Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Letters to Commissioner Edisi Juli 2012
Dari: Stella N.
Email: space4_stella@yahoo.com

Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Dear Commissioner,

Saya ingin bertanya. Musim lalu adalah musim perdana WNBL Indonesia. Nah, apa sih syarat bagi sebuah klub untuk mengikuti WNBL? Saya ingin sekali membentuk klub basket wanita yang bisa berkompetisi di level WNBL. Terima kasih banyak, Mas Azrul. Semoga basket Indonesia makin jaya!

Dear Stella,

Sebelum kami menjalankan WNBL, ketika berembug dengan Pak Anggito Abimanyu, ketua umum PP Perbasi, kami sepakat bahwa barrier (halangan) untuk membentuk tim harus dibuat seminimal mungkin. Dalam artian, syarat dipermudah, biaya dipermurah, dan lain sebagainya. Karena misinya adalah menghidupkan lagi liga perempuan yang ketika itu sudah empat tahun hilang.

Dan itulah yang kami lakukan pada 2012, sehingga terjadilah musim perdana WNBL.

Namun, walau sudah dipermudah, tetap saja sulit bagi tim untuk berpartisipasi. Satu, biaya. Dua, jumlah pemain yang minimal. Sulit melengkapi lima tim, apalagi sepuluh tim, yang kualitasnya layak disebut sebagai liga perempuan tertinggi di Indonesia.

Untuk ke depan, kami harus lebih hati-hati dalam menerima tim baru. Apalagi, sekarang sudah terbentuk Dewan Komisaris WNBL Indonesia yang beranggotakan tim-tim yang ada, plus saya sebagai commissioner dan wakil dari PP Perbasi.

Semoga WNBL bisa menggairahkan lagi minat di liga perempuan, sehingga kelak makin banyak tim bisa terbentuk secara sehat dan punya masa depan yang sustainable.

——————-

Dari: Andreas Bordes
Email: andreasbordes@gmail.com

Akun Twitter Commissioner

Dear Commissioner,

Apa kabar Mas Azrul? Surat saya ini sangat singkat, tapi saya yakin mampu mewakili pertanyaan banyak fans basket di luar sana. Kenapa sih Mas Azrul tidak membuat account Twitter? Pasti akan lebih mudah dan menyenangkan bagi kami untuk memberi masukan atau ide untuk kemajuan basket tanah air. 🙂 Salam basket Indonesia!

Dear semua yang penasaran sama akun twitter saya:

Mohon maaf, saya tidak punya akun twitter, dan tidak punya rencana punya akun twitter. Facebook pun sudah tidak lagi aktif selama bertahun-tahun. Mohon semua memahami, bahwa menjadi commissioner, sesibuk apa pun, bukanlah satu-satunya pekerjaan saya. Punya handphone satu saja rasanya sudah kebanyakan untuk membalas telepon dan pesan yang masuk. Tapi ini bukan berarti saya tidak mau mendengar masukan. Saya terus aktif meraba-raba apa kira-kira yang dibutuhkan agar basket kita terus maju. Dan harus maju dengan cara yang benar. Saya terus mendengar (dengan cara saya sendiri), membaca (di mana pun), dan terus berusaha belajar dari pengalaman di negara-negara lain.

Dan dengan demikian, waktu saya bisa dipakai untuk melakukan action. Kan doing lebih baik daripada talking…

——————-

Dari: @doniikurniawan

Setiap tahun, Championship Series-nya di kota berbeda dong, biar semua bisa ngerasain atmosfer Championship. #DearCommissioner

Dear Doni,

Tentu kami ingin menyelenggarakan NBL di sebanyak mungkin kota, menyapa sebanyak mungkin tim dan fans. Tapi harus dipahami, khusus untuk Championship Series, ada syarat-syarat tertentu yang tidak bisa dipenuhi banyak kota. Pertama, harus ada basis fans yang kuat. Tidak harus untuk satu tim. Minimal, kota itu harus punya gairah yang bagus dalam menyambut sebuah even akbar. Kedua, harus ada gedung yang memadai. Nah, ini syarat yang paling berat. Kita lihat saja, di Surabaya tahun 2011 benar-benar penuh sesak. Di Jogjakarta pun, dengan gedung yang berkapasitas lebih besar, tetap penuh sesak. Semoga ini membuat kota-kota lain bergairah dan membangun fasilitas yang benar-benar mampu menjadi tuan rumah sebuah Championship Series NBL Indonesia.

——————-

Dari: @gerrykrisnata11

Bikin sistem supaya pemain bintang menyebar di setiap klub, jadi calon juara sulit diprediksi. #DearCommissioner

Dear Gerry,

Ini bukan hanya impian Anda. Ini juga impian kami sebagai penyelenggara. Dan ini juga –percaya atau tidak– impian tim-tim peserta. Saat ini, walau popularitas NBL terus meroket, kami tetap harus menyentuh bumi. Liga ini masih bayi. Baru dua musim. Jadi harus tertata baik dulu fondasinya sebelum bisa mengembangkan yang lainnya. Sabar, itu akan terjadi!

Advertisements

Bikin Akademi Basket Indonesia

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Most Valuable Letter Edisi Juli 2012
Bikin Akademi Basket Indonesia
Dari: Adjie Nugroho
Email: adjiengrh98@gmail.com

Bikin Akademi Basket Indonesia

Dear Commissioner,

Saya punya saran nih untuk memajukan basket indonesia di level dunia. Bagaimana kalau dibikin semacam akademi basket Indonesia (bukan klub basket). Akademi itu diberi nama: Indonesian Basketball Academic League. Pelatih-pelatih muda dipilih untuk menggembleng training harian peserta, sementara pelatih asing kita manfaatkan untuk men-drill peserta menjelang kompetisi (bila ada). Sekian dulu masukan dari saya. Maju basket Indonesia!

Dear Adjie,

Terima kasih usulannya. Setiap kali saya ke luar negeri melihat sistem pengembangan basket, rasanya selalu jadi iri. Kenapa di Indonesia tidak ada yang bikin seperti itu. Kami dari DBL Indonesia tentu sangat ingin punya fasilitas gedung latihan berisi delapan lapangan, plus fasilitas gym lengkap, dan lain sebagainya. Tapi kami bukan pemerintah!

Dari dulu, kami juga ingin punya akademi yang bukan sekolah basket maupun klub. Saya tegaskan: Saya tidak pernah punya klub basket dan tidak akan pernah punya klub basket. Bakat dan expertise kami adalah di management liga. Semoga bisa terwujud ya!

TAK MULUK-MULUK TETAPKAN TARGET

National Basketball League 2012-2013

Gugum Rachmat Gumilar

Minggu,  25 November 2012  −  00:33 WIB

Tak muluk-muluk tetapkan target

Sindonews.com – Kejuaraan bola basket tertinggi di tanah air, Speedy National Basketball League (NBL) Indonesia kembai digelar untuk musim kompetisi 2012-2013. Penyelenggara kejuaraan mengklaim hal ini sebagai keberhasilan ditengah terpuruknya prestasi olahraga dalam negeri.

Comissioner NBL sekaligus Direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia Azrul Ananda mengatakan, di awal penyelenggaraan, pihaknya tidak menyangka kompetisi ini bisa bertahan hingga tahun ketiga. Bahkan di setiap musim, NBL selalu menunjukkan peningkatan kualitas kejuaraan.

“Saya tidak menyangka kejuaraan ini bisa survive sampai sejauh ini, bertahan hingga musim ke tiga. Bahkan selama penyelenggaraannya, saya melihat banyak hal yang diluar dugaan. Termasuk kesimpulan bahwa tidak ada liga lain, selain tentunya sepak bola, yang penontonnya bisa seheboh ini. Apa lagi jika melihat penonton di Bandung dan Surabaya, luar biasa. Itu pencapaian di tahun-tahun sebelumnya yang tentu harus kami tingkatkan di penyelenggaraan selanjutnya,” ujarnya.

Meski terus menunjukkan kemajuan di setiap tahun penyelenggaraannya, ujar Azrul, pihaknya tidak menetapkan target tinggi di perhelatan tahun ini. Termasuk dengan pencapaian yang ingin dihasilkan dalam NBL tahun ini. Sebagai langkah awal meningkatkan prestasi bola basket nasional, ajang ini hanya menargetkan tingginya partisipasi masyarakat Indonesia terhadap olahraga basket. Jika keikutsertaan khalayak sudah membludak, ujar Azrul, maka prestasi basket dalam negeri secara otomatis akan meningkat.

“Memang menjadi cita-cita kami agar basket Indonesia bisa menjadi raja di Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Tapi itu butuh proses. Untuk saat ini, cukup menargetkan bagaimana caranya agar banyak yang nonton basket, termasuk NBL. Sehingga nantinya banyak juga yang bermain baskt. Jika sudah seperti itu, dengan melimpahnya jumlah masyarakat Indonesia, masa tidak ada satu orang saja yang bisa seperti Michael Jordan,” tuturnya.

Azrul mengaku optimistis pamor basket di Indonesia terus meningkat. Terlebih, berbagai kejuaraan olahraga ini selalu mengedepankan profesionalisme. Hal itu merupakan imbas dari minimnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk berbagai kegiatan bola basket.

“Basket itu semuanya swasta. Mulai dari kejuaraan hingga timnasnya pun dibiayai sendiri, karena tidak ada kucuran dana dari pemerintah. Tapi justru dengan anggaran dari pihak swasta melalui sistem sponsor, semua harus dilakukan dengan profesional. Ini yang membuat bola basket terus meningkat perkembangannya. Bahkan beberapa survey mengatakan, bahwa basket saat ini menjadi olahraga kedua di Indonesia setelah sepakbola. Di tahun-tahun mendatang, bukan tidak mungkin kami menjadi nomor satu di negeri ini,” kata Azrul.

sumber : http://sports.sindonews.com

Komisioner NBL berharap olahraga Indonesia lekas privatisasi

Sabtu, 12 Januari 2013 05:20 WIB

NBL (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) – Komisioner Liga Bola Basket Nasional (NBL), Azrul Ananda mengharapkan dunia olahraga di Indonsia lekas mengalami privatisasi secara meluas dan bukan hanya bola basket.

“Jadi sebenarnya di Indonesia ini kan olahraga itu bisa dibilang campur tangan pemerintah sudah tidak terlalu penting, makanya saya harap ada cara supaya olahraga kita itu cepat lebih banyak diambil alih oleh swasta,” kata Azrul di Jakarta, Jumat (11/1).

Azrul mencontohkan bagaimana kompetisi bola basket yang ia kelola akhirnya menarik perhatian pemerintah dan kemudian otoritas olahraga terkait menawarkan dirinya untuk mengambil alih dan menjalankan liga.

Ia mengatakan, bahwa dalam kompetisi yang ia jalankan bisa dikatakan tidak sedikitpun terdapat campur tangan dari pemerintah.

“NBL Indonesia ini kan nol dari pemerintah, dikelola secara swasta, klub-klubnya juga dikelola secara swasta. Hampir tidak ada uang pemerintah dan kita baik-baik saja,” ujar Azrul

Lebih lanjutan Azrul menyebutkan bahwa dalam olahraga, kucuran dana dari pemerintah untuk bergulirnya liga seharusnya tidak lagi dibutuhkan.

“Yang kita butuhkan dari pemerintah bukan dukungan finansial, tetapi stabilitas, jaminan dan `support` moral sehingga memberi kami ruang cukup untuk bekerja,” ujar dia.

Ia mengharapkan pemerintah melalui otoritas olahraga secara spesifik ataupun Kementerian Pemuda dan Olahraga, tidak mengambil kebijakan yang mempersulit ataupun membebani pihak swasta dalam mengelola olahraga.

Azrul tak berhenti hanya berbicara pada tataran bola basket dan olahraga umum, ia sedikit memberi komentar tentang bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia saat ini baik secara kompetisi maupun secara kepengurusan.

Azrul mengatakan bahwa sepak bola pada masanya sempat mengalami privatisasi sebagaimana bola basket saat ini, yaitu di masa Galatama. Lantas, pergeseran dan pembesaran makna sepak bola dalam kehidupan masyarakat ikut mengubah nasib persepakbolaan di Indonesia.

“Tapi kemudian ini menjadi sebuah komoditas politik, dan ini tidak bisa dielakkan. Ada beberapa pemimpin daerah yang saya temui mengatakan sepakbola itu punya peran sebagai kontrol sosial,” kata dia.

Azrul mengakui dapat memahami sudut pandang kontrol sosial tersebut, meskipun kemudian mempertanyakan apa jadinya ketika olahraga dibiarkan menjadi besar dan masih merasakan campur tangan pemerintah.

“Ketika uang pemerintah, yang mungkin kita bisa katakan tak terbatas, bercampur baur dengan olahraga maka mereka tak bisa lagi melihat atap. Pada saat itulah berbondong-bondong orang ingin ikut ke sana, dan `bermain` di dalamnya,” tutur Azrul.

Oleh karena itu, Azrul kembali menawarkan solusi yaitu memprivatisasi pengelolaan sepak bola. Meskipun, ia juga ragu dengan keinginan dan kemauan berbagai pihak yang terlibat dalam sepak bola.

“Kalau sekarang sistem sepak bola mulai dari nol lagi, kita kembangkan lagi dari dasar seperti basket ini, apakah mereka mau susah lagi? Ya pertanyaannya bukan sesusah apa nantinya, tapi apakah mau susah?” kata dia.

“Karena sepak bola ini sudah terlalu tinggi, tuntutan pemainnya sudah terlalu tinggi, tuntutan timnya sudah terlalu tinggi, tuntutan macem-macemnya itu sudah terlalu tinggi. Jadi kalo harus `direset` kembali untuk memulai dari titik yang paling sehat, mau nggak,” ujar dia.

Selain itu, ia bersyukur bahwa dalam dunia bola basket lebih mudah menemukan rekan-rekan swasta yang memiliki kesamaan visi bahkan kesamaan semangat sebagai pemuda.

“Akhirnya enak, kita bekerjasama, kebanyakan swasta, kebanyakan muda-muda lagi, dan kebanyakan tidak berafiliasi dengan pemerintah. Itu advantage basket menurut saya,” ujar dia menutup perbincangan. (G006)
Editor: B Kunto Wibisono

sumber : http://www.antaranews.com

Prestasi = Ongkos, Partisipasi = Income, oleh Azrul Ananda

Oktober 17, 2009 by mainbasket

Setelah “mendapat” pencerahan dari Malcolm Gladwell pada posting gw yang ke-500, posting-an selanjutnya rupanya tak kalah menggugah. Datang dari penggagas dan pemimpin liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Azrul Ananda. (Head Coach Nuvo CLS Knights Surabaya, Simon Wong bahkan pernah mengatakan bahwa menurutnya, Deteksi Basketball League adalah liga basket pelajar terbesar di dunia!)

DBL Australia Games

DBL Australia Games Logo

Prestasi adalah ongkos. Partisipasi adalah income. Kalau terus dipacu, partisipasi bisa mengongkosi prestasi.

Hari ini (17/10), pertandingan basket penting diselenggarakan di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya. Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009, yang terdiri atas pemain-pemain SMA pilihan dari 15 provinsi di Indonesia, bertanding melawan wakil Australia, Darwin Basketball Association (DBA) U-18.

Sejak Senin, 12 Oktober lalu, kedua kubu sudah berkumpul di Surabaya, menjalani serangkaian pertandingan pemanasan dan acara. Puncaknya sore ini, bertanding di ajang DBL Australia Games 2009.

Bagi DBL Indonesia, pertandingan ini merupakan alat ukur dari sebuah eksperimen besar. Yaitu membentuk “tim nasional junior” lewat jalur kompetisi yang konsisten dan konsekuen.

Tahun ini, total ada 18.739 peserta yang mengikuti Honda DBL 2009 di 16 kota, 15 provinsi di Indonesia. Semua harus menuruti aturan ketat dari konsep student athlete. Harus baik di sekolah. Tidak naik kelas, berarti tidak boleh ikut. Di Jawa Timur, kalau nilai mata pelajaran utama di bawah 6, tidak boleh main.

Dari situ, dipilihlah 160 pemain terbaik (80 putra, 80 putri), untuk ikut Indonesia Development Camp 2009. Pada 16-18 Agustus lalu, mereka berlatih bersama pemain dan pelatih NBA. Saat itu, 50 pelatih terbaik DBL juga menimba ilmu.

Di akhir camp itulah, dipilih 12 pemain putra, 12 pemain putri, dan lima pelatih untuk masuk DBL Indonesia All-Star 2009. Ada yang datang dari Palembang, dari Bandung, Pontianak, Surabaya, Bali, sampai Papua. Ada yang bilang, ini adalah “timnas junior swasta.” Bagi kami, terserah mau disebut apa. Kami juga mengakui, pemain-pemain ini mungkin belum tentu benar-benar yang terbaik di Indonesia. Mungkin masih banyak pemain yang lebih hebat tersembunyi atau tersebar.
Namun, bagi kami, tim ini sangat penting, karena dipilih melalui sebuah sistem besar. Lewat kompetisi yang standar dasarnya sama dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar lewat pantauan pemandu bakat atau ditemukan secara tidak sengaja.

Dan meski belum tentu pemain terbaik, bagi kami mereka adalah student athlete terbaik. Ingat, mereka belum tentu menjadi atlet basket. Mungkin, kelak mereka akan jauh lebih berguna bagi kita semua dalam hal-hal di luar basket.
Nanti, ketika DBL terus berkembang ke lebih banyak provinsi, lalu ketika lebih banyak anak berpartisipasi di setiap provinsi, maka akan semakin banyak anak yang bisa “dipilih” untuk basket.

Secara teori, nantinya akan semakin mudah menemukan bintang-bintang basket. Selama ini mereka mungkin sudah ada, tapi tidak terlihat karena tidak berpartisipasi di kompetisi yang tertata.
Tapi itu teori. Kalau tidak pernah dijalani atau dicoba, ya selamanya hanya akan menjadi teori.

***

DBL Australia Games

Tidak mudah membentuk tim seperti DBL Indonesia All-Star 2009. Tentu saja tidak murah. Karena harus menyelenggarakan even di mana-mana dengan skala besar. Cara lebih murah mungkin ya dengan mencari bakat ke sana ke mari. Dikumpulkan, lalu melatih mereka untuk membentuk tim. Selama ini, mungkin inilah yang sudah dilakukan.

Menurut saya, cara ini tentu baik-baik saja. Hanya saja, mungkin ini bukanlah cara yang baik untuk jangka panjang. Bagi saya, ini juga bukan cara yang sustainable. Untuk efektif, dengan cara ini kita butuh keberuntungan, menemukan pemain berbakat yang mencuat sedikit-sedikit di sana-sini. Mungkin ada anak petani yang tingginya 216 cm, tapi harus dilatih dulu bermain basket. Mungkin ada anak hutan yang bisa berlari supercepat, tapi tak pernah bermain basket.

Cara terbaik, menurut saya, tetap lewat kompetisi. Yang standarnya sama di sana-sini. Mungkin lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk menemukan bintang. Tapi, cara ini juga menyedot tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi. Tingginya partisipasi adalah kunci sukses prestasi masa depan yang sustainable.

Bagi saya, Indonesia sekarang tidak perlu ngotot mengejar prestasi olahraga. Fondasinya belum cukup kuat untuk itu.
Bagi Indonesia, saat ini prestasi adalah ongkos. Jadi bukan sekadar fondasi yang belum cukup kuat, kemampuan mengongkosi juga belum ada. Paling tidak, kemampuan untuk mengongkosi secara efektif.

Sebaliknya, partisipasi adalah income. Bukan sekadar pemasukan uang. Juga pemasukan bakat dan tetek bengek yang lain.
Semakin banyak partisipasi, semakin hidup pula industrinya. Lebih banyak yang beli bola, lebih banyak yang beli sepatu olahraga, semakin banyak yang beli tiket nonton even olahraga. Semakin banyak partisipasi, seperti sudah disinggung di atas, semakin banyak pula bakat yang bisa dipilih untuk mengejar prestasi di tingkat lebih tinggi.

Kelak, ketika partisipasi sudah sangat tinggi, partisipasi itulah yang mengongkosi prestasi. Bukan pemerintah, bukan sumbangan, bukan orang-orang kaya gila, dan bukan sponsor secara langsung.

Yang jadi pertanyaan sekarang: Maukah kita melupakan prestasi untuk lima tahun ke depan, lalu fokus mengejar partisipasi?

***

DBL Australia Games

Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bukan hanya melawan tim muda Darwin. Senin, 19 Oktober nanti, tim ini terbang ke Perth, melawan tim muda Australia Barat.

Pertandingan di Perth bukanlah pertandingan baru. Tahun lalu, tim DBL Indonesia All-Star 2008 sudah pernah bermain di sana.

Pertandingan di DBL Arena Surabaya hari ini merupakan sejarah penting. Sebab, untuk kali pertama DBL Indonesia All-Star bertanding di negeri sendiri.

DBL Indonesia sendiri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Darwin Basketball Association (DBA) Australia. Sama seperti DBL Indonesia, DBA ini juga swasta yang self-sustain.

Jadi, pertandingan ini lebih dari sekadar negara lawan negara. Melainkan pertandingan people to people. Baik DBL Indonesia maupun DBA sama sekali tidak mendapat pemasukan dari pemerintah untuk mengembangkan diri dan mengirim tim ke luar negeri.

Dan mereka lawan yang tepat. Mereka adalah alat ukur yang paling baik untuk “timnas swasta/eksperimen Indonesia.”

Di Australia, dan negara-negara maju lain, sistem pengembangannya sudah begitu tertata. Fondasinya begitu kuat. Tidak butuh menemukan pemain berbakat. Semua orang bisa dilatih dengan baik, lalu menjadi pemain yang hebat.
Partisipasi tinggi, infrastruktur komplet, kompetisi lancar.

Kita? Sampai sekarang masih harus memikirkan partisipasi. Infrastruktur pun mungkin belum dipikir. Kompetisi amburadul.
Saya kadang berpikir, andai duit olahraga ratusan miliar (atau lebih) yang selama ini digunakan untuk prestasi itu distop. Lalu digunakan untuk membangun banyak infrastruktur olahraga, maka partisipasi akan langsung naik. Dua masalah terjawab sekaligus, dan dari sana tinggal melangkah mencari prestasi.

Dan kita tidak perlu gedung yang bagus-bagus. Yang penting ada tempat olahraga yang komplet. Tak perlu Gedung Taj Mahal, tapi perlu banyak gedung Tak Mahal.

***
Hari ini, tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bakal menghadapi DBA Australia.
Siapa bakal menang? Hari ini, pertandingan tim putra tampaknya bakal berlangsung seru dan menghibur. Tim DBA Australia punya postur lebih tinggi, namun tim DBL Indonesia lebih lincah dan merata. Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena (tampaknya bakal ribuan orang), jangan lewatkan duel ini.

Pertandingan putri? Peluang tim DBL Indonesia termasuk berat. Tim DBA punya dua pemain hebat, Tamara Sheppard dan Claire O’Bryan. Keduanya dalam waktu dekat pindah ke Amerika, mengejar mimpi main di liga paling bergengsi dunia, WNBA.
Meski peluang berat, saya yakin tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 akan memberikan yang terbaik.
Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena, saya minta tolong untuk terus menyemangati mereka. Kita bukan hanya menyemangati mereka untuk tampil kompetitif atau mengejar kemenangan. Kita menyemangati mereka karena merekalah fondasi masa depan.

Kalau banyak yang bersorak menyemangati mereka, maka akan banyak pemain muda lain yang bertambah semangat untuk menjadi seperti mereka. Dan seperti “hukum partisipasi” yang saya sampaikan di atas: Semakin banyak yang ikut, semakin banyak pilihan, semakin kuatlah tim yang dihasilkan.

Sorakan semangat hari ini mungkin tidak akan membuahkan kemenangan hari ini juga.Sorakan semangat hari ini, siapa tahu, akan membuahkan gelar juara dunia basket untuk Indonesia pada 2030 nanti!

Masih lama memang, tapi harus dimulai dari sekarang. Dan yang diperlukan hanyalah berpartisipasi dalam bentuk sorakan! (*)

sumber : https://mainbasket.wordpress.com

Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas Sepakbola

MAY 9, 2012 | BY 

azrul ananda Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas SepakbolaAzrul mengungkapkan rasa syukurnya karena liga basket yang ia bentuk sejak di Surabaya sudah besar seperti sekarang. DBL sekarang menjangkau lebih dari 27.000 peserta dengan 1.500 tim dari Aceh sampai Papua. “Saat itu, hal ini dimaksudkan untuk mendukung penjualan koran Jawa Pos. Tapi, ternyata cukup booming dan mendapat dukungan besar dari berbagai kalangan, khususnya anak muda. Dari Jawa Timur, DBL berhasil mengekspansi seluruh Indonesia. Tahun 2012,” kata Azrul di tengah-tengah pertandingan liga antarsekolah yang digelar di Gelora Pemuda, Bulungan, Jakarta, Rabu (09/05/2012).

Presiden Direktur Grup Jawa Pos ini berani mengklaim DBL merupakan liga terbesar nomer dua di Indonesia setelah sepakbola. Azrul optimistis pada tahun ini, liga ini berhasil menjangkau 700.000 penonton. “Ini akan menjadi liga pertama selain sepakbola yang menghadirkan sejuta penonton dalam waktu dekat,” kata Azrul.

Boleh dibilang DBL ini cukup fenomenal. DBL memiliki cikal bakal dari rubrik DeTeksi, kolom khusus anak muda besutan Jawa Pos. DBL dulunya merupakan singkatan dari DetEksi Basketball Leaque dan dimulai pada tahun 2004. Dari Surabaya, DBL berekspansi ke kota-kota lain. Pada tahun 2009, DBL berekspansi sampai Australia yang mana Tim pura DBL Indonesia All-Star 2009 memenangi pertandingan dengan menaklukkan tim Western Australia. Pada tahun 2010, singkatan DBL berganti menjadi Development Basketball League. Perubahan nama ini sebagai langkah penting untuk mencapai misi DBL, yakni mengembangkan konsep atlit pelajar yang tidak hanya mengembangkan sisi olahraganya, tapi juga kepribadian dan profesionalitas.

DBL Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas Sepakbola“Ini kami buat karena waktu itu tidak ada event untuk anak muda yang digelar secara konsisten. Mereka hanya berhantung pada satu sponsor. Kalau hanya satu sponsor, mereka tergantung pada kebutuhan pemasaran merek tersebut. Nah, kami lain, pada tahun 2008, kami membentuk PT DBL Indonesia yang mengelola event ini secara penuh fulltime. Event ini jalan terus walaupun mungkin tanpa sponsor,” tandas Azrul.

Dengan PT sendiri, DBL bisa fokus menggarap tim dan penontonnya, termasuk sistem merchandising. Tak heran bila di pertandingan ada suvenir-suvenir khas DBL, seperti sepatu Azrul Ananda. “Kami juga berhasil mengambil liga profesional seperti NBL Indonesia. Kami juga membentuk liga khusus perempuan dengan nama WNBL Indonesia. Ini produk-produk kami yang kami kelola secara perusahaan,” imbuh Azrul.

Azrul menambahkan DBL berhasil memasarkan olahraga yang selama ini digerakkan kalangan ekonomi sosial AB menjadi yang disukai masyarakat, khususnya anak muda. “Menurut survei yang kami lakukan bersama Astra Honda Motor, untuk remaja usia 13-17 tahun, basket merupakan olahraga nomer satu di atas sepak bola. Masa depan basket sangat cemerlang dan bisa jadi nantinya mengalahkan sepakbola,” tandas Azrul.\

sumber : http://the-marketeers.com

Sepatu Terbaru Kobe Bryant yang Revolusioner

Senin, 15 Desember 2008 , 08:58:00

Main Basket Gaya Sepak Bola

Kobe Bryant (dan Nike) mencoba bikin sensasi. Sepatu baru sang superstar, Zoom Kobe IV, “melanggar” banyak “aturan basket,” rendah dan ringan ala sepatu sepak bola. Kalau Bryant lolos dari cedera engkel, sepatu ini bisa merevolusi industri sepatu basket.

Ulasan Azrul Ananda

TIDAK banyak bintang basket punya signature shoe. Tidak banyak yang punya signature shoe sampai berseri. Mereka yang sudah bertahun-tahun punya sepatu sendiri, biasanya bertahan lama karena memang punya karakter tersendiri.

Sepatu Michael Jordan? Selalu seksi dan inovatif.

Sepatu LeBron James? Selalu besar dan kokoh.

Sepatu Kobe Bryant? Selalu ringan dan lincah.

Karena Michael Jordan sudah lama pensiun, sepatu James dan Bryant merupakan dua “jualan utama” Nike saat ini. Keduanya punya “aliran” yang berbeda, sesuai dengan karakter dan gaya bermain masing-masing di lapangan.

Untuk musim NBA 2008-2009 ini, tampaknya Nike lebih fokus mendorong sepatu Bryant. Zoom Kobe IV, sepatu bintang Los Angeles Lakers itu, pekan lalu diluncurkan secara global, lewat webcast.

Lewat sepatu baru Bryant, Nike memang habis-habisan berinovasi dan berkreasi. Beda dengan sepatu terbaru James (Zoom LeBron VI), yang tampaknya dirancang tampil “aman dan sederhana.”

Lewat sepatu baru Bryant, Nike tampaknya memang ingin “menggoyang” pasar sepatu basket, membelokkan tren ke jalan baru menuju masa depan. Belakangan, penjualan sepatu basket memang tidak sedahsyat dulu. Menurut laporan Sports One Source, pasar sepatu basket di Amerika kini “hanya” USD 2,5 miliar setahun, hanya separo dari angka penjualan sepuluh tahun lalu, saat Michael Jordan masih merajalela.

Apa hebatnya sepatu Bryant? Sepatu itu diklaim sebagai yang paling ringan. Bahkan lebih ringan dari Nike Hyperdunk, sepatu yang dipakai kebanyakan pemain Team USA di Olimpiade Beijing. Bobot Zoom Kobe VI hanya 11,6 ons, sementara Hyperdunk 13 ons. Rata-rata sepatu basket lain di kisaran 15 ons atau lebih berat.

Untuk mencapai bobot seringan itu, Nike memakai teknologi seperti di Hyperdunk. Yaitu menggunakan Vectran, bahan nylon fiber yang tipis tapi kuat untuk membungkus kaki. Sebagai peredam kejut, Nike memakai LunarLitefoam di bagian depan, seperti yang dipakai tempat duduk pesawat luar angkasa NASA.

Namun, ringan bukanlah bahan omongan utama Zoom Kobe IV. Sepatu itu banyak diperdebatkan para penggila sepatu karena desainnya yang low. Tidak “tinggi” menutup engkel seperti kebanyakan sepatu basket.

Memang, sepatu low bukanlah barang baru. Bintang Washington Wizards Gilbert Arenas selalu suka sepatu rendah, dan Adidas telah menyediakan khusus untuknya selama bertahun-tahun. Bintang Phoenix Suns, Steve Nash, juga selalu suka pakai sepatu rendah.

Bedanya, sepatu low ini menghebohkan karena dipakai oleh seorang Kobe Bryant! Selama ini, sepatu low dianggap berbahaya, membuat pemain lebih rawan terkena cedera engkel. Kalau Bryant, yang gaya bermainnya banyak “belok-belok” sampai mau pindah ke low, maka anggapan itu bisa sirna.

Dan Nike mengklaim, Bryant sendiri yang minta sepatu low. Sebagai penggemar sepak bola (dulu besar di Italia), Bryant mengaku kagum melihat para pemain bola bisa mudah “belok-belok” dengan sepatu yang rendah dan ringan. Kalau engkel pemain bola saja tahan, kenapa tidak pemain basket?

Saat meeting, Bryant pun melontarkan tantangan untuk Eric Avar, performance footwear creative director Nike, untuk membuatkan sepatu basket yang rendah dan ringan ala sepatu sepak bola. “Permintaan itu mengagumkan. Ini pemain terbaik di dunia bilang tak butuh perlindungan engkel. Dia ingin membuktikan itu kepada semua pemain lain dan konsumen,” tutur Avar seperti dilansirESPN.

Bryant menegaskan itu. “Saya benar-benar terinspirasi dari menonton sepak bola. Saya berpikir, kalau saya bisa mengurangi bobot sepatu, saya bisa mendapatkan gerakan kaki yang lebih alami, dan itu lebih baik,” ucapnya lewat wawancara bersama CNBC.

Bryant mengaku tak khawatir mengalami cedera engkel. Dia bilang, dia sudah berkali-kali mengalami cedera engkel meski memakai sepatu tinggi. “Saya sudah bermain basket sangat lama. Setiap kali cedera engkel, itu karena saya mendarat di kaki orang lain. Itu namanya nasib buruk,” ucapnya.

Pemain 30 tahun itu mengaku sudah menjajal Zoom Kobe IV saat latihan, dan mengaku kagum dengan kelincahan sepatu tersebut.

Rencananya, Bryant akan menggunakan Zoom Kobe IV dalam pertandingan resmi untuk kali pertama pada 19 Desember nanti, saat melawan Miami Heat. Saat itu, semua orang akan memperhatikan engkelnya. Kalau hari itu dia sampai cedera engkel, penjualan Zoom Kobe IV bisa hancur, dan masa depan sepatu basket jenis low bisa sirna.

Kalau hari itu Bryant “selamat” dan tampil spektakuler, maka dunia sepatu basket bisa berubah total. Bakal makin banyak sepatu low beredar.

Ditanya soal risiko itu, Bryant mengaku percaya 100 persen dengan sepatu barunya. “Saya sangat percaya dengan sepatu ini, saya sangat percaya dengan teknologi di belakang sepatu ini. Saya tidak merasakan beban ekstra. Saya yakin sepatu ini membuat saya lebih cepat, melompat lebih tinggi, karena sepatu ini lebih ringan,” tandasnya.

Catatan tambahan: Selama ini sepatu basket dianggap kurang praktis. Tidak bisa dipakai harian karena berat dan “panas.” Dengan konsep ringan dan lowala Zoom Kobe IV, sepatu basket pun menjadi lebih multiguna. Kalau lebih multiguna, maka mungkin lebih mudah jualannya, dan kelak mungkin sepatu basket kembali merajalela.

Toh, bagaimana pun juga, tujuan utama Nike adalah jualan sepatu… (azrul ananda)