ’’ritual” memutari gambar Bull’s Ball di Galleria Vittorio Emanuele. Menurut kepercayaan warga di sana, jika ’’ritual’’ itu dilakukan, dipercaya membuat kita bisa kembali ke Milan dan bernasib baik. Bull’s Ball adalah sebuah mozaik batu bergambar kerbau dengan sebuah lubang tepat berada di testikelnya.

Meski tak menjalani ’’ritual” itu, kami tetap berharap bisa datang ke sana lagi. Sebab, aktivitas dunia fashion di Milan memang nikmat untuk dijelajahi. Dengan segala yang terjadi di dalamnya, Milan layak menjadi pusat mode dunia.

Apalagi, pemerintah Italia punya kebijakan goods and services tax (GST) refund. Pajak barang yang dibeli bisa dikembalikan saat kita akan meninggalkan bandara negeri pemilik Menara Pisa itu. Ow, siapa yang tak mau. Pemerintah Italia biasanya menetapkan pajak 20 persen untuk banyak hal. Bagi penduduk non-Uni Eropa, pajak itu akan dikembalikan lagi.

Syarat utama pembelian minimal harus sebesar 154,94 euro (Rp1,9 juta) dalam satu waktu di satu toko. Selain itu, barang yang dibeli untuk keperluan pribadi, diangkut dalam bagasi sendiri, harus diperiksa oleh petugas pabean, dan maksimal tiga bulan sesudah pembelian sudah harus dibawa keluar Uni Eropa. (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (2)

SELASA, 11 SEPTEMBER 2012
 

 

 

 

TOKO 100 TAHUN PLUS: Azrul Ananda (kiri) dan Agung Kurniawan di depan Rossignoli, toko sepeda di Milan yang berdiri sejak tahun 1900. FOTO JPNN

Usia Sudah 70 Tahun, Seminggu Hanya Bikin Dua Frame
Di Milan, ada toko sepeda yang sudah berdiri sejak 1900. Banyak pula artisan (seniman) sepeda yang namanya superkondang di seluruh penjuru dunia.
Laporan Azrul Ananda, MILAN

Kalau suka sepeda, sama dengan otomotif, nama-nama paling eksotis datang dari Italia. Kalau di dunia mobil ada Ferrari dan Lamborghini, di dunia sepeda ada Colnago, Pinarello, Cinelli, dan lain sebagainya.

Nah, kalau berkunjung ke Milan, ada kesempatan untuk mengunjungi langsung bengkel, pabrik, atau markas merek-merek ternama itu. Banyak di antara mereka yang letaknya di Milan atau di sekitar Milan.

Sebut saja Colnago, yang berpusat di Cambiano, di utara Milan, di dekat sirkuit Formula 1 Monza. Lalu ada De Rosa, Cinelli, dan lain-lain. Kalau seniman sepeda, nama yang kondang, antara lain, Masi. Kalau kita perhatian, merek-merek itu sudah tidak asing lagi di Indonesia. Banyak produk tersebut yang berseliweran di jalanan kita. Jika di Milan, tempat mereka berasal bisa dikunjungi secara langsung dengan relatif mudah.

Ketika tiba di Milan, sebagai penggemar sepeda, salah satu yang dicari pertama adalah toko sepeda. Searching di berbagai sumber, ada satu nama yang selalu muncul duluan. Yaitu, Rossignoli.

Usut punya usut, itu toko sepeda tua luar biasa. Berdiri sejak 1900. Jadi, sudah seratus tahun lebih eksis! Letaknya juga tidak berubah, selalu di kawasan Garibaldi. Itu masih di tengah Kota Milan. Kalau mau ke sana, tinggal naik subway jalur hijau, turun di Garibaldi atau lebih dekat lagi di Moscova.

Menemukan toko itu memang mudah. Tanya orang di sekitar stasiun, banyak yang tahu letaknya. Begitu tiba, toko tersebut langsung terlihat  ’’uzurnya”. Papan tulisan ’’Rossignoli” di depan dibiarkan memudar.

Apa isinya? Jangan mengharapkan sepeda-sepeda high-end yang harganya ajaib. Itu sebenarnya toko sepeda biasa untuk semua kalangan. Mau sepeda harga ribuan euro? Ada. Mau sepeda merek Rossignoli harga 200 euro (sekitar Rp2,4 juta)? Juga ada. Mau pesan sepeda custom sesuai bentuk dan ukuran badan kita? Juga bisa.

Dari begitu banyak sepeda (kebanyakan tipe urban) yang berkeliaran di jalanan Milan, sangat besar kemungkinan kita melihat yang bermerek Rossignoli.

Serunya, sepeda bekas juga banyak digantung di langit-langit toko. Sebuah sepeda balap Rossignoli edisi 1970-an, misalnya, dilego “hanya” 800 euro. Sebuah Pinarello KOBH (Dogma K) bekas edisi Team Sky, yang di Indonesia populer luar biasa, dijual  ’’hanya’’ 3.000-an euro.

Tokonya memang tidak besar. Seperti kebanyakan toko sepeda standar di Indonesia. Tapi, kalau jalan ke belakang, ada workshop, gudang, dan kantornya. Selama di Rossignoli, kami ditemani Matias Rossignoli, salah satu keturunan pendiri toko. Ya, toko itu masih terus dikelola keluarga secara turun-temurun. Sampai generasi keempat!

”Itu paman saya, itu juga cucu, itu keluarga yang lain,” kata Matias Rossignoli dengan menunjuk orang-orang yang bekerja di sekeliling toko. Iseng, saya tanya apakah bisa dibantu dibuatkan sepeda balap custom. Matias langsung mengajak saya ke workshop di belakang bersama seorang stafnya, Giovanni. Mereka pun langsung mengukur tinggi badan, panjang kaki, tangan, dan lain-lain.

Sebagai bahan informasi, tinggi saya 176 cm. Dengan inseam (jarak dari dasar lantai ke selangkangan) 82 cm. “Kamu ukuran 54. Kamu pakai stem 11 cm,” katanya. Kayaknya itu sangat akurat, sepeda saya di Indonesia kebanyakan memang berukuran 54, dan saya paling nyaman pakai stem 11 cm!

Matias lantas berjanji mengirim e-mail pilihan-pilihan spesifikasi sepeda. Bayangan saya, kalau tidak ketemu barang asyik di Milan, saya pesan saja sepeda balap klasik dari bahan steel (baja) di Rossignoli.

Dari toko utama itu, di sebelahnya ada lagi toko bernama “Rossignoli”. Isinya jualan pakaian dan aksesori bersepeda. Juga pakaian dan aksesori motor. “Ini pasti saudara yang lain,” kata saya dalam hati.

Rossignoli termasuk berkesan. Tapi, lebih berkesan lagi saat menuju Vigorelli Velodrome. Di sanalah tempat Alberto Masi bekerja membuat sepeda.

Untuk penggemar sepeda, nama Masi sangatlah familier. Khususnya di kalangan penggemar sepeda fixed gear (fixie) dan classic. Banyak sekali sepeda merek itu yang dijual di Indonesia. Harganya tidak supermahal, walau juga tidak murah.

Meski demikian, tidak banyak yang tahu bahwa merek Masi itu sudah pecah dua. Masi yang kebanyakan beredar bukanlah Masi yang ’’sebenarnya”. Bukan, bukan berarti palsu. Sama-sama asli. Tetapi, Masi yang satu sudah jadi ’’Masi industri”, sedangkan yang orisinal masih dibuat satu per satu sendiri oleh orang yang bernama Alberto Masi di Milan.

Ceritanya cukup panjang dan rumit. Pada 1950-an dan 1960-an Faliero Masi menjadi kondang berkat sepeda yang dia buat untuk para legenda balap. Seperti Eddy Merckx, Jacques Anquetil, Fiorenzo Magni, dan lain sebagainya.

Pada 1972 Faliero pindah ke Amerika Serikat sekaligus menjual hak nama Masi kepada investor di sana. Harapannya, mereka bisa mengembangkan perusahaan. Kenyataannya, Faliero tidak betah di California. Ingin pulang ke Italia.

Lanjut cerita, entah bagaimana detailnya, terjadi perselisihan yang tak bisa diselesaikan. Faliero, yang menurunkan kemampuan istimewanya kepada sang anak, Alberto, kemudian terus membuat sepeda-sepeda secara eksklusif untuk para klien. Toh, para klien itu tetap ingin sepeda yang dibuat oleh orang bernama Masi. Bukan sekadar merek Masi.

Alhasil, kini ada dua merek Masi. Yakni, yang produksi masal dari Amerika (dan diklaim oleh Alberto Masi berkualitas lebih buruk karena dibuat murni untuk bisnis) serta yang dibuat satu per satu oleh keluarga Masi di laboratoria (bengkel) mereka di Vigorelli.

Faliero sendiri meninggal di usia 93 tahun pada Desember 2000. Alberto, kini 70 tahun, masih bekerja di Vigorelli bersama beberapa asisten.

Konsekuensi hukum dari perselisihan itu: Dua-duanya boleh bikin sepeda merek Masi. Hanya, bengkel di Vigorelli tidak boleh menjual buatan mereka di Amerika dengan menggunakan nama tersebut. Kalau mau berjualan ke Negeri Paman Sam, mereka pakai merek Milano V3.

Beberapa klien kondang yang sekarang masih pesan sepeda di situ adalah Miguel Indurain, Greg LeMond, serta beberapa legenda balap lain dari era 1980-an dan awal 1990-an.

Nah, kalau ingin mengunjungi langsung Alberto Masi, saat ini masih sangat mungkin dilakukan. Vigorelli Velodrome sudah tidak lagi dipakai, tapi lokasinya mungkin menarik untuk dihampiri karena kedekatannya dengan tempat kondang lain: San Siro.

Kalau naik subway, turunnya di kawasan San Siro. Jalan kaki kira-kira 2 kilometer, sampailah kita di Vigorelli. Bengkel Masi, yang ada di situ sejak 1950-an, juga gampang didapati. Di ujung jalan, ada jersey warna pink (simbol juara sepeda di Italia) yang ditempel ke papan dengan tulisan “Masi” serta bendera Italia. Lalu, ada panah yang menunjukkan arah kita harus berjalan.  Tidak jauh dari situ, terlihatlah bengkel yang menempel di sisi velodrom tersebut. Tidak ada penanda mewah.

Saya dan rekan Agung Kurniawan mengunjungi Masi Kamis pagi (6/9), sekitar pukul 09.00. Rencananya, dari Masi, baru akan ke Sirkuit Monza untuk meliput hari persiapan Grand Prix Italia.

Pagi itu, ketika tiba di bengkel Masi, alangkah terkejutnya kami. Hanya ada satu orang yang sedang bersiap bekerja, memasangkan celemek. Dia adalah Alberto Masi sendiri!

Melihat kami dan setelah kami jelaskan (pakai bahasa Inggris) bahwa kami berasal dari Indonesia, dia memberi tanda pakai tangan untuk menunggu sesaat. Rupanya, dia tidak bisa bahasa Inggris dan meminta kami untuk menunggu beberapa menit. Rekannya akan datang untuk membantu menerjemahkan.

Sambil menunggu, dia bekerja membuat sepeda dan kami dipersilakan menikmati isi bengkel. Foto-foto dan melihat-lihat. Tempat yang kami kunjungi itu benar-benar “bengkel”. Tidak ada sepeda yang dijual, tidak ada aksesori yang dijual. Beberapa sepeda dipajang bukan untuk dijual, melainkan sebagai contoh atau penanda sejarah.

Sebuah sepeda bertulisan “Faema” merupakan yang dibanggakan. Itulah sepeda yang dipakai Eddy Merckx meraih kesuksesan pada 1968. Dan sepeda itu bukan untuk dijual!

Tidak lama, datanglah Romano Raptetti, salah satu asisten Alberto. Kami lantas berbincang dengan Alberto via Raptetti sebagai penerjemah. Percakapan sangat santai dan penuh canda. Alberto orangnya agak diam, tapi celetukannya lucu, sementara Raptetti dasarnya suka bercanda.

Alberto rupanya meneruskan passion ayahnya soal sepeda dari bahan baja. Sang ayah dulu ekstrem, bilang steel or nothing. “Bahan-bahan lain itu tak ada gunanya. Tujuan mereka hanya untuk cari uang.” Begitu komentar Faliero Masi dulu.

Alberto Masi agak beda. Baginya, steel tetap yang terbaik. Dengan kualitas bahan dan penggarapan, ia akan lebih abadi. Ada beberapa contoh frame rusak di bengkelnya, semua terbuat dari kombinasi karbon dan aluminium.

Kata mereka, dua bahan itu sebenarnya tak boleh dipadukan. Mereka seperti air dan minyak. “Seperti Mike Tyson melawan George Foreman,” tandas mereka.

Ditambahkan pula, bahan aluminium juga kurang oke. ’’Buat balapan, aluminium tidak bagus,” komentar mereka. Kami bertanya, berapa sepeda bisa dibuat Pak Masi dalam seminggu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pesan dari dia?

’’Biasanya pesanan bisa dipenuhi dalam 50 hari. Seminggu bisa bikin sekitar dua frame. Tetapi, bergantung situasi. Kalau lagi banyak pesanan, bisa lebih lama. Bulan Juli lalu, misalnya, ada orang Jepang yang pesan sepuluh frame,” jelas Alberto.

Alberto Masi menegaskan, barang garapannya orisinal. Bukan Masi yang dimassalkan. Dan kalau dipikir, memang tidak mungkin ada banyak barang yang beredar. Dijelaskan, dia tidak mungkin membuat lebih dari 800 frame per tahun.

Jadi, kalau ada yang menawari sepeda merek Masi di Indonesia, tanyakan kepastiannya. Itu berasal dari perusahaan Masi di Amerika atau buatan Masi di Vigorelli. Kalau buatan tangan Alberto Masi, ada tanda tangannya di top tube, di dekat sadel.

Harga buatan Alberto Masi juga tidak gila-gilaan. Di kisaran Rp25 juta-Rp40 juta untuk frame (bisa lebih kalau speknya lebih rumit dan kualitas bahan lebih tinggi).

Nah, itu bikin saya benar-benar tertarik. Buatan tangan Alberto Masi punya nilai masa depan. Alberto pun mengukur badan saya untuk membuatkan frame ukuran custom. Dia mengukur sendiri (dengan dibantu Raptetti) dan mencatat sendiri spek yang kami sepakati dengan tulisan tangan. Tidak ada komputer di bengkelnya di Vigorelli.

Ukuran saya? Kata Alberto, saya panjang di badan, relatif pendek di kaki, tapi dengan tapak kaki yang panjang (ukuran 46). “Kaki kamu semua panjangnya di telapak,” kelakarnya.

Jadi, saran dia adalah ukuran 54 cm dengan panjang top tube 545-550 cm. Plus stem 11,5 cm. Alberto ingin pemesan benar-benar puas. Semua detail dia tanyakan. Lekukan di bagian atas fork (garpu depan), warna yang benar-benar pas, warna tulisan, bentuk tulisan, dan lain sebagainya.

Ketika ada tambahan detail lagi, keesokannya Alberto sendiri yang menghubungi ponsel saya. Lewat Raptetti lagi, dia ingin memastikan sebuah spek yang saya inginkan. Dan memang, meski punya e-mail, Alberto lebih suka komunikasi via old school. Ya lewat telepon.

Sepeda buatan tangan Alberto Masi itu –kalau nanti selesai dan dikirim ke Indonesia– akan jadi kenang-kenangan paling orisinal dari Milan!  (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id