Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Letters to Commissioner Edisi Juli 2012
Dari: Stella N.
Email: space4_stella@yahoo.com

Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Dear Commissioner,

Saya ingin bertanya. Musim lalu adalah musim perdana WNBL Indonesia. Nah, apa sih syarat bagi sebuah klub untuk mengikuti WNBL? Saya ingin sekali membentuk klub basket wanita yang bisa berkompetisi di level WNBL. Terima kasih banyak, Mas Azrul. Semoga basket Indonesia makin jaya!

Dear Stella,

Sebelum kami menjalankan WNBL, ketika berembug dengan Pak Anggito Abimanyu, ketua umum PP Perbasi, kami sepakat bahwa barrier (halangan) untuk membentuk tim harus dibuat seminimal mungkin. Dalam artian, syarat dipermudah, biaya dipermurah, dan lain sebagainya. Karena misinya adalah menghidupkan lagi liga perempuan yang ketika itu sudah empat tahun hilang.

Dan itulah yang kami lakukan pada 2012, sehingga terjadilah musim perdana WNBL.

Namun, walau sudah dipermudah, tetap saja sulit bagi tim untuk berpartisipasi. Satu, biaya. Dua, jumlah pemain yang minimal. Sulit melengkapi lima tim, apalagi sepuluh tim, yang kualitasnya layak disebut sebagai liga perempuan tertinggi di Indonesia.

Untuk ke depan, kami harus lebih hati-hati dalam menerima tim baru. Apalagi, sekarang sudah terbentuk Dewan Komisaris WNBL Indonesia yang beranggotakan tim-tim yang ada, plus saya sebagai commissioner dan wakil dari PP Perbasi.

Semoga WNBL bisa menggairahkan lagi minat di liga perempuan, sehingga kelak makin banyak tim bisa terbentuk secara sehat dan punya masa depan yang sustainable.

——————-

Dari: Andreas Bordes
Email: andreasbordes@gmail.com

Akun Twitter Commissioner

Dear Commissioner,

Apa kabar Mas Azrul? Surat saya ini sangat singkat, tapi saya yakin mampu mewakili pertanyaan banyak fans basket di luar sana. Kenapa sih Mas Azrul tidak membuat account Twitter? Pasti akan lebih mudah dan menyenangkan bagi kami untuk memberi masukan atau ide untuk kemajuan basket tanah air. 🙂 Salam basket Indonesia!

Dear semua yang penasaran sama akun twitter saya:

Mohon maaf, saya tidak punya akun twitter, dan tidak punya rencana punya akun twitter. Facebook pun sudah tidak lagi aktif selama bertahun-tahun. Mohon semua memahami, bahwa menjadi commissioner, sesibuk apa pun, bukanlah satu-satunya pekerjaan saya. Punya handphone satu saja rasanya sudah kebanyakan untuk membalas telepon dan pesan yang masuk. Tapi ini bukan berarti saya tidak mau mendengar masukan. Saya terus aktif meraba-raba apa kira-kira yang dibutuhkan agar basket kita terus maju. Dan harus maju dengan cara yang benar. Saya terus mendengar (dengan cara saya sendiri), membaca (di mana pun), dan terus berusaha belajar dari pengalaman di negara-negara lain.

Dan dengan demikian, waktu saya bisa dipakai untuk melakukan action. Kan doing lebih baik daripada talking…

——————-

Dari: @doniikurniawan

Setiap tahun, Championship Series-nya di kota berbeda dong, biar semua bisa ngerasain atmosfer Championship. #DearCommissioner

Dear Doni,

Tentu kami ingin menyelenggarakan NBL di sebanyak mungkin kota, menyapa sebanyak mungkin tim dan fans. Tapi harus dipahami, khusus untuk Championship Series, ada syarat-syarat tertentu yang tidak bisa dipenuhi banyak kota. Pertama, harus ada basis fans yang kuat. Tidak harus untuk satu tim. Minimal, kota itu harus punya gairah yang bagus dalam menyambut sebuah even akbar. Kedua, harus ada gedung yang memadai. Nah, ini syarat yang paling berat. Kita lihat saja, di Surabaya tahun 2011 benar-benar penuh sesak. Di Jogjakarta pun, dengan gedung yang berkapasitas lebih besar, tetap penuh sesak. Semoga ini membuat kota-kota lain bergairah dan membangun fasilitas yang benar-benar mampu menjadi tuan rumah sebuah Championship Series NBL Indonesia.

——————-

Dari: @gerrykrisnata11

Bikin sistem supaya pemain bintang menyebar di setiap klub, jadi calon juara sulit diprediksi. #DearCommissioner

Dear Gerry,

Ini bukan hanya impian Anda. Ini juga impian kami sebagai penyelenggara. Dan ini juga –percaya atau tidak– impian tim-tim peserta. Saat ini, walau popularitas NBL terus meroket, kami tetap harus menyentuh bumi. Liga ini masih bayi. Baru dua musim. Jadi harus tertata baik dulu fondasinya sebelum bisa mengembangkan yang lainnya. Sabar, itu akan terjadi!

Advertisements

Bikin Akademi Basket Indonesia

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Most Valuable Letter Edisi Juli 2012
Bikin Akademi Basket Indonesia
Dari: Adjie Nugroho
Email: adjiengrh98@gmail.com

Bikin Akademi Basket Indonesia

Dear Commissioner,

Saya punya saran nih untuk memajukan basket indonesia di level dunia. Bagaimana kalau dibikin semacam akademi basket Indonesia (bukan klub basket). Akademi itu diberi nama: Indonesian Basketball Academic League. Pelatih-pelatih muda dipilih untuk menggembleng training harian peserta, sementara pelatih asing kita manfaatkan untuk men-drill peserta menjelang kompetisi (bila ada). Sekian dulu masukan dari saya. Maju basket Indonesia!

Dear Adjie,

Terima kasih usulannya. Setiap kali saya ke luar negeri melihat sistem pengembangan basket, rasanya selalu jadi iri. Kenapa di Indonesia tidak ada yang bikin seperti itu. Kami dari DBL Indonesia tentu sangat ingin punya fasilitas gedung latihan berisi delapan lapangan, plus fasilitas gym lengkap, dan lain sebagainya. Tapi kami bukan pemerintah!

Dari dulu, kami juga ingin punya akademi yang bukan sekolah basket maupun klub. Saya tegaskan: Saya tidak pernah punya klub basket dan tidak akan pernah punya klub basket. Bakat dan expertise kami adalah di management liga. Semoga bisa terwujud ya!

Logo Nomor 1 Baru untuk 2011

 Monday, 17 January 2011 07:17 WIB

                   EMPAT KALI. Jorge Lorenzo, Azrul Ananda dan Ellen Tansil usai wawancara ekslusif di Hotel Marriot Surabaya, kemarin (16/1). 

EMPAT KALI. Jorge Lorenzo, Azrul Ananda dan Ellen Tansil usai wawancara ekslusif di Hotel Marriot Surabaya, kemarin (16/1).

Jorge Lorenzo sudah empat kali ini datang di Indonesia. Namun, kali ini dia jadi ‘atraksi utama,’ sebagai seorang juara dunia. Bagaimana rasanya? Seperti apa MotoGP 2011 dan 2012 nanti?

Berikut petikan wawancara khusus Azrul Ananda dengan pembalap Spanyol tersebut di Surabaya kemarin (16/1).

Kesempatan eksklusif ini terwujud berkat Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) dan Surya Timur Sakti Jatim (STSJ), yang mendatangkan sang world champion ke Indonesia.

Selamat datang lagi di Indonesia. Sudah empat kali Anda datang ke sini, jadi Anda tentu sudah familiar dengan segalanya. Seperti apa rasanya kunjungan ini sejauh ini?
Ini memang sudah kali keempat saya ke Indonesia. Saya selalu merasa nyaman, merasa senang berada di sini. Karena ini negara yang sangat indah, banyak hijaunya, dan orang-orangnya selalu tersenyum. Memberi kita feeling yang sangat baik.
Rasanya saya seperti lebih terkenal di sini daripada di Spanyol. Itu sulit dipercaya!
Benar lebih terkenal? Apakah ada negara lain di mana Anda merasa sama terkenalnya dengan di Spanyol? Selain Indonesia?

Mungkin Spanyol tetap negara tempat saya paling terkenal. Di sini (Indonesia) yang kedua. Lalu negara seperti Italia dan Inggris setelah itu. Yang jelas, sulit dipercaya betapa besar passion orang di sini untuk MotoGP.

Anda sudah mengunjungi sejumlah kota di Indonesia, tapi ini kali pertama di Surabaya. Apa pendapat Anda sejauh ini?

Well, saya mendarat langsung datang ke hotel ini (tempat wawancara kemarin, red), jadi saya belum sempat lihat-lihat kota. Tapi saya sudah diberi informasi, dan saya belajar sedikit tentang kota ini. Saya diberi tahu ini kota terbesar kedua. Enam juta penduduknya?
Surabaya dan sekitarnya hampir sembilan juta.
Sembilan juta? Jadi ini hampir empat kali lipat Barcelona (Spanyol, red) tempat saya tinggal.
Kalau begitu Anda bisa lebih punya banyak penggemar di sini daripada di Barcelona.
Ya, saya rasa begitu!

Ini kali pertama Anda datang ke sini sebagai juara dunia. Sebelumnya, Valentino Rossi biasanya juga ke sini. Jadi, baru tahun ini Anda datang sebagai atraksi utama. Bagaimana rasanya datang sebagai atraksi utama?

Well, selalu senangnya datang sebagai bintang untuk merek legendaris seperti Yamaha. Valentino (Rossi) bagi saya selalu seperti cerita besar. Karena ketika masuk MotoGP, saya hampir tidak tahu apa-apa. Jadi bersaing dengan dia, dan ketika sebelum masuk MotoGP banyak menonton balapannya, saya banyak belajar dari dia. Dan saya terus belajar, karena dia tahu begitu banyak hal.
Saya selalu ingin belajar dari pembalap lain, karena pembalap lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki.

You know, datang ke sini sebagai atraksi utama untuk number one brand seperti Yamaha memberi kepuasan tersendiri. Saya bangga bisa merasakannya.
Sekarang mari bicara MotoGP. Tahun lalu Anda juara dunia, meraup begitu banyak poin (387 poin, red). Tapi, sejumlah orang bilang Anda mendapat sedikit bantuan, karena Valentino cedera, lalu Dani Pedrosa cedera, dan Casey Stoner tidak maksimal. Bagaimana pendapat Anda tentang itu, dan apa menurut Anda yang akan berubah di 2011?

Normal kalau ada orang yang masih bicara seperti itu. Normalnya, orang-orang yang bicara seperti itu adalah penggemar Valentino atau penggemar Pedrosa. Normal bila orang-orang itu selalu mencari-cari alasan supaya bisa bilang kalau saya tidak layak mendapatkan gelar.

Tapi ingat, 2009 adalah tahun kedua saya di MotoGP, tahun pertama memakai ban Bridgestone, dan saya mampu bersaing dengan Valentino untuk memperebutkan gelar.
Pada 2010 saya pikir kami lebih siap. Kami lebih punya keunggulan. Jadi ketika Valentino mengalami kecelakaannya, kami sudah memimpin cukup jauh di klasemen. Dan ketika Dani (Pedrosa) mengalami kecelakaan karena masalah motor, saya sudah memimpin klasemen sebanyak 50 poin.

Jadi, kecelakaan-kecelakaan (pesaing) itu mungkin membantu kami merebut gelar juara dunia. Tapi tanpa kecelakaan-kecelakaan itu pun saya yakin masih akan menjadi juara dunia.

Anda sangat percaya diri?
Bukan, ini bukan sekadar percaya diri. Saya pikir memang begitu. Mungkin saja berbeda, karena kita tidak akan bisa memprediksi masa depan. Tapi saya rasa begitu.
Bagaimana menurut Anda tentang 2011. Siapa yang menurut Anda bakal menjadi ancaman utama. Casey Stoner dengan motor barunya (Honda, red) atau Valentino Rossi dengan motor barunya (Ducati, red)?

Saya pikir kami layak menjadi juara dunia 2010. Tapi 2011 adalah dunia yang berbeda. Akan ada kejuaraan baru dan semua orang akan mengawalinya dengan poin nol. Jadi tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Karena masa depan adalah masa depan. Tidak ada yang tahu akan seperti apa.
Kita akan mencoba memberikan yang terbaik. Yamaha akan mencoba untuk membuat motor lebih baik, saya akan mencoba untuk meng-improve cara membalap saya, bersama kami akan mencoba memberikan yang maksimal.

Brand dan pembalap lain akan melakukan hal yang sama, jadi (2011) akan menyuguhkan persaingan yang sangat kompetitif. Banyak pembalap bisa bersaing berebut kemenangan.
Mari melihat lebih jauh lagi ke depan, ke 2012. Karena MotoGP akan menggunakan motor 1.000 cc. Anda belum pernah merasakan 1.000 cc, karena ketika Anda masuk MotoGP (pada 2008) regulasinya sudah 800 cc.

Apakah Anda akan mendapatkan disadvantage pada 2012? Karena pada 2012 Anda masih akan membalap untuk Yamaha.
Ya, beberapa orang bilang bahwa pembalap yang datang dari kelas 250 cc ke MotoGP 800 cc mendapat sedikit keuntungan. Karena motor 800 cc butuh dikendarai dengan gaya seperti 250 cc.

Tapi saya pikir, pembalap yang bisa cepat naik 125 cc dan 250 cc juga bisa cepat naik MotoGP. Memang ada bedanya. Motor 125 cc punya tenaga kurang, 250 cc sedikit lebih bertenaga, dan MotoGP jauh lebih bertenaga. Tapi semuanya tetap memakai dua roda dan satu mesin!

Jadi kalau kita bisa cepat naik satu motor, kita bisa cepat naik semua motor.
Apa yang Anda butuhkan lebih baik dari motor Yamaha (YZR M1) untuk bisa kembali menjadi juara pada 2011 dan 2012?

Well, I love my bike. Dan Yamaha adalah motor yang lebih kompetitif dalam tiga tahun terakhir, dan kami mampu merebut triple crown. Bukan hanya gelar juara pembalap, tapi juga konstruktor dan tim.

Tapi brand yang lain bekerja sangat keras, mereka mampu mendekat di setiap lomba, di setiap tahun. Jadi untuk terus mempertahankan posisi sebagai nomor satu kita harus terus bekerja. Lebih keras dan lebih keras.
Saya pikir, satu hal yang harus kami perbaiki adalah power yang dihasilkan mesin. Kami butuh sedikit lebih banyak lagi tenaga.

Sekarang mari bicara soal kelakuan-kelakuan antik Anda di setiap akhir lomba. Anda punya begitu banyak show untuk penggemar. Siapa yang muncul dengan ide-ide itu. Apakah Anda, atau Anda punya tim yang bertemu untuk melakukan sesuatu bila menang?
Ha ha ha. Bagi saya, sangatlah penting untuk melakukan sesuatu yang berbeda setelah setiap kemenangan atau setelah setiap lomba. Kalau kita memenangi sebuah lomba, kita harus merayakannya seperti telah meraih sesuatu yang sangat penting.

Sangatlah sulit untuk memenangi sebuah lomba. Jadi kita harus melakukan sesuatu untuk mengenang lomba tersebut dan mencoba menikmatinya bersama penonton.
Saya mulai melakukan selebrasi (unik) mulai 2007. Berlanjut sampai sekarang. Bagi saya, yang paling saya nikmati adalah balapan di Jerez (Spanyol) pada 2010, saat saya melompat ke dalam danau.

Kadang, idenya muncul begitu saja di kepala saya. Saya harus punya selebrasi, jadi saya harus terus memikirkannya. Kadang orang-orang di sekeliling saya, teman-teman saya, turut bekerja untuk mengembangkan lagi ide-ide itu. Yang paling sulit adalah untuk benar-benar mewujudkannya.

Anda punya ciri khas bendera Lorenzo’s Land (ditancapkan setelah meraih kemenangan di satu tempat, menandai penaklukkan suatu wilayah, red). Apa yang terjadi kalau Anda sudah meraih kemenangan di semua sirkuit yang ada di dunia. Setelah itu apa? Apakah Anda akan punya filosofi baru atau ide baru? Bendera yang berbeda?
Anda tahu kan, ketika kita berhasil menaklukkan sebuah negara (dalam sebuah lomba), kita hanya menikmatinya untuk dua pekan. Setelah itu kita tidak memilikinya lagi, dan harus menaklukkannya lagi di tahun berikutnya.

Baik, ini pertanyaan terakhir saya, setelah itu ada dua lagi pertanyaan dari penggemar (yang menitipkan pertanyaan via JTV, red). Pertanyaan terakhir saya: Apakah Anda akan membalap di tahun 2011 memakai nomor 1 (tanda juara dunia, red), atau tetap memakai nomor 99?
Seratus persen akan membalap pakai nomor 1.
(Lanjutan). Seperti apa nomor satunya? Desainnya? Karena nomor 99 Anda didesain merah dan putih (satu setan, satu malaikat).

Saya tidak bisa menjelaskannya. Karena dalam satu pekan atau lebih sedikit, kami akan meluncurkan (desain) nomor 1 itu. Dalam satu pekan atau lebih itu kita akan melihatnya.
(Desain) itu sangat spesial, sangat beda. Ada kaitannya dengan nama saya. Dengan “Jorge Lorenzo.” Jadi Anda akan lihat nanti.

OK, sekarang dua titipan pertanyaan dari pemirsa JTV. Yang pertama dari Sigit di Madiun. Pertanyaannya, kalau Anda menghadapi lomba di lintasan basah (hujan). Apa tantangan utama yang harus Anda atasi sebelum start?

Yang paling utama adalah rasa takut. Karena kita tahu kondisi permukaan sangatlah berbahaya. Kita harus sangat smooth. Karena kalau kita agresif maka motor akan banyak bergerak dan kita akan celaka dengan mudah.

Jadi, pertama-tama kita harus melepaskan rasa takut. Hanya berpikir untuk menikmati mengendarai motor. Harus sangat hati-hati, harus sangat konsentrasi. Lalu mencoba mengambil line (jalur, red) yang sama di setiap tikungan. Karena kalau kita membuat kesalahan di satu jalur atau satu tikungan, kita akan celaka dengan mudah.
Balapan di sirkuit basah itu seperti art (seni, red).

Pertanyaan terakhir ini dari Hadi di Kediri. Kalau Anda di Indonesia untuk balapan. Kalau Anda ikut road race di Indonesia menggunakan motor-motor jalanan yang ada di Indonesia. Apakah Anda merasa bisa akan menang seperti di MotoGP?
Saya yakin pasti akan finis paling belakang! Karena mereka di sini crazy!

(Kalau balapan) mereka pasti punya lebih banyak pengalaman dari saya. Kalau saya hanya punya dua atau tiga hari persiapan, saya pasti tidak kompetitif.
Mereka pasti akan crazy dan selalu membalap seratus persen! Mungkin mereka semua akan mengalahkan saya, atau mereka semua kecelakaan dan memberi saya kemenangan! (*)

sumber : http://radarcirebon.com

TAK MULUK-MULUK TETAPKAN TARGET

National Basketball League 2012-2013

Gugum Rachmat Gumilar

Minggu,  25 November 2012  −  00:33 WIB

Tak muluk-muluk tetapkan target

Sindonews.com – Kejuaraan bola basket tertinggi di tanah air, Speedy National Basketball League (NBL) Indonesia kembai digelar untuk musim kompetisi 2012-2013. Penyelenggara kejuaraan mengklaim hal ini sebagai keberhasilan ditengah terpuruknya prestasi olahraga dalam negeri.

Comissioner NBL sekaligus Direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia Azrul Ananda mengatakan, di awal penyelenggaraan, pihaknya tidak menyangka kompetisi ini bisa bertahan hingga tahun ketiga. Bahkan di setiap musim, NBL selalu menunjukkan peningkatan kualitas kejuaraan.

“Saya tidak menyangka kejuaraan ini bisa survive sampai sejauh ini, bertahan hingga musim ke tiga. Bahkan selama penyelenggaraannya, saya melihat banyak hal yang diluar dugaan. Termasuk kesimpulan bahwa tidak ada liga lain, selain tentunya sepak bola, yang penontonnya bisa seheboh ini. Apa lagi jika melihat penonton di Bandung dan Surabaya, luar biasa. Itu pencapaian di tahun-tahun sebelumnya yang tentu harus kami tingkatkan di penyelenggaraan selanjutnya,” ujarnya.

Meski terus menunjukkan kemajuan di setiap tahun penyelenggaraannya, ujar Azrul, pihaknya tidak menetapkan target tinggi di perhelatan tahun ini. Termasuk dengan pencapaian yang ingin dihasilkan dalam NBL tahun ini. Sebagai langkah awal meningkatkan prestasi bola basket nasional, ajang ini hanya menargetkan tingginya partisipasi masyarakat Indonesia terhadap olahraga basket. Jika keikutsertaan khalayak sudah membludak, ujar Azrul, maka prestasi basket dalam negeri secara otomatis akan meningkat.

“Memang menjadi cita-cita kami agar basket Indonesia bisa menjadi raja di Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Tapi itu butuh proses. Untuk saat ini, cukup menargetkan bagaimana caranya agar banyak yang nonton basket, termasuk NBL. Sehingga nantinya banyak juga yang bermain baskt. Jika sudah seperti itu, dengan melimpahnya jumlah masyarakat Indonesia, masa tidak ada satu orang saja yang bisa seperti Michael Jordan,” tuturnya.

Azrul mengaku optimistis pamor basket di Indonesia terus meningkat. Terlebih, berbagai kejuaraan olahraga ini selalu mengedepankan profesionalisme. Hal itu merupakan imbas dari minimnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk berbagai kegiatan bola basket.

“Basket itu semuanya swasta. Mulai dari kejuaraan hingga timnasnya pun dibiayai sendiri, karena tidak ada kucuran dana dari pemerintah. Tapi justru dengan anggaran dari pihak swasta melalui sistem sponsor, semua harus dilakukan dengan profesional. Ini yang membuat bola basket terus meningkat perkembangannya. Bahkan beberapa survey mengatakan, bahwa basket saat ini menjadi olahraga kedua di Indonesia setelah sepakbola. Di tahun-tahun mendatang, bukan tidak mungkin kami menjadi nomor satu di negeri ini,” kata Azrul.

sumber : http://sports.sindonews.com

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

Kamis, 20 Oktober 2011 17:28 WIB

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Seluruh tim peserta liga basket tertinggi di tanah air telah menyerahkan susunan ofisial dan pemainnya untuk kompetisi National Basketball League (NBL) Indonesia musim 2011-2012 yang akan mulai bergulir 10 Desember.

Tercatat ada puluhan rookie yang akan mengawali kariernya di musim reguler liga basket tertinggi Indonesia ini. Seitar 31 wajah baru akan berebut gelar pendatang baru terbaik. Itu belum termasuk barisan pemain yang memperkuat dua tim baru, Pacific Caesar Surabaya dan NSH GMC Riau.

Kebanyakan pemain muda itu telah menunjukkan kemampuan mereka saat Preseason Tournament di Malang, 23 September hingga 2 Oktober lalu. Dua yang paling menonjol adalah Arki Dikania Wisnu dari Satria Muda Britama Jakarta dan Herman “Wewe” Lo dari Nuvo CLS Knights Surabaya.

Banyaknya bintang muda ini dianggap sebagai pertanda baik untuk masa depan basket Indonesia. “Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum era NBL Indonesia, gairah di arena basket bisa dibilang redup. Tidak banyak tim berinvestasi untuk membina bintang-bintang masa depan basket Indonesia. Sekarang, setelah sukses musim perdana, gairah itu sangat terasa di NBL Indonesia 2011-2012,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.

“Fondasi yang baik ini bukan hanya untuk setahun ke depan. Ini baik untuk bertahun-tahun ke depan,” tambahnya.

Bella Erwin Harahap, ketua Dewan Komisaris NBL Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perbasi, merasa yakin hadirnya para pemain muda itu akan membuat basket Indonesia semakin mantap melangkah.

“Banyaknya wajah baru ini bukti bahwa regenerasi telah berjalan. Kompetisi menjadi lebih enak dinikmati dengan tenaga-tenaga muda tersebut. Kita semua jadi punya lebih banyak pilihan untuk mencari pemain-pemain masa depan tim nasional Indonesia,” ujar Ade Bella, sapaan akrabnya.

Musim reguler NBL Indonesia 2011-2012 terdiri atas enam seri. Pembukanya di Bandung, 10-18 Desember, berlanjut ke Solo, Denpasar, Palembang, Surabaya, dan Jakarta. Delapan dari 12 tim terbaik lantas lolos ke Championship Series, yang dijadwalkan berlangsung di Jogjakarta pada April 2012.

sumber : http://www.tribunnews.com

Komisioner NBL berharap olahraga Indonesia lekas privatisasi

Sabtu, 12 Januari 2013 05:20 WIB

NBL (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) – Komisioner Liga Bola Basket Nasional (NBL), Azrul Ananda mengharapkan dunia olahraga di Indonsia lekas mengalami privatisasi secara meluas dan bukan hanya bola basket.

“Jadi sebenarnya di Indonesia ini kan olahraga itu bisa dibilang campur tangan pemerintah sudah tidak terlalu penting, makanya saya harap ada cara supaya olahraga kita itu cepat lebih banyak diambil alih oleh swasta,” kata Azrul di Jakarta, Jumat (11/1).

Azrul mencontohkan bagaimana kompetisi bola basket yang ia kelola akhirnya menarik perhatian pemerintah dan kemudian otoritas olahraga terkait menawarkan dirinya untuk mengambil alih dan menjalankan liga.

Ia mengatakan, bahwa dalam kompetisi yang ia jalankan bisa dikatakan tidak sedikitpun terdapat campur tangan dari pemerintah.

“NBL Indonesia ini kan nol dari pemerintah, dikelola secara swasta, klub-klubnya juga dikelola secara swasta. Hampir tidak ada uang pemerintah dan kita baik-baik saja,” ujar Azrul

Lebih lanjutan Azrul menyebutkan bahwa dalam olahraga, kucuran dana dari pemerintah untuk bergulirnya liga seharusnya tidak lagi dibutuhkan.

“Yang kita butuhkan dari pemerintah bukan dukungan finansial, tetapi stabilitas, jaminan dan `support` moral sehingga memberi kami ruang cukup untuk bekerja,” ujar dia.

Ia mengharapkan pemerintah melalui otoritas olahraga secara spesifik ataupun Kementerian Pemuda dan Olahraga, tidak mengambil kebijakan yang mempersulit ataupun membebani pihak swasta dalam mengelola olahraga.

Azrul tak berhenti hanya berbicara pada tataran bola basket dan olahraga umum, ia sedikit memberi komentar tentang bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia saat ini baik secara kompetisi maupun secara kepengurusan.

Azrul mengatakan bahwa sepak bola pada masanya sempat mengalami privatisasi sebagaimana bola basket saat ini, yaitu di masa Galatama. Lantas, pergeseran dan pembesaran makna sepak bola dalam kehidupan masyarakat ikut mengubah nasib persepakbolaan di Indonesia.

“Tapi kemudian ini menjadi sebuah komoditas politik, dan ini tidak bisa dielakkan. Ada beberapa pemimpin daerah yang saya temui mengatakan sepakbola itu punya peran sebagai kontrol sosial,” kata dia.

Azrul mengakui dapat memahami sudut pandang kontrol sosial tersebut, meskipun kemudian mempertanyakan apa jadinya ketika olahraga dibiarkan menjadi besar dan masih merasakan campur tangan pemerintah.

“Ketika uang pemerintah, yang mungkin kita bisa katakan tak terbatas, bercampur baur dengan olahraga maka mereka tak bisa lagi melihat atap. Pada saat itulah berbondong-bondong orang ingin ikut ke sana, dan `bermain` di dalamnya,” tutur Azrul.

Oleh karena itu, Azrul kembali menawarkan solusi yaitu memprivatisasi pengelolaan sepak bola. Meskipun, ia juga ragu dengan keinginan dan kemauan berbagai pihak yang terlibat dalam sepak bola.

“Kalau sekarang sistem sepak bola mulai dari nol lagi, kita kembangkan lagi dari dasar seperti basket ini, apakah mereka mau susah lagi? Ya pertanyaannya bukan sesusah apa nantinya, tapi apakah mau susah?” kata dia.

“Karena sepak bola ini sudah terlalu tinggi, tuntutan pemainnya sudah terlalu tinggi, tuntutan timnya sudah terlalu tinggi, tuntutan macem-macemnya itu sudah terlalu tinggi. Jadi kalo harus `direset` kembali untuk memulai dari titik yang paling sehat, mau nggak,” ujar dia.

Selain itu, ia bersyukur bahwa dalam dunia bola basket lebih mudah menemukan rekan-rekan swasta yang memiliki kesamaan visi bahkan kesamaan semangat sebagai pemuda.

“Akhirnya enak, kita bekerjasama, kebanyakan swasta, kebanyakan muda-muda lagi, dan kebanyakan tidak berafiliasi dengan pemerintah. Itu advantage basket menurut saya,” ujar dia menutup perbincangan. (G006)
Editor: B Kunto Wibisono

sumber : http://www.antaranews.com

Prestasi = Ongkos, Partisipasi = Income, oleh Azrul Ananda

Oktober 17, 2009 by mainbasket

Setelah “mendapat” pencerahan dari Malcolm Gladwell pada posting gw yang ke-500, posting-an selanjutnya rupanya tak kalah menggugah. Datang dari penggagas dan pemimpin liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Azrul Ananda. (Head Coach Nuvo CLS Knights Surabaya, Simon Wong bahkan pernah mengatakan bahwa menurutnya, Deteksi Basketball League adalah liga basket pelajar terbesar di dunia!)

DBL Australia Games

DBL Australia Games Logo

Prestasi adalah ongkos. Partisipasi adalah income. Kalau terus dipacu, partisipasi bisa mengongkosi prestasi.

Hari ini (17/10), pertandingan basket penting diselenggarakan di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya. Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009, yang terdiri atas pemain-pemain SMA pilihan dari 15 provinsi di Indonesia, bertanding melawan wakil Australia, Darwin Basketball Association (DBA) U-18.

Sejak Senin, 12 Oktober lalu, kedua kubu sudah berkumpul di Surabaya, menjalani serangkaian pertandingan pemanasan dan acara. Puncaknya sore ini, bertanding di ajang DBL Australia Games 2009.

Bagi DBL Indonesia, pertandingan ini merupakan alat ukur dari sebuah eksperimen besar. Yaitu membentuk “tim nasional junior” lewat jalur kompetisi yang konsisten dan konsekuen.

Tahun ini, total ada 18.739 peserta yang mengikuti Honda DBL 2009 di 16 kota, 15 provinsi di Indonesia. Semua harus menuruti aturan ketat dari konsep student athlete. Harus baik di sekolah. Tidak naik kelas, berarti tidak boleh ikut. Di Jawa Timur, kalau nilai mata pelajaran utama di bawah 6, tidak boleh main.

Dari situ, dipilihlah 160 pemain terbaik (80 putra, 80 putri), untuk ikut Indonesia Development Camp 2009. Pada 16-18 Agustus lalu, mereka berlatih bersama pemain dan pelatih NBA. Saat itu, 50 pelatih terbaik DBL juga menimba ilmu.

Di akhir camp itulah, dipilih 12 pemain putra, 12 pemain putri, dan lima pelatih untuk masuk DBL Indonesia All-Star 2009. Ada yang datang dari Palembang, dari Bandung, Pontianak, Surabaya, Bali, sampai Papua. Ada yang bilang, ini adalah “timnas junior swasta.” Bagi kami, terserah mau disebut apa. Kami juga mengakui, pemain-pemain ini mungkin belum tentu benar-benar yang terbaik di Indonesia. Mungkin masih banyak pemain yang lebih hebat tersembunyi atau tersebar.
Namun, bagi kami, tim ini sangat penting, karena dipilih melalui sebuah sistem besar. Lewat kompetisi yang standar dasarnya sama dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar lewat pantauan pemandu bakat atau ditemukan secara tidak sengaja.

Dan meski belum tentu pemain terbaik, bagi kami mereka adalah student athlete terbaik. Ingat, mereka belum tentu menjadi atlet basket. Mungkin, kelak mereka akan jauh lebih berguna bagi kita semua dalam hal-hal di luar basket.
Nanti, ketika DBL terus berkembang ke lebih banyak provinsi, lalu ketika lebih banyak anak berpartisipasi di setiap provinsi, maka akan semakin banyak anak yang bisa “dipilih” untuk basket.

Secara teori, nantinya akan semakin mudah menemukan bintang-bintang basket. Selama ini mereka mungkin sudah ada, tapi tidak terlihat karena tidak berpartisipasi di kompetisi yang tertata.
Tapi itu teori. Kalau tidak pernah dijalani atau dicoba, ya selamanya hanya akan menjadi teori.

***

DBL Australia Games

Tidak mudah membentuk tim seperti DBL Indonesia All-Star 2009. Tentu saja tidak murah. Karena harus menyelenggarakan even di mana-mana dengan skala besar. Cara lebih murah mungkin ya dengan mencari bakat ke sana ke mari. Dikumpulkan, lalu melatih mereka untuk membentuk tim. Selama ini, mungkin inilah yang sudah dilakukan.

Menurut saya, cara ini tentu baik-baik saja. Hanya saja, mungkin ini bukanlah cara yang baik untuk jangka panjang. Bagi saya, ini juga bukan cara yang sustainable. Untuk efektif, dengan cara ini kita butuh keberuntungan, menemukan pemain berbakat yang mencuat sedikit-sedikit di sana-sini. Mungkin ada anak petani yang tingginya 216 cm, tapi harus dilatih dulu bermain basket. Mungkin ada anak hutan yang bisa berlari supercepat, tapi tak pernah bermain basket.

Cara terbaik, menurut saya, tetap lewat kompetisi. Yang standarnya sama di sana-sini. Mungkin lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk menemukan bintang. Tapi, cara ini juga menyedot tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi. Tingginya partisipasi adalah kunci sukses prestasi masa depan yang sustainable.

Bagi saya, Indonesia sekarang tidak perlu ngotot mengejar prestasi olahraga. Fondasinya belum cukup kuat untuk itu.
Bagi Indonesia, saat ini prestasi adalah ongkos. Jadi bukan sekadar fondasi yang belum cukup kuat, kemampuan mengongkosi juga belum ada. Paling tidak, kemampuan untuk mengongkosi secara efektif.

Sebaliknya, partisipasi adalah income. Bukan sekadar pemasukan uang. Juga pemasukan bakat dan tetek bengek yang lain.
Semakin banyak partisipasi, semakin hidup pula industrinya. Lebih banyak yang beli bola, lebih banyak yang beli sepatu olahraga, semakin banyak yang beli tiket nonton even olahraga. Semakin banyak partisipasi, seperti sudah disinggung di atas, semakin banyak pula bakat yang bisa dipilih untuk mengejar prestasi di tingkat lebih tinggi.

Kelak, ketika partisipasi sudah sangat tinggi, partisipasi itulah yang mengongkosi prestasi. Bukan pemerintah, bukan sumbangan, bukan orang-orang kaya gila, dan bukan sponsor secara langsung.

Yang jadi pertanyaan sekarang: Maukah kita melupakan prestasi untuk lima tahun ke depan, lalu fokus mengejar partisipasi?

***

DBL Australia Games

Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bukan hanya melawan tim muda Darwin. Senin, 19 Oktober nanti, tim ini terbang ke Perth, melawan tim muda Australia Barat.

Pertandingan di Perth bukanlah pertandingan baru. Tahun lalu, tim DBL Indonesia All-Star 2008 sudah pernah bermain di sana.

Pertandingan di DBL Arena Surabaya hari ini merupakan sejarah penting. Sebab, untuk kali pertama DBL Indonesia All-Star bertanding di negeri sendiri.

DBL Indonesia sendiri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Darwin Basketball Association (DBA) Australia. Sama seperti DBL Indonesia, DBA ini juga swasta yang self-sustain.

Jadi, pertandingan ini lebih dari sekadar negara lawan negara. Melainkan pertandingan people to people. Baik DBL Indonesia maupun DBA sama sekali tidak mendapat pemasukan dari pemerintah untuk mengembangkan diri dan mengirim tim ke luar negeri.

Dan mereka lawan yang tepat. Mereka adalah alat ukur yang paling baik untuk “timnas swasta/eksperimen Indonesia.”

Di Australia, dan negara-negara maju lain, sistem pengembangannya sudah begitu tertata. Fondasinya begitu kuat. Tidak butuh menemukan pemain berbakat. Semua orang bisa dilatih dengan baik, lalu menjadi pemain yang hebat.
Partisipasi tinggi, infrastruktur komplet, kompetisi lancar.

Kita? Sampai sekarang masih harus memikirkan partisipasi. Infrastruktur pun mungkin belum dipikir. Kompetisi amburadul.
Saya kadang berpikir, andai duit olahraga ratusan miliar (atau lebih) yang selama ini digunakan untuk prestasi itu distop. Lalu digunakan untuk membangun banyak infrastruktur olahraga, maka partisipasi akan langsung naik. Dua masalah terjawab sekaligus, dan dari sana tinggal melangkah mencari prestasi.

Dan kita tidak perlu gedung yang bagus-bagus. Yang penting ada tempat olahraga yang komplet. Tak perlu Gedung Taj Mahal, tapi perlu banyak gedung Tak Mahal.

***
Hari ini, tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bakal menghadapi DBA Australia.
Siapa bakal menang? Hari ini, pertandingan tim putra tampaknya bakal berlangsung seru dan menghibur. Tim DBA Australia punya postur lebih tinggi, namun tim DBL Indonesia lebih lincah dan merata. Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena (tampaknya bakal ribuan orang), jangan lewatkan duel ini.

Pertandingan putri? Peluang tim DBL Indonesia termasuk berat. Tim DBA punya dua pemain hebat, Tamara Sheppard dan Claire O’Bryan. Keduanya dalam waktu dekat pindah ke Amerika, mengejar mimpi main di liga paling bergengsi dunia, WNBA.
Meski peluang berat, saya yakin tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 akan memberikan yang terbaik.
Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena, saya minta tolong untuk terus menyemangati mereka. Kita bukan hanya menyemangati mereka untuk tampil kompetitif atau mengejar kemenangan. Kita menyemangati mereka karena merekalah fondasi masa depan.

Kalau banyak yang bersorak menyemangati mereka, maka akan banyak pemain muda lain yang bertambah semangat untuk menjadi seperti mereka. Dan seperti “hukum partisipasi” yang saya sampaikan di atas: Semakin banyak yang ikut, semakin banyak pilihan, semakin kuatlah tim yang dihasilkan.

Sorakan semangat hari ini mungkin tidak akan membuahkan kemenangan hari ini juga.Sorakan semangat hari ini, siapa tahu, akan membuahkan gelar juara dunia basket untuk Indonesia pada 2030 nanti!

Masih lama memang, tapi harus dimulai dari sekarang. Dan yang diperlukan hanyalah berpartisipasi dalam bentuk sorakan! (*)

sumber : https://mainbasket.wordpress.com